The L Chapter (Bagian 1)

Chapter L adalah tulisan terjemahan bebas dari bab ke 12 buku The Hyde. Abjad L merupakan singkatan dari L’Arc~en~Ciel. Yang namanya terjemahan bebas, bahasa yang digunakan juga bukan bahasa baku karena toh Hyde juga tidak menulis dengan bahasa baku di sini. Selain itu juga, terjemahan di sini tidaklah seratus persen tepat kalimatnya melainkan saya bikin berdasarkan gaya tulisan saya sendiri. Di sini, Hyde menulis tentang L’Arc~en~Ciel dari sudut pandangnya sendiri, dari tentang band pertamanya Jelsarem’s Rod, dipecatnya Sakura, sampai kebosanannya dengan L’Arc~en~Ciel sehingga bikin Hyde punya niat untuk keluar. Tadinya mau ditulis semuanya seluruh isi bab L, tapi ternyata satu bab itu panjang banget tulisannya. Jadilah tulisan ini dibagi dua.

PERINGATAN:
Dilarang keras meng-copy isi tulisan tentang L’Arc~en~Ciel yang saya buat ini. Boleh memberikan link ke blog ini tapi tidak boleh meng-copy paste isi tulisan di tempat lain. Jadi tolong jangan meng-copy paste isi tulisan walaupun cuma sebagian karena tidak saya ijinkan, cukup baca di sini saja. Terima kasih!

The Hyde head cover

The Hyde head cover

Di sini gue akan membicarakan sejarah L’Arc~en~Ciel dari sudut pandang gue.

Setelah meninggalkan kampung halaman (maksudnya Wakayama) dan mulai menjalani kehidupan di kota Osaka, gue sering berkunjung ke live-house sehingga jaringan teman bergaulpun semakin meluas. Karena gue juga mikir pengen membentuk band, gue sering nonton pertunjukan live entah hingga berapa kali. Saat itulah gue ketemu sama Pero, drummer pertama L’Arc~en~Ciel. Pero adalah orang yang menarik, supel dan mudah bergaul sehingga bisa dengan cepat akrab dengan gue. Pada saat itu, band-nya Pero yang bernama Kiddy Bombs baru saja bubar (catatan penulis: terlihat jelas bahwa Hyde bukan anggota Kiddy Bombs), lalu Pero ngajakin gue buat membentuk band baru bersama rekan Kiddy Bombs yang tersisa yaitu pemain gitar dan bass. Terbentuklah band baru 4 personil bernama Jelsarem’s Rod. Akan tetapi walaupun sudah berkali-kali manggung sebagai musisi, pemain bass-nya ternyata nggak pandai-pandai amat mainin alat musiknya, hahahahaha, gue jadi rada kaget juga sih. Jadinya sambil menciptakan lagu, terpaksalah gue ngajarin dia cara main bass yang baik, sekalian ngajarin pemain gitar-nya juga, sampai-sampai gue merasa kalau gue ini lagi bersolo karir. Untung saja drummernya Pero emang jago main drum. Memang sih kalau dipikir-pikir, ini bukanlah band yang gampang buat dijalanin. Walaupun demikian perasaan gue senang sekali, rasanya gue pengen teriak “Akhirnya gue berhasil membentuk sebuah band!”

Waktu itu penampilan band gue kayak orang biasa, selain gue kayaknya gak ada yang menarik perhatian. Sejak pertama kali mulai manggung live di Osaka, ada rasa percaya diri yang tak berdasar dalam diri gue. Saat itu gue bikin lagu yang terinspirasi sama GASTUNK band, dan gue pikir, “Kalau bikin lagu keren kayak gini, masa gak bakalan jadi musisi professional sih?” Kalau dipikir-pikir sekarang, harapan gue dulu benar-benar terlalu muluk-muluk, tapi emang itulah anggapan gue dulu: Gue pasti bakalan jadi musisi pro.

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Dengan kondisi kayak gitu kami mulai manggung di berbagai tempat di Osaka. Saat itulah setiap kali manggung Tetsuya selalu datang menonton pertunjukan kami. Sebelumnya sih, cuma sekali doang ketemu pas ikutan jam session bareng dia. Waktu itu, walaupun udah punya band sendiri, gue dan Pero diminta datang ke jam session yang dihadiri macam-macam musisi oleh seorang teman gitaris, dan gue ketemu Tetsuya di sana. Tapi gue kan barusan aja mendirikan Jelsarem’s Rod, mana gue punya ketertarikan buat masuk band lain. Karena Pero ngomong ngajakin melulu, gue pikir apa salahnya ikut sambil sekalian ngeliat penampilan orang lain. Yah, gue pikir, “permainan mereka memang lihay”, beda jauh sama band bentukan gue.

Kemudian, saat itu Tetsuya emang udah keliatan ngincer kita berdua. Dari situ mulai deh dia berkali-kali datang nonton pertunjukan band gue, dari datang dan langsung nembak nanya lewat telepon, “Gimana kabar band elo? lancar?”
Gue bales aja, “Lancar koq!”
Lalu dia jawab dengan nada kecewa, “Oh gitu ya.”
Dan itu terus dilakukan berulang-ulang entah sampai berapa kali hingga akhirnya Jelsarem’s Rod bubar. Tapi dilain pihak band gue juga kondisinya udah mulai goyah. Berkali-kali lead gitaris band gue main melodi solonya ngaco melulu. Sebagai teman sih gue suka sama orangnya, tapi sebagai rekan ngeband kalo begini melulu kayaknya band ini bakalan susah diterusin. Akhirnya sampai pada keputusan Jelsarem’s Rod pun dibubarkan, rasanya sedih dan menyakitkan banget kalau gue inget-inget sekarang. Pada kondisi seperti itu, Tetsuya ngajak buat nyobain nge-jam sekali lagi. Dia udah punya dua personil gitar dan bass, lalu ditambah gue dan Pero jadinya pas buat band kuartet. Setelah ngejam, si gitaris yang bernama Hiro ngajakin buat bikin band barengan dan kami setuju untuk bergabung. Sebenarnya sebelum nge-jam, hati gue udah menetapkan mau gabung sama mereka, tapi gue pengen meyakinkan diri dulu dengan jam session, dan ternyata emang kualitas permainan musik mereka jauh diatas band bentukan gue sebelumnya. Saat itu bulan Februari 1991, kami berdua setuju untuk bergabung dengan mereka dan sejak itu dimulailah L’Arc~en~Ciel.

Chapter L head page

Chapter L head page

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Yang menarik dari L’Arc~en~Ciel adalah strategi dari awal terbentuknya. Kalau menurut pemikiran gue sih sederhana aja, yang penting manggung sebaik mungkin, lalu jika para penonton merasa suka maka akan semakin banyak jumlah mereka yang datang, bukankah kami juga akhirnya jadi musisi pro?
Tapi L’Arc~en~Ciel benar-benar serius dan penuh dengan strategi. Misalnya Tetsuya ngasih ide, bikin daftar data orang yang sedang ramai berkumpul, lalu kirimi mereka direct-mail mengenai info konser L’Arc~en~Ciel. Ide Hiro lain lagi, dari awal kan memang udah kenal dengan beberapa orang walau gak dekat, lalu deketin lagi mereka walau cuma basa-basi dan minta mereka nonton konser L’Arc~en~Ciel, masa gak bisa ngumpulin sedikitnya 150 orang buat nonton konser perdana? Memang cara mobilisasi massa yang tidak biasa yah. Kemudian kita bikin badge dari bahan kaleng, sticker, pokoknya benda-benda kayak “concert goods” jaman sekarang deh. Lalu kita beli mesin faksimil dan alat-alat kantor lainnya juga. Pokoknya, saat itu kami sudah memulai bentuk manajemen yang hingga sekarang dilakukan, tentunya dalam skala kecil. Hal-hal seperti itu satu per satu mengalir begitu saja, kalau dipikir-pikir sekarang, kami dulu benar-benar hebat.

Yang gue bisa bantu saat itu adalah membuat leaflet tentang konser lewat mesin color-copy di tempat gue arubaito (kerja part-time) secara gratisan. Kerjaan packing memang memakai belt dan sarung tangan dari perusahaan tempat kerja, tapi untuk urusan desain gue merasa terbantu dalam menyelesaikan proyek ini berkat latar belakang gue sebagai lulusan sekolah desain. Jaman itu, untuk selembar foto copy berwarna berharga sekitar 100 yen per lembar, karena semua dikerjakan sendiri jadinya bisa di-print hingga berpuluh lembar. Kalau sampai ketahuan perusahaan color-copy tempat arubaito dulu, bakalan dimarahi habis-habisan. Makanya dikerjain diam-diam sambil hati deg-degan takut ketahuan, hahahahaha. Di meja yang sama pula gue bikin logo L’Arc~en~Ciel generasi pertama. Pakai cutter dan lem, dipotong-tempel-lipat lalu di copy berulang kali, jadilah logo, hahahahaha.

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Mengenai pendekatan vokal gue saat itu, gue lagi senang sama band-band THE CULT, Danzig, The Misfits hingga Jim Morrison yang menggunakan suara ditebalkan. Gara-gara teknik penyuaraannya salah, suara gue yang ditebalkan justru bikin cepat capek. Udah itu tetsuya juga bilang cara gue nyanyi itu “gak bagus!”. Karena gue suka sama vokal GASTUNK dan The Misfits, bagian vokal jernih yang dipakai L’Arc~en~Ciel jadinya terasa gak cocok. Padahal kalau dilihat dari kacamata sekarang sebenarnya bukan gara-gara lagunya terlampau ngepop, tapi gara-gara gue pengen ngikutin gaya dark dengan cara menebalkan suara.

Selain itu juga, menurut gue penampilan dulu dibandingkan sekarang tak jauh berubah. Yang penting, “pokoknya tampil SANGAR, soal nyanyi belakangan.. hahahaha”. Jaman jadi gitaris dulu juga udah kayak gitu, pas dilihat koq kayaknya penampilan gue jelek amat. Tapi gara-gara itu, suasana di atas panggung jadi terlihat sangar. Saat itu Tetsuya dan Hiro terlihat fashionable dan keren, kalau di make-up sedikit mereka berdua bakal terlihat kayak anak kembar.

Pada awalnya, gue masukin 2 lagu yang gue buat pas jaman masih di Jelsarem’s Rod, sisanya Hiro yang bikin lagu. Gue masih ingat lirik dan melodinya. Ya, saat itu kayaknya melodi dibuat oleh vokalis. Lalu, mungkin gue ngambil bentuknya dari musik heavy metal. Gitaris bikin riff lagu pakai gaya metal, udah itu vokalis masukin melodi diantaranya. Kira-kira begitulah cara kita bikin lagu saat itu, soalnya di dalam tubuh kita mengalir darah musik metal. Sebenarnya susah loh bikin lagu kayak gitu, rasanya kepala kita sampai mau botak berpikir keras, hahahaha. Soalnya lirik harus tulis sendiri, melodi juga harus dibuat sendiri. Sebagian besar musik metal itu adalah unison, tapi metal gaya kita beda karena lebih menitik beratkan melodi. Setelah itu gaya kita terus dilanjutkan hingga akhirnya kami berhenti membuat lagu kayak gitu. Sejak album [TRUE], musik sudah lebih mengikuti kehendak pencipta lagu. Kalau jaman sekarang hampir gak ada bikin lagu yang gaya kayak begitu, paling kayak melodi lagu [REVELATION] gitu kali yah. Yang menarik, kami bikin 2 melodi untuk lagu yang sama, melodi buatan gue dipakai buat lagu [REVELATION] milik L’Arc~en~Ciel, melodi buatan Yukihiro akhirnya dipakai buat lagu [it’s a fine day] milik Acid Android.

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Balik lagi ke cerita sebelumnya, sekitar 1 tahun sesudahnya, gitaris Hiro mengundurkan diri. Gue udah lupa alasannya, tapi mungkin gara-gara Hiro gak cocok sama gue kali ya? Gak yakin juga sih, gue rasa mungkin dianya kurang suka sama gue. Soalnya gue suka rada maksa bikin aransemen lagu buatan dia, dia juga capek sama cara nyanyi gue, bikin dia gak senang kali yah? Karena itu, dia ngerasa mendingan keluar aja daripada mecat gue. Waktu Hiro berhenti dari L’Arc~en~Ciel, sebenarnya dia juga ngajak Tetsuya untuk keluar. Tapi Tetsuya lebih memilih terus bersama kita-kita, akhirnya Hiro sendirian yang keluar. Tentu saja kita jadi kelabakan pas kehilangan gitaris.

Mana waktu buat rekaman udah mepet banget bikin kita jadi gamang, untunglah ada Ken. Sebelumnya sih gue udah tahu keberadaan Ken, teman main Tetsuya sejak kecil dan pernah ngeband bareng. Bahkan dia pernah beberapa kali datang nonton konser L’Arc~en~Ciel , walaupun gak pernah ketemu langsung. Gue pernah dengar demo rekaman buatan Ken beberapa kali, lagu buatannya keren, main gitarnya juga mantap, langsung gue kepikir sama dia dan bilang sama Tetsuya, “Kalau Ken gimana?”
Kemudian kami berembuk di family-restaurant, lalu diputuskan, “Pokoknya kita hubungi dulu!” pas sekitar jam 3 lewat tengah malam kalau gak salah? Kalau langsung ditelepon jam 3 saat itu juga, Ken bakalan ngamuk diganggu tidurnya dan langsung nolak. Akhirnya kita putuskan nunggu sampai pagi aja, hahahaha. Akhirnya ditelepon juga jam 7 pagi langsung nanya, “Mau masuk L’Arc~en~Ciel gak?” hahahahaha. Karena dia bingung gak bisa jawab akhirnya kita kasih waktu beberapa hari.

Saat itu Ken masih berstatus mahasiswa, bentar lagi lulus dan sedang mencari kerja, malah udah pernah wawancara kerja segala. Gak tau gimana pokoknya Ken akhirnya masuk jadi member L’Arc~en~Ciel.
Jaman itu, Ken tuh lucu dan imut banget loh. Sekarang sih tinggal sisa WILD-nya doang, hahahaha. Pas dilihat penampilannya anak mahasiswa banget, cuma pakai T-Shirt warna putih dan celana jeans. Gue langsung mikir “Waaahhh… Ada anak obokoi datang! hahahaha” (Catatan penulis: obokoi berarti imut innocence dalam dialek kansai). Lalu dibeliin baju “Ladies” sama kita-kita, tak tahunya semua ketat sempit karena kekecilan, badan dia bongsor sih, hahahaha.
Guitar Amplifier (gitar amp) bawaan Ken ternyata kecil kayak buat main di rumah. Dibandingkan dengan amplifier punya yang lain yang gede banget jadi terlihat menyedihkan gitu, suara gitarnya terdengar sayup-sayup, hahahaha. Akhirnya Ken beli gitar baru merek Steinberg warna biru, eh malah dibilangin , “Didunia kita ini mana ada alat musik yang warna biru” hahahahaha. Itu berarti dunia kita yang baru telah dimulai😀

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Setelah Ken masuk, rekaman albumpun dikerjakan dengan buru-buru dan hasilnya menurut kami kurang memuaskan. Bahkan produser juga bilang “aneh ya”. Karena hasil rekamannya sama sekali tidak memuaskan dan Tetsuya bilang kalau gak suka dan gak pengen dirilis, harus bayar ganti rugi pada label sebanyak 2 juta Yen. Untuk sementara, kamipun merilis single [Floods of tears] walaupun uang hasil penjualan single tak menutupi biaya ganti rugi. Saat itulah kita didekati pihak label [DANGER CRUE]. Oishi-sacho (presiden direktur Oishi) tertarik setelah mendengar sampel rekaman lagu kita. Lalu kamipun berangkat ke Tokyo bertemu Oishi-sacho dan seseorang yang nantinya bakalan jadi manajer L’Arc~en~Ciel pertama. Pertama kali ketemu mereka, ternyata mereka menyeramkan.
Kita janjian ketemu, mobil kita beriringan mengikuti mobil Mercedes-Benz milik Oishi-sacho. Lalu tiba-tiba di depan mobil Mercedes-Benz milik Oishi-sacho ada mobil menyalip. Kemudian kaca mobil Mercedes-Benz dibuka, dari dalam keluar tangan mengacungkan jari tengah! Kita-kitanya langsung teriak, “Syereeemm!!”
Astaga… sampai-sampai kitanya mikir, kalau begini mendingan kabur aja deh. Tapi ternyata mereka ramah dan negosiasi dengan mereka berjalan lancar, 2 juta Yen dibayar oleh pihak DANGER CRUE, dan kami ditawari membuat album baru. Sejak itulah L’Arc~en~Ciel pertama kalinya mulai mengorbit.

Pada saat itu juga kita memilih seorang leader. Yang mengusulkan rasanya sih Pero. Menurut Pero, pergerakan secara berkelompok akan memberikan pengaruh lebih kuat, dan kalau masing-masing egois bergerak sendiri-sendiri, band gak bakalan maju. Dari situ entah siapa yang mengusulkan betapa pentingnya punya seorang pemimpin. Tentu saja gue gak ngomong langsung sama orangnya saat itu (ngomong ke Pero maksudnya), menurut gue Tetsuya pantas menjadi leader karena Tetsuya dari dulu adalah orang yang tekun. Setelah kejadian itu diantara kita sepertinya ada jurang yang dalam. Pero terus-menerus mulai jarang datang ke acara rehearsal. Kalau langsung mencari dummer pengganti kesannya jadi mengkhianati dia, jadinya sebelum kita mencari terlebih dahulu kami minta kepastian Pero dan dia menyatakan mengundurkan diri.

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Lalu kami mencari member baru lagi, dan Tetsuya pun menghubungi Sakura. Gue agak lupa apa yang terjadi waktu itu, pokoknya band yang sedang dibantuin Sakura sebagai supporting drummer datang ke Osaka dan kita coba melakukan jam session bareng. Akan tetapi gara-gara kemampuan kami terlalu lihay, kami pikir kemampuan Sakura kurang setara dengan kita dan mau kita tolak, hahahaha. Tapi kami memang punya kepribadian yang rendah hati, lagipula keliatannya Sakura pengen banget gabung sama kita. Jadinya…. yaaahhh…. mau gimana lagi, hahahahaha. Akhirnya kita dapat drummer baru.

Setelah Sakura masuk, kami langsung memulai proyek bikin album [DUNE]. Kami menginap di mansion sewaan per minggu sambil bolak-balik ke studio rekaman di Shinjuku. Waktu itu kami membuat lirik sekaligus dengan melodi sehingga benar-benar menghabiskan banyak waktu dan melelahkan. Tanpa bisa tidur nyenyak langsung ke studio, tegang karena belum terbiasa ngerjain rekaman, suara jadi serak, sama sekali gak bisa nyanyi dengan baik, benar-benar kayak bayi aja. Hal-hal baru yang terjadi secara berkelanjutan bagi gue merupakan sesuatu yang menarik. Gue masih ingat banget sampai sekarang pas Oishi-sacho bilang, “Gak sopan khan sama Engineer kalau kalian sampai tidur di studio!” hahahaha.

Walau udah dibawah manajemen DANGER CRUE, sampai saat itu band kami masih terhitung band Kansai. Ada senior yang bilang, sampai kalian udah pasti ditetapkan major debut, gak bakalan kalian dipanggil ke Tokyo, Tetsuya juga berpikir hal yang sama. Bagaimanapun juga ada kemungkinan kami bakalan pindah ke Tokyo. Sakura yang tinggal di Tokyo, kalau di panggil ke Osaka terpaksa menginap bareng kita. Di Osaka kita melakukan rehearsal, termasuk manggung live juga kalau gak salah? Sakura termasuk orang yang punya kepribadian seperti dahan yang lurus, benar-benar gak neko-neko. Kalau jelek langsung bilang jelek, begitu juga kalau bagus dia bakal bilang bagus. Kupikir keberadaannya di L’Arc~en~Ciel sungguh tepat. Walau kesan pertama gue tentang dia kurang bagus, gue punya teori tentang manusia. Biasanya memang kesan pertama jelek, tapi banyak contoh kejadian yang membuat kesan menjadi makin baik karena semakin akrab. Karena itu Sakura juga sejak itu benar-benar bisa akrab bareng kita.

[Ditulis oleh Ando-kun, di blog https://yusahrizal.wordpress.com ]
Pada waktu itu L’Arc~en~Ciel dikenal sebagai band asal Osaka. Kalau dilihat dari kacamata kompetisi, dibandingkan pindah ke Tokyo yang jumlah band-nya lebih bejibun, lebih baik kita fokus di Osaka, kira-kira begitulah pemikiran Tetsuya. Karena itu ada baiknya kita meluangkan waktu sedikit lebih lama untuk berkarir di Osaka, tapi ternyata pindah ke Tokyo lebih cepat dari rencana semula.

Punya kehidupan di Tokyo merupakan hal baru bagi kami bertiga. Mulai dari nyari perabotan rumah hingga menabung uang merupakan hal yang menyenang. Gue suka dengan keadaan kotanya, melihat taman mirip hutan di taman Yoyogi, banyak jalanan tanjakan, banyak toko-toko trendy, benar-benar menyenangkan.

Sebaliknya, ada hal yang gak di sukai di Osaka. Boleh dibilang kota nomor satu, dalam arti jelek, di Jepang. Gedung bertingkat melulu, sama sekali nggak alami, lalu gak ada jalan tanjakan, haahaha. Lalu banyak orang-orang cerewet, nggak bagus kepribadiannya menyapa dengan kalimat “Apa’an sih! Eloh goblok yah!” (Catatan penulis: Hyde nulis pakai dalek Kansai). Banyak orang Osaka menilai orang Tokyo tuh dingin dan terlampau serius, tapi gue menilai sebaliknya, orang Tokyo justru ramah. Karena itu gue bisa cepat beradaptasi menggunakan bahasa sehari-hari (maksudnya dialek Tokyo). Tapi hingga sekarangpun kalau lagi moody, dialek Kansai gue kadang terhambur keluar juga.

Bersambung ke bagian 2

20 Responses to “The L Chapter (Bagian 1)”


  1. 1 Sandy January 28, 2013 at 11:35 pm

    Ando kun, thank you sharingnya. Bacaan sebelum tidur di malam ulang tahun hyde. Ando kun, di awal pembentukan Jelsarem’s Rod tidak disebutkan kalau awalnya hyde main gitar ya? (seperti yang selama ini sering diceritakan). Hyde dari awal memang sudah sebagai vocalist yang bisa main bass dan guitar. Pengetahuan saya tentang hyde jadi bertambah. Moga2 Ando kun tetap memiliki waktu untuk terus sharing tentang L’Arc dan hyde.

    • 2 AnDo January 29, 2013 at 12:24 pm

      @Sandy
      Gak disebut secara eksplisit sih.
      Tapi bisa ditebak lewat omongan Hyde kalau dia di Jelsarem’s Rod main rangkap sebagai vokalis dan gitaris (kemungkinan besar main Rhythm Guitar, karena gitaris yang satu lagi main sebagai Lead Guitarist)

  2. 3 kitamuraangel January 29, 2013 at 2:59 am

    ahahahaha…. aq bacanya sambil senyum2, sesekali ngikik… *padahal nyolong baca di kantor* sankyu dah bagi2 Ando Kun… *g sabar nunggu bag 2* —> mudah2an Ando Kun selalu diberi kesehatan dan waktu yg luang biar bisa lanjutin, hehehehehe… :3

  3. 4 shisio January 29, 2013 at 7:41 am

    Wah! Ada hal baru yang aku bisa lihat dari laruku dari sudut pandang hyde. Makasih andou kun!

  4. 5 Victoria January 29, 2013 at 12:57 pm

    Nice share🙂
    Apa lagi pas baca di hari jadinya hyde🙂

  5. 6 nur h. fauziah January 30, 2013 at 1:01 am

    Baca ini sampai ngikik2… ditunggu kelanjutan tulisannya…

    Btw saya jadi membayangkan kalo Tokyo itu Jakarta, Osaka itu Surabaya (dengan logat “kasarnya” -eh, saya juga orang Jatim kok-), dan Kyoto itu Yogya. Kalo udah ke Tokyo kayane udah ‘wah’ banget ya?!

    Oiya, mohon maaf kemarin langsung pasang link ke tulisan Ando-kun tanpa ijin… (yg review Rurouni Kenshin). Saya suka review2 Ando-kun.

    • 7 AnDo January 30, 2013 at 1:19 pm

      Soal analogi Tokyo = Jakarta, Surabaya = Osaka itu, aku juga kadang punya pendapat sama😛

      Soal pasang link ke tulisan di blog ini, sama sekali gak keberatan koq. Malah bisa dibilang dapat promosi gratisan😀
      Yang saya nggak suka itu copy-paste isi tulisan.

  6. 8 setsunavie January 30, 2013 at 6:57 am

    Andoooo otsukaresama deshita😀
    Perjalanan sebelum & era terbentuknya L’Arc emang warna warni ya, cocok sama namanya…HYDE ceritanya lucu banget! Kadang suka takjub, kayaknya emang mereka udah dipertemukan lewat nasib.. Thanks for translating! Boleh share linknya di twitter Cielers_ID?

    • 9 AnDo January 30, 2013 at 1:23 pm

      @setsunavie
      Gaya Hyde nulis The Hyde sebenarnya lucu loh, ngocol kayak lagi ngobrol sama teman. Banyak selipan kanji (warai)
      alias tertawa. Makanya di dalam tulisan ku taruh kata Hahahaha sebagai pengganti (warai), buat mewakili bagian di mana Hyde lagi bercanda.
      Silahkan share link di twitter, buat bagi-bagi info😀

      • 10 setsunavie February 2, 2013 at 6:32 am

        Iya, aku baca translation bahasa Indonesia temenku yg chapter C, ceritanya ngalir secara alami & lucu… Translation yg english untuk chapter A & B juga. Malah banyak yg bilang kayak lagi ngedongengin anaknya ^^ Kalo aku translate, kanji (warai) aku ganti (LOL)

  7. 11 rio arianto January 30, 2013 at 2:51 pm

    gila! ternyata laruku itu awal nya susah ya…

  8. 12 eki February 2, 2013 at 7:04 am

    makasiiihh infoo nya :DD

    oh iya… logat kansai itu emg yg kaya apa ya? atau tokyo…

    apa seperti… misal : bahasa sunda kasar.. dan bahasa sunda halus…?
    -makasih-🙂

    • 13 AnDo February 2, 2013 at 11:43 am

      @eki
      Bahasa Jepang modern pada dasarnya dibuat dari bahasa Jepang logat Tokyo. Logat Kansai tetap saja memakai pola tata bahasa Jepang umum, cuma ada cukup banyak istilah yang penggunaan katanya berubah.
      Agak ribet kalau mau ngasih contoh kecuali kamu bisa bahasa Jepang

  9. 15 Eka Azzahra February 2, 2013 at 3:46 pm

    Ando-kun, arigatouuuu utk translate-nya. Terima kasih banyak yaaa udh mau berbagi ke kami yg gak bisa baca karakter Jepang, hiks :(… aq udh lama dibuat penasaran abis sama Oji-san satu ini,, ohya ada gak autobiography ini dlm bhasa Inggris ?

  10. 16 Resti Ayu Nuraziizah February 3, 2013 at 5:32 am

    Ditunggu kelanjutannya ando kun…😄
    Mksh banyak loh udah share dan berbagi🙂

  11. 17 Qkay Wardhi February 3, 2013 at 2:44 pm

    telat banget sy baca nya.. padahal ngaku2 hydeist hihiii.. domo arigatou Ando-kuuunn :)) perasaan hyde yg ultah tp kita2 yg dapat puresento nya😀

  12. 18 aki February 6, 2013 at 12:01 pm

    Ando-san.. terima kasih sudah nerjemahin🙂
    Bener2 senyum2 sendiri bacanya…
    Cara nulisnya om hyde dan cara nerjemahinnya Ando-san bikin mbacanya semakin menarik… combo yg menyenangkan😄
    penasaran banget sama kelanjutannya…
    Arigatou gozaimasu~

  13. 19 AnDo February 10, 2013 at 11:41 am

    @Galang
    @Eka
    @Qkay
    @aki

    Thanks atas komentarnya. Nanti bakal dilanjutkan akalau ada waktu buat menerjemahkan


  1. 1 The L Chapter (Bagian 2) | Toumei Ningen - The Reviews Trackback on May 29, 2013 at 2:06 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: