Les Hommes Libres

Ketika sutradara Perancis berdarah Maroko, Ismael Ferroukhi diberitakan akan menggarap film keduanya yang mengetengahkan kisah pendiri Masjid Agung Paris Si Kaddour Ben Ghabrit, aku sudah menunggu kehadiran film ini. Bagaimanapun juga karya perdana Ismael Ferroukhi sebagai sutradara penuh dalam film yang berjudul Le Grand Voyage cukup membuatku terkesan dan tertarik untuk menonton karya-karya beliau selanjutnya. Les Hommes Libres (atau Free Men dalam versi bahasa Inggris) mengisahkan tokoh fiksi bernama Younes dan perubahan jalan hidupnya setelah berinteraksi dengan 2 tokoh sejarah yaitu rektor Masjid Agung Paris Si Kaddour Ben Ghabrit dan penyanyi Aljazair berdarah Yahudi Salim Halali pada masa pendudukan NAZI Jerman atas Perancis.

Younes Ben Daoud (Tahar Rahim) merantau ke Paris pada tahun 1939 atas ajakan sepupunya Ali (Farid Larbi) untuk bekerja di pabrik demi mengumpulkan uang untuk keluarganya di kampung halamannya Aljazair. Setahun kemudian, NAZI datang merebut Perancis dan membuat Younes terpaksa bekerja serabutan sebagai penjual barang-barang black market. Younes yang oportunis ditangkap polisi Vichy dan dipaksa bekerja sebagai mata-mata mengawasi aktivitas Masjid Agung Paris yang dicurigai membuat sertifikat tanda pengenal Muslim palsu untuk diberikan pada orang-orang Yahudi. Pertemuannya dengan Si Kaddour Ben Ghabrit (Michael Lonsdale) membuat Younes mulai meragukan sikap oportunisnya. Di Masjid Agung Paris, Younes berkenalan dengan penyanyi Aljazair berdarah Yahudi bernama Salim Halili (Mahmoud Shalaby) dan mulai menjalin persahabatan. Sementara itu Ali yang bergabung dengan kelompok pemberontak Perancis mulai menarik Younes untuk ikut bersama-sama melawan pendudukan NAZI Jerman.

Dilihat dari latar belakang sejarahnya, Paris pada tahun 1940-an penuh dengan imigran dari daerah jajahannya di Afrika Utara termasuk diantaranya ribuan Yahudi berbahasa Arab. Umumnya memang sulit membedakan mana Yahudi Arab dan mana Muslim Arab karena mereka bicara bahasa yang sama, secara tradisional memiliki budaya mirip, sama-sama tak makan babi, bahkan namanya juga mirip. Sehingga pemerintah Vichy (pemerintah Perancis yang didukung NAZI) meminta Masjid Agung Paris untuk memberikan sertifikat khusus tanda Muslim kepada para jama’ahnya. Melihat betapa NAZI mengeksekusi orang-orang Yahudi di Paris tanpa pandang bulu, Si Kaddour Ben Ghabrit berinisiatif menerbitkan sertifikat muslim palsu untuk menyelamatkan orang-orang Yahudi dari penangkapan tentara NAZI. Selain itu juga, Si Kaddour Ben Ghabrit mengijinkan ruang bawah tanah Masjid dipakai sebagai tempat persembunyian para anggota gerakan perlawanan Perancis.

Kalau anda berharap Ferroukhi akan membuat film thriller suspense dengan latar belakang sejarah, mungkin akan kecewa karena film ini lebih menitikberatkan pada drama psikologis dengan banyak dialog antar tokoh. Sayangnya Ferrouki terlalu banyak berputar-putar dalam narasi sosok Younes yang kebingungan dengan jalan hidupnya daripada langsung mengeksekusi jalan cerita langsung ke pokok persoalan. Hasilnya Ferroukhi mengawali Les Hommes Libres dengan lamban dan agak membosankan hingga pertengahan cerita. Film baru mulai menarik sejak polisi Vichy menangkap Salim si penyanyi untuk dieksekusi karena ketahuan sebagai Yahudi.

Les Hommes Libres disyuting dengan budget kecil sekitar USD 11.4 juta dan sebagian besar adegan indoor Masjid Agung Paris dilakukan di Maroko atas dukungan pemerintah Maroko. Permintaan syuting di dalam Masjid Agung Paris ditolak oleh pengurus Masjid karena dikhawatirkan mengganggu jama’ah Masjid. Maklumlah, Masjid Agung Paris setiap harinya penuh dengan jama’ah dan kehadiran kru film bisa mengganggu kekusyu’an mereka menjalankan ibadah.

Permainan Tahar Rahim dalam film ini memang bagus, namun sayangnya tak semengkilap aktingnya dalam film Un Prophete. Hal ini tak terlepas dari kurang menariknya karakter Younes dan skenario yang agak lemah untuk menampilkan emosi Younes selayaknya tokoh Malik dalam Un Prophete. Yang menarik adalah permainan aktor senior Michael Lonsdale sebagai Ben Ghabrit, aktingnya yang tenang tapi menghanyutkan sebagai tokoh Muslim religius memang layak mendapat pujian. Sayangnya tak ada pengembangan lebih lanjut untuk tokoh Ben Ghabrit karena tokoh ini memiliki keterbatasan sebagai tokoh sejarah. Andaikan sikap Ben Ghabrit yang lebih memilih membela Perancis dari pada Aljazair dikemudian hari juga ikut ditampilkan, tentu akan membuat konflik dalam film ini lebih menarik. Penyanyi Palestina Mahmoud Shalaby didapuk sebagai Salim Halali. Shalaby mengungkapkan pengalamannya sebagai orang Palestina di Israel membuatnya bisa memahami apa yang dirasakan Salim Halali pada masa pendudukan NAZI di Perancis.

Jadi menurutku, film ini diawali dengan lambat, penuh syuting indoor a la sinetron TV, tapi secara keseluruhan masih bagus dan menginspirasi betapa perbedaan agama tak membuat orang kehilangan rasa kemanusiaannya. Ide segar dengan menempatkan perspektif kisah holocaust dari sudut pandang masyarakat muslim di Eropa membuat film ini lebih menarik dibandingkan film holocaust kebanyakan. Aku sendiri agak kecewa karena sosok Si Kaddour Ben Ghabrit tak mendapatkan porsi banyak dalam film ini dan hanya berperan sebagai karakter pendukung, karena justru sosok pendiri Masjid Agung Paris inilah yang paling menarik untuk digali lebih dalam.

Yang paling kusukai dari film ini adalah musiknya. Mendengarkan karakter Salim Halali menyanyi diiringi musik tradisional bersuasana padang pasir sungguh menghanyutkan perasaan, dan ini membuatku memberikan nilai plus 0.25 untuk rating film.

Rating: 3.75/5

2 Responses to “Les Hommes Libres”


  1. 1 Zeph October 1, 2012 at 3:11 pm

    IMO, meski film ini terasa “kurang menggigit” dan karakter Kaddour yang kurang dikembangkan dan diberi porsi lebih banyak, namun saya juga cukup menikmati alunan musik dan suara salim.

    Hal yang mengesankan adalah indahnya persahabatan tanpa memandang perbedaan ras, agama, dan bangsa. semua berdasar kemanusiaan.

    • 2 AnDo October 1, 2012 at 3:59 pm

      @Zeph
      Betul, film ini kurang menggigit bila dibandingkan karya Ferroukhi sebelumnya Le Grand Voyage. Makanya, kukasih nilai dibawah 4, itu juga nilainya didongkrak oleh musik dan nyanyian Salim yang bikin kuping terlenađŸ˜€
      Tema film sebenarnya udah oke, sayang eksekusinya kurang lugas dan karakter yang menarik juga kurang digali lebih dalam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: