The Cabin in the Woods

Yang bikin tulisan review film ini sebenarnya sudah cukup banyak dan biasanya aku agak malas menulis review film yang sudah banyak ditulis di blog lain. Tapi entah kenapa, koq tanganku ikutan gatal ingin menulis dengan kata-kataku sendiri.
Awalnya aku malas nonton film beginian, tepatnya genre horror thriller dan lebih spesifik lagi: torture porn. Memang begitulah kesanku ketika pertama kali melihat trailer film ini, another cheap torture porn film. Padahal ada nama Joss Wheddon sutradara The Avengers yang duduk di kursi produser dan juga ada Drew Goddard si penulis cerita Cloverfield yang jadi sutradara. Yang membuatku tertarik nonton gara-gara film ini mendapat banyak pujian tinggi di satu sisi dan juga tak kalah banyak cacian di pihak lain. Memangnya apa keistimewaan film genre torture porn yang biasanya malas kutonton sampai bikin 2 kubu berseberangan?

Peringatan: SPOILER.
Kalau benar-benar ingin menikmati film ini hingga kepuasan maksimal, jangan baca tulisan di bawah lebih lanjut. Nanti saja setelah nonton boleh kita diskusikan bareng bagi yang tertarik.

Bagian awal film dibagi 2: Yang satu adegan yang membingungkan dan yang satu lagi sangat klise untuk film-film horror thriller.
Adegan yang membingungkan adalah obrolan 2 rekan kerja Richard Sitterson (Richard Jenkins) dan Steve Hadley (Bradley Whitford) yang sedang bersiap-siap menjalankan tugas rutin pekerjaan mereka. Memangnya apa sih kerjaan mereka dan apa hubungannya dengan adegan kedua?
Adegan yang sangat klise untuk film horor adalah tentang 5 orang muda-mudi yang bersiap tamasya ke luar kota. Mereka adalah pemuda kekar dan ganteng si cowok populer Curt Vaughan (Chris Hemsworth), pacarnya si cewek binal seksi “berambut pirang” Jules Louden (Anna Hutchison), teman akrab Jules si cewek baik-baik Dana Polk (Kristen Connolly), si pintar bintang pelajar Holden McCrea (Jesse Williams), dan si biang ribut tukang banyol Marty Mikalski (Fran Kranz). Tujuan tamasya mereka? Apalagi kalau bukan pondok terpencil nan misterius, di tepi telaga nan angker pula😛
Yup! Seperti yang semua orang duga, kelima anak muda tersebut diteror oleh sosok pembunuh sebagaimana formula klasik film-film sejenis. Sudah? Begitu sajakah? Ternyata tidak karena justru dari situ dimulai inti film ini.

Yang mencaci film ini biasanya terlalu serius memikirkan plot dan memang twist yang diberikan oleh film ini termasuk sinting sehingga aku tak bisa menyalahkan mereka, karena toh masing-masing orang menonton dengan pola pandangan berbeda. Yang memuji setinggi langit film ini biasanya geek film horror, apalagi yang hapal luar kepala segala macam trik dan seluruh formula khas film-film horror.

Aku sendiri cenderung berdiri di dekat pihak kedua, suka dengan filmnya tapi tak sampai memuji setinggi langit. Kenapa? Karena aku ini pecandu film dan cukup banyak mengerti referensi beberapa film horror yang diselipkan oleh Goddrad dan Wheddon ke dalam The Cabin in the Woods. Twist makin aneh, ajaib dan serba kebetulan? Para geek horror ini pasti makin tergila-gila, dan sebaliknya bisa bikin penonton lainnya makin garuk-garuk kepala yang tak gatal. Boleh dibilang, setelah adegan 5 muda-mudi tiba di pondok tepi telaga, aku malah fokus dan lebih sibuk mencari twist-twist yang memiliki referensi terhadap film horror daripada tegang dengan adegan horror dan thriler-nya. Referensi yang muncul bisa berupa parodi, lelucon olok-olokan mentertawakan kebodohan film horror hingga dekonstruksi dengan cara pemutarbalikan pakem film horror. Dan referensi tersebut tersebar di sepanjang film baik lewat dialog, karakter, adegan serba kebetulan hingga tata artistik film.
Penasaran? Cobalah perhatikan setiap detail dari film ini.

Apakah ini film horror? Mungkin iya mungkin tidak, tergantung cara pandang penontonnya. Aku sendiri lebih memilih mengatakan film ini bukan film horror melainkan sebuah karya pemujaaan terhadap genre horror oleh para pecinta horror untuk para pecinta horror. Anda suka atau tidak, anda akan dipaksa face-palm oleh sang sutradara di akhir film. A HUGE FACE-PALM INDEED (literally).😆

Rating: 3.75/5

4 Responses to “The Cabin in the Woods”


  1. 1 anneshanty September 6, 2012 at 2:55 pm

    Saya bukan penggemar film horor,tp krn penasaran sama film ini,akhirnya nonton deh..:P
    Tapi jd ga brpa ngerti sama mahluk2 serem yg ‘dilepaskan’ Dana and Marty.
    Sdikit pencerahan mas?

  2. 3 Takodok! December 23, 2012 at 8:51 am

    dari awal dibikin nebak-nebak, mulai dari alien, proyek percobaan pemerintah, sekedar mimpi, sampe ujungnya girang sendiri melihat berbagai makhluk yang muncul dan akhir film yang.. yah.. apa-apaan itu!😆

  3. 4 shisio July 1, 2013 at 3:14 pm

    aku baru aja selesai nonton ni film. kaget juga perkembangan ceritanya yang seperti itu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: