Robo-G

Empat tahun tanpa menghasilkan satu film pun setelah karya terakhirnya Happy Flight (2008), akhirnya Shinobu Yaguchi kembali duduk di kursi sutradara untuk menggarap film terbarunya. Waktu empat tahun rupanya cukup panjang bagi Yaguchi untuk menjadi lebih dewasa dalam berkarya, terutama ide segar bagi style ciri khas beliau yaitu From Zero to Hero. Tiga film terakhirnya selalu menampilkan tokoh utama anak-anak muda yang berjuang keras menuju keberhasilan. Water Boys dengan perenang SMA pecundangnya, Swing Girls bersama murid SMA yang bosan dengan rutinitas, dan terakhir Happy Flight dengan awak pesawat terbang komersil yang masih hijau. Kali ini Yaguchi menempatkan tokoh kakek jompo sebagai si tokoh utama, sebuah pilihan yang menunjukkan Yaguchi semakin berkembang dan tidak bergerak di area yang itu-itu saja walaupun juga tak meninggalkan genre film yang menjadi gaya dan ciri khasnya.

Shigemitsu Suzuki (Mickey Curtis), duda jompo berumur 73 tahun hidup sendiri di rumahnya tanpa mau merepotkan anak cucunya yang tinggal terpisah. Walaupun terlihat mandiri, sesungguhnya Suzuki merasa hidupnya sudah tak berguna lagi dan sering kali merasa kesepian. Akibat kekeras kepalaannya, Suzuki sering bertengkar dengan anak perempuan satu-satunya Harue (Emi Wakui), diremehkan oleh 2 orang cucunya dan juga tidak akur dengan sesama manula di pusat aktivitas untuk para jompo.

Di lain pihak, 3 teknisi perusahaan Kimura Electronics Kobayashi (Gaku Hamada), Nagai (Junya Kawashima) dan Ohta (Kawai Shogo) berada dalam tekanan presiden direktur Kimura Electronics tempat mereka bekerja untuk menyelesaikan pembuatan robot yang akan ditampilkan dalam pameran robot dalam sisa waktu seminggu. Setelah “kecelakaan” yang membuat robot setengah jadi buatan mereka hancur berantakan, mereka bertiga nekad membayar orang untuk memakai perlengkapan robot dan tampil sebagai robot dalam acara pameran. Secara kebetulan, orang yang cocok ukuran tubuhnya sebagai robot adalah si tua Suzuki yang sedang mencari uang tambahan. Jadilah Suzuki berperan bagaikan kigurumi bagi New Shio Kaze, si robot buatan Kimura Electronics.

Tadinya Suzuki direncanakan hanya disewa satu kali saja, tak dinyana dalam pameran robot tersebut Suzuki yang sedang berperan sebagai New Shio Kaze menyelamatkan seorang mahasiswi penggemar robot Yoko Sasaki (Yuriko Yoshitaka) dari musibah kecelakaan dan membuat New Shio Kaze masuk berita TV dan terkenal. Mulailah petualangan Suzuki sebagi robot New Shio Kaze bersama tiga teknisi yang menyewanya sekaligus interaksi mereka dengan Sasaki si mahasiswi yang jadi terobsesi dengan si robot penyelamat. Suzuki mulai merasa dirinya berguna dan memanfaatkan posisinya sebagai New Shio Kaze demi memperbaiki hubungannya dengan anak dan cucu-cucunya. Apakah Suzuki dan rekannya bisa menjaga rahasia dibalik robot New Shio Kaze? Apalagi obsesi Sasaki yang tergila-gila pada si robot semakin membuat rahasia robot gadungan berada di ujung tanduk.

Apa yang ditampilkan oleh Yaguchi kali ini bukan hanya sekedar kisah perjuangan dengan gaya semangat “Ganbare” Jepang yang old fashion, tetapi kali Yaguchi juga menyelipkan potret kehidupan para manula di Jepang yang hidup di rumahnya sendiri. Masih banyak manula Jepang yang hidupnya tak bergantung pada kaum mudanya, tidak tinggal di panti jompo, tidak tinggal bareng anak cucunya. Malah masih banyak yang bekerja seperti mengolah kebun sendiri sebagai pengisi waktu luang dan hasil bercocok tanamnya bisa dijual atau dimakan sendiri. Kadang untuk menghibur diri, para manula Jepang ini sering berkumpul bersama sesama manula di pusat aktivitas manula yang didirikan pemerintah daerah atau dengan main pachinko seorang diri.

Rasa komedi yang ditampilkan Yaguchi kali ini terasa agak berbeda jika dibanding karya-karya sebelumnya, terutama konsepnya yang lebih matang dengan sosok kakek-kakek sebagai sang hero. Soal lucu-lucuan khas Yaguchi, tentunya para penggemar film-filmnya akan mendapatkan banyak adegan yang memancing gelak tawa pada tingkah laku si kakek tua sebagai New Shio Kaze beserta 3 teknisi robot yang sebenarnya kurang mengerti teknologi robot. Yaguchi juga mengajak para penonton untuk turut bersimpati pada rasa sepi si kakek yang ingin dekat dengan cucu-cucunya selayaknya manula lain namun terhalang sifat keras kepalanya. Betapa akhirnya si kakek menggunakan topeng robot demi berdekatan dengan 2 cucunya.

Aksi Mickey Curtis, mantan penyanyi Rock dekade 50-60an blasteran Jepang-Kanada ini memang mencuri perhatian. Keras kepalanya, kemandiriannya, hingga rasa kesepian si tua Suzuki dapat ditampilkan Curtis sebagaimana sikap manula Jepang dalam kehidupan sehari-hari. Tak kusangka akting Yuriko Yoshitaka cukup menawan dalam membawakan antusiasme mahasiswi pintar yang tergila-gila pada robot, selain tentu saja didukung wajah manisnya. Kolaborasi Curtis dan Yoshitaka adalah nyawa film ini. Trio teknisi Kimura Electronics yang tampil bagaikan punakawan sebenarnya menarik, apalagi dengan kekompakan mereka dalam membawakan gaya lawakan lempar pancingan lelucon lalu disambut member lain dengan celetukan lucu membuat suasana komedi lebih semarak. Harmoni aksi mereka bertiga sebenarnya tampil mengalir, kompak dan lucu, sayangnya terus menerus diulang-ulang hingga akhir film. Lama-lama akhirnya justru jatuh mirip rutinitas komedi stereotip yang berujung mengurangi kelucuannya. Hal ini ditambah dengan tak ada pengembangan karakter yang signifikan bagi mereka bertiga. Naoto Takenaka, aktor langganan Yaguchi yang tampil dalam Water Boys dan Swing Girls juga ikut hadir lewat peran cameo, cuma numpang lewat tapi lumayan menggelitik.

Film ini memang bukan film berat kelas festival, tapi aku merasa terhibur dengan menyaksikan film ini. Cerita solid dengan pace sedang, komedi yang mengalir lancar walau kadang tak masuk akal, hingga kritik sosial yang disisipkan dengan adem membuat film ini enak ditonton. Ah ya, darimana datangnya judul film Robo-G? Sepertinya kata G (baca: ji) diambil dari kata jiji dalam bahasa Jepang yang berarti kakek tua.

Rating: 3.5/5

3 Responses to “Robo-G”


  1. 1 Gogo August 24, 2012 at 3:20 am

    awalnya agak antusias dg genrenya.. komedi, tp menjelang akhir terasa bgt dramanya..
    overall temanya sugoii banget..


  1. 1 Robo-G + Subtitle Indonesia | FileLengkap Trackback on April 27, 2015 at 8:45 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: