The Four

Seperti yang telah kutulis pada postingan sebelumnya, kali ini aku membahas film adaptasi terbaru dari novel silat serial Empat Opas karangan Wen Rui-an yang muncul di layar lebar. Pertama kali lihat trailernya, terus terang saja kalau aku tidak berharap terlalu banyak pada adaptasi buatan sutradara Gordon Chan ini. Gordon Chan dikenal sebagai sutradara film komedi pada awal karirnya sebagai sutradara, yang paling diingat tentunya kolaborasi Gordon Chan dengan komedian Stephen Chow dari Fight Back to School hingga King of Beggars. Akhir-akhir ini Gordon Chan lebih sering terlibat film aksi seperti Painted Skin, The King of Fighters hingga Mural. Dari tiga film terakhirnya, cuma Painted Skin yang kusuka dan sisanya boleh dibilang acak kadut. Yang membuatku kurang suka sewaktu menyaksikan trailer The Four adalah casting tokoh Tanpa Perasaan yang diubah gendernya menjadi seorang wanita. Oh, jangan salah sangka. Aku suka tokoh jagoan perempuan koq, tapi entah kenapa koq aku merasa terjadi miscasting pada sosok Tanpa Perasaan. Benarkah demikian?

Pada masa pemerintahan dinasti Song, sosok kaisar yang lemah membuat banyak penjabat korup dengan gampang menggunakan kekuasaannya untuk bertindak sewenang-wenang. Diantara sedikit pejabat kerajaan yang masih lurus jalannya adalah Zhuge Zeng-wo (Anthony Wong) yang mengepalai biro opas kecil yang bernama Biro Opas Sakti. Tuan Zhuge memiliki beberapa anak buah yang setia menjalankan perintahnya, tapi yang paling diandalkan ada 2 orang yaitu Wu Qing alias Tanpa Perasaan (Crystal Liu) dan Tie Shou alias Tangan Besi (Collin Chou). Saat itu dinasti Song sedang dihadapkan pada masalah pemalsuan uang yang menyebabkan perekonomian negara semakin kacau. Biro hukum utama kerajaan yang bernama Biro Nomer Enam pimpinan Tuan Liu, melihat Biro pimpinan Tuan Zhuge sebagai saingan meraih jasa dan kedudukan. Karena itu Tuan Liu memerintahkan salah satu opas bawahannya yang bernama Leng Xue alias Darah Dingin (Deng Chao) menyusup ke dalam Biro opas pimpinan Tuan Zhuge. Di pihak lain, Tuan Zhuge mendapatkan rekrutan baru bernama Zhui Ming alias Pengejar Nyawa (Ronald Cheng) yang tadinya berprofesi sebagai tukang tagih utang.

Sebelum baca pendapatku dibawah, sebaiknya baca dulu profil empat opas versi novel yang kutulis sebelumnya.

Ternyata feeling yang kudapatkan setelah nonton trailernya benar-benar tepat, karena permasalahan film ini memang dimulai dari mengubah karakterisasi tokoh. Mengganti status gender Tanpa Perasaan dan mengkasting Crystal Liu sebagai sosok opas pertama yang lumpuh itu benar-benar suatu kesalahan. Pada dasarnya tokoh Tanpa Perasaan adalah sosok yang terlihat lemah karena lumpuh setengah badan, tapi dengan kecerdasan otak dan kemampuannya menyembunyikan perasaan membuat Tanpa Perasaan ditakuti lawan dan disegani kawannya. Dengan mengganti gender Tanpa Perasaan menjadi wanita, justru tidak memberikan perubahan siginifikan terhadap karakterisasi tokoh yang tampilannya memang sudah lemah. Ditambah lagi sosok Crystal Liu yang menampilkan Tanpa Perasaan yang emosional, berperasaan sensitif dan agak temperamental membuat julukan “Tanpa Perasaan” menjadi lelucon tak lucu. Apanya yang “tanpa perasaan” kalau orangnya labil dan emosional? Kepintaran otak Tanpa Perasaan dalam novel seakan menguap dan digantikan kemampuan lain yang rada absurd buat film silat yaitu telekinesis (menggerakkan benda dengan pikiran) dan kemampuan membaca pikiran. Bayangkan saja, otak cerdas Tanpa Perasaan di dalam novel mampu menciptakan tandu yang dipenuhi perangkap dan jebakan senjata rahasia beraneka rupa. Di film ini yang ada kursi roda buatan Tangan Besi yang berteknologi canggih. Bahkan keahlian Tanpa Perasaan melepar senjata rahasia digantikan dengan melempar piauw pakai tenaga telekinesis.

Kalaupun sang sutradara ingin mengganti gender salah satu tokoh utama, tentunya menjadikan Tangan Besi atau Pengejar Nyawa sebagai sosok wanita akan membuat film lebih menarik. Terbayang si Tangan Besi wanita tomboy yang super kuat mampu membengkokkan senjata tajam dengan tangan kosongnya, atau Pengejar Nyawa cewek yang rada ganjen suka menggoda opas lainnya. Bukannya hal itu lebih menarik dibanding cewek lumpuh yang labil gara-gara cinta padahal menyandang nama “Tanpa Perasaan”. Yup, cinta segitiga memang ditampilkan dalam film ini antara Tanpa Perasaan, Darah Dingin dan cewek musuh yang naksir Darah Dingin. Tapi koq lagi-lagi kisah cinta segitiga ini terasa absurd, karena ketiga tokoh ini berinteraksi satu sama lain dalam waktu yang terlalu singkat untuk membuat orang jatuh cinta.

Selain karakterisasi tokoh dan kisah cinta, intrik film ini terlalu dibikin gampangan dan tidak ada misteri yang benar-benar menarik. Wong dari awal film sudah diperlihatkan siapa dalang kriminal pemalsu uangnya koq. Intrik kerajaan biasanya menjadi daya tarik film-film silat model beginian, seperti misalnya Detective Dee dan Flying Swords of Dragon Gate yang dilatar belakangi intrik politik kerajaan yang menarik. Di film ini, intrik politik terlihat lurus-lurus saja dimana pejabat yang licik terlihat memang licik, tak ada twist berarti yang mampu menggoda keingintahuan lebih lanjut ataupun perubahan karakter yang tak terduga. Kalaupun secara samar-samar sang sutradara ingin memperlihatkan ada dalang utama dibalik layar, aku sudah bisa menebaknya siapa si dalang utamanya terlebih dahulu sebelum sequel The Four diproduksi tahun mendatang. Ya, kabarnya memang The Four akan dibuat sebagai trilogi oleh Gordon Chan walaupun kabarnya masih simpang siur.

Kalaupun ada hal yang kusuka dari film ini adalah tokoh antagonis utamanya yang berilmu super jago. Bahkan dikeroyok 4 opas sekaligus tak membuat si antagonis susah payah menangkal semua serangan mereka. Paling tidak hal ini mengikuti alur dalam buku, dimana antagonis utama punya ilmu jauh lebih lihay dibanding masing-masing jagoannya.

Rating: 2.75/5

3 Responses to “The Four”


  1. 1 Elkha July 23, 2012 at 2:15 am

    hmm, jadi penasaran

  2. 3 Gogo July 30, 2012 at 4:24 am

    wah.. ratingnya ke kecil y.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: