Empat Opas – Pertemuan di Kotaraja

Tulisan review novel silat ini sebenarnya tulisan lama yang pernah dimuat dalam blog lama-ku yang sudah dihapus. Kali ini sengaja ku edit dan diposting lagi di sini sekaligus persiapan untuk review film yang merupakan adaptasi dari buku ini. Serial empat opas atau dalam bahasa aslinya Shi Da Ming Bu (四大名捕) merupakan novel bergenre wuxia karya pengarang cerita silat yang cukup terkenal yaitu Wen Rui-An. Serial ini sudah beberapa kali diadaptasi dalam bentuk media lain terutama serial drama TV. Adaptasi lainnya berbentuk komik Manhua hasil karya komikus China Andy Seto. Buku yang kubaca ini merupakan hasil terjemahan Tjan ID.

Empat opas mengetengahkan kisah petualangan 4 orang pemuda yang berprofesi sebagai opas (petugas hukum kerajaan semacam polisi) bawahan seorang petinggi kerajaan bernama Zhuge Zeng-wo dan bersetting pada masa dinasti Song. Keempat opas ini merupakan rekrutan dan didikan langsung dari Tuan Zhuge dan urutan mereka dihitung berdasarkan siapa saja yang terlebih dahulu ikut dibawah bimbingan Tuan Zhuge. Buku Pertemuan di kotaraja dibagi menjadi 5 bab dimana masing-masing satu bab mengetengahkan perjalanan satu opas dalam menguak misteri dan kasus kriminal. Bab ke-5 atau yang terakhir merupakan pemecahan kasus besar yang melibatkan ke-4 opas yang berkumpul dan bekerja sama satu sama lain. Masing-masing empat bab awal menggali sosok personal opas sekaligus juga sebagai babak perkenalan tokoh utama.

BAB I – Tangan Pembunuh
Tokoh utama opas keempat: Leng Xue (Darah Dingin)
Darah Dingin merupakan opas termuda diantara 4 opas, berusia 20 tahun dan merupakan orang terakhir yang direkrut oleh Tuan Zhuge. Keahlian utamanya adalah ilmu pedangnya yang tak bernama tapi sadis tanpa ampun. Masa kecilnya dilalui di alam liar sehingga menyebabkan Darah Dingin dikenal sebagai opas yang paling ulet, tahan uji sekaligus nekad. Beberapa kali Darah Dingin mampu menaklukkan musuh dan membunuh kriminal yang memiliki ilmu silat yang lebih tangguh dan itu lebih disebabkan keuletan, sikap pantang menyerah dan kenekadannya mengadu nyawa. Tubuhnya dipenuhi bekas luka bacokan dan tusukan senjata tajam ketika Darah Dingin menghadapi lawan yang lebih tangguh walaupun pada akhirnya justru Darah Dingin yang memenangkan pertempuran. Sesuai nama panggilannya, Darah Dingin jarang menangkap kriminal dalam keadaan hidup karena kebanyakan keburu tewas dibawah pedangnya.

Darah Dingin diundang oleh Lima Naga Dunia Persilatan untuk hadir dalam pesta ulang tahun orang ketiga dari Lima Naga. Ketika pesta baru akan dimulai, tiba-tiba Naga ke-3 tewas dibunuh orang di kamarnya tanpa ada tanda-tanda jelas kecuali sebuah pesan dari sang pembunuh. Sang pembunuh menyatakan akan membunuh seluruh Lima Naga sebagai aksi balas dendam kematian seorang tokoh sesat bernama Iblis Pedang yang tewas dibunuh Lima Naga beberapa tahun silam. Darah Dingin berdeduksi kalau pembunuhnya ada diantara tamu yang hadir. Mampukah Darah Dingin mengungkap identitas pembunuh tersebut?

Aku suka cerita bab satu ini karena memberikan twist yang lumayan mengejutkan. Misteri siapakah si pembunuh diungkapkan cukup bagus karena Wen Rui-an mampu menyembunyikan identitas sang pembunuh dengan baik sampai menjelang akhir penyelidikan.

BAB II – Tangan Berdarah
Tokoh utama opas ketiga: Zhui Ming (Pengejar Nyawa)
Pengejar Nyawa merupakan opas yang berusia paling tua diantara 3 rekannya yang lain pertengahan 30-an tahun. Keahlian utamanya adalah ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan kekuatan kakinya, tak heran ilmu yang paling berbahaya milik Pengejar Nyawa adalah ilmu tendangan. Dimasa muda, Pengejar Nyawa yang suka berkelana ini dikenal sebagai maling tangguh yang tak pernah tertangkap oleh petugas hukum hingga terakhir Tuan Zhuge bisa menangkapnya. Kesukaan Pengejar Nyawa yang sering berpakaian lusuh ini adalah minum arak dan kadang arak dipakai pula oleh Pengejar Nyawa sebagai senjata simpanannya lewat semburan mulutnya. Diantara keempat opas, Pengejar Nyawa adalah opas yang paling periang sifatnya dan suka bergurau.

Sudah banyak jagoan yang masuk ke dalam Perkampungan Hantu hilang tanpa jejak hingga akhirnya ada satu orang yang mampu meloloskan diri dalam keadaan hidup. Walaupun lolos, Yu-bun Siu kehilangan kewarasannya dan meracau tak keruan. Salah satu racauan si sinting Yu-Bun Siu adalah di dalam Perkampungan Hantu tersimpan kitab silat Pekikan Naga yang menjadi incaran orang-orang dunia persilatan. Semakin banyak orang yang datang ke Perkampungan Hantu dan semakin banyak orang yang hilang. Segerombol pesilat tangguh berbeda tujuan, datang ke Perkampungan Hantu. Ada yang ingin merebut kitab silat, ada yang ingin membalas dendam, dan Pengejar Nyawa hadir di dalam rombongan untuk menyelidiki orang-orang hilang. Ketika rombongan berangkat menuju Perkampungan Hantu, satu persatu anggota rombongan mulai menghilang ataupun tewas secara aneh.

Berbeda dengan bab satu yang lebih fokus memecahkan misteri pembunuhan a la detektif, petualangan Pengejar Nyawa ini lebih ke arah cerita misteri berbau horor dan mistis. Aku menyukai cerita friksi antar anggota rombongan yang memiliki motif berbeda untuk ikut serta masuk ke dalam Perkampungan Hantu.

BAB III – Tangan Beracun
Tokoh utama opas kedua: Tie Shou (Tangan Besi)
Tangan Besi berusia 30 tahun dan merupakan rekrutan kedua Tuan zhuge sebagai opas. Dibesarkan oleh seorang pandai besi, Tangan Besi dikenal sebagai orang yang paling baik hati dan ramah dibanding 3 rekannya yang lain. Tangan Besi paling mahir ilmu tangan kosong dan memiliki tenaga dalam paling sempurna diantara 4 opas. Tangannya kebal terhadap senjata tajam dan juga mampu menangkal racun ular yang menggigit tangannya.

Pemberontak berjuluk Raja Pemusnah beserta pengikutnya Dua Manusia Bengis berhasil kabur dari penjara dengan bantuan orang dalam. Komandan penjara merasa sulit untuk menangkap kembali Raja Pemusnah dan anak buahnya sehingga memutuskan datang menemui Tuan Zhuge untuk minta bantuan. Tuan Zhuge berdeduksi ke arah mana Raja Pemusnah kabur dan menebak rencana Raja Pemusnah untuk mengumpulkan kekuatan baru. Tuan Zhuge menyuruh Tangan Besi untuk membantu komandan penjara menangkap kembali Raja Pemusnah.

Lagi-lagi variasi cerita ditampilkan oleh Wen Rui-an. Kisah si Tangan Besi lebih mengarah ke cerita perjalanan dan petualangan dibandingkan cerita detektif dalam bab satu ataupun cerita misteri dalam bab dua. Akan tetapi terlalu banyak nama tokoh-tokoh yang muncul dalam bab ini dan aku sulit mengingat siapa saja yang menjadi teman ataupun lawan si Tangan Besi. Ujung-ujungnya cerita bab tiga kurang memorable bagiku.

BAB IV – Tangan Kemala
Tokoh utama opas pertama: Wu Qing (Tanpa Perasaan alias si kejam)
Tanpa Perasaan berusia pertengahan 20-an tahun dan lumpuh kakinya sehingga kemana-mana terlihat selalu memakai tandu yang diusung 4 bocah pedang emas dan perak. Ketika masih berusia 6 tahun keluarga Tanpa Perasaan habis dibantai oleh musuh dan peristiwa pembantaian tersebut mengakibatkan kakinya cacat. Tanpa sanak saudara, si kecil Tanpa Perasaan dipungut oleh Tuan Zhuge sehingga Tanpa Perasaan dihitung sebagai rekrutan pertama Tuan Zhuge. Boleh jadi kakinya lumpuh, tapi Tanpa Perasaan merupakan pemimpin dari 4 opas. Karena lumpuh dan bertubuh lemah, Tanpa Perasaan tak bisa berlatih ilmu silat dan tak bisa memupuk tenaga dalamnya sehingga dia fokus dan mati-matian melatih kemampuan lain untuk menutupi kekurangan dirinya. Hasilnya Tanpa Perasaan memiliki keahlian melempar sejata rahasia dan ilmu meringankan tubuh yang hebat. Tapi diantara seluruh keahliannya, Tanpa Perasaan lebih ditakuti pihak lawan atas kemampuan otaknya. Kecerdasannya dalam menganalisa kasus dan mengatur strategi membuat Tanpa Perasaan disegani oleh opas lainnya. Tanpa Perasaan juga menggunakan kecerdasannya untuk merancang dan menciptakan tandu khusus yang dilengkapi dengan berbagai macam jebakan dan aneka senjata rahasia. Tanpa Perasaan bukannya tak punya perasaan, malah boleh dibilang Tanpa perasaan sebenarnya memiliki hati yang sensitif dan mudah tersentuh. Hanya saja sejak peristiwa pembantaian keluarganya dia lebih memilih menggunakan otaknya dibandingkan hatinya. Lagipula dengan wajahnya yang tanpa emosi membuat para musuh sulit menduga jalan pikiran dan taktik yang dirancang oleh Tanpa Perasaan.

Tuan Zhuge menugaskan Tanpa Perasaan untuk membasmi Empat Iblis Langit yang diketahui menculik tokoh-tokoh persilatan untuk dijadikan manusia obat yang bisa dikendalikan dan diperintah bagaikan robot oleh Empat Iblis Langit. Karena Benteng Utara sedang dikepung oleh Empat Iblis Langit beserta manusia obatnya, Tanpa Perasaan turut dalam rombongan Benteng Timur yang datang untuk memberi bantuan pada Benteng Utara. Tanpa diduga, di dalam rombongan Benteng Timur terdapat pengkhianat.

Menurutku cerita dalam bab empat ini mirip dengan bab tiga dimana rombongan tokoh utama bertugas untuk membasmi kriminal. Tak ada misteri dan tak ada kisah penyelidikan detektif kecuali tebak-tebakan siapa pengkhianat yang ikut serta dalam rombongan Benteng Timur. Yang ada adalah kisah Tanpa Perasaan menyusun taktik untuk menaklukkan Empat Iblis Langit.

BAB V – Pertemuan di Kotaraja

Tuan Zhuge memerintahkan keempat anak buahnya untuk melacak jati diri 13 pembunuh yang pernah membantai banyak keluarga pesilat belasan tahun sebelumnya, termasuk diantaranya keluarga Tanpa Perasaan. Salah satu pembunuh telah diketahui identitasnya pada bab empat dan telah tewas terbunuh. Sisa 12 orang pembunuh memiliki keahlian berbeda-beda dan juga memiliki nama besar di dunia persilatan. Bagaimanakah cara empat opas mengungkap jati diri 12 pembunuh yang tersisa dan siapakah yang menggerakkan dan memerintah mereka?

Komentar:
Karena ini adalah buku pertama karangan Wen Rui-an yang kubaca, ada beberapa kesan yang kudapatkan. Pertama-tama, Wen Rui-an terlihat jelas tidak menuliskan cerita berbentuk epos layaknya Jin Yong yang dikenal dengan Condor Heroes Trilogy melainkan bergaya Gu Long dengan novel Detektif Wuxia. Yang kusukai dari tulisan Wen Rui-an disini adalah karakterisasi tokoh utama yang berbeda satu sama lain, memiliki kekuatan dan kelemahan tersendiri tetapi jika bersatu bisa saling menutupi kekurangan. Penokohan jagoan disini juga tidak sebagaimana cerita pendekar lainnya yang menjunjung tinggi kegagahan. 4 opas tak segan mengeroyok lawannya, apalagi jika menemui lawan yang kelewat tangguh. Lihat saja cerita dalam bab dua dan tiga. Masing-masing tokoh musuh utama Pengejar Nyawa dan Tangan Besi terlampau tangguh untuk dihadapi satu lawan satu. Ujung-ujungnya mereka mengandalkan keroyokan plus main akal-akalan yang mungkin agak licik bagi pendekar sejati.

Untuk bab terakhir dimana 4 opas berkumpul dan bertarung bahu membahu melawan musuh yang juga berjumlah banyak, aku suka dengan cara penceritaan Wen Rui-an yang menampilkan perkelahian kalang kabut bagaikan pertempuran dalam perang, bukan satu lawan satu.

3 Responses to “Empat Opas – Pertemuan di Kotaraja”


  1. 1 seno June 4, 2013 at 6:06 pm

    dimana saya mendapatkan serial 4 opas bab 1 sampe 4 ya,, aku mencari di mana mana gak ketemu..yg ada pertemuan di kota raja dan misteri lukisan tengkorak.


  1. 1 The Four « Toumei Ningen – The Reviews Trackback on July 22, 2012 at 6:58 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: