Hara-Kiri: Death of a Samurai

Entah kenapa, akhir-akhir ini Takashi Miike sedang gandrung membuat ulang film jidaigeki (bertema samurai) lama. Setelah membuat remake 13 Assassins, kali ini giliran salah satu film jidaigeki legendaris buatan Masaki Kobayashi yang dibuat ulang oleh Miike. Film yang beredar di Jepang dengan judul Ichimei (satu nyawa) ini merupakan produk remake dari film buatan tahun 1962 berjudul Harakiri. Walaupun jadul, Harakiri merupakan salah satu film jidaigeki yang legendaris karena meraih penghargaan dimana-mana dan mendapat banyak pujian dari kritikus internasional. Dengan format 3D, Miike mencoba mengintrepetasi ulang film yang mengangkat tema ritual bunuh diri kaum samurai demi menjunjung harga diri dan kehormatan mereka sebagai seorang samurai.


Hidupku tak lebih dari hanya sekedar menanti datangnya musim semi setiap tahunnya
(Tsugumo Hanshiro)

Tahun 1634, seorang ronin (samurai tanpa tuan) setengah baya bernama Tsugumo Hanshiro masuk ke halaman rumah klan Ii, sebuah klan samurai bangsawan yang terkenal dan kaya. Saat itu pertempuran Sekigahara telah berakhir selama 30 tahun dan klan Ii termasuk klan pendukung Shogun Tokugawa yang memenangkan perang sehingga memperoleh banyak penghargaan dari Shogun. Tsugumo sendiri dulunya mengabdi pada Fukushima Masanori yang kehilangan tanah dan kekuasaan atas perintah Shogun Tokugawa, sehingga banyak samurai yang tadinya mengabdi akhirnya berpencar tanpa tuan. Tsugumo datang untuk meminjam halaman klan Ii demi melakukan ritual harakiri agar bisa mati sebagai samurai yang terhormat dari pada mati terhina di jalanan. Jaman itu sebenarnya cukup banyak samurai miskin yang datang meminjam halaman untuk harakiri demi mendapatkan imbalan dari klan kaya yang tidak ingin sang samurai mati di halaman rumahnya karena belas kasihan.

Saat itu, penanggung jawab rumah tangga klan Ii yang ada di rumah adalah samurai tua veteran pertempuran Sekigahara bernama Saito. Saito memperingatkan Tsugumo betapa beberapa hari sebelumnya ada samurai muda bernama Chijiiwa Motome dari klan yang sama Fukushima Masanori juga, meminta hal yang sama dengan permohonan Tsugumo dan tewas dengan kondisi tragis. Dengan wajah dingin, Tsugumo tak mengindahkan cerita Saito tentang betapa tragisnya kematian Motome dan tetap memohon pada Saito untuk mengabulkan permintaan harakiri-nya. Ketika persiapan harakiri telah selesai dan Tsugumo siap untuk bunuh diri, tiba-tiba Tsugumo menjelaskan alasannya datang harakiri di halaman klan Ii sekaligus juga menceritakan hubungannya dengan Cijiiwa Motome yang tewas di halaman yang sama beberapa hari sebelumnya. Tragedi yang dialami Chiijiwa Motome dikisahkan oleh Tsugumo dengan gaya narasi kilas balik.

SPOILER ALERT!
Karena aku ingin membandingkan dengan film original produksi tahun 1962, mau tidak mau terpaksa harus membuka sedikit spoiler. Kalau tidak keberatan, silahkan teruskan ke bawah.

Takashi Miike dikenal sebagai sutradara film gory (berdarah-darah) yang berkelas dan itu dibuktikannya dalam film ini. Adegan harakiri Chijiiwa Motome yang berakhir tragis ditampilkan Miike dengan gaya khasnya. Bunuh diri Chijiiwa Motome benar-benar dibuat oleh Miike dengan mengerikan, membuat miris, menyedihkan sekaligus juga mencekam, mungkin ini adegan terbaik dalam film Hara-Kiri: Death of a Samurai. Akan tetapi sayangnya banyak adegan drama dalam gaya flash-back (adegan kilas balik) ditampilkan terlalu lambat dan kurang efektif. Drama yang diarahkan Miike justru membosankan, berbanding terbalik dengan film produksi 1962 yang memiliki kekuatan pada adegan drama.

Salah satu kelebihan film Harakiri produksi 1962 adalah kemampuan sutradaranya Masaki Kobayashi dalam menyajikan bahasa simbolisme ke dalam adegan film. Ejekan sinis terhadap konsep harga diri samurai lewat ritual harakiri, sikap munafik demi kehormatan samurai, hingga betapa modernsasi senjata api mampu mengalahkan jago pedang benar-benar terasa menohok. Sedangkan versi Miike terlalu sibuk dengan adegan 3D (film ini disajikan dengan kemasan 3 dimensi) yang menurutku tidak istimewa. Dilain pihak, cara Tsugumo untuk mempermalukan klan Ii dengan menggunakan pedang bambu menurutku terlampau berlebihan. Bandingkan dengan cara Tsugumo dalam vesi original yang mempermalukan harga diri klan Ii lewat kata-kata pedas. Selain itu juga, kematian Tsugumo dalam versi baru ini tak sedramatis kamatian Tsugumo dalam film originalnya yang diberondong senjata api. Ya! ini olok-olokan sang sutradara Kobayashi tentang modernsasi. Betapa Tsugumo yang jago pedang dan mampu menghadapi keroyokan samurai klan Ii dengan gagah, akhirnya justru tumbang gara-gara muntahan pelor. Bagaimana dengan versi Miike? pasrahnya Tsugumo dengan menerima tusukan gratisan justru membuat ending film ini menjadi anti-klimaks.

Khusus untuk urusan akting para pemerannya, dipilihnya Ichikawa Ebizō XI sebagai Tsugumo sangat tepat. Ichikawa Ebizō XI bukanlah aktor layar lebar biasa melainkan aktor Kabuki (sejenis theater drama klasik Jepang) yang berpengalaman dan pernah bermain dalam drama TV sebagai Miyamoto Musashi. Ekspresi hangat dan dinginnya Tsugumo dalam menjalani hidupnya yang penuh pahit getir, suka dan duka, mampu dibawakan Ichikawa Ebizō XI dengan penghayatan penuh. Dibandingkan akting aktor legendaris Tatsuya Nakadai yang berperan sebagai Tsugumo dalam flm originalnya, Ichikawa Ebizō XI tak terlihat memalukan. Peran si samurai tua Saito dibawakan dengan efektif oleh aktor senior Koji Yakusho yang sebelumnya juga bermain dibawah arahan Miike dalam 13 Assassins. Tampil sebagai samurai muda yang bernasib malang Chijiiwa Motome, Eita mampu mencuri perhatian. Eita bisa memainkan perannya sebagai Motome dan merebut simpati penonton atas tragedi hidup Motome.

Menurutku, arahan Miike untuk kali ini terasa kurang maksimal terutama untuk adegan drama dan penerapan simbolisasi film originalnya dalam bahasa film. Jualan 3D juga kuanggap kurang istimewa walaupun pengeroyokan di bawah hujan salju terlihat lumayan keren. Akan tetapi secara teknis, film ini masih lebih baik dari film originalnya yang memang jadul punya. Dan jangan lupa pula, setiap adegan tragedi dalam film ini mampu dimaksimalkan oleh Miike. Kalau anda punya kesempatan, cobalah nonton film ini lalu tonton juga film originalnya supaya bisa mendapatkan dua perspektif yang agak berbeda.

Rating: 3.5/5

8 Responses to “Hara-Kiri: Death of a Samurai”


  1. 1 rizal June 2, 2012 at 4:59 am

    saya suka film ini sepertinya mike bermain lembut di film ini …Saya dibikin gregetan sama adegan pertempuran di bawah salju kenapa dia ga ngelawan yaaa!!

    • 2 AnDo June 2, 2012 at 9:32 am

      @rizal

      kenapa dia ga ngelawan yaaa!!

      itulah yang bikin aku sebal. dalam film originalnya, Tsugumo membunuh 4 samurai dan melukai banyak yang lain sebelum mati ditembak.
      mungkin Miike pengen memberi kesan Tsugumo sedang mempermalukan kemunafikan klan Ii dengan menggunakan pedang bambu dan ngasih tikaman gratisan. tapi koq kesannya jadi anti-klimaks yah?

      aku paling gregetan sama adegan Motome harakiri. ngeri, sedih, pilu dan mencekam bercampur jadi satu.

  2. 3 purisuka June 3, 2012 at 2:24 pm

    ah, beberapa hari yg lalu baru nonton film ini, dan saya suka film ini😀 dan setuju, adegan hara-kiri Motome emang adegan terbaik di film ini. rasanya hati ikut tersayat-sayat liatnya. soal drama di bagian flashbacknya, setuju agak lambat. tapi saya lumayan terbawa sama bagian dramanya (atau mungkin karena bias saya sama Eita+Hikari Mitsushima kali ya. suka banget mereka dipasangin di sini).

    btw saya belum pernah nonton versi originalnya nih, tapi abis nonton ini jadi tertarik buat nonton. mungkin pendapatnya bakalan beda lagi ya kalo udah nonton yg originalnya😀

    • 4 AnDo June 3, 2012 at 3:52 pm

      @purisuka
      Kalau mau nonton versi originalnya, kayaknya harus rada sering nonton film jadul hitam putih, baru bisa menilai kelebihannya.
      Karena walau bagaimanapun juga, secara teknis film jaman sekarang jauh lebih bagus. Dan hal teknis begini sering membuat penonton bias loh, soalnya penilaian saya dulu juga sering bias pas nonton film jadul.:mrgreen:

  3. 5 AL June 3, 2012 at 11:45 pm

    Satu-satunya film samurai yg pernah saya tonton cuman Seven Samurai (dan Samurai X sih) dan itu keren, walopun butuh beberapa hari buat selesai karena ketiduran mulu di tengah film, hehehe.. Ntar coba cari-cari lah film ini. Tapi kayaknya film layar lebar Jepang itu emang rada lamban iya gak sih?

    • 6 AnDo June 4, 2012 at 4:38 am

      @AL
      Film Jepang layar lebar emang banyak yang jalannya lamban, terutama film drama. Film thriller aja kadang lamban koq, kadang kalau nonton di bioskop bisa bikin ngantuk😛

  4. 7 Gogo June 6, 2012 at 4:43 am

    siip, dah jrg jg ntn film2 bertema Samurai..
    lbh prefer nunggu Samurai X live act..😀

    • 8 AnDo June 14, 2012 at 1:39 pm

      @Gogo
      Beda genre go, walau sama2 film ttg samurai. Yang ini film drama tragedi yg serius, Samurai X live act sih lebih ke film eksyen komersil.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: