Will – A story of Liverpool’s No. 1 fans

Steven Gerrard is a Supernova, isn’t he?
He moves like a tornado on fire
twisting in all directions at once.
and always has his eye on the goal.
The ball is in the moon, and he is in the earth.
and whatever he wishes, his legs make so.
He is a football Supernova

(Will Brennan)

Menurut anda, final Piala Champion Eropa manakah yang paling dramatis? Salah satu diantaranya mungkin final tahun 1999 dimana Manchester United berhasil membalikkan skor 1-0 menjadi 2-1 lewat dua gol dalam injury time untuk menundukkan Bayern Munchen. Tapi mungkin tak ada yang mengalahkan kenangan final tahun 2005 yang justru lebih dramatis lagi, karena Liverpool yang telah tertinggal 3-0 di babak pertama berhasil mempecundangi AC Milan setelah sukses menyamakan kedudukan menjadi 3-3 di babak kedua dan akhirnya memenangkan pertandingan lewat adu penalti. Film produksi Inggris ini menceritakan tentang perjalanan seorang anak fans Liverpool yang mengunjungi Istambul Turki demi menyaksikan pertandingan final Piala Champion 2005 tersebut.

Semenjak kematian ibunya 3 tahun yang lalu, Will Brennan (Perry Eggleton) ditinggal ayahnya Garreth Brennan (Damian Lewis) yang pergi karena depresi akibat ditinggal sang istri. Will dititip ayahnya di sebuah asrama merangkap sekolah dibawah asuhan Sister Noell dan Carmell di daerah Kent Inggris Selatan. 3 tahun berlalu Will telah berusia 11 tahun, Garreth tiba-tiba saja muncul dan berniat mengambil Will untuk menebus waktu 3 tahun yang dijalani Will tanpa sosok sang ayah. Salah satu usaha Gareth untuk mengambil hati sang anak adalah dengan mengajak Will nonton final Piala Champion 2005 di Istambul Turki. Sayangnya umur Gareth tak cukup panjang untuk menepati janjinya menyertai anaknya pergi ke Turki. Will yang memperoleh warisan 2 tiket nonton final piala Champion 2005, nekad pergi seorang diri melintasi daratan Eropa menuju Istambul demi memenuhi impian bersama ayah dan dirinya menyaksikan Liverpool FC, klub kebanggaan mereka berdua bertarung melawan AC Milan.

Menurutku film ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu kisah Will di Inggris dan kisah Will dalam perjalanan menuju Istambul. Bagian pertama ditampilkan dengan luar biasa sehingga mampu membuatku ikut larut dalam suasana hati para tokoh yang tampil dalam bagian ini. Duet ayah anak yang dibawakan Damian Lewis-Perry Eggleton dalam Will malah lebih menyentuh dibandingkan duet Hugh Jackman-Dakota Goyo dalam Real Steel. Jackman-Goyo butuh waktu lebih dari 1 jam untuk meluruhkan hati penonton, tapi Lewis-Eggleton hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk membuat penonton turut bersimpati pada cara sang ayah untuk kembali menjemput anaknya yang telah ditelantarkannya. Rasanya aku ikut bersedih ketika Gareth meninggal mendadak akibat pendarahan otak dan meninggalkan anaknya yang memiliki harapan panjang untuk tinggal bersama ayahnya.

Menggunakan posisi sebagai fans berat Liverpool FC memang sangat tepat untuk mencairkan hubungan ayah-anak yang beku selama 3 tahun. Gareth yang berasal kota Liverpool memang fans berat Liverpool FC dan kecintaannya pada Liverpool FC menurun pada anaknya Will. Adegan yang menampilkan Gareth memuja Kenny Dalglish dibandingkan dengan Will yang mendewakan Steven Gerrard tentunya akan membuat penonton beda generasi yang tahu tentang sejarah Liverpool FC akan tersenyum simpul (aku sendiri pendukung Liverpool FC sejak jaman Steve McManaman), dan adegan inilah yang sanggup mencairkan dinginnya Will menyambut kedatangan ayahnya secara mendadak. Ah…. ketika ayah-anak Brennan menyanyikan You’ll Never Walk Alone bersama-sama, rasanya akan membuat penonton yang hapal lagu itu akan ikut menyanyi bersama mereka.

Sayangnya bagian kedua tidak ditampilkan secemerlang bagian pertama. Awal perjalanan Will sampai di Paris lumayan bagus, paling tidak pertemuan Will dengan Alek dan Mathieu ditampilkan dengan cukup menarik. Sayangnya ketika Will dan Alek berangkat meninggalkan Paris menuju Istambul, kecemerlangan film yang ditampilkan sejak awal berangsur menurun secara perlahan. Hal ini tak bisa dilepaskan dari keputusan sutradara Ellen Perry yang membagi kisah Will dengan kisah Alek si mantan pesepak bola asal Bosnia. Sebenarnya kisah latar belakang Alek tidaklah buruk, tapi kurang tepat jika menggabungkannya dengan cerita Will yang sudah dibangun sejak awal film. Ditambah lagi adegan yang bersetting di Bosnia, dialog ditampilkan dengan bahasa Inggris bukan bahasa lokal. Terlihat aneh bukan? Jika orang-orang kampung di Bosnia berbicang sesama mereka dengan bahasa Inggris? Apalagi film diakhiri dengan cara yang terlalu memudahkan Will nonton di stadion Attaturk Istambul, malah membuat film ini tidak memberikan hasil maksimum dari perjuangan seorang anak yang susah payah melintasi daratan Eropa. Mirip dengan mendaki gunung tapi malah balik turun ke bawah sebelum mencapai puncaknya.

Bicara soal akting, para aktor dan aktris utama dalam film ini bermain baik. Tentu saja yang paling menonjol adalah akting aktor cilik Perry Eggleton dan pemeran ayahnya Damian Lewis. Kolaborasi total keduanya sanggup menguasai layar walaupun penampilan bersama mereka berdua tak lebih dari 30 menit. Lihatlah adegan dimana Damian Lewis bercerita tentang King Kenny dan Perry Eggleton mendeskripsikan Steven Gerrad sebagai Supernova-nya sepak bola dengan mata yang berbinar-binar (I love this scene!). Aktor Bob Hoskin yang berperan sebagai teman ayahnya Will bermain bagus, begitu juga Kristian Kiehling yang berperan sebagai Alek tampil cukup baik. Namun yang sanggup mencuri perhatian diantara aktor-aktor dewasa pendamping tokoh utama, justru aktor cilik Brandon Robinson yang membawakan peran sebagai Richie, fans berat Chelsea FC, rival sekaligus sahabat Will di asrama. Penampilan Brandon Robinson sanggup menyisipkan beberapa adegan komedi yang akan membuat penonton tertawa diantara dominasi alur drama sepanjang film. Penampilan Kenny Dalglish, Steven Gerrad dan Jamie Carragher di akhir film hanyalah bonus, karena penampilan mereka cenderung kaku. Maklumlah, mereka bukan aktor profesional.

Alhasil, film ini adalah film yang layak tonton bagi anda yang menggemari sport movie dan road movie, apalagi kalau anda mengaku sebagai penggemar olah raga sepak bola. Penurunan intensitas di bagian akhir film tidaklah membuat film ini jatuh kualitasnya secara keseluruhan. Dan bagi para Liverpudlian, anda wajib nonton film ini!

You’ll Never Walk Alone!

Rating: 3.75/5

7 Responses to “Will – A story of Liverpool’s No. 1 fans”


  1. 1 arm March 4, 2012 at 9:16 am

    ada link-nya om?:mrgreen:

    *pelipur lara habis ditekuk Arse*

  2. 3 gogo March 10, 2012 at 4:11 am

    bacar reviewny aj dah cukup mengaharukan.. nice..
    rekomended keknya

  3. 4 inonk March 25, 2012 at 6:43 am

    udah nonton ni film saya rekom buat kalian para Anfield gang…”YNWA”…

  4. 6 arif rahman hakim September 30, 2012 at 7:40 am

    coba mention @bigreds_iolsc


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: