Hankyu Densha


Aku tahu keberadaan film ini ketika temanku Takero menulis update statusnya di socmed mixi tahun lalu, hanya saja ada hal yang membuatku membatalkan niatku nonton di bioskop. Hal itu adalah penggunaan logat kansai dalam mayoritas dialog dan terus terang saja, kemampuanku untuk mengerti dialek kansai menurutku masih kurang. Maklumlah, kalau nonton di bioskop tak bisa mengulang adegan yang berisi dialog yang tidak bisa ditangkap kupingku. Setelah keluar DVD-nya pun aku masih agak malas untuk nonton, baru tertarik ketika aku melihat salah satu pemerannya tertera di cover film yaitu Mana Ashida yang pernah kutonton di film Usagi Drop. Benar saja film ini menampilkan banyak dialog berdialek kansai karena settingnya di ambil di daerah kansai, propinsi Hyogo. Film ini merupakan adaptasi novel yang berjudul sama karya Hiro Arikawa. Hankyu Densha sendiri berarti KRL (Kereta Listrik) Hankyu, sebuah jalur KRL di daerah kansai yang dijadikan tempat berinteraksi para tokohnya. Karena KRL Hankyu punya banyak jalur, jalur yang digunakan untuk setting film ini hanya jalur Imazu.

Seluruh setting film ini di ambil di dalam kota Kobe. Film dimulai dengan memperkenalkan salah satu tokoh wanita bernama Shoko Takase (Miki Nakatani) yang sedang berbincang dengan tunangannya bersama wanita lain. Rupanya tunangannya selingkuh dengan kohai (junior) Shoko di perusahaan yang sama sampai si kohai hamil. Pertemuan itu sebenarnya diadakan sang tunangan untuk memberitahukan Shoko bahwa si tunangan berniat menikahi si kohai. Lalu adegan beralih ke seorang nenek Tokie Hagiwara (Nobuko Miyamoto) yang sedang jalan-jalan bersama cucunya Ami (Mana Ashida). Dengan cepat adegan beralih lagi ke Misa Morioka (Erika Toda), mahasiswi cantik yang punya pacar ganteng tapi kasar dan menyebalkan. Ketiga tokoh ini bertemu di dalam KRL Hankyu jalur Imazu dan berinteraksi di dalamnya. Dari interaksi ini, mereka berinteraksi pula dengan tokoh-tokoh lain dan saling mempengaruhi jalan hidup masing-masing.

Tadinya kukira film ini akan mengambil gaya anthology dengan mengambil lokasi setting yang sama tetapi berbeda jalan cerita. Nyatanya tidak, karena tokoh-tokoh yang jumlahnya cukup banyak ini justru berinteraksi satu sama lain dalam banyak scene. Yang menjadi masalah, waktu interaksi terlampau pendek untuk mengubah jalan pikiran dan pola pandang hidup masing-masing tokoh sehingga aku justru menganggap film ini terlalu menggampangkan penyelesaian masalah. Padahal beberapa tema yang diambil cukup menarik untuk dibahas dalam satu film panjang atau setidaknya menjadi salah satu bagian anthology film. Dengan memperkenalkan begitu banyak karakter dengan jalan cerita masing-masing, tentunya sulit diterima akal untuk menyelesaikan semua masalah hanya lewat pertemuan di dalam kereta listrik yang sama-sama ditumpangi. Lemahnya karakterisasi dan skenario membuat film ini berjalan datar. Sayang sekali, padahal aku suka dengan ide cerita, gambar yang ditangkap kamera dan juga akting Miki Nakatani walaupun porsinya tak banyak. Bagaimana dengan Mana-chan? Anak ini mampu tampil natural, bahkan aku lebih suka akting natural Mana-chan dibanding Nobuko Miyamoto yang berperan sebagai neneknya yang sok bijak.

Jelek kah film ini? Paling tidak aku mendapatkan banyak pesan positif dalam film ini, terutama dikarenakan karakter-karakter yang hadir dalam film memiliki latar belakang yang sama yaitu tercampakkan, terpinggirkan dan kesepian. Dan semua karakter tersebut berusaha keras untuk bangkit dengan cara saling mendukung satu sama lain. Anda punya teman senasib? Bergabunglah dengan teman senasib maka anda akan menjadi lebih kuat. Walaupun film ini mayoritas berjalan datar, masih ada beberapa bagian film yang kusukai. Bagian favoritku adalah cerita Shoko Takase yang berkeras datang ke pesta pernikahan mantan tunangannya…. dengan menggunakan gaun pengantin!!😆

5 Responses to “Hankyu Densha”


  1. 1 Putri February 22, 2012 at 3:27 pm

    Jadi inget, bahwa saia juga pernah bertemu orang yang sama di bus kampus… dan akhirnya menjadi teman.. kemudian share soal permasalahan pribadi…
    Meskipun, tentu saja kalo hanya ketemu di kereta api saja, tanpa adanya intensitas pertemuan yang lain sepertinya akan kurang memberi pengaruh kuat terhadap pribadi masing2, ya…
    Toh…kepercayaan terhadap seseorang itu khan timbul karena sudah intensnya hubungan, ya #IMHO

    *

    Barangkali ide cerita ini pernah dialami si penulis kali, ya ? ^_^

    • 2 AnDo February 24, 2012 at 5:51 am

      @Putri
      Well, gak semua orang bisa langsung akrab dengan orang yang sama sekali asing kayak penumpang bus/kereta yang duduk di sebelah, apalagi sampai bisa ngomongin masalah pribadi.

      Toh…kepercayaan terhadap seseorang itu khan timbul karena sudah intensnya hubungan, ya #IMHO

      Yup… kalau alasan itu sih, aku setuju

      Toh…kepercayaan terhadap seseorang itu khan timbul karena sudah intensnya hubungan, ya #IMHO

      Mungkin saja.
      btw, filmnya memang kurang menarik gaya penceritaannya, tapi idenya keren. terutama kisah Shoko Takase yang datang ke pesta pernikahan mantan tunangannya pakai baju pengantin itu.
      Kayaknya novelnya jauh lebih menarik buat dibaca daripada filmnya.

  2. 3 gogo March 14, 2012 at 7:21 am

    ceritanya terkesan biasa2 saja..

    • 4 AnDo March 14, 2012 at 7:10 pm

      @gogo
      Cerita slice of life jarang ada yang menarik koq, namanya juga kisah kehidupan sehari-hari. Kalaupun ada film yg membawa tema slice of life, biasanya bagus tidaknya tergantung pada faktor di luar cerita seperti skenario dan sutradara.
      Kecuali kisah Shoko Takase, yang lainnya emang biasa aja. Kebayangkan? Misalnya gogo punya tunangan yg hampir nikah tapi akhirnya putus gara2 gogo selingkuh. Lalu gogo kawin sama cewek lain, dan si mantan tunangan datang ke pesta perkawinan pakai gaun pengantin. Menarik gak kalau gitu premisnya?😆

  3. 5 aryakuro September 17, 2012 at 11:31 pm

    Haha, gak sengaja milih nonton film ini pas di pesawat. Well, film tentang daily life memang kadang membosankan, tapi punya pesan plus posisi tersendiri buat saya. Untuk film ini, emang bener yang paling keinget itu bagian hadir ke pesta perkawinan mantan tunangan pake gaun pengantin yang sebenernya harusnya jadi gaun pengantin pesta perkawinan mereka, hehe. Miris dan ironis.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: