Flying Swords of Dragon Gate dan sedikit latar sejarah

Kolaborasi sutradara/produser Tsui Hark dan bintang laga Jet Li sudah cukup dikenal oleh para pecinta film martial arts lewat seri Wong Fei-hung era 1990-an. Kali ini Tsui Hark kembali mengajak Jet Li dalam pembuatan karya terbarunya yang dilabeli oleh Tsui Hark sebagai re-imagine film produksi tahun 1992 New Dragon Gate Inn yang diproduseri oleh Tsui. New Dragon Gate Inn sendiri merupakan remake film Dragon Gate Inn produksi 1967 yang diisutradarai oleh sutradara legendaris Taiwan, King Hu. Kalau melihat setting film Flying Swords of Dragon Gate yang diambil 3 tahun setelah peristiwa terbakarnya Penginapan Gerbang Naga pada ending New Dragon Inn, film ini lebih cocok disebut sebagai sequel tak langsung dari New Dragon Inn daripada sebutan re-imagining. Tsui Hark menyatakan bahwa teknik 3D yang digunakan dalam film ini akan membuka interpretasi baru dalam film bergenre wuxia, namun sayangnya aku harus cukup puas nonton versi 2D-nya karena jadwal nontonnya 3D terlalu mepet buatku.

Latar Belakang Sejarah
Sebenarnya plot film ini bisa saja berdiri sendiri tanpa mengkaitkan dengan sejarah China, tepatnya pada masa dinasti Ming jaman pemerintahan kaisar Chenghua. Akan tetapi, menurutku latar sejarah film ini terlalu menarik jika tidak dipaparkan bagi yang penonton yang kurang faham dengan sejarah Tiongkok kuno. Dengan sendirinya, dengan mengetahui latar sejarahnya akan membuat film ini semakin nikmat ditonton.

Kaisar Chenghua memiliki 2 istri dan puluhan selir yang menghuni kaputren dinasti Ming. Diantara sekian banyak selir, kaisar Chenghua dikenal sangat menyayangi seorang selir yang bernama selir Wan. Selir Wan ini berambisi ingin menempatkan anaknya sebagai putra mahkota yang kelak akan naik sebagai kaisar penerus Chenghua. Sayangnya anak hasil hubungan kaisar Chenghua dan selir Wan mati ketika masih kecil. Sejak itu selir Wan dan para kasim bawahannya mulai gentayangan mengaborsi paksa, meracuni, hingga membunuh selir-selir lain yang mengandung anak hasil hubungan dengan kaisar Chenghua. Untungnya salah satu selir berhasil melahirkan anaknya dengan selamat. Dibantu permaisuri Wu (istri pertama kaisar Chenghua), anak yang kelaknya akan menjadi kaisar Hongzhi ini berhasil lolos dari maut. Ini pernah kutulis di personal blog tentang kaisar Hongzhi.

Dilain pihak, secara politik kekaisaran Ming pada masa kaisar Chenghua didominasi kekuasaan yang dipegang pembesar kebiri atau biasanya disebut kasim (eunuch). Sejak awal berdirinya dinasti Ming, kaisar pertama Hongwu (Zhu Yuanzhang) membentuk biro pengawal merangkap polisi rahasia (semacam gestapo NAZI atau Kempetai Jepang) bernama Jinyi Wei (pengawal berseragam tembaga). Jinyi Wei bertindak bukan hanya sebagai mata-mata pasif melainkan juga memiliki kekuasaan aktif untuk menghukum langsung orang-orang yang dicurigai sebagai pemberontak tanpa pengadilan. Banyak para pejabat dan orang awam yang ditangkap dan dieksekusi langsung oleh Jinyi Wei, walaupun pada kenyataannya kebanyakan dari mereka tidak bersalah. Hal ini menyebabkan nama Jinyi Wei sangat ditakuti.

Pada zaman kaisar Yongle berkuasa, Yongle membentuk sebuah biro khusus mirip Jinyi Wei yang anggotanya terdiri dari para kasim bernama Dong Chang (Biro Timur). Dong Chang dibentuk Yongle dengan pertimbangan bahwa kasim bisa menyelusup ke daerah-daerah dimana anggota Jinyi Wei kurang leluasa bergerak. Awalnya Dong Chang hanya sekedar biro mata-mata biasa yang bergerak pasif, Dong Chang mengandalkan Jinyi Wei untuk melaksanakan gerakan aktif untuk menghukum orang-orang yang dicurigai. Makin lama kekuasaan Dong Chang semakin kuat hingga pada akhirnya mereka mulai melakukan gerakan aktif sendiri dengan merekrut agen Dong Chang tanpa melibatkan Jinyi Wei. Soal kekejaman, Dong Chang malah lebih menakutkan dibanding Jinyi Wei karena kekejaman Jinyi Wei semata-mata dilakukan demi kepentingan kaisar. Dong Chang banyak melakukan eksekusi mati demi melanggengkan kekuasaan dan korupsi yang dilakukan para kasim penguasa.

Cucu buyut Yongle yang bernama kaisar Chenghua ternyata malah semakin besar memberikan kekuasaan kepada kaum kasim dengan pembentukan Xi Chang (Biro Barat) yang berdiri terpisah dari Dong Chang. Eksistensi Xi Chang memang tak terlalu lama karena Chenghua sendiri yang akhirnya menutup Biro Barat setelah berjalan tak sampai setahun. Awalnyanya Xi Chang dibentuk untuk mengawasi Dong Chang yang semakin menancapkan kuku kekuasaannya, walau pada akhirnya justru Xi Chang tak jauh beda dibanding pendahulunya Dong Chang yang lebih dulu eksis. Petinggi Xi Chang sama-sama korup dan haus kekuasaan, juga sama kejamnya dengan Dong Chang. Namun Xi Chang berkembang jauh lebih pesat dibandingkan Dong Chang pada masa Yongle, karena mereka langsung merekrut agen dan bergerak aktif. Xi Chang banyak melakukan teror, penangkapan dan eksekusi hanya dalam waktu beberapa bulan, sehingga kaisar Chenghua sendiri merasa khawatir dengan eksistensi Xi Chang dan memutuskan membubarkan Biro Barat. Jaman kaisar Hongzhi (anak Chenghua), kekuasaan para kasim Biro Timur dapat ditekan walau tak bisa hilang. Setelah Hongzhi wafat dan digantikan anaknya Zhengde, Dong Chang kembali menguat dan kekuasaan para kasim semakin membuat dinasti Ming melemah.

Plot Cerita
Zhou Huai’an (Jet Li) menjadi buronan kerajaan nomor wahid setelah membunuh petinggi Dong Chang diawal film (peran cameo Gordon Liu). Di dalam istana, selir Wan menggunakan tangan Biro Barat Xi Chang untuk membantunya menghabisi para selir kaisar yang sedang hamil. Salah seorang petinggi Xi Chang pembesar kebiri Yu Huatian (Chen Kun) yang dekat dengan selir Wan, diperintahkan untuk menghabisi Jin Xiangyu (Mavis Fan) seorang pelayan yang sedang mengandung anak kaisar. Walaupun berhasil lolos dari istana terlarang, Xiangyu masih tetap dikejar oleh orang-orang Xi Chang bawahan Yu Huatian. Ditolong seorang pendekar wanita misterius Ling Yanqiu (Zhou Xun), mereka berdua lari ke daerah padang pasir dimana Penginapan Gerbang Naga yang terbakar 3 tahun lalu dibuka kembali.

Yu Huatian dan para bawahannya mengejar hingga Penginapan Gerbang Naga, sementara Zhou Huai’an yang mengenali Ling Yanqiu sebagai wanita yang pernah terlibat hubungan romantis dengannya dimasa lalu ikut datang ke Penginapan Gerbang Naga. Dilain pihak, Penginapan Gerbang Naga dipenuhi para perampok dan orang-orang suku Tartar yang ingin merebut harta karun kerajaan Xia Barat yang terbenam dalam padang pasir. Salah seorang diantaranya adalah seorang tukang tipu licin bernama pisau angin (juga diperankan Chen Kun) yang memiliki wajah sangat mirip dengan Yu Huatian. Terjadilah perseteruan yang menyangkut banyak kepentingan sehingga terjadi perang siasat adu licin antara petugas Xi Chang, perampok, suku Tartar, penunggu penginapan, dan pihak Zhou Huai’an/ Ling Yanqiu.

Film ini terasa sekali gaya penyutradaraan Tsui Hark yang membuat film wuxia ini serasa nonton film barat bergenre heist dengan latar belakang dunia persilatan. Intrik dan aksi tipu menipu hingga beberapa plot twist terasa menyegarkan diantara banyak adegan kungfu khas film silat. Sayangnya aku tak bisa mengomentari promosi Tsui Hark tentang efek 3D yang katanya merupakan inovasi baru untuk film wuxia, karena aku nontonnya 2D. Yang pasti, karena film lebih menitik beratkan pada plot twist dan intrik antar tokoh dengan peralihan adegan yang cepat dan beruntun, otomatis karakterisasi tokoh menjadi kurang dalam.

Bagi yang pernah nonton New Dragon Gate Inn, mungkin mereka sudah pada kenal karakter Zhou Huai’an sebagai mantan jenderal dinasti Ming yang buron karena berseteru dengan Dong Chang. Tapi bagi yang tidak menonton tentunya bingung dengan 2 karakter utama Zhou Huai’an dan juga Ling Yanqiu yang muncul dalam New Dragon Gate Inn. Memang sih hal ini tak terlalu mengganggu karena pergerakan scene yang cepat membuat penonton tak terlalu memusingkan latar belakang karakter, apalagi Tsui Hark menawarkan intrik dan plot twist yang menarik di sepanjang film.

Akting para pemainnya sendiri termasuk standar untuk film wuxia. Jet Li seperti biasa bermain layaknya seorang jagoan pembela kebenaran, Zhou Xun justru tampil lebih menarik dengan karakter cewek jagoan. Tapi bintang sesungguhnya adalah Chen Kun dengan peran gandanya sebagai kasim licik Yu Huatian dan tukang tipu licin si pisau angin. Kehadirannya mampu mengubah suasana dari drama thriller beralih ke komedi dan juga sebaliknya.

Menurutku, Tsui Hark kembali membuktikan bahwa kemampuannya sebagai sutradara new wave yang mendobrak tradisi itu masih belum hilang. Malah mungkin saja film ini akan memberikan nuansa berbeda, jika ditonton dengan tambahan efek 3D.

Rating: 3.5/5

11 Responses to “Flying Swords of Dragon Gate dan sedikit latar sejarah”


  1. 1 jensen99 January 10, 2012 at 2:18 pm

    Kapan ya, terakhir kali ngeliat Jet Li nenteng pedang..?😕

    Saya mau ngobrolin soal 3D saja. Apa memang sesignifikan itu efek yang ditimbulkan pada kenikmatan menonton film? Saya tidak pernah nonton 3D, tapi kok rasanya itu gak bakal banyak berpengaruh pada opini saya tentang bagus tidaknya sebuah film. Layar datar ya layar datar.:mrgreen:

    • 2 AnDo January 10, 2012 at 6:06 pm

      @jensen

      Kapan ya, terakhir kali ngeliat Jet Li nenteng pedang..?😕

      Seingatku, film terakhir yang kutonton Jet Li nenteng pedang itu Hero, Jet Li jadi karakter tanpa nama yang pengen membunuh kaisar. Di film yg lebih baru Fearless dan Warlords, Jet Li seingatku nenteng golok bukan pedang.

      Apa memang sesignifikan itu efek yang ditimbulkan pada kenikmatan menonton film?

      Mungkin iya dan mungkin tidak. Pertama memang tergantung orang yang nonton, jadinya soal selera aja. Soalnya banyak juga gak suka nonton krn merasa terganggu, misalnya saja dgn wajah yg terbebani kaca mata 3D, dll. Kedua tergantung filmnya juga, contohnya nonton Transformers: Dark of The Moon 3D malah bikin kepalaku puyeng. Robotnya terlampau detail ilustrasinya dan pas antar robot berantem justru detail, gerakan tumbukan dan efek 3D bikin pandangan gak sinkron… puyeng deh jadinya.

  2. 3 rotyyu January 13, 2012 at 6:49 am

    Kayaknya menarik unutk ditonton, masih ada di bioskop kan?

  3. 5 gogo January 14, 2012 at 8:19 am

    ada komedinya juga ternyata.. menarik keknya. masuk list dlu

  4. 6 syelviapoe3 January 15, 2012 at 3:50 pm

    Sisi menarik dari nonton film2 berjenis Wuxia ini adalah.. bisa tahu sejarah…
    biarpun selalu ada part2 yang fiksi dalam filmnya…
    tapi toh tetap aja menjadikan sejarah menarik…😀

  5. 7 AnDo January 15, 2012 at 7:16 pm

    @gogo
    Iya, ada komedinya walau dikit tapi kocak

    @syelviapoe3
    Gak semua film wuxia berdasarkan cerita sejarah bercampur fiksi sih, banyak juga yang pure fiction.

    Kebetulan aja aku tertarik dengan sejarah konflik dinasti Ming yang penuh dengan pengaruh kekuasaan kasim kerajaan, padahal pendiri dinasti Ming kaisar Hongwu sangat benci kasim karena Hogwu belajar dari sejarah betapa kasim banyak menyebabkan runtuhnya dinasti2 China sebelum dia berkuasa. Saking bencinya Hongwu, dia memerintahkan para kasim yang ada di istana seluruhnya tidak diperkenankan memegang dokumen, malah kasim sebisa mungkin dibiarkan buta huruf.
    Uniknya, kaisar Ming keturunannya justru banyak memelihara kasim di istana, sampai2 pada saat runtuhnya dinasti Ming, tercatat hingga ada 70 ribu kasim.

    • 8 Alex© February 10, 2012 at 8:16 pm

      Kasim-kasim di zaman kerajaan itu bukannya tak berpengaruh. Bukan di Tiongkok saja, juga di belahan Timur lain seperti di jazirah Arabia. Kalau dalam tetralogi Tariq Ali, termasuk The Book of Saladin dan A Sultan in Palermo, peranan seorang/sekelompok kasim itu memang menentukan jalan sejarah. Terkadang digambarkan banyak antagonisnya, yang dilimpahkan pada rasa dendam mereka karena dipaksa jadi kasim.😀

      • 9 AnDo February 11, 2012 at 4:11 pm

        @Alex©
        emang yang kutulis diatas itu khan para kasim jaman kerajaan itu berpengaruh tehadap nasib kerajaannya. Bukan lagi terkadang, malah sangat sering para kasim ditempatkan pada posisi antagonis.
        Cuma sedikit kasim yang punya nama harum dan dipandang dari sisi positif. Aku malah cuma tahu 2 orang yang benar2 dihormati sepeninggalnya:
        1. Zheng He alias laksamana Cheng Ho
        2. Sima Qian


  1. 1 The Four « Toumei Ningen – The Reviews Trackback on July 22, 2012 at 6:59 am
  2. 2 Brotherhood of Blades | Toumei Ningen - The Reviews Trackback on September 17, 2014 at 3:29 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: