The Adjustment Bureau – Kehendak bebas vs Suratan nasib

You don’t have free will, David. You have the appearance of free will.
(Agen Thompson)

Ya, ini film memang sudah rilis beberapa bulan yang lalu dan aku agak telat membahasnya. Tapi yang membuatku tertarik meriview film ini adalah tema yang diusung yaitu konflik antara dua konsep filosofi: kehendak bebas dan suratan nasib. Film ini merupakan adaptasi dari cerita pendek karya pengarang cerita sains fiksi terkenal Philip K. Dick yang berjudul Adjustment Team. Philip K. Dick memang dikenal sering memasukkan unsur filosofi dalam karya-karyanya dan kali ini tema yang diambil adalah free-will vs predestination dan filosofi biblical tentang kekuasaan Tuhan. Salah satu film adaptasi Philip K. Dick yang menurutku berhasil menerjemahkan konsep kehendak bebas vs suratan nasib adalah Minority Report yang disutradarai oleh Steven Spielberg dan dibintangi Tom Cruise. Masih ingat adegan Tom Cruise melempar dan menggelindingkan bola di meja, lalu ditangkap oleh Collin Farrel sebelum jatuh? Itu adalah adegan yang paling memorable buatku.
Lalu bagaimana dengan The Adjustment Bureau?

Anggota kongres David Norris (Matt Damon) hampir saja sukses dalam kampanye pencalonannya sebagai anggota senat USA perwakilan New York. Sayangnya Norris gagal gara-gara skandal yang dibuatnya menjelang hari H. Ketika sedang mempersiapkan pidato kekalahannya, Norris bertemu dengan seorang wanita misterius (Emily Blunt) di dalam toilet pria. Walaupun singkat, obrolan antara Norris dan sang wanita misterius ternyata mengindikasikan betapa mereka berdua cocok satu sama lain, dan ini juga berhasil menaikkan rasa percaya diri Norris untuk kembali mencalonkan dirinya lagi pada kampanye tahun berikutnya.

Sebulan kemudian, seorang pria bertopi dengan jas rapi ditugaskan untuk menghalangi Norris naik bis dalam suatu pagi. Sang pria bertopi gagal karena ketiduran dan Norris pun naik bis menuju kantornya. Di dalam bis kota ini, Norris kembali bertemu sang wanita misterius secara kebetulan. Kali ini Norris mendapatkan nama: Elise dan nomor telpon untuk menghubungi Elise. Setelah melewati beberapa kejadian dengan pria bertopi, Norris diberi tahu bahwa para pria bertopi itu adalah para agen dari Adjustment Bureau yang bertugas untuk “meluruskan dan memuluskan” rencana dibuat oleh The Chairman bagi setiap manusia. Norris juga mendapatkan kabar dari pria bertopi, dirinya ditakdirkan menjadi presiden USA dimasa mendatang dan Elise bukanlah jodoh yang ditetapkan untuknya. Merasa nasibnya berada ditangannya sendiri, Norris berkeras untuk mendapatkan Elise dengan melawan takdir yang telah ditetapkan The Chairman. Bagaimanakah akhir dari kisah cinta Norris-Elise yang diintervensi oleh para pria bertopi?

Kalau membaca sinopsis diatas, tentunya anda bisa membayangkan posisi para agen Adjustment Bureau dan The Chairman dalam konteks biblical. Ya, mereka adalah representasi malaikat dan Tuhan yang mengatur setiap langkah manusia, termasuk perjodohan. Sebagai seorang muslim, aku pernah mempelajari konsep Qada dan Qadar yang ada dalam konsep filosofi dan theologi Islam. Inti dari Qada dan Qadar sebenarnya tak jauh beda dengan konsep free-will dan predestination karena dalam konsep Islam, manusia adalah makhluk yang memiliki kehendak dan bebas menentukan arah hidupnya secara pribadi di dunia dan akan dihisab segala perbuatannya di akhirat nanti. Walaupun ada beberapa perbedaan paham filosofi tentang Qada dan Qadar, aku hingga sekarang masih percaya bahwa hanya kelahiran dan kematian yang telah ditentukan dari sananya oleh Sang Maha Kuasa. Sisanya termasuk amal baik, perbuatan dosa hingga memilih jodoh ditentukan dan dipilih sendiri oleh manusia sebagai makhluk yang memiliki Qadar (perhitungan) terhadap keputusan yang dipilihnya sendiri. Tentu saja putusan ini telah diperhitungkan konsekwensi yang akan dihadapi sebagai hasil dari perbuatannya dalam menjalankan keputusan. Bagiku jodoh itu ada ditangan manusia, hanya umur yang ada di tangan Tuhan.

Yang paling kusukai dalam film ini adalah konsep para pekerja Adjustment Bureau yang bersifat Judeo-Christian, walau secara umum film ini tidak mengacu pada theologi agama tertentu. Islam tidak mengenal konsep malaikat yang membangkang perintah karena seluruh malaikat hanya kenal patuh ada perintah Tuhan. Tapi dalam konteks Judeo-Christian, malaikat juga memiliki kehendak bebas seperti manusia adanya (ingat kisah pemberontakan Lucifer?). Ini bisa dilihat ketika salah satu pria bertopi bernama Harry justru membantu Norris melawan takdirnya. Apakah ini berarti agen Harry mengikuti kehendak bebasnya? Atau karena The Chairman memberikan inspirasi pada agen Harry agar membantu Norris memperjuangkan kehendak bebasnya? Justru pertanyaan seperti ini menarik untuk dibahas setelah film selesai, toh film ini sendiri tidak memberi konklusi secara spesifik untuk berpihak pada free-will ataukah predestination….. Walaupun diakhir film, ada narasi menarik dimana agen Harry berspekulasi tentang tindakan The Chairman dalam membuat keputusan.

Memang sih jalan cerita yang digarap oleh George Nolfi sebagai sutradara cenderung terlampau menyederhanakan permasalahan, malah bisa dibilang terlalu nge-pop. Untuk perbandingannya, Minority Report saja membeberkan lebih banyak tema menarik (kehendak bebas, media, politik, keluarga, dll) dengan konsep yang lebih kompleks dibanding film ini. Akan tetapi The Adjustment Bureau masih menarik untuk diikuti dan dibahas temanya setelah menonton film koq. Tentu saja bakalan ada pro dan kontra tentang manakah yang lebih mempengaruhi jalan hidup manusia di muka dunia antara kehendak bebas dan suratan nasib, tapi justru disitu menariknya untuk dijadikan bahan diskusi. Isu romantisme alias perjodohan dalam cerita merupakan salah satu contoh bagus yang sederhana untuk dijadikan bahan perdebatan antara dua konsep.

Untungnya pasangan Norris dan Elise dimainkan oleh dua orang aktor yang memang dikenal kuat aktingnya. Dari awal adegan dalam toilet, penampilan Matt Damon dan Emily Blunt seakan-akan sudah menunjukkan kalau pasangan Norris-Elise punya chemistry kuat yang tak terlihat dan sulit diputuskan walaupun dengan interverensi para pria bertopi. Kekuatan akting mereka inilah berhasil meyakinkan para penonton kalau Norris dan Elise memang berhak memperjuangkan kehendak bebasnya dan melawan suratan nasib yang telah dibuat oleh The Chairman. Selain itu juga skenario film ini cukup bagus dengan banyak dialog (terutama antara tokoh Norris dan para agen) yang kadang membuatku tertawa masam karena menyentil perbedaan antara dua filosofi yang saling berlawanan.

Menurutku ini adalah salah satu adaptasi yang baik dari cerpen karya Philip K. Dick. Penjabaran konsep yang sederhana, tema yang tidak terlalu kompleks, enak untuk diikuti jalan ceritanya tapi cukup menarik untuk disimak. Tentu saja masih jauh berada dibawah jika dibandingkan 2 adaptasi karya Philip K. Dick favoritku: Blade Runner dan Minority Report. O iya, anda tak usah berpikir terlampau rumit dalam menyikapi kenapa para agen dari Adjustment Bureau harus pakai topi, kenapa harus lewat pintu untuk pindah dimensi, kenapa planning harus tertulis di buku mirip iPad, dll. Semua itu hanya sekedar simbol dalam merepresentasikan cara kerja Tuhan dan malaikatnya dengan gaya kerja manusia. Inti film ini sendiri sebenarnya hanya mempersoalkan tentang filosofi takdir, yang dibungkus dengan kisah drama romantis tentang jodoh.

Rating: 3.5/5

10 Responses to “The Adjustment Bureau – Kehendak bebas vs Suratan nasib”


  1. 1 Akiko August 26, 2011 at 10:20 am

    Jadi, apakah Noris berhasil memperjuangkan kehendaknya, mendapatkan Elise?
    biar kutebak…

    Dari awal adegan dalam toilet, penampilan Matt Damon dan Emily Blunt seakan-akan sudah menunjukkan kalau pasangan Norris-Elise punya chemistry kuat yang tak terlihat dan sulit diputuskan walaupun dengan interverensi para pria bertopi.

    mereka berhasil?:mrgreen:

    Akan tetapi The Adjustment Bureau masih menarik untuk diikuti dan dibahas temanya setelah menonton film koq.

    IMO, kebanyakan sesuatu itu menarik untuk dibahas memang setelah diselesaikan. Seperti yang saya tonton di film Jane Austen book club, mereka mendiskusikan dan mendebatkan hal-hal yang ada dibuku itu, mengaitkannya dengan kehidupan pribadi mereka, kepercayaan-kepercayaan mereka terhadap suatu ide…. dan semua itu dapat dibahas dengan menyenangkan setelah mereka para anggota club selesai membaca bukunya. atau ya… untuk film, filmnya selesai ditonton.

    Betewe, tema freewill dan predestination, itu bukannya bisa dibahas kapan saja ya? Dengan adanya film yang mengangkat tema itu, pembahasan jadi ada alasan dan lebih menarik…. deshou..😛

    Inti film ini sendiri sebenarnya hanya mempersoalkan tentang filosofi takdir, yang dibungkus dengan kisah drama romantis tentang jodoh.

    Jodoh itu masalah complicated, IMO. Ada yang percaya bahwa jodoh itu predestination, hanya saja jalan mendapatkannya yang freewill. atau ada yang berpendapat, jodoh itu asli freewill, ada atau tidak ada jodoh, siapa jodoh, kapan ketemu jodoh, tergantung apa yang masing-masing kita lakukan… gitu katanya. Sayangnya, sampai saat ini saya pun belum punya pijakan, filosofi jodoh yang mana yang saya ikuti.😆

    • 2 AnDo August 26, 2011 at 2:03 pm

      @Akiko

      mereka berhasil?:mrgreen:

      Betul. jadi uni Akiko gak usah nonton lagi.

      IMO, kebanyakan sesuatu itu menarik untuk dibahas memang setelah diselesaikan.

      Lah? Ngapain Akiko panjang lebar ngebahas kisah cinta Shinichi Kudo dan Ran, padahal Detective Conan tamat aja belum tuh😈
      NB. naskah drama panggung juga sering didiskusikan per stage (per adegan), bukan total satu naskah.

      Betewe, tema freewill dan predestination, itu bukannya bisa dibahas kapan saja ya? Dengan adanya film yang mengangkat tema itu, pembahasan jadi ada alasan dan lebih menarik…. deshou..😛

      Bagi yg suka debat sih, masalah apa saja bisa aja di perdebatkan koq. Dari teori evolusi sampai eksistensi Tuhan, semuanya bisa aja dibahas tiap hari tanpa nonton film. Wong orang blogwalking aja bisa berdebat dengan troll koq, padahal kadang yang di perdebatkan cuma cerita film Pocong vs Suster Ngesot.😆

      Film cuma media buat mengangkat tema yg mungkin malas dipikirkan orang-orang males mikir kayak saya koq, butuh trigger ceritanya. Kalau yg suka mikir kayak Akiko sih kayaknya gak butuh film buat pemicu awal bahasan.:mrgreen:

      Jodoh itu masalah complicated, IMO

      Gak usah jodoh lah, nyari sesuap nasi aja udah complicated koq. Hidup di dunia ini aja udah complicated dari nyari makan, nyari ilmu, dll. Kalau ditambah nyari jodoh… yah makin complicated😆

      IMO, saya tak percaya jodoh itu predestination. Dengan adanya perceraian saja sudah membuat saya tak percaya, belum lagi ditambah pasangan kumpul kebo dan persoalan LGBT.
      Apalagi kalau dipikir lebih lanjut: apakah Tuhan agama A memberikan jodoh dan restu bagi pernikahan umat agama B, C ataupun X yang tidak menyembahnya, toh hubungan mereka dihitung zinah juga. Kecuali kalau zinah itu dihitung sebagai jodoh juga, yah…. saya maklum.
      Catatan: asumsi yang dipakai jika hanya ada satu Tuhan.

      Tapi saya percaya Tuhan memberi manusia pilihan layaknya jawaban multiple-choice dengan pengkondisian di dunia. Misalnya saja: Tuhan mempertemukan si A dengan X, Y, dan Z. Selanjutnya terserah pilihan A mau salah satu, atau berpoligami atau memilih si O yang berjenis kelamin sama atau malah memilih selibat sampai mati.

  2. 3 Akiko August 26, 2011 at 3:27 pm

    Lah? Ngapain Akiko panjang lebar ngebahas kisah cinta Shinichi Kudo dan Ran, padahal Detective Conan tamat aja belum tuh

    kan bilang nya kebanyakan.. kalau yang satu ini exceptional lah, personally for me. Duh, benernya banyak banget pengen komentar tentang cerita detektif conan, tapi OOT kalo di sini. >< Just Ignore aja deh.😛
    Dan untuk drama panggung, my knowledge is very limited. I'm pass.

    Ehem, soal jodoh, there are something that's always bothering me…
    diantaranya, my mom selalu bilang, "kalau dia jodoh kita, maka seberapapun kita bilang tidak, dia tetap jadi jodoh kita. kalau tidak jodoh, mau di kejer-kejer bagaimanapun, nggak bakal jadi juga… "

    hanya saja, pertanyaannya, apa yang membuat si 'dia' dijodohkan Tuhan dengan kita, atau bahasa sederhananya, "alasan apa yang membuat Tuhan mengizinkan kita menikah dengannya”. Jawaban pertayaan ini yang nantinya saya pikir bisa menjelaskan kenapa ada yang bercerai, kenapa ada pernikahan beda agama dan seterusnya….

    Seperti di film, hal apa yang membuat Noris merasakan chemistri ke Elise, dan sebaliknya? Hal apa yang membuat Noris yakin kalau dia menginginkan Elise dan memperjuangkannya. Hal apa yang membuat mereka bertemu di toilet dan juga di bus… Seandainya saja mereka tidak ditakdirkan punya kesempatan, bisa saja kan bukan Elise yang ditemuinya di toilet. atau, kalaupun ketemu di toilet, tapi ndak pernah ketemu lagi di bis….

    Bagaimana, kalau di film, sutradara berubah fikiran, dan orang bertopi berhasil menghalangai Noris naik bus? dan akhirnya cinta Noris-Elise kandas?

    Tidak bermaksud menentang, atau bagaimana, tapi hampir setiap hari saya selalu mempertanyakan bagaimana cara kerja jodoh yang sebenarnya. dan mendengar pendapat dari seberang, sepertinya bisa sangat dipertimbangkan.😛

    P.S bukannya ngak perlu/ngak mau nonton, tapi film-film yang di review disini kan memang tidak bisa didapatkan dengan mudah. Lupakan soal saran download. Usually I rent from CD/DVD ori rental.

    • 4 AnDo August 26, 2011 at 4:05 pm

      kan bilang nya kebanyakan

      dan saya bilang tergantung pendapat orang yang nonton/baca.:mrgreen:

      alasan apa yang membuat Tuhan mengizinkan kita menikah dengannya”. Jawaban pertayaan ini yang nantinya saya pikir bisa menjelaskan kenapa ada yang bercerai, kenapa ada pernikahan beda agama dan seterusnya….

      Saya pikir malah sama sekali nggak bisa menjelaskan persoalan cerai, kawin beda agama, kawin antar umat agama yg lain, dst.
      Contohnya saja: coba pikir secara Islam karena uni Akiko seorang muslim, Ada pasangan beragama Buddha menikah dgn cara Buddhist, bukankah secara hukum Islam mereka berbuat zinah? Lalu apakah Tuhan dalam konteks agama Islam “mengizinkan” mereka menikah secara Buddhist? Kalau iya, tentunya Tuhan ridhomereka berzinah dan telah memberi suratan nasib perjodohan kepada mereka. Toh entah sudah berapa banyak pasangan Buddhist yang menikah secara Buddhist dan tetap langgeng hingga akhir hayat. –> alhasil menikah beda agama ataupun pernikahan antar umat agama lain hukumnya sah-sah saja dan ini berlawanan dengan konsep predestination dari sudut pandang agama Islam.
      IMO, konsep jodoh predestination jauh lebih gampang diterapkan pada pasangan beragama sama.

      Kalau dipandang dengan kaca mata Free-will, tentu kasus ini bukan hal aneh. Mau nikah beda agama? silahkan! Orang Zoroaster menikah dgn orang Zoroaster? silahkan!
      Toh nantinya juga di akhirat semua perbuatan di dunia yang diputuskan sendiri akan dihisab sesuai dengan perbuatan masing-masing koq. Karena masing2 pribadi memutuskan jalan yang mereka tempuh.

      kalau dia jodoh kita, maka seberapapun kita bilang tidak, dia tetap jadi jodoh kita. kalau tidak jodoh, mau di kejer-kejer bagaimanapun, nggak bakal jadi juga…

      Saya malah mikir, orang yg setengah mati dikejar-kejar tapi tetap gak mau… itu sih emang yang bersangkutan udah berketetapan hati memilih nggak mau:mrgreen:
      Saya selalu berprinsip, soal jodoh harus ada kemauan dari dua belah pihak untuk memutuskan ingin menikah… dan itu adalah kehendak bebas.
      Misalkan saja saya naksir cewek dan si cewek ternyata membalas perasaan saya secara positif. Sayangnya orang tua si cewek gak setuju, dan si cewek memutuskan untuk memilih ikut kehendak orang tuanya…. dan itu hak si cewek koq.

      Bagaimana, kalau di film, sutradara berubah fikiran, dan orang bertopi berhasil menghalangai Noris naik bus? dan akhirnya cinta Noris-Elise kandas?

      Ini mau bahas film apa bahas soal konsep free will vs destination? Film tentunya ikut kehendak sang sutradara. Kalau sutradara memutuskan untuk sad ending, berpisahlah kedua pasangan roman tsb.

      Soal mengapa Norris merasakan chemistry yang kuat dgn Elise.. itu dipaparkan diakhir film, semacam kejutan manis atau plot-twist buat penonton. Saya kira kurang baik diceritakan kasus spoiler seperti itu. DVD original udah keluar koq, silahkan sewa kalau penasaran.:mrgreen:

  3. 5 Asop August 27, 2011 at 9:39 am

    Saya udah nonton nih pilem, dan cukup menarik.😀
    Saya pas beli DVD-nya gak nyangka bahwa ceritanya bakal ada unsur teologi, hampir kayak ada Tuhan dan malaikat-nya gitu. Nonton ini harus mikir.:mrgreen:
    Tapi overall, sangat menghibur.😉

    Jadi… Chairman itu Tuhan ya?😀 Unik!

    Oh ya, saya juga suka dengan gaya berpakaian para agen.😆
    Meski terasa agak old-fashioned, tapi terasa pas gitu…. keren.🙂

    • 6 AnDo August 27, 2011 at 2:11 pm

      @Asop

      Nonton ini harus mikir.:mrgreen:

      Menurutku film ini justru terlalu nge-pop buat membahas filosofi. Tapi enaknya sih, karena ringan jadinya gampang dinikmati siapa saja.:mrgreen:

  4. 7 MJ September 8, 2011 at 8:18 am

    Aku suka banget film-film dengan filosofi takdir… hmm,perlu ditonton nih.. thanks reviewnya..

  5. 8 rumahukir February 5, 2012 at 5:20 am

    semua pasti ada sebab akibatnya….

  6. 9 bloger jemuran September 21, 2014 at 8:06 pm

    bloger semua anjing !


  1. 1 Film-film 2015 (Januari-Juni) | JenSen Yermi's Weblog Trackback on July 21, 2015 at 4:23 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: