Kokurikozaka Kara – Proyek Ghibli pembuktian Miyazaki

Debut penyutradaraan Goro Miyazaki, putra sutradara legenda anime sekaligus salah satu pendiri Studio Ghibli Hayao Miyazaki, dalam film perdananya Tales from Earthsea mendapatkan tanggapan pedas dari para kritikus. Bagaimana cara Goro menebus kritik tersebut dalam film keduanya? Produser sekaligus salah satu dari 3 pendiri Studio Ghibli, Toshio Suzuki masih mempercayai Goro dalam menggarap adaptasi manga Kokurikozaka Kara karya Tetsuo Sayama dan Chizuru Takahashi. Malah kali ini Hayao, sang Miyazaki senior sendiri teribat langsung sebagai penulis skenario yang berkolaborasi dengan Keiko Niwa, sebagaimana mereka berdua juga berkolaborasi menulis skenario The Borrower Arriety. Mungkin hal ini sebagai pertanda mulai membaiknya hubungan ayah dan anak yang sudah lama dingin. Bagaimanakah hasilnya?

Setting film berkisah ditahun 1963 dengan lokasi kota pelabuhan Yokohama.
Keluarga Matsuzaki berdiam di sebuah gedung mantan rumah sakit di tepi lereng Kokuriko (Kokurikozaka). Umi Matsuzaki (kelas 2 SMA) atau biasanya di sekolah dipanggil Mer (laut dalam bahasa Perancis, umi berarti laut dalam bahasa Jepang)) berdiam di sana bersama nenek, 2 adiknya Sora (kelas 1 SMA) dan Riku, serta beberapa penyewa kamar termasuk seorang penyewa bernama Hokuto. Ibu Mer sedang bekerja di Amerika sebagai dosen universitas, sedangkan sang ayah adalah seorang kapten kapal yang telah tewas di laut ketika Mer masih kecil. Setiap pagi Mer selalu mengibarkan bendera pertanda “selamat dalam perjalanan” untuk mengenang mendiang ayahnya.

Menjelang olimpiade musim panas 1964 yang diadakan di Tokyo, masyarakat Jepang dilanda euforia menggantikan hal kuno dengan yang baru, termasuk SMA Kounan Gakuen Yokohama. Sebuah gedung tua tempat aktivitas ekstrakulikuler para siswa bernama Quartier Latin, direncanakan akan dirobohkan dan diganti dengan gedung baru. Atas nama sejarah sekolah dan kenangan, para siswa yang menggunakan gedung tua Quartier Latin sebagai pusat kegiatan ekstrakulikuler menolak rencana tersebut. Dimotori ketua OSIS Mizunuma dan pemimpin koran sekolah Shun Kazama, mereka melancarkan kampanye penyelamatan Quartier Latin. Dalam aktivitas penyelamatan Quartier Latin ini, hubungan antara Mer dan Shun semakin dekat. Malah Mer mengusulkan pembersihan dan pembenahan Quartier Latin untuk menunjukkan pada pihak sekolah kalau gedung tua itu masih layak dipertahankan.

Ketika Hokuto berencana pindah ke Hokkaido, Mizunuma dan Shun turut diundang dalam pesta perpisahan. Mer mengajak Shun menelusuri gedung Kokuriko sambil bercerita tentang sejarah keluarganya, termasuk menunjukkan foto mendiang ayahnya. Tiba-tiba saja sikap Shun berubah menjadi dingin terhadap Mer setelah melihat foto tersebut dan Shun mulai terlihat menghindari Mer di sekolah. Ada apakah dengan foto ayah Mer? Bagaimanakah dengan nasib gedung Quartier Latin?

Tidak seperti dalam film garapan pertamanya yang acak-acakan, kali ini Goro tampaknya mulai belajar bagaimana menjalankan tugasnya sebagai sutradara. Kokurikozaka Kara terlihat bertutur lumayan rapi, dengan cerita lebih runtut dan penokohan cukup kuat untuk tokoh utama Umi alias Mer. Apakah garapan Goro kali ini sudah sempurna? Sayangnya tidak. Walaupun lebih rapi dari Tales from Earthsea, tetap saja dalam beberapa bagian masih ada unsur maksa agar cerita cepat selesai. Belum lagi film ini diawali pengenalan tokoh yang ditutur terlalu lambat sehingga membuatku cukup ngantuk karena bosan. Untungnya dipertengahan cerita, penuturan film mulai beranjak lugas dan menarik. Karakterisasi tokoh utama Mer dan Shun memang menarik, tapi ketika karakter ibu Mer dan kapten kapal di ujung cerita muncul, entah kenapa koq kemunculannya terkesan ujug-ujug. Tiba-tiba saja datang, menjelaskan salah paham dan membuat hubungan Mer-Shun berbaik kembali. Kesannya gampangan dan maksa banget supaya film cepat habis dan happy ending.

Di luar itu, seperti biasanya Studio Ghibli selalu memanjakan mata penggemar anime dengan penataan animasi yang indah mempesona. Goro Miyazaki memilih gaya animasi a la Ghibli lama warisan ayahnya dengan penggunaan gambar tangan dan warna cat air sebagai wadah bercerita. Pokoknya secara teknis, Kokurikozaka Kara masih merupakan karya animasi kelas atas.

Yang paling kucintai dari film ini adalah tata musiknya, baik untuk theme song maupun musik latar, semuanya sangat kunikmati sepanjang film. Bahkan untuk bagian awal yang penceritaannya lambatpun, aku masih bisa menikmatinya tanpa bosan berlebihan karena kupingku terlena dengan musik yang mengiringinya. Seandainya film ini meraih penghargaan tata musik terbaik dalam berbagai macam festival, maka aku tak akan heran. Yang mengejutkan, ternyata beberapa lagu dalam film ini ditulis sendiri oleh sang sutradara Goro. Theme song Sayonara no Natsu merupakan lagu lama Ryoko Moriyama yang ngetop pada tahun 1976, diaransemen ulang dan dinyanyikan oleh Aoi Teshima. Ada pula lagu lama Ue wo Muite Arukō yang memang ngetop tahun 1960an (di barat dikenal dengan judul Sukiyaki) yang dibawakan oleh penyanyi aslinya Kyu Sakamoto.
Lagu-lagu yang mewarnai film dan dibawakan Aoi Teshima diantaranya:
Asa gohan no uta (Lagu sarapan) <– lagu favoritku
Escape
Hatsukoi no koro (Ketika Cinta Pertama)
Koniro no uneriga (Biru tua bergelombang)
Natsukashii Machi (Jalan Kenangan)

Akhir kata, walaupun sudah mulai membaik, sepertinya Goro Miyazaki masih harus terus meningkatkan kemampuannya sebagai sutradara untuk menunjukkan dirinya memang patut melanjutkan tongkat estafet sebagai sutradara muda Studio Ghibli. Mengingat tema film Kokurikozaka Kara dengan style realisme bukan fantasi seperti gaya Hayao Miyazaki, kiranya Goro harus banyak belajar bagaimana cara membuat film animasi realis yang baik pada masternya di Studio Ghibli: Isao Takahata.

Rating: 3.5/5

6 Responses to “Kokurikozaka Kara – Proyek Ghibli pembuktian Miyazaki”


  1. 1 Nisa Syahidah August 6, 2011 at 2:31 pm

    Dari googling lirik Moon Beams-nya Beck, sampe akhirnya numpang baca-baca di sini \:D/
    Nice blog you got there, salam kenal masnyaaa!

  2. 3 xchalant September 6, 2011 at 2:57 am

    terakhir sy nonton the borrower arrietty yg masih dipegang miyazaki ayah, kangen sama film2 animasi model itu.

    menyaksikan earthesia memang rada kecewa karena sepertinya goro cuma mengikuti atau meniru adegan2 dalam game2 klasik atau fps yg jadinya kehilangan artistiknya khas ghibli.

    mungkin fantasi bukan bidangnya goro dan kali ini dia mencoba animasi realis, walau sangat disayangkan jika generasi pembuat film animasi fantasi ala miyazaki tidak ada penerusnya nanti..

    disini belum beredar filmnya, kemungkinan seperti the borrower baru bakal muncul setahun ke depan.

    oh iya, boleh sy ijin copas artikelnya ?

    • 4 AnDo September 6, 2011 at 7:46 pm

      @xchalant

      the borrower arrietty yg masih dipegang miyazaki ayah

      the borrower arriety bukan digarap oleh Miyazaki Sr. tetapi oleh sutradara muda Ghibli lainnya Hiromasa Yonebayashi. Hayao Miyazaki hanya menyiapkan skenario, kerja bareng dgn Keiko Niwa.

      walau sangat disayangkan jika generasi pembuat film animasi fantasi ala miyazaki tidak ada penerusnya nanti..

      Penerus pembuatan film animasi ala Hayao Miyazaki di Ghibli ada koq, kayak Yonebayashi (The Borrower Arriety) dan Hiroyuki Morita (The Cat’s Return). Justru pembuat film anime realis ala Isao Takahata tidak ada. Dulu ada Yoshifumi Kondō yang bikin Wishper of the Heart yang genrenya realis model Takahata bercampur sedikit fantasi, sayang Yoshifumi Kondō meninggal dunia di usia muda. Sekarang Isao Takahata malah tak punya penerus.

      kemungkinan seperti the borrower baru bakal muncul setahun ke depan.

      Biasanya memang Ghibli merilis DVD sekitar 1 tahunan setelah film layar lebarnya habis diputar di bioskop.

      boleh sy ijin copas artikelnya ?

      Boleh saja, asal dicantumkan sumber artikel aslinya.

  3. 5 gogo October 5, 2011 at 3:34 am

    review yg menarik bro, sec overall spti sangat rekomended buat ditonton, gibhli ttp salah satu studio terbaik dl kualitas animasinya.. tiap orang punya style sendiri, goro beda dg ayahnya, isao dll pling nggak prestasinya bs menyamai atau mendahului para pendahulunya.

  4. 6 scarlet94 March 14, 2013 at 6:24 am

    saya baru aja nonton kokurikozaka kara,theme song dan musik pengiring nya bener2 asik,jadi terlena sama lagu nya,,apalagi saat umi pergi ke toko daging dan dibonceng shun,terasa kental sekali nuansa jepang nya,,kalau soal art film nya,bener2 terasa art ala studio ghibli nya hahaha,,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: