Colorful – Jangan sia-siakan hidupmu!

Mati adalah kepastian, namun hidup adalah pilihan

Film anime ini tadinya memang sudah menjadi incaranku sejak tahun lalu, sayangnya penayangannya di bioskop terlewat dari pandanganku. Tapi tak apalah, toh nonton lewat media DVD tak mengurangi bagusnya film ini. Yang menjadi sorotan utama anime ini adalah warna-warni kehidupan, sesuai dengan judulnya Colorful. Warna-warni seperti apakah yang hendak dibahas? Sutradara film ini adalah Keiichi Hara yang dikenal sebagai sutradara sebagian besar film versi layar lebar Doraemon dan Crayon Shinchan, dan itu agak membuatku menyangsikan keseriusan tema film. Namun dengan raihan berbagai penghargaan termasuk animasi terbaik Mainichi Film Award, anime yang merupakan adaptasi novel karya Mori Eto ini lebih dari cukup untuk mendapatkan perhatian lebih.

Tokoh utama film ini adalah arwah yang baru saja mati dan bersiap memasuki alam berikutnya. Dia hanya memanggil dirinya dengan BOKU [artinya: aku/saya]. Sebelum mengambil tiket menuju alam lain, tiba-tiba saja seorang anak kecil yang bernama Pura-pura menghalangi jalannya dan menyatakan “Selamat! Anda memenangkan undian.” Undian yang dimaksud adalah kesempatan untuk memperbaiki nasibnya untuk bereinkarnasi, tentu saja undian ini hanya diperuntukkan bagi arwah yang melakukan dosa besar semasa hidupnya. Hal yang harus dilakukan adalah menjalankan misi masuk ke raga orang lain dan selama berada di dunia, sang arwah harus menemukan dosa dan kesalahan apa yang telah diperbuat sebelum batas waktu mengharuskan sang arwah kembali. Masalahnya arwah [BOKU] sudah bosan dengan kehidupan dunia, tapi dipaksa untuk kembali memperbaiki kesalahannya ketika masih hidup

Tubuh yang harus dimasuki [BOKU] adalah tubuh Kobayashi Makoto, seorang anak kelas 3 SMP yang baru saja bunuh diri (bayangkan arwah yang bosan hidup masuk ke raga anak yang bunuh diri). Sekejap ketika arwah Makoto meninggalkan raganya, [BOKU] merasuk ke dalam raga Makoto. [BOKU] yang merasa dunia bukan lagi sebuah tempat yang cocok untuknya, merasa berat sekali ketika harus hidup sebagai Makoto. Makoto adalah seorang anak penyendiri tanpa teman, sering di-bully di sekolah, prestasi sekolahnya paling rendah di kelas, tapi memiliki kemampuan dan bakat melukis yang sangat baik. Seiring berjalannya cerita, [BOKU] akhirnya mengetahui alasan yang membuat Makoto bunuh diri. Dilain pihak, BOKU mulai merasa hidupnya sebagai Makoto terasa lebih menyenangkan. Lalu, apakah yang harus dilakukan [BOKU] ketika tenggat waktu hidupnya sebagai Makoto berakhir? Dosa apakah yang diperbuat [BOKU] selama hidupnya?

Kekuatan utama film ini adalah skenario yang penuh dialog menarik dan cerita tentang kehidupan dari cara para tokohnya memandang hidup. Ada kala dimana karakter utama dan orang-orang disekitarnya memandang kehidupan dengan cara negatif dan terlihat suram. Namun dilain pihak, karakter utamanya justru mendapatkan pencerahan melalui interaksinya dengan orang-orang sekitar yang terlihat depresi, hingga akhirnya [BOKU] menemukan arti hidup positif dan menularkan terangnya kehidupan pada lingkungan sekitar. Keluarga Kobayashi bukanlah keluarga bahagia dengan ayah salaryman yang selalu sibuk bekerja, ibu yang bosan menjadi ibu rumah tangga, abang yang meremehkan adikknya. Tapi hidup kembalinya Makoto membuat kebekuan hubungan antar anggota keluarga mencair, kecuali hubungan mereka dengan Makoto (dengan arwah [BOKU] di dalam) tentunya. Secara tidak langsung kehadiran [BOKU] memberikan arti positif bagi hubungan keluarga Kobayashi.

Terlihat jelas kalau film ini anti-suicide, kemungkinan besar hal ini dipengaruhi oleh maraknya bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak usia sekolah di Jepang. Banyak hal yang ingin disampaikan film ini berkaitan dengan tema anti-suicide, dibawakan dalam scene dengan dialog menarik. Selain itu juga, film ini menghadirkan dialog-dialog yang mencerminkan penerimaan keadaan diri pribadi. Tiap orang memiliki warna kepribadian, bukan cuma satu warna malah bisa bermacam-macam. Bukankah interaksi warna antar personal akan menghasilkan warna baru yang lebih berwarna-warni? Itulah yang disebut COLORFUL!

Penggemar animasi tentunya berharap mendapatkan gambar animasi indah sebuah film anime bukan? Terus terang saja gambar yang ditampilkan oleh film 5 centimeter per second masih terlihat lebih indah dengan permainan warna yang menarik, tapi kelebihan gambar film ini justru berbeda karena menganimasikan suasana nyata, maklumlah beda style. Film ini menampilkan latar lingkungan nyata Todoroki dan Futako-Tamagawa di daerah Setagaya-ku (Tokyo), yang ditampilkan dengan gaya anime. Hasilnya sungguh indah dan memanjakan mata, walaupun berbeda dengan keindahan latar a la Makoto Shinkai. Aku merasa melihat jalan dan bangunan seperti dalam kehidupan sehari-hari di Jepang, hanya saja dalam bentuk anime.

Rupanya sutradara Kenichi Hara bukan hanya sutradara ecek-ecek yang cuma mampu membuat film animasi untuk anak-anak, ternyata Kenichi Hara juga mampu membuat film serius dengan tema kompleks tentang kehidupan dan kematian. Dibantu dengan skenario apik buatan Maruo Miho dan cerita menarik dari novel karangan Mori Eto, Colorful bukanlah film anime numpang lewat untuk dilupakan. Kalau anda mengaku penggemar anime, film ini boleh dibilang salah satu film anime produksi 2010 yang wajib tonton.

NB. OST film dibawakan oleh Miwa, penyanyi muda yang sedang menanjak di Jepang akhir-akhir ini. Miwa membawakan Boku ga boku de aru tame ni sebagai image song dan Aozora sebagai ending song.
Gara-gara film ini, aku jatuh cinta pada lagu Boku ga Boku de Aru Tame ni

Rating: 4/5

16 Responses to “Colorful – Jangan sia-siakan hidupmu!”


  1. 1 scarlet94 June 18, 2011 at 4:33 pm

    klo anime hoshi o ou kodomo sudah tayang kah ?

  2. 3 Asop June 19, 2011 at 2:39 am

    Cover-nya benar2 colorful.😀

  3. 4 Akiko June 19, 2011 at 2:44 am

    Wah jadi pengen nonton….., semangat hidup belakangan lagi turun nih, mana tau aja abis nonton anime ini, niat bunuh dirinya lenyap. *eh? [/joke]

    Ehem, Ando-kun, film ini available di jagat perdownloadan kah?

  4. 5 AnDo June 19, 2011 at 4:04 am

    @Asop
    Poster yg mengundang:mrgreen:

    @Akiko
    Iya, barusan kucek udah ada plus subtitle inggris lagi.
    btw, hati-hati salah unduh. ada serial TV anime berjudul colorful juga yg ceritanya semi-hentai😈

  5. 6 AL June 19, 2011 at 12:07 pm

    Tertarik. Cari unduhannya, ah!
    Covernya keren.

  6. 7 Putri June 19, 2011 at 1:09 pm

    seepp.. kelihatan menarik…
    terima kasih atas review-annya.. ^_^

  7. 8 AnDo June 19, 2011 at 1:35 pm

    @AL
    Aku dulunya tertarik sama film ini gara2 trailernya yang mengundang selera. Ternyata posternya juga mengundang :mrgreen:

    @Putri
    sama-sama

  8. 9 purisuka June 23, 2011 at 4:17 am

    oke, siap nyari film ini, kebetulan lagi mood nonton anime movie. btw udah nonton The Borrower Arrietty-nya Ghibli?

    • 10 AnDo June 23, 2011 at 9:03 am

      Belum nonton The Borrower Arriety. Rencananya nunggu DVD keluar aja baru nonton. Akunya koq kurang tertarik nonton di bioskop. Malah film Ghibli terbaru udah mau tayang, judulnya Kokurikozaka Kara. Ini film kedua yg disutradarai Goro Miyazaki, tapi kali ini keliatannya hubungan si junior dgn babeh nya udah membaik, soalnya Miyazaki Sr. yg bikin skenario film ini. Kayaknya premis Kokurikozaka Kara cukup baik

  9. 11 Rijon July 4, 2011 at 5:23 am

    Saya gak suka film ini.

    Mulanya suka, ujung-ujungnya yang bikin gak suka. Konsepnya menarik, walau jauh dari orisinil. Penyajian dilema tokoh utama seputar identitas badaniah huniannya pun bagus. Pameran visualnya oke, walau bukan yang terbaik untuk ukuran anime. Namun, ketika pesan yang begitu verbal sudah memerkosa di akhir film, menelanjangi habis-habisan segala plot, suspense, dan kemegahan semiotik yang sudah dibangun, film ini langsung jeblok di mata saya. Ya, hanya karena akhir yang tendensius itu.

    Penyampaian pesan memang salah satu tujuan utama seni. Tapi seni tak sepatutnya ditelanjangi oleh pesan.

    • 12 AnDo July 4, 2011 at 12:40 pm

      @Rijon
      Silahkan gak suka masbro, kalau saya sih suka-suka aja film ini. Mas Rijon pake kata-kata tingkat tinggi nih, malah bikin saya bingung mau balas komen:mrgreen:
      Terus terang aja, aku nggak melihat film ini ingin membahas konsep hidup mati dengan sangat serius dan mendalam kayak film okuribito (departure), melainkan secara ringan. Dan aku sendiri juga menonton dengan santai tanpa perlu terlalu banyak mikir kayak nonton Sky Crawler ataupun serial Ghost in Shell yang penuh berisi pesan-pesan tersembunyi. Setahuku film ini ditujukan untuk para anak-anak dan remaja sehingga konsepnya cukup gamblang untuk dimengerti penonton seumuran mereka.

      Tentang konsep yang jauh dari orisinil, menurutku sih tak masalah selama digarap dengan menarik. Kalau boleh dibilang, sudah banyak film yang memakai konsep si polan memakai badan orang lain untuk menyelesaikan urusannya. Mungkin yang menarik dalam Colorful adalah pemakaian tokoh arwah yang sudah bosan hidup untuk merasuk ke dalam raga anak yang bunuh diri.

      Apa yang mas Rijon bilang, pesan film yang tendensius itu muncul di akhir film bikin penilaian jeblok, yah… sah-sah aja. Aku sendiri sebenarnya kurang suka dengan gaya menggurui ngomong panjang lebar purapura di akhir film, tapi kukira pilihan sutradara untuk mengakhiri cerita dengan pesan gamblang seperti itu masih bisa kumaklumi.

      Pameran visualnya oke, walau bukan yang terbaik untuk ukuran anime

      Hehehe… yang ini terus terang saja pendapat yang sangat ambigu. terbaik untuk ukuran anime itu ukurannya kayak apa sih? tiap orang punya pendapat dan ukuran berbeda loh.
      Kebanyakan teman bilang kayak Makoto Shinkai yang banyak bermain warna dan pencahayaan, tapi ada yang bilang gaya surealis Satoshi Kon lah yg terbaik, lalu ada pula yang suka gaya realistik Isao Takahata, belum lagi ada yang bilang gaya pewarnaan cat air a la Hayao Miyazaki adalah nomer satu.
      Aku sendiri suka animasi film ini terutama untuk urusan background scene yang meng-anime-kan suasana Setagaya-ku di Tokyo (soalnya aku pernah beberapa kali main ke daerah sana sehingga animasi yg digunakan menurutku spesial).

      Penyampaian pesan memang salah satu tujuan utama seni. Tapi seni tak sepatutnya ditelanjangi oleh pesan.

      Sepertinya masbro terlampau serius menyikapi film ini walaupun itu memang hak masbro berpikir demikian.
      Seni tak patut ditelanjangi pesan? Ah yang benar aja… Menurut saya yang awam seni sih, seni itu mempunyai cakupan yang sangat luas. Terlalu luas malahan. Bahkan media iklan menurut saya termasuk seni dan mayoritas cara penyampaian pesannya sangat-sangat telanjang.
      Ini dunia nyata masbro, mengawang-awang boleh saja menginginkan segalanya sempurna untuk semua pihak. Sayangnya tak semua orang (maksudnya: penonton) punya sense of art yang tinggi seperti masbro Rijon, sehingga hal yang wajar jika sutradara film ini membuat karya anime-nya ini untuk umum, terutama anak-anak dan remaja.

      Plot yang saya sukai dalam film ini justru bukan pencarian jati diri melainkan konflik antara Makoto dengan 2 cewek teman sekelasnya Hiroka dan Sano. Sayang kurang digali lebih dalam. Saya suka adegan Makoto melarikan Hiroka dari love hotel.

      btw, ma kasih udah ngasih komen. komentar nyeni yang kayak masbro Rijon ini sangat jarang datang ke blog.😀

      • 13 Rijon July 6, 2011 at 3:49 am

        Persoalan gaya visual itu, animator yang satu dengan animator yang lain pastilah beda satu sama lain. Antara gaya anime Jepang dengan animasi lukis Rusia pun sudah jauh berbeda, tentulah bukan urusan gampang memperbandingkan satu dengan lainnya. Itu cuma pendapat pribadi semata, tersebab saya pernah nonton anime-anime yang visualnya lebih memukau daripada ini.

        Mengenai penelanjangan pesan. Kurasa orang awam sekalipun punya otak masing-masing pasti ya. Dan saya tak pernah berekspektasi “Colorful” ini menjadi sebuah art-film, avant garde, surrealis, atau nyeni (ala-ala anime Eiichi Yamamoto, misalnya). Pop, sah-sah saja kok. Dan tak sepatutnya pop dianaktirikan dalam wacana kebersenian. Persoalannya, apakah pop berartilah harus bertekuk lutut di bawah penyampaian pesan? Saya rasa tidak. Banyak film-film berlaber ngepop-ringan yang tetap mampu mengajak penontonnya berwacana tanpa harus menggurui.

        Cuma pendapat awam semata. Salam sesama blogger film.

      • 14 AnDo July 6, 2011 at 12:52 pm

        tersebab saya pernah nonton anime-anime yang visualnya lebih memukau daripada ini.

        Untuk membandingkan, tentu kita harus memakai perbandingan sejajar bukan? Saya sendiri tak punya minat membandingkan visual 5 cm/sec buatan Makoto Shinkai dengan Paprika buatan Satoshi Kon karena beda gaya.
        Karena animasi Colorful menggunakan style menganimasikan lokasi nyata ke dalam bentuk anime, sudah pasti saya juga akan membandingkan dengan anime sejenis. Ambilah contoh Ocean Waves-nya Studio Ghibli yang juga menggunakan gaya yang sama dengan setting background scene Kochi, pulau Shikoku. Detail bangunan, tata cahaya hingga sudut2 kota yang diambil Colorful terlihat lebih baik daripada Ocean Waves, tentu saja saya tak akan membandingkan kualitas pergerakan dan kehalusan gambar, karena teknik animasi Colorful pastilah lebih baik dari pada Ocean Waves yang dibuat tahun 1993.

        Banyak film-film berlaber ngepop-ringan yang tetap mampu mengajak penontonnya berwacana tanpa harus menggurui.

        Sepertinya masbro Rijon melupakan komentar saya tentang umur penonton yang disasar oleh film ini.:mrgreen:

        Intinya bagi saya sih, selama sebuah film mampu memuaskan, menyenangkan untuk ditonton dan bisa saya nikmati –> layak diberi tanggapan positif.
        Mungkin karena pengalaman saya nonton film “kelas berat” masih kurang, saya merasa Colorful layak dikasih nilai bagus. Toh beda orang, beda mata yang nonton, beda pula penilaiannya. Dan setahu saya, pengalaman menonton juga ikut mempengaruh penilaian. Pengalaman menonton saya masih bisa memberi maaf pada adegan pesan sponsor di akhir film Colorful, sedangkan pengalaman nonton mas Rijon justru tak sudi memberi ampun pada adegan tersebut.

        Saya merasa pendapat masbro Rijon lebih dari sekedar awam loh. Malah saya mendapatkan kesan, latar belakang masbro Rijon (entah pendidikan, lingkungan atau pekerjaan atau yang lainnya) berkaitan erat dengan dunia seni.
        Salam sesama penggemar film.

  10. 15 Stardust July 9, 2011 at 4:43 pm

    posternya saja sangat surealis.
    moga2 bisa menonton anime movie ini, dari diskusi diatas kelihatannya menarik.

    • 16 AnDo July 10, 2011 at 12:44 pm

      @Stardust
      Ide ceritanya menarik. Secara keseluruhan bagus menurutku, cuma cara sutradara bikin endingnya aja yang bikin sebal.
      Poster emang surealis tapi animasi filmnya nggak koq, Jauh gayanya dibanding film2nya Satoshi Kon.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: