Akunin (Villain)

Ketika Kokuhaku (Confessions) memenangkan Japanese Academy Prize (JAP) sebagai film terbaik, aku tadinya sama sekali tidak kaget karena sudah bisa menebaknya. Akan tetapi yang membuatku sedikit tercengang adalah direbutnya 4 kategori utama untuk para pelakon film oleh sebuah film yang berjudul Akunin. Satoshi Tsumabuki, Eri Fukatsu, Akira Emoto, dan Kirin Kiki berhasil menyapu bersih penghargaan masing-masing untuk kategori aktor utama terbaik, aktris utama terbaik, aktor pembantu terbaik, dan aktris pembantu terbaik dalam acara JAP 2011. Bahkan Eri Fukatsu mampu meraih predikat aktris terbaik dalam acara Montreal World Film Festival. Walaupun Eri Fukatsu bermain bagus dalam Akunin sehingga mampu menyingkirkan Takako Matsu untuk didaulat sebagai aktris terbaik, menurutku akting Takako Matsu masih lebih menggetarkan dalam Confessions. Disisi lain, Akunin menurutku merupakan satu-satunya saingan berat Confessions dalam JAP 2011 untuk penghargaan film terbaik. Kalaupun Akunin akhirnya harus mengakui kekalahannya, secara keseluruhan Akunin tidaklah kalah dibanding Confessions sebagai sebuah film yang bagus.

Yuichi Shimizu (Satoshi Tsumabuki) sejak kecil dibesarkan oleh kakek neneknya setelah ibunya tak perduli padanya. Yuichi yang tumbuh sebagai pemuda kesepian bekerja sebagai kuli bangunan di kampung halamannya Nagasaki. Lewat kencan online, Yuichi berkenalan dan berkencan dengan cewek sales asuransi Yoshino (Hikari Mitsushima) yang berakhir dengan tragedi Yuichi membunuh Yoshino. Dalam kondisi tertekan rasa bersalahnya, Yuichi kembali melakukan kencan online. Kali ini pasangannya adalah Mitsuyo (Eri Fukatsu) seorang wanita yang sama-sama kesepian seperti halnya Yuichi. Memiliki masalah sosial yang sama membuat keduanya merasa cocok satu sama lain. Dilain pihak, polisi menangkap seorang mahasiswa kaya Keigo Masuo yang tadinya menjadi tersangka utama, walaupun akhirnya polisi menemukan keterlibatan Yuichi dalam kasus pembunuhan Yoshino. Mitsuyo yang akhirnya mengetahui perbuatan Yuichi malah mengajaknya kabur bersama-sama.

Menyaksikan Akunin, aku merasakan impact yang tak jauh berbeda dengan menonton Confessions meski dalam spesifikasi yang agak berbeda. Kedua film sama-sama menggali sisi gelap manusia yang terekspos lewat interaksi hubungan antar tokoh. Judul film yang berarti si jahat (Aku=jahat ; Nin=orang) lebih merupakan sebuah ungkapan berbau sarkasme untuk menunjukkan betapa semua manusia sangat berpotensi untuk menjadi Akunin. Apakah dengan memandang seorang pembunuh sebagai si jahat berarti kita adalah orang baik?

Karakter yang ditampilkan dalam film seluruhnya abu-abu dengan moral ambigu, tak ada yang hitam pekat ataupun putih bersih. Yuichi memang pembunuh, tapi aku tak bisa menyalahkannya seratus persen karena pembunuhan yang dilakukannya merupakan akumulasi dari berbagai hal yang dialaminya seperti depresi ditinggalkan ibunya, beban tanggung jawab memelihara kakek-neneknya, kecamuk kesendiriannya (sebuah komplikasi yang mampu menciptakan sosok sociopath sempurna). Dan semua itu meledak ketika harga dirinya dirobek hingga berantakan oleh provokasi Yoshino. Provokasi Yoshino sendiri justru diawali oleh perlakuan si mahasiswa kaya yang bertindak merendahkan si cewek sales asuransi. Sebuah sikap yang dilakoni Yoshino karena dirinya tak bisa membalas hinaan Masuo yang dianggapnya memiliki status lebih tinggi, jadilah Yoshino melampiaskannya pada Yuichi yang menurut Yoshino lebih lemah posisinya. Sebuah anggapan yang salah karena Yuichi ternyata mampu melakukan hal diluar karakter sehari-harinya, yaitu membunuh orang. Mitsuyo sendiri merasa lelah dengan rutinitas sepanjang hidupnya dan menginginkan perbedaan, seorang gadis kampung yang ingin keluar dari kungkungan. Justru perbedaan itu dipilihnya lewat Yuichi, sosok buronan yang dikenal lewat kencan online. Disatu sisi aku merasa jijik dengan karakter Yoshino dan Masuo, tapi disisi lain aku juga merasa simpati dan kasihan dengan apa yang terjadi pada mereka. Begitu pula dengan simpati yang kuberikan untuk pasangan Yuichi-Mitsuyo berbarengan dengan anggapan betapa bodohnya mereka, membuta mempertahankan hubungan cinta yang hanya dibangun selama beberapa hari saja. Sebuah penggambaran pergulatan moral yang ambigu dari seorang Lee Sang-ill sang sutradara.

Pada plot cabang yang lain, nenek Yuichi (Kirin Kiki) dan ayah Yoshino (Akira Emoto) seperti halnya orang tua lainnya, sama-sama menganggap cucu dan anaknya bagaikan malaikat dan bidadari. Untuk itu, mereka berdua harus berurusan dengan kenyataan yang terjadi pada cucu/anak mereka sambil mempertahankan kenangan indah. Tokoh lain yang menarik walaupun porsinya sedikit adalah ibu Yuichi dan adik Mitsuyo yang menyalahkan Yuichi dan Mitsuyo atas gangguan yang dialami dalam kehidupan mereka, baik dari pihak kepolisian maupun pers. Salahkah mereka untuk menjadi begitu egois?

Film ini menawarkan bermacam-macam karakter yang menarik untuk disimak perkembangan emosinya. Beruntung barisan aktor dan aktris bermain dalam level terbaik akting mereka, sehingga emosi yang ingin disampaikan oleh para karakter bisa dituangkan dengan baik. Hal ini ditambah dengan pengarahan sang sutradara Jepang berdarah Korea Lee Sang-il (Hula Girls) yang berhasil membangun dan mengatur tempo antara kisah drama dan thriller. Sajian musik yang ditangani oleh Joe Hisaishi mampu memperkuat warna drama dan tensi ketegangan dengan musik yang cenderung minimalis tetapi pas. Sinematografi yang menangkap gambaran kota kecil dengan pernik kehidupannya terasa berbeda dengan rata-rata film Jepang yang mengambil setting kota besar (film ini sendiri mengambil setting cerita di pulau Kyushu). Pujian khusus harus kusampaikan untuk Satoshi Tsumabuki dan Eri Fukatsu untuk peran pasangan Yuichi dan Mitsuyo, dua peran yang menurutku sulit dibawakan sehubungan dengan masalah emosi per tokoh dan hubungan yang saling memperngaruhi. Mereka berdua bukan hanya mampu menampilkan sosok Yuichi dan Mitsuyo, melainkan juga mampu memberikan chemistry unik antara kedua tokoh.
Boleh dibilang, film ini adalah salah satu film terbaik yang dibuat industri film Jepang di tahun 2010. Lee Sang-il did it again. Sekedar info, (lagi-lagi) film Akunin ini adalah adaptasi novel berjudul sama karya pengarang asal Nagasaki bernama Shuichi Yoshida.

Rating: 4.25/5
Akting: 4.5/5

10 Responses to “Akunin (Villain)”


  1. 1 syelviapoe3 April 19, 2011 at 4:13 pm

    Barusan mo nebak ttg kebangsaan si sutradara…he..he.. ternyata sudah ditulis di artikelnya ^_^

    Hal yang membuat kita tidak bisa menyalahkan seratus persen si Yuichi karena kita mengetahui alur kehidupannya… sebagaimana yang diatur oleh si sutradara…

    Meski kenyataannya… tetap saja… Apa yang dilakukan Yuichi tidak bisa dikategorikan “Abu-abu”😀

    • 2 AnDo April 19, 2011 at 4:31 pm

      …..sebagaimana yang diatur oleh si sutradara…

      Kalau gitu nggak usah nonton film aja. Toh semuanya udah diatur sutradara koq.
      Mending syelviapoe3 nonton sinetron atau film horor mesum Indonesia aja, karena sutradara dan produser sudah diatur oleh konsumen yaitu penonton.😆

      Meski kenyataannya… tetap saja… Apa yang dilakukan Yuichi tidak bisa dikategorikan “Abu-abu”😀

      Mari kita telaah dasar pendapat saya terlebih dahulu. Pernahkah baca berita ttg bapak2 kalap membunuh orang krn anaknya dicelakai? Pernahkah baca berita orang membunuh karena tersinggung? Padahal seumur2 sang pembunuh dikenal sebagai sosok baik2. Bahkan orang seperti Imam Samudra dan Amrozi yang dikenal “alim” mampu membunuh puluhan orang dengan bom.
      Saya pikir, syelviapoe3 juga mampu membunuh orang lain jika keadaan dan kondisi jiwa cukup mendukung.
      Itulah yang saya katakan abu-abu. Moral itu ambigu sifatnya, nggak pasti. Terlebih lagi, standar moral tiap orang berbeda.

  2. 3 Putri April 20, 2011 at 4:38 am

    maksud saya… diatur sutradara adalah “alur cerita”nya, mas..
    Begini..
    Biasanya, khan ada tuh film yang Memulai alur dari Klimaks dulu.. baru kemudian menyorot ke belakang alias mencari latar belakang penyebab klimaks nya….
    Sehingga terkadang penonton sudah kadung menghakimi si aktor itu sendiri… Padahal ada penyebab kenapa klimaks yang mengerikan itu terjadi… *itu maksud saya yang di atur sutradara….

    Moral itu (menurut KBBI): (ajaran tt) baik buruk yg diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb; akhlak; budi pekerti; susila:2 kondisi mental yg membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin, dsb; isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dl perbuatan:3 ajaran kesusilaan yg dapat ditarik dr suatu cerita;
    Toh, kita sudah tahu.. bahwa membunuh itu tidak baik…(itu adalah nilai yang selama ini kita anut) >>>> dan itu bisa dikategorikan hitam…

    Nah… penyebab nya dan dorongan untuk melakukannya itulah yang menjadikan ia berada dalam area abu-abu…
    Ini IMHO, lho, mas yusah….

    • 4 AnDo April 20, 2011 at 5:20 am

      maksud saya… diatur sutradara adalah “alur cerita”nya, mas..

      Wah, saya baru tau istilah beginian.
      Biasanya sih alur utama cerita film yg saya ketahui ada alur lurus (series), bercabang (paralel), dan satu lagi kilas balik (flashback). Bisa juga dgn campuran ketiganya.
      Makanya saya nggak ngerti apa yg anda maksud.

      Toh, kita sudah tahu.. bahwa membunuh itu tidak baik…

      penyebab nya dan dorongan untuk melakukannya itulah yang menjadikan ia berada dalam area abu-abu…

      Saya masih tetap berpendapat moral itu ambigu, KBBI mengambil arti secara pendapat mayoritas tapi itu bukan berati kebenaran yang mutlak bukan?.
      Membunuh bisa jadi baik bisa pula tidak baik, tergantung sudut pandang. Contoh pembunuhan yg ambigu: Membunuh karena membela diri (diserang fisik maupun verbal), membunuh sebagai martir, membunuh karena tugas (tentara, algojo), dll.
      Ada orang yg menganggap Imam Samudera dan Amrozi sebagai pembunuh berdarah dingin, asalkan beda pendapat dgn dirinya maka siapapun dgn gampang dibunuh. Tapi sebagai counter ambiguitas, ada juga yang menganggap perbuatan mereka benar karena membela apa yang mereka percayai. Yang mana yang benar? Itulah yang disebut ambiguitas moral.

      Anda benar kalau bilang dorongan dan penyebab (salah satu diantaranya adalah moral) utk membunuh itu dikategorikan sbg abu-abu. Tapi membunuh itu sendiri menurutku hanya sekedar perbuatan, tak bisa dijadikan kriteria hitam atau putih. Toh membunuh manusia, tepok nyamuk/lalat dan menyembelih ayam, bisa dikatakan sama-sama membunuh. Layaknya pisau dapur yang bisa dipakai buat memotong sayur ataupun menodong orang.

      Kira-kira begitulah latar pendapat saya menulis review film ini.

  3. 5 gogo May 14, 2011 at 12:56 pm

    patut dicoba nonton neh…

  4. 7 Elkha June 14, 2012 at 5:07 pm

    wah, saya mau nonton ini jg mas Ando. nanti komen lagi klo sdh nonton. saya prnh nonton filmnya Satoshi Tsumabuki yang judulnya water boys. di film itu dia konyol banget. saya jd penasaran liat aktingnya di film ini

  5. 9 AmaKarazi June 29, 2012 at 5:57 pm

    Saya baru saja nonton film ini dan langsung ke google buat cari review, pengen tau pendapat penonton film ini juga.

    Secara keseluruhan saya menikmati, menggambarkan ambiguitas dari salah dan benar, menjelentrehkan sosok ‘penjahat’ itu sendiri dari banyak sudut pandang dan kejadian. Ditambah hubungan 2 orang kesepian yang dikaitkan ke film ini, keren dan dalem filmnya🙂

  6. 10 DenDri July 3, 2012 at 4:51 pm

    Saya rasa rambut pirangnya itu bukan cuma sekedar keinginan sutradara buat nampilin sosok Yuichi apa adanya. Saya nangkep rambut pirangnya sebagai ekspresi orang kesepian yang ingin ‘meet someone’, terus sebagai orang pinggir kota yang cukup lugu berpikir bahwa rambut berwarna akan sedikit membantu tujuannya, karena dianggap kekotaan lah, atau keren atau apa. Ada ‘sorrow’ di warna rambut itu menurutku. Hhe subjektif si emang, ntahlah.

    Dan satu lagi, ‘kissing’ scene yang sampe 2 kali agak sedikit ganggu, apalagi yang kedua agak lama. Meski ditujukan buat ngungkapin rasa cinta, terlalu lengkap rasanya scene yang kedua itu. *ah kita memang beda budaya*🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: