13 Assassins

Jadi samurai itu benar-benar menyusahkan saja
(Shimada Shinzaemon)

Terus terang saja, tadinya aku malas nonton film ini dengan alasan sutradaranya Takashi Miike yang dikenal sebagai sutradara film-film gory berdarah-darah semacam Ichi The Killer. Maklumlah, nonton Ichi The Killer bikin aku muak melihat kadar violence yang berlebihan, intinya aku memang tidak cocok dengan gaya gory-nya Miike. Akan tetapi ketika melihat 13 Assassins masuk nominasi film terbaik Japanese Academy Prize, sekaligus tampilnya salah satu aktor langganan film bagus Koji Yakusho (Shall We Dance dan The Eel), jadilah aku merasa tertarik menonton film ini. Oh iya sekedar info, 13 Assassins sendiri merupakan remake dari film berjudul sama yang disutradarai oleh Eiichi Kudo pada tahun 1963.

[SPOILER]

Catatan: Film action kayak gini dikasih spoiler juga sebenarnya gak ngaruh amat buat kenikmatan nonton.

Setting film berada di jaman pemerintahan Shogun Tokugawa Ieyoshi. Tepatnya pada akhir masa damai, kira-kira 23 tahun sebelum jatuhnya klan Tokugawa sebagai Shogun terakhir. Dalam keadaan damai ini muncul seorang bangsawan adik tiri Tokugawa Ieyoshi, Shogun yang sedang berkuasa, bernama Matsudaira Naritsugu (Goro Inagaki). Sebagai adik sang Shogun, Naritsugu kebal terhadap berbagai macam tuduhan ataupun hukuman meski dikenal sebagai sosok yang kejam dan berdarah dingin. Ketika Naritsugu dikabarkan akan dilantik menjadi penguasa domain Akashi, yang juga berarti akan menjadi salah satu petinggi yang memiliki kekuasaan menjalankan pemerintahan, banyak yang memprotes walaupun tak ada yang berani melawan adik sang Shogun secara terang-terangan. Setelah salah satu ofisial pemerintahan Tokugawa melakukan harakiri sebagai bentuk protes, salah seorang penasehat Shogun bernama Doi Toshitsura memutuskan untuk menghabisi Naritsugu secara diam-diam. Doi menghubungi seorang samurai senior yang berpengalaman dan memiliki banyak jasa Shimada Shinzaemon (Koji Yakusho) untuk menyusun rencana dan mengeksekusi Naritsugu.

Shinzaemon dibantu oleh rekannya sesama samurai senior Kuranaga (Hiroki Matsukata), mengumpulkan 12 samurai terbaik termasuk diantaranya keponakan Shinzaemon sendiri yaitu Shimada Shinrokuro (Takayuki Yamada). Ditambah seorang pemburu yang mereka temukan ditengah jalan, ketiga belas orang ini merencanakan menjebak Naritsugu beserta 75 orang pengawalnya disebuah desa yang dipenuhi perangkap, ketika Naritsugu melakukan perjalanan untuk dilantik secara resmi sebagai penguasa Akashi. Kenyataannya mereka salah perhitungan, karena Naritsugu nyatanya membawa 200 orang sebagai pengawal. Berhubung sudah terlanjur basah dan menyadari bahwa membunuh Naritsugu adalah misi bunuh diri, mereka melanjutkan misi walau harus berhadapan dengan kondisi pertempuran 13 orang melawan 200 orang.

Sebenarnya skenario film ini tidaklah terlampau istimewa, ditambah dengan jalan cerita yang cenderung stereotip hitam putih. Akan tetapi ditangan Takashi Miike, film ini benar-benar menghibur dari segi adegan aksi. Walaupun ada selipan khas Miike seperti adegan betapa sadisnya Naritsugu, secara keseluruhan 13 Assassins sangat bisa dinikmati. Yang paling kusukai dari film ini adalah ide betapa 13 orang masih bisa menang melawan 200 orang jika taktik yang direncanakan dijalankan dengan baik. Yang paling krusial adalah pemilihan para samurai untuk ikut serta misi membunuh Naritsugu. Pada masa damai, para samurai kebanyakan sudah tidak menjalankan peran mereka sebagai pendekar pedang. Samurai tua pedangnya sudah mulai berkarat, sedangkan samurai muda pedangnya kebanyakan tumpul kurang pengalaman tempur. Dengan memilih 12 orang yang nekad untuk mati dan memiliki ilmu pedang mumpuni, melawan 200 orang masih ada kemungkinan menang walau harus mati sampyuh.

Segi artistik dan sinematografi film ini enak untuk dinikmati, setting indoor maupun outdoor terlihat mampu menangkap suasana Jepang tahun 1840-an. Walau akting Koji Yakusho diganjar nominasi aktor terbaik Japanese Academy Prize, menurutku aktingnya hanya masuk standar bagus, tidak luar bisa. Mungkin ini diakibatkan tokoh yang dibawakan Koji Yakusho terlalu standar dan biasa-biasa saja. Ceritanya sendiri? Walaupun sudah mengetahui ceritanya lewat spoiler yang kutulis diatas, tetap saja sajian utama film ini adalah action dibagian akhir. Toh segala macam drama dan cerita dari awal hingga akhir sebenarnya hanya untuk menaikkan tensi sedikit demi sedikit untuk mempersiapkan suguhan pertempuran final yang seru.

Bagi anda yang bosan dengan film bergenre jidaigeki penuh adegan drama, film ini sungguh menghibur terutama dibagian akhir ketika 13 orang pembunuh “mengeroyok” 200 orang. Kalau pernah menonton Seven Samurai-nya Akira Kurosawa, memang tak bisa dipungkiri untuk membandingkan keduanya. Aku sendiri mendapatkan kesan tokoh keponakan Shinzaemon dan si pemburu memiliki kemiripan latar belakang dengan tokoh murid dan samurai wannabe Kikuchiyo dalam Seven Samurai. Worth to watch!

Rating: 3.75/5

10 Responses to “13 Assassins”


  1. 1 lambrtz April 9, 2011 at 5:52 pm

    Ah, jidaigeki selalu terkait dengan film hitam putih grayscale di benakku. Seven Samurai, Rashomon, Yojimbo, dkk. Yang warna warni sedikit sekali yang berkesan, karena sudah terbiasa dengan yang hitam putih. Satu dari sedikit itu Twilight Samurai.😛 (itu masuk jidaigeki juga?)

    Anyway, tentang filmnya sendiri, karena menurutmu lebih mengedepankan action, apakah bisa dibandingkan dengan yang macam Crows Zero, yang lebih mengutamakan berantem di mana-mana, begitu?😕

    • 2 AnDo April 9, 2011 at 6:22 pm

      @Lambrtz
      Twilight Samurai memang masuk genre jidaigeki, karena jidaigeki sendiri berarti period drama. Selain itu masih banyak juga koq yang bagus, kayak After Rain yang kurekomendasikan dulu tapi gak kamu tonton2 (walau kamunya bilang: iya… nanti).

      Yang warna warni sedikit sekali yang berkesan, karena sudah terbiasa dengan yang hitam putih.

      Coba cek ke dokter mata, jangan2 buta warna parsial. Atau harus ganti kacamata fashion tanpa kaca yg lagi trendy skrng😆

      yang macam Crows Zero, yang lebih mengutamakan berantem di mana-mana, begitu?

      Lha wong sutradaranya Crows Zero juga Takashi Miike, gaya dia bikin film keliatan koq. 13 orang vs 200 loh, emangnya efektif buat berantem disatu tempat? Yang jelas 13 pembunuh itu pasti kemana-mana, main kucing2an jauh lbg efektif lah. Lagian perbedaan jelas antara jidaigeki versi old fashioned dgn versi Miike justru pada adegan yg banyak mengumbar darah. Jidaigeki biasanya hanya ngasih dikit darah, walau ada adegan membelah tubuh.

  2. 3 jensen99 April 9, 2011 at 6:39 pm

    Kukira Shinzaemon lalu menyewa satu regu ninja tuk menghabisi Naritsugu diam2.:mrgreen:
    Okay, saya sepertinya membayangkan Kill Bill pada setting Jepang jaman feodal dan dengan skala lebih besar…🙄
    *membayangkan tangan, kaki dan kepala beterbangan kena tebas katana*

  3. 4 lambrtz April 9, 2011 at 6:42 pm

    Selain itu masih banyak juga koq yang bagus, kayak After Rain yang kurekomendasikan dulu tapi gak kamu tonton2

    Kemarin aku udah mau nonton After Rain, dan tonton 5-10 menitnya. Entah kenapa tiba-tiba malas dan mencari yang lain, dan akhirnya menonton After Life.😆
    Ampun Ooooooom ^:)^

    Lha wong sutradaranya Crows Zero juga Takashi Miike,

    Ooh…ketauan amatirnya.😳

  4. 5 lambrtz April 9, 2011 at 6:43 pm

    Maksudku aku yang penonton amatir😳

    • 6 AnDo April 10, 2011 at 1:54 pm

      @jensen

      menyewa satu regu ninja tuk menghabisi Naritsugu diam2

      Maksud diam-diam disini kayak film Mission Impossible. Kalau misi gagal, yang nyuruh gak mau bertanggung jawab dan nggak mau ngaku punya hubungan sama misi:mrgreen:

      membayangkan tangan, kaki dan kepala beterbangan kena tebas katana

      Untungnya film ini cuma dikit menampilkan “gaya khas” Miike pakai potong bebek angsa, tapi yang pasti tebasan dan tikaman jauh lebih sadis dan darah lbh banyak muncrat dibanding film genre jidaigeki yang old-fashioned.

      @lambrtz

      Maksudku aku yang penonton amatir😳

      Lha? Maksudnya situ gak tau sutradara Crows Zero itu Takashi Miike?😯
      Hwarakadah… mbe, mana bakat intelnet mu itu…….

  5. 7 Putri April 12, 2011 at 3:01 pm

    Wah..pake adegan detail “tebasan pedang”, ya ?

    Kill Bill aja udah ampun2an..kl yang ini kayaknya “pass” sajalah…he..he..

  6. 8 Skyhopper August 10, 2011 at 4:46 pm

    Saya setuju film ini adalah film samurai yang bagus, karena akhir2 ini saya jarang nemuin film tentang samurai yang digarap secara serius. Terakhir saya nonton film Jepang bergenre sejenis itu Shinobi dan Goemon. Shinobi memang bagus namun untuk ukuran film action, filmnya justru kurang kadar actionnya, kalau Goemon terlalu panjang dan agak membosankan. Makanya 13 Assassins ini merupakan penyegaran baru buat yang oyan film Samurai, kadar kekerasan dan mutilasinya juga minim, emang bener gak biasanya Takashi Miike sehalus ini.

    • 9 AnDo August 11, 2011 at 11:26 am

      @Skyhopper

      kadar kekerasan dan mutilasinya juga minim, emang bener gak biasanya Takashi Miike sehalus ini.

      Film terbaru Miike malah membuat kadar kekerasan dijadikan adonan bahan ngelucu😆
      Ntar coba tonton garapan terbaru Takashi Miike, adaptasi manga/anime Ninja Boy bersama trio Rantaro, Kirimaru dan Shinbe
      Dari film Samurai action jadi Ninja komedi😆

  7. 10 Andreas Enrico January 19, 2016 at 5:22 pm

    Sepertinya ada yang salah dengan film 13 assassins… pada pertempuran Koyata Kiga Assassin yang ke 13 terbunuh di leher oleh pedang yang dilempar oleh Naritsugu Matsudaira, tetapi di akhir cerita Koyata Kiga bertemu dengan Shinrokuro Shimada dengan sehat, tanpa bekas luka. Sekuatnya seorang shogun juga mati kalo ditusuk dileher… Atau saya lihat movie yang versi lain ??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: