Ototo (Younger Brother)

Sekali adik tetaplah adik, walaupun dia melakukan hal yang menyusahkanmu

Pernahkah anda mendengar komentar yang kira-kira berbunyi, “Dalam sebuah keluarga biasanya ada saja satu orang yang jadi troublemaker menyusahkan anggota keluarga yang lain.” Aku pernah beberapa kali mendengarnya, malah salah satunya ditujukan untuk adik laki-lakiku sendiri. Karena itu, sambil menonton film ini, aku juga sekaligus merefleksi kehidupan dan pola pandanganku sendiri tentang keluarga. Kalimat dalam quote diatas adalah ucapan kakak sepupu sekaligus kakak angkatku almarhumah Ritati, ketika adikku yang satu itu terlibat hal yang menyusahkan kami sekeluarga. Paling tidak, apa yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam film Ototo bisa kumaklumi karena tak jauh dari apa yang disampaikan oleh kakakku diatas. Ototo sendiri dalam bahasa Jepang berarti adik lelaki.

Film dibuka oleh narasi tokoh Koharu Takano (Yuu Aoi) tentang keluarganya yaitu ibunya seorang apoteker Ginko Takano (Sayuri Yoshinaga), mendiang ayahnya, dan terakhir adik ibunya yang bernama Tetsuro Tanno (Tsurube Shofukutei). Koharu kecil menyukai pamannya yang ceria dan suka bertingkah kekanak-kanakan itu. Tetsuro sendiri sering membanggakan betapa ayah Koharu memintanya memberikan nama pada anak perempuan tunggalnya. Seiring dengan semakin dewasanya Koharu, Tetsuro justru masih tetap tak berubah dengan sifat kekanak-kanakannya dan tak kunjung dewasa. Belum lagi dengan hobinya mabuk minum sake dan berjudi. Hingga akhirnya ketika Koharu melangsungkan pesta pernikahan dengan seorang pria dari keluarga terhormat, Tetsuro mengacaukan pesta sewaktu mabuk. Hasilnya, hubungan Koharu dengan keluarga suaminya memburuk, malah abang pertama Tetsuro dan Ginko memutuskan hubungan keluarga dengan Tetsuro. Walaupun demikian tetap saja tak terlihat tanda-tanda sifat kekanakan Tetsuro berubah. Terakhir, Tetsuro justru terlibat banyak hutang yang menyebabkan Ginko dan Koharu marah besar.

Pak tua bernama Yoji Yamada ini adalah salah satu sutradara Jepang yang banyak memperoleh penghargaan di dunia internasional. Bagi yang belum kenal Yamada, mungkin anda masih ingat dengan trilogi film samurai, diawali Twilight Samurai yang masuk nominasi film berbahasa asing terbaik academy award ke-76. Film lain Yamada yang dikenang oleh penggemar film adalah serial Tora-san yang begitu dicintai insan perfilman Jepang. Film ototo ini sendiri meraih banyak nominasi Japanese Academy Award 2011 walaupun tak berhasil membawa pulang satupun penghargaan karena kalah bersaing dengan Confessions dan Akunin.

Jika Confessions dan Akunin dibawakan dengan gaya kontroversi dan meledak-ledak, ototo justru kebalikannya dibawakan dengan tenang diselingi komedi dan drama keluarga yang kental. Alur film sendiri mengalir lancar dan para tokohnya bisa ditemukan dalam keseharian. Sayangnya mungkin justru hal ini yang membuat ototo kurang menonjol di ajang festival. Filmnya bagus dan menyentuh, tapi tidak bisa dikatakan luar biasa untuk menarik perhatian para juri festival. Walaupun demikian, justru kesederhanaan ototo yang membuatku suka pada film ini karena aku bisa merefleksikan kehidupan keluarga sehari-hari yang ada dalam film ototo. Menurutku film ini lebih bagus jika dibandingkan dengan The Fighter yang sama-sama bertema tentang keluarga dan persaudaraan. Film ini sendiri diakhiri dengan tragedi tanpa disikapi dengan menye dan mendayu-dayu layaknya mayoritas drama Korea. Malah dialog di akhir film antara 3 wanita keluarga Takano (cucu, ibu dan nenek) terasa menyentuh tanpa harus diiringi tangisan sedih.

Tiga janda Takano, nenek-ibu-cucu

Tiga janda Takano, nenek-ibu-cucu

Dari segi akting, seluruh pelakon utama film ini tampil baik. Tentu saja yang paling menarik perhatian adalah Tsurube Shofukutei yang memerankan si adik troublemaker Tetsuro, aku paling suka gaya bicaranya yang kekanakan dengan dialek kansai yang lucu. Dua aktris beda generasi Yoshinaga dan Aoi tampil dengan mengesankan sebagai ibu-anak. Satu lagi yang mencuri perhatian adalah akting aktris senior berusia 88 tahun Haruko Kato yang berperan sebagai ibu mertuanya Ginko yang rada pikun dan cerewet. Gayanya benar-benar menceminkan tipikal posisi nenek-nenek Jepang yang tinggal bersama anak-mantu-cucu dibawah satu atap. Tokoh-tokoh pendamping lainnya yang menghiasi film ini juga bermain baik termasuk Ryo Kasei. Tapi yang menjadi tokoh pendukung favoritku adalah pelanggan toko obat Ginko sekaligus tetangga mereka yaitu karakter kakek mata keranjang Pak Maruyama yang dimainkan aktor watak Takashi Sasano.

Hal lain diluar cerita keluarga Takano yang menarik perhatianku adalah hubungan antara Koharu dengan suaminya yang notabene berasal dari keluarga kaya dan terhormat. Perkawinan mereka yang berbeda status sosial membuat cinta mereka di awal pernikahan menjadi cepat mendingin. Kalau hanya mengandalkan cinta, terus terang saja cinta itu bisa luntur dengan kerasnya tekanan yang diakibatkan perbedaan status. Belum lagi pengaruh pihak keluarga (terutama ibu-bapak) yang tentu saja berdiri tegak di level status masing-masing sehingga berpotensi menimbulkan konflik.

Alhasil film ini berhasil menampilkan kompleksitas hubungan persaudaraan dan keluarga dengan cara yang menyentuh hati, sekaligus bisa dijadikan bahan renungan bagi yang memiliki anggota keluarga yang bermasalah. Ingatlah, persaudaraan itu bukan hanya hubungan fisik malainkan juga non-fisik. Memiliki pertalian hubungan darah belum tentu merasakan persaudaraan tanpa adanya ikatan bathin.

Rating: 4/5

14 Responses to “Ototo (Younger Brother)”


  1. 1 purisuka March 23, 2011 at 10:00 am

    Salah satu film yg pengen banget saya tonton nih. Ada Ryo Kase-nya sih (lagi demen banget sama orang itu), dan ada Yu Aoi juga (my fave japanese actress). Jadi pengen cepet2 nonton film ini setelah baca reviewnya😀

  2. 2 Asop March 24, 2011 at 7:45 am

    Heeeee.. jadi penasaran seperti apa sih logat kansai itu…:mrgreen:

    • 3 AnDo March 24, 2011 at 10:01 am

      @purisuka
      Ryo Kase cuma dapat peran pembantu, nggak terlalu banyak tampil. Kalau Yuu Aoi emang dapat jatah tampil cukup banyak.

      @Asop
      Gampang! Coba nonton anime yang judulnya Lovely Complex. Itu anime penuh dengan percakapan dengan logat kansai, karena memang settingnya di SMA daerah Osaka. Coba liat di youtube juga ada.

      • 4 Asop March 27, 2011 at 3:13 pm

        Asik asik, makasih atas link-nya!😀😀😀

      • 5 Asop March 27, 2011 at 3:41 pm

        Eh iya lho, udah lihat saya anime lovely complex di youtube.😀
        Orang kansai kalo ngomong akhirannya seringkali pake “~na” gitu yah?:mrgreen:

      • 6 AnDo March 28, 2011 at 3:05 am

        Orang kansai kalo ngomong akhirannya seringkali pake “~na” gitu yah?

        Salah!
        Orang Kansai itu terbagi beberapa region misalnya Osaka, Kobe, Nara, Kyoto, dll. Kalau dalam Lovely Complex, dialek yg dipakai adalah dialek orang Osaka, dan dialek Osaka banyak menggunakan akhiran ya atau ya nen sebagai pengganti desu dan desu ne.

      • 7 Asop March 28, 2011 at 1:51 pm

        Huahaha, iya, ada banyak akhiran “ya~”-nya di sana..:mrgreen:

        Btw, ada dorama/live action-nya kan? Baguskah? Lucunya setara dengan animenya?

  3. 8 Putri March 24, 2011 at 4:30 pm

    hohohoho..film keluarga yang kompleks, ya…..
    Kehidupan sehari2…tapi memang kelihatan membumi….
    kapan2 mo coba download, deh..he..he… ^_^

    • 9 AnDo March 27, 2011 at 2:34 pm

      Filmnya sendiri menurutku sangat sederhana, yang kompleks itu hubungan persaudaraan antar keluarga.
      Cobalah tonton kalau suka drama keluarga.

  4. 10 kasamago April 5, 2011 at 1:12 pm

    dari reviewnya kek nya recomended. nice.. film tentang keluarga yg dapat melihat bagaimana kehidupan sebuah keluarga di jepang..

  5. 11 jensen99 April 5, 2011 at 2:33 pm

    Memiliki pertalian hubungan darah belum tentu merasakan persaudaraan tanpa adanya ikatan bathin.

    Betul. Dan saya benci keluarga. 5 bulan menggelandang di Jakarta saya pindah rumah 2 kali. Sekali diusir kakak sepupu, sekali diusir adik sepupu. Bikin susah saja. Yang akhirnya menyelamatkan saya justru “kakak” dan “adik” yang tidak punya hubungan darah.👿
    *curcol*

    • 12 AnDo April 14, 2011 at 3:55 pm

      Eh, kelewat bales komennya

      @Zeph
      Semoga bukan anda sang adik trouble maker-nya:mrgreen:

      @jensen
      Mungkin kita harus introspeksi diri juga bro. Mungkin mereka juga memiliki masalah pribadi sehingga nyuruh masbro minggat. Lagian kalau numpang hingga 5 bulan, kayaknya kelamaan juga waktunya. Harusnya masbro pindah tumpangan tiap 2-3 hari supaya mereka nggak bosen:mrgreen:

  6. 13 Zeph April 6, 2011 at 1:31 pm

    Sebagai seorang bungsu di keluarga, kayaknya saya tertarik lihat film ini🙂

  7. 14 ema January 25, 2012 at 1:14 pm

    Wuah, saya baru tahu tentang film ini, thanks for reviewing🙂
    Wajib nonton nih.
    “kita bisa milih teman tetapi tidak bisa milih keluarga”(from to kill a mocking bird hehehe)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: