Railways – Sebuah film tentang kesederhanaan

Menurut anda, pekerjaan seperti apakah yang paling baik? Apakah yang menjadi prioritas untuk bekerja? Besarnya penghasilan? Banyaknya waktu luang? Atau seperti kebanyakan anggapan orang bahwa pekerjaan terbaik adalah bekerja dibidang yang kita sukai tanpa memandang besarnya penghasilan dan jabatan yang diraih. Railways menceritakan tentang kehidupan seseorang yang sukses dalam karirnya di kota besar tetapi memilih pindah ke kampung demi mendapatkan pekerjaan yang disukainya. Terus terang saja alur film ini hampir tanpa riak, agak datar dan sederhana dalam bercerita. Tapi justru hal yang demikian mampu menciptakan suasana tenang dan damai, sesuai dengan kondisi kehidupan kampung yang kontras dengan hiruk pikuk kehidupan kota besar layaknya Tokyo.

Tsutsui Hajime (Nakai Kiichi), seorang salaryman sukses di sebuah perusahaan elektonik di Tokyo, mendapat kabar dari kampung halamannya tentang ibunya sedang sakit keras. Ditengah kesibukan pekerjaannya, Hajime terpaksa pulang kampung diiringi oleh istrinya Yukiko (Takashima Reiko) dan anak perempuannya Sachi (Motokariya Yuuka), datang ke kampung Izumo untuk menjenguk. Ketika dokter memvonis sakit ibunya perlu perawatan khusus, Hajime hanya punya pilihan membawa ibunya ke Tokyo atau dirinya pindah ke Izumo untuk merawat ibunya. Berhubung ibunya tak mau pindah, Hajime memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di Tokyo dan mencari kerja di Izumo. Pulang ke kampung halamannya di Izumo sekaligus mengingatkan Hajime tentang masa kecilnya termasuk cita-citanya sebagai masinis kereta listrik Ichibata. Mengetahui Ichibata membuka lowongan untuk pekerjaan sebagai masinis, Hajime memutuskan untuk melamar walaupun riskan mengingat umurnya telah 49 tahun untuk memulai pekerjaan masinis dari permulaan (yang berarti karir mentok).

Film ini dari ceritanya juga sangat sederhana dengan alur yang gampang ditebak yaitu tentang seseorang yang ingin menggapai impian masa kecilnya sebagai masinis kereta listrik Ichibata. Cara penyampaian sutradara Nishikori Yoshinari juga tak muluk-muluk dengan dialog sederhana yang mengalir lancar. Tokoh-tokoh dalam film ini bisa dibilang sebagai karakter orang Jepang sehari-hari. Hajime diawal film digambarkan salaryman sibuk, sukses dengan pekerjaannya tapi tak punya waktu untuk anak istrinya. Khas untuk menggambarkan keluarga Jepang yang tinggal di kota besar. Dipertengahan cerita, Hajime yang hidup di kampung mencerminkan masyarakat Jepang yang tinggal di daerah pedesaan. Perubahan karakter Hajime disini terlihat kentara, dimana Hajime”asli” yang anak kampung ternyata berbeda dibanding Hajime yang terpolusi kehidupan kota besar. Kegiatan Hajime di Izumo juga tak jauh dari keseharian seorang masinis dengan pernak-pernik kehidupan sehari-hari. Memang ada beberapa adegan yang terlihat lebay, tetapi secara keseluruhan aku masih bisa memaafkannya.

Yang paling kusuka dari film ini adalah sinematografinya yang dapat menangkap kesederhanaan alam pedesaan lengkap dengan landscape rel kereta listrik yang membelah ladang luas disepanjang mata memandang. Kereta listrik yang ditampilkan dalam film ini adalah kereta Ichibata yang tetap menggunakan gerbong lama sehingga terkesan antik. Gara-gara film ini, kereta listrik Ichibata sempat booming penumpang yang ingin merasakan sensasi naik kereta dengan gerbong antik hingga beberapa minggu. Kereta Ichibata ini sendiri hanya beroperasi di wilayah Izumo, prefektur Shimane.

Karakter yang muncul dalam film ini hanyalah karakter biasa yang sering kita lihat disepanjang hari. Paling ada 2 karakter yang paling menarik dilihat interaksinya. Yang satu tentunya Hajime, lelaki setengah baya yang menggapai mimpi untuk menjadi masinis sehingga membuatnya mirip anak muda yang bersenang-senang bermain dengan hobinya: Kereta listrik. Tokoh kedua yang tak kalah menarik adalah Miyata (Miura Takahiro), anak muda baru lulus sekolah yang bekerja sebagai masinis hanya karena butuh pekerjaan sehingga memandang pekerjaannya dengan serius. Hajime dan Miyata ditugaskan bersama sebagai partner untuk menjalankan satu kereta listrik Ichibata. Interaksi dua generasi pekerja yang bertolak belakang tentu sangat menarik untuk disaksikan. Sayangnya karena terlalu banyak membahas bermacam-macam hal, interaksi antara mereka berdua tak terlampau mendalam. Memang cukup banyak dan dialognya disampaikan dengan menarik, hanya saja menurutku masih kurang, secara 2 karakter inilah yang hubungannya paling unik.

Secara keseluruhan, Railways memang bukan film terbaik di genre-nya. Tetapi menonton film ini ternyata bisa membuatku merasakan kehangatan dalam hati atas nama kesederhanaan.

O iya, bagi yang suka si manis Motokariya Yuuka kayak saya:mrgreen: dapat melihat penampilannya yang agak jarang akhir-akhir ini.

Rating: 3.5/5

4 Responses to “Railways – Sebuah film tentang kesederhanaan”


  1. 1 AL January 16, 2011 at 10:25 am

    kayaknya menarik. Tapi sayangnya susah dicari..

  2. 3 diana December 8, 2012 at 5:18 am

    kalau mau pesen cdnya bisa gak ya ?

  3. 4 kavana March 17, 2016 at 9:13 am

    kalau mau nonton dimana ya ? info dong,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: