Memoirs of A Teenage Amnesiac

Akhir-akhir ini aku lebih sering nonton film-film Asia dibandingkan film buatan Eropa ataupun buatan Hollywood. Kebetulan pula film Asia yang banyak kutonton akhir-akhir ini adalah film buatan China/Hongkong dan Jepang. Hari sabtu-minggu kemarin aku bermaksud nonton film ringan yang menghibur untuk menemani hari libur dan salah satu dari 2 film yang kupilih untuk ditonton adalah film ini. Film yang beredar di Jepang dengan judul Dare ka ga Watashi ni Kiss shita (siapakah yang menciumku) ini diangkat dari novel karangan Gabrielle Zevin. Bagaimanakah hasilnya?

Naomi (Maki Horikita), cewek Jepang yang bersekolah di sebuah sekolah internasional bernama Japan American School mendapatkan kecelakaan akibat terjatuh dari tangga di depan sekolahnya. Seorang pelajar bernama Yuji (Ken’ichi Matsuyama) menolongnya dan ikut mengantar ke rumah sakit. Walaupun mengalami gegar otak ringan, Naomi tak bisa mengingat kejadian apapun untuk masa 4 tahun terakhir termasuk semua teman-temannya di sekolah. Pemuda lain yang mengaku kawan karib Naomi bernama Mirai (Yuya Tegoshi) datang menjenguk ke rumah sakit. Menurut Mirai, Naomi adalah chief editor dari proyek Year Book sekolah dan Mirai adalah wakilnya. Pulang ke rumah, Naomi dikejutkan sosok cowok bule yang masuk ke dalam kamarnya lewat jendela a la Dawson’s Creek dan tiba-tiba saja mencium Naomi. Si pirang ini adalah bintang tenis sekolah bernama Ace Zuckerman (Anton Yelchin), pacar Naomi merangkap pasangan ganda Naomi dalam tim tenis sekolah. Cerita selanjutnya berkisar diseputar perasaan Naomi terhadap tiga cowok ini dan usaha Naomi dalam menyesuaikan dirinya dengan amnesia yang dideritanya. Kisah hidup Naomi juga diselingi dengan keinginan ayah Naomi (Atsuro Watanabe), seorang duren (duda keren) yang ingin menikah lagi.

Cuma satu komentarku buat cerita dalam film ini: MEMBOSANKAN! Bayangkan saja selama 2 jam film diputar, sebagian besar cerita hanya bolak balik berputar-putar diantara kebimbangan Naomi terhadap cowok mana yang paling dicintainya. Plot tentang ayah Naomi yang ingin kawin dengan janda penari Tango tak lebih dari sekedar tempelan. Dan yang paling membingungkanku, buat apa cerita ini mengambil setting sekolah internasional plus murid/guru bule yang tak memiliki peran berarti. Bahkan jika ingin mengganti tokoh Zuckerman dengan pria Jepang lokal, toh tak akan mengganggu inti cerita koq. Lain halnya kalau ayah Naomi seorang pembenci orang asing, nyatanya ayah Naomi tak menunjukkan tanda-tanda tak suka pada si bule. Aku sendiri belum pernah membaca buku karangan Zevin tersebut, sehingga tak tahu pasti alasan pemilihan sekolah internasional sebagai lokasi setting.

Tadinya aku sudah bersiap-siap untuk memberikan rating jelek pada film ini, hanya saja ada dua hal yang membuatku tak sampai hati melakukannya. Yang pertama adalah penampilan Ken’ichi Matsuyama yang terlihat menonjol ditengah-tengah akting biasa-biasa saja aktor lainnya. Matsuyama yang bisanya suka mengambil peran aneh-aneh ini tampil sebagai Yuji yang terlihat cool tapi sebenarnya temperamental, beremosi labil dan gampang depresi. Memang sih, peran ini tak terlampau aneh jika dibandingkan perannya sebagai L (Death Note) ataupun Negishi/Krauser II (DMC). Tapi jika dibandingkan dengan peran bule tukang main cipok sembarangan atau tokoh teman yang berlagak cinta platonik, peran Yuji jadinya cukup unik dan Matsuyama mampu membawakannya dengan baik. Yelchin yang terakhir kulihat bermain bagus dalam Star Trek dan Terminator Salvation bermain lebay bagaikan aktor baru pandai berakting.

Hal kedua adalah 10 menit bagian akhir dalam film yang mempertanyakan, apakah lupa sebagai kodrat manusia itu adalah sebuah kutukan atau sebuah anugerah? Aku cukup kaget karena ditengah kebosanan tiba-tiba dikejutkan dengan pertanyaan ini. Walaupun demikian, hal ini tak sanggup mengangkat film ini menjadi sebuah film yang menarik dan menghibur. Jika melihat kriteria pemberian rating, cukuplah aku memberikan nilai batas terendah dari sebuah film bernilai “lumayanlah”.

Rating: 2.5/5

NB.
– Dialog berbahasa Inggris dalam film yang diucapkan oleh para aktor Jepang (terutama oleh Horikita) lumayan bagus, sehingga aku masih bisa mengerti walaupun nonton tanpa subtitle. Tau sendiri lah Engrish gitu loh
– Emma Roberts yang digadang-gadang bakalan menggantikan tantenya Julia Roberts sebagai aktris papan atas masa depan, bermain dibawah standar. Lagi pula perannya sebagai teman satu sekolah Naomi lebih mirip tokoh numpang lewat.

5 Responses to “Memoirs of A Teenage Amnesiac”


  1. 1 ammy13 November 4, 2010 at 4:12 am

    Casts populer ternyata gak bikin film ini berkesan ya🙂
    pengen nonton gara2 yg main Maki horikita & Kennichi Matsuyama, trnyata film nya malah garing banget… apalagi dicampur aktor-aktris bule dengan dialog2 kaku… buat saya yang keren dr film ini cuma pas scene-scene yang menampilkan carousel 3D foto-foto nya aja… selebihnya emang membosankan…
    o ya, salam kenal… hhe

    • 2 AnDo November 4, 2010 at 9:58 am

      Secara sinematografi, adegan pengambilan objek foto bertema “pengalaman jatuh”-nya Naomi emang lumayan kreatif. Tapi secara keseluruhan, film ini membosankan.
      Salam kenal juga.

  2. 3 novita November 24, 2011 at 8:12 am

    Yep, setuju banget. Aku heran ada banyak orang yang mengomentari bagus film ini. Apa aku yang nggak ngerti jalan ceritanya ya?
    Aktor dan aktris Amerika pun terkesan hanya sebagai pemain figuran yang “numpang lewat” dan nggak berperan besar.
    Just my opinion

  3. 5 lila May 15, 2016 at 9:19 am

    halo, wah, ketinggalan banget ya aku belum nonton film ini di tahun, emmmm, 6 tahun kemudian hahaha. Nyari filmnya juga agak2 susah, jadi ya baca ebooknya aja.

    Terus terang ya, pengen nonton ini juga karena Kenichi Matsuyama-nya. Kalo liat trailernya sih, sudah bayangin, ini pasti film ya begitulah. Tapi tetep akting Kenichi ngga boleh digratiskan gitu aja. Thx reviewnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: