Golden Slumber – Konspirasi a la film Jepang

Satu-satunya senjataku yang tersisa hanyalah kepercayaan pada orang lain (Masaharu Aoyagi)

Ada dua buah film Jepang yang dirilis tahun ini menggunakan judul lagu band legendaris asal Liverpool The Beatles sebagai judul film. Yang pertama telah rilis bulan Januari kemarin yaitu Golden Slumber dan yang kedua akan dirilis bulan Desember berjudul Norwegian Wood. Kedua film ini sama-sama merupakan adaptasi dari novel, hanya saja novel Norwegian Wood karya Haruki Murakami jauh lebih terkenal hingga diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia internasional dibandingkan novel Golden Slumber karya pengarang novel genre misteri Kotaro Isaka. Walaupun demikian, Golden Slumber cukup terkenal di Jepang dan pernah memenangkan penghargaan Honya Taisho 2008 untuk kategori novel terbaik.

Film dibuka dengan sepasang suami istri bersama anaknya yang sedang jalan-jalan di Mall. Kemudian adegan dilanjutkan dengan pengenalan tokoh utama Masaharu Aoyagi (Masato Sakai), seorang karyawan perusahaan jasa pengantar barang yang ngetop mendadak seantero kota Sendai gara-gara menyelamatkan seorang artis idola dari perampokan. Aoyagi berencana reuni dengan Morita (Hidetaka Yoshioka), teman lama anggota klub tukang makan semasa kuliah. Sewaktu berbincang didalam mobil yang sedang diparkir, mendadak Morita memberitahukan kalau Aoyagi akan dijebak sebagai pembunuh perdana menteri Jepang yang sedang parade di Sendai. Ketika Aoyagi sadar kalau parade sang perdana meteri akan melewati mobil mereka, semuanya terlambat. Sang perdana menteri terbunuh, mobil meledak dan Morita tewas ditempat, sedangkan Aoyagi tiba-tiba saja menjadi buronan nomor satu bagaikan Lee Harvey Oswald. Aoyagi yang lurus dan agak lugu sangat gampang ditebak pola pikirnya. Dia langsung menelpon teman lamanya yang lain Kazu (Gekidan Hitori), tanpa sadar kalau Kazu juga sudah diintai oleh polisi pimpinan Sasaki (Teruyuki Kagawa). Anggota klub lainnya sekaligus mantan pacar Aoyagi adalah Haruko Higuchi(Yuuko Takeuchi), seorang ibu rumah tangga dengan satu anak, juga tak lepas dari pengawasan pengejar Aoyagi. Kelemahan (menurut para pengejar) sekaligus satu-satunya senjata (menurut Aoyagi) adalah kepercayaan Aoyagi pada teman-temannya. Bagimanakah nasib Aoyagi selanjutnya?

Tadinya ketika selesai menonton film ini, aku bingung dengan banyaknya hal yang tidak dijelaskan sepenuhnya didalam film. Baru aku sadar kalau sang sutradara ingin menampilkan cerita konspirasi ini dari sosok pandang Aoyagi yang jelas-jelas bingung dengan keadaan dirinya. Aoyagi tak tahu siapa yang menjebak dirinya, tak tahu mengapa dirinya yang dipilih sebagai sang Oswald (yang ini para penonton bisa menebak berdasarkan kepribadian Aoyagi), tak tahu siapa yang membunuh dan alasan pembunuhan perdana menteri. Kita sebagai penonton ditempatkan oleh sutradara sebagai Aoyagi, sehingga sampai film selesaipun masih ada beberapa hal yang tak kita ketahui latar belakang konspirasi.

Sang sutradara Masahiro Nakamura berhasil menampilkan film yang lumayan tegang walaupun tak banyak adegan action seperti Bourne Trilogy. Kalau film thriller a la Hollywood adalah perkelahian, tembak-tembakan dan kejar-kejaran mobil, maka dalam film ini ketegangan lebih dibangun kearah betapa sang tokoh utama adalah sosok yang lurus-lurus saja, sehingga mudah ditebak langkah pelariannya oleh orang-orang yang mengincar Aoyagi. Belum lagi kondisi Aoyagi yang wajahnya sangat dikenal oleh masyarakat luas. Selingan adegan flashback terasa memperkuat unsur drama, terutama drama hubungan antara Aoyagi dan Haruko.

Para pemainpun berakting cukup baik, malah Masato Sakai yang berperan sebagai Aoyagi kukira berhasil menampilkan sosok everyman yang ketakutan sekaligus kebingungan karena dituduh sebagai pembunuh pejabat pemerintah. Selain Sakai, akting yang kusukai adalah akting Kagawa sebagai polisi Sasaki yang dingin dan suka menghalalkan segala cara, dan juga permainan Gaku Hamada sebagai si pembunuh berantai Kill-O yang suka ngomong “Kaget yah?”. Hanya saja aku masih bingung dengan 2 sosok penolong Aoyagi yang tidak jelas motif mereka. Yang pertama adalah pembunuh berantai Kill-O, entah apa yang membuat Kill-O berulang kali menolong Aoyagi. Yang kedua adalah Yakuza pasien rumah sakit yang menolong Aoyagi lewat perantara Haruko. Terlepas dari motif, tokoh Kill-O benar-benar mencuri perhatian dengan tampang dan kelakuannya yang kekanak-kanakan.

Secara keseluruhan, film ini lumayan enak dinikmati, tegang dan mengalir lancar. O iya, Golden Slumbers yang menjadi judul film (tanpa s) merupakan lagu kenangan bagi Aoyagi dan teman-teman kuliahnya, dan dalam film ini ditampilkan sebagai theme song yang dibawakan oleh musisi Kazuyoshi Saito. Seperti apa yang ditampilkan lagu Golden Slumbers, Aoyagi hanyalah sosok biasa yang ingin “to get back homeward”.

Rating: 3.5/5

6 Responses to “Golden Slumber – Konspirasi a la film Jepang”


  1. 1 ardhie September 23, 2010 at 1:54 am

    bajakannya sudah keluar belum yha .??
    .kala sudah pingin nonton
    .tapie susah cari bajakan film jepang
    T.T

  2. 3 Putri September 23, 2010 at 1:39 pm

    film pelarian2 gitu, ya..

    Agak mirip the Fugitive, ya ?

  3. 5 Zeph September 24, 2010 at 6:11 am

    sudah lama ga liat film jepang yang bergenre “serius”..

    Norwegian wood rilis Desember? sip. *sabar*


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: