Fancy Dance – Komedi Pendeta Zen

Seperti yang telah diceritakan pada tulisan sebelumnya, Fancy Dance adalah film layar lebar pertama karya sutradara Masayuki Suo yang dibuat pada tahun 1989 menyusul film-film dokumenter dan semi-porno yang telah dirintis diawal karir Suo untuk menapakkan kakinya sebagai sutradara berkelas dikemudian hari. Fancy Dance sendiri merupakan film adaptasi dari manga shojo karya Reiko Okano yang mengisahkan suka duka kehidupan para pendeta Zen pada masa training mereka di dalam kuil Buddha.

Yohei (Masahiro Motoki), penyanyi grup band Ska, mengikuti training di kuil Zen sebagai biksu selama satu tahun demi memperoleh warisan kuil dari ayahnya seorang biksu Zen. Sebagai anak sulung, memang Yohei setengah dipaksa untuk menjadi biksu. Tak disangka adiknya Ikuo juga ikut-ikutan masuk kuil. Kalau Yohei beralasan demi warisan ayahnya, Ikuo mengikuti training demi mendapatkan restu ayah pacarnya seorang biksu kaya raya, untuk mengawini anak perempuannya (beserta warisan mertua tentunya). Dalam kuil, kedua bersaudara ini bertemu dengan sesama calon biksu lainnya dengan berbagai motif tujuan masuk kuil. Para calon biksu ini berlatih dibawah pimpinan biksu Kitagawa (Naoto Takenaka) dan geng para biksu senior. Awal latihan benar-benar terlihat seperti mapram atau ospek dimana para biksu senior bertingkah sok dan ngeboss dalam mengerjai anak-anak junior. Semua menu latihan berjalan dengan dipaksa lancar, hingga Masoho (Honami Suzuki) pacarnya Yohei mulai tak sabaran menanti dan menyantroni kuil untuk bertemu dengan Yohei.

Bagi anda yang tidak mengetahui tentang perkembangan aliran Zen Jepang di jaman modern, mungkin anda akan kaget melihat betapa duniawinya kehidupan para pendeta Zen dalam film ini. Akan tetapi memang begitulah kenyataannya. Aku sendiri belum pernah membaca manga Fancy Dance sehingga tidak mengetahui isi plot cerita versi manga-nya, namun dalam film terlihat betapa Suo mengkritisi status pendeta Zen yang tidak mencerminkan semangat sang Buddha. Mulai dari perihal waris-mewarisi kuil, isu seksualitas, biksu menikah dan punya anak, hingga makan minum tanpa pantangan. Dipihak lain, film ini juga menampilkan berbagai macam praktek kedisiplinan Zen seperti halnya cara makan, metode tidur hingga cara buang air besar. Di lain pihak film ini juga sedikit memasukkan “pertarungan” antara Zen dengan penyebaran agama Kristen lewat tokoh Yohei vs mantan pacar Masoho yang kristen.

Jika anda mengikuti seluruh film layar lebar karya Suo dari awal, anda akan dapat melihat dan merasakan perubahan style Suo dalam menggarap film. Film pertama Suo ini sangat kental unsur komedinya, walaupun mungkin dalam beberapa hal agak sulit diterima kelucuannya bagi orang non-Jepang yang kurang mengerti tentang kehidupan pendeta Zen. Film kedua Suo yaitu Sumo do Sumo don’t (1991) lebih serius dalam bercerita meski unsur komedinya masih banyak bertebaran disana sini. Film ketiganya Shall We Dansu (1996) malah lebih mengedepankan cerita sosial kemasyarakatan Jepang daripada unsur komedi yang lebih ditujukan sebagai selipan yang menghibur. Film terakhir Suo I Just Didn’t Do It (2007) lebih jauh lagi jatuh ke film semi-dokumenter yang sangat serius menyoroti problematika sistem hukum masyarakat Jepang hingga cenderung dark tone. Dari sini kita bisa melihat betapa tema film yang digarap Suo semakin kebelakang terlihat semakin serius, apalagi kalau kita memperhatikan jarak waktu pembuatan antar film makin kebelakang semakin panjang.

Gaya penyutradaraan Suo yang khas mulai bisa dilihat disini dan kamera dapat menangkap gambar-gambar menarik di seputar kuil. Akan tetapi proses editingnya masih terlihat kurang mulus dibandingkan dengan karya Suo selanjutnya. Dari artikel yang kubaca, proses pembuatan film ini sendiri tidaklah semulus yang dibayangkan, karena Suo sendiri masih boleh dibilang sutradara ingusan dimata produser jika melihat daftar karirnya, hal ini ditambah dengan budget minim yang disediakan untuk produksi. Motoki yang masih hijau di dunia akting masih terlihat kaku permainannya, malah Honami Suzuki yang terbilang aktris senior kurang kuat aktingnya. Hanya Naoto Takenaka saja yang masih tetap stabil permainannya.

Jika melihat kendala yang dialami Suo, bisa dibilang film ini masih lumayan bagus hasilnya. Ditambah jika anda rindu melihat tampang imut Honami Suzuki si Rika Akana dalam Tokyo Love Story, bolehlah menonton film komedi ini sebagai alternatif hiburan.

Rating: 3.25/5

10 Responses to “Fancy Dance – Komedi Pendeta Zen”


  1. 1 Asop August 22, 2010 at 11:57 am

    Luar biasa… review yang mantab…๐Ÿ˜€

  2. 2 fanny August 22, 2010 at 3:17 pm

    kirain film apa..judulnya kayak film remaja sih

  3. 3 ardhie August 23, 2010 at 1:52 am

    selalu memberikan review yang details .. !!
    .^^b
    good job .. !!

  4. 4 AnDo August 23, 2010 at 1:54 pm

    @Asop
    Ma kasih

    @fanny
    film komedi koq:mrgreen:

    @ardhie
    thanks!

  5. 5 Zeph August 26, 2010 at 3:53 am

    Bagi anda yang tidak mengetahui tentang perkembangan aliran Zen Jepang di jaman modern, mungkin anda akan kaget melihat betapa duniawinya kehidupan para pendeta Zen dalam film ini.

    jadi seiring perkembangan zaman, aliran itu banyak mengalami perubahan kah? kalau merujuk ke film Zen (2009) tentang Bikkhu Dogen, jadi tidak seperti itu lagi ya?

    • 6 AnDo August 26, 2010 at 2:23 pm

      @Zeph
      Boleh dibilang melenceng jauh. Biksu Zen sekarang banyak yang nikah dan punya anak, boleh minum arak dan makan daging. Malah boleh dibilang jadi biksu itu salah satu “karir” yang menghasilkan uang lumayan.

    • 7 lambrtz August 26, 2010 at 5:38 pm

      Boleh dibilang melenceng jauh.

      Berarti bid’ah ini!๐Ÿ˜ˆ

      Eh tapi bid’ah-bid’ahan di sana common ga sih? Either ini atau yang mumi biksu itu, mengingat Siddhartha Gautama dulu mengajarkan Jalan Tengah, yang tak lain dan tak bukan adalah moderationism, untuk mengambil jalan yang moderat di antara hal duniawi dan penyiksaan diri?๐Ÿ˜•

      Tapi ya ini berdasar pemahamanku yang kurang mendalam tentang Buddhism sih๐Ÿ˜›

      • 8 AnDo August 27, 2010 at 12:31 pm

        @lambrtz
        sebenarnya aku jg gak terlalu ngerti prinsip Buddhism, terlebih aliran Mahayana (Zen masuk ke Mahayana). Tapi sejauh mata memandang, biksu Zen hidup makmur di Jepang dan kayaknya udah nggak jalanjalan di tengah, melainkan lebih miring berat ke duniawi.๐Ÿ˜›
        btw, kalau nggak salah biksu di Korea Selatan juga udah kayak di Jepang.

  6. 9 Prianti September 25, 2011 at 7:30 pm

    halo ando-kun ^_^ kalau boleh tau, film ini bisa didonlot dimana yaa? mau donk share link nyaa.. thanks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: