Shall We Dansu? – Dansa sang salaryman

Quote: Mou ichi do, Jinsei ni koi site miyou
(Marilah sekali lagi mencintai kehidupan)

Film ini adalah salah satu film Jepang karya non-Akira Kurosawa yang mampu membuatku sangat terkesan. Ada beberapa alasan yang membuatku menobatkan film ini masuk ke dalam jajaran film Jepang favorite versi ku, baik secara teknis film maupun secara non teknis. Secara teknis, film ini bagus sekali dan merupakan salah satu jendela yang mengubah pandanganku terhadap realitas kehidupan sosial kemasyarakatan Jepang (sebelumnya aku terlampau silau dengan pemaparan versi animanga dan dorama yang terlalu stereotype). Secara non-teknis? Film ini adalah film Jepang pertama yang kutonton ketika aku berada di Jepang. Kemudian, aku menonton film ini bukan di bioskop ataupun lewat DVD player biasa, melainkan dalam sebuah theater kecil perpustakaan daerah kota Fujinomiya. Betul, anda tak salah baca. Theater kecil dalam perpustakaan tersebut mampu menampung penonton sekitar 20 orang dan setiap minggunya mereka memiliki jadwal pemutaran film. Perpustakaan pusat Fujinomiya (ada dua perpustakaan daerah, yang satu lagi perpustakaan barat Fujinomiya) selain menyediakan koleksi buku, koran, majalah dan macam-macam bahan bacaan, juga memiliki koleksi piringan hitam/kaset/MD/CD musik dan DVD film. Pengunjung bisa mendengarkan musik atau menonton film langsung di dalam blok-blok ruang audio visual perpustakaan (jarang kosong sih) atau juga meminjamnya dengan menggunakan kartu anggota. Fasilitas lain adalah ruang nonton film yang telah kusebutkan diatas.

Kembali ke teknis film, aku menonton film ini sekitar 2005 sekitar 6 bulan setelah aku datang pertama kalinya ke Jepang. Kemampuan bahasa Jepangku sangat pas-pasan untuk mengikuti keseluruhan dialog dalam film sekalipun ada sensei bahasa Jepangku yang mendampingi kami (10 orang dari kelas bahasa Jepang). Walaupun demikian, aku masih bisa menangkap garis besar cerita dan mendapatkan gambaran tentang apa yang ingin disampaikan oleh film ini, terutama tentang kehidupan seorang salaryman. Kesan yang kudapat cukup mendalam dan ketika aku mendapatkan film beserta teks terjemahannya dilain hari, Shall We Dansu sudah pasti masuk kedalam jajaran film Jepang favorite-ku. Anehnya, meski meraih berbagai macam penghargaan dimana-mana, termasuk meraih 14 award dalam Japan Academy Prize, film ini tidak dikirim oleh Jepang ke ajang nominasi Oscar maupun Cannes (Princess Mononoke yang dikirim gagal masuk nominasi utama).

Film dibuka dengan rutinitas keseharian keluarga Sugiyama. Sang suami Shohei (Koji Yakusho) seorang salaryman yang berprofesi akuntan, istri Masako yang ibu rumah tangga serta anak perempuannya Chikage. Mereka tinggal di sebuah perumahan sub-urban yang pembayarannya telah dilunasi oleh Shohei. Coba anda membayangkan betapa susahnya punya rumah milik sendiri di Tokyo. Sampai ada istilah ayah yang memulai angsuran, anaknya yang melunasinya. Jadi boleh dibilang Shohei termasuk seorang salaryman yang cukup sukses. Semenjak lunasnya angsuran rumahnya, Shohei kehilangan motivasi akan tujuan hidupnya hingga perlahan-lahan jatuh ke jurang depresi. Acara minum-minum bareng rekan sekantor sehabis kerja (ini kebiasaan dan gaya hidup para salaryman) tidak bisa melunturkan tekanan yang dirasakan Shohei. Tetap menjalankan rutinitas harian, bangun subuh, berangkat kerja pagi-pagi, pulang setelah gelap. Terlihat jelas relasi Shohei dengan pekerjaannya jauh lebih harmonis dibandingkan hubungannya dengan istri-anaknya, ditambah dengan sikap pendiam dan serius membuat rutinitas hidup Shohei sangat monoton. Hingga suatu hari ketika pulang kerja dari dalam kereta listrik, Shohei melihat sesosok wajah wanita cantik yang sedang menerawang sendu lewat jendela sebuah gedung bernama Sekolah Dansa Kishikawa. Bukan hanya sekali, Shohei melihat wanita tersebut dalam keadaan yang sama setiap malam ketika pulang kerja. Bagaikan orang yang mengalami masa puber kedua, Shohei tertarik bagaikan magnet mengunjungi sekolah dansa tersebut. Singkat cerita, Shohei menjadi anggota regular belajar dansa (ballroom dance) dan berkenalan dengan sang wanita cantik pedansa profesional bernama Mai Kishikawa (Tamiyo Kusakari).

Begitu sajakah plot cerita film ini? Oh tidak sesederhana itu. Yang mengajarkan dansa bukanlah Mai melainkan Takahashi (Eriko Watanabe), seorang ibu-ibu setengah baya pedansa senior. Ditambah dengan sesama rekan belajar dansa yang agak ajaib, plus ternyata seorang rekan kerja di kantor Shohei bernama Aoki (Naoto Takenaka) adalah pengunjung regular sekolah dansa tersebut membuat Shohei semakin kikuk. Mengacu pada sikap orang Jepang terhadap dansa secara kultural sebagai suatu hal yang memalukan (Shohei saja sering mengendap-endap untuk masuk ke sekolah dansa bagaikan sedang berkunjung ke rumah bordil), Shohei dan Aoki memutuskan untuk saling menjaga rahasia masing-masing.

Akhirnya pada suatu kesempatan, Shohei mempunyai keberanian untuk mengajak Mai untuk makan malam bersama. Jawaban Mai ternyata cukup mengejutkan. Bukan hanya menolak undangan makan malam tetapi juga dengan sinis menunding Shohei secara telak kalau Shohei belajar dansa hanya demi kencan dengan Mai. Merasa malu kedoknya terbongkar, Shohei mulai menimbang untuk berhenti mengunjungi sekolah dansa tersebut. Akan tetapi ada magnet lain yang jauh lebih kuat menariknya untuk terus belajar dansa, lebih kuat dari ketertarikan Shohei terhadap Mai. Dilain pihak, istri dan anak Shohei mulai curiga dengan perilaku keseharian Shohei yang terlihat perlahan-lahan berubah lebih “ceria”. Malah istri Shohei menyewa detektif partikelir untuk mulai membuntuti suaminya.

Aku setuju dengan pendapat Roger Ebert mengenai Shall We Dansu. Naskah yang dibuat oleh sang sutradara Masayuki Suo sangatlah kuat untuk membetot para penonton mau tidak mau harus menyukai film ini. Ditambah dengan gaya penyutradaraan Suo yang kadang menyelipkan humor ke dalam rantai adegan drama turut sukses menyegarkan suasana serius di sepanjang film (aku jadi terkenang Departures, atau kedua film justru saling mengenangkan). Akting para pemainnya semuanya bagus kalau tidak dikatakan sempurna dan satu sama lain terlihat saling mengisi, mulai dari tokoh utama yang dimainkan Koji Yakusho hingga tokoh-tokoh keroco seperti rekan pemula berlatih dansa. Tamiyo Kusakari, seorang pedansa profesional yang untuk pertama kalinya berakting, tidak terlihat kikuk bermain film. Padahal film ini adalah film pertamanya (dan satu-satunya film hingga saat ini). Dan akting yang menjadi favoritku adalah Naoto Takenaka. Tokoh Aoki yang dibawakan oleh Takenaka sanggup membuat penonton untuk tertawa lucu dan simpati karena kasihan secara bersamaan.

Boleh dikatakan segala aspek dalam film sanggup mengangkat film ini untuk dinikmati sebagai tontonan serius kelas festival sekaligus sebuah film hiburan berbalut komedi. Film berdurasi 136 menit (119 menit untuk versi internasional) ini terlampau cepat lewat tanpa disadari dan membuat penonton terasa ikut melayang berdansa sambil bergumam one-two quick-quick, one-two quick-quick.

A heart-robing movie, definitely!

Trivia:
– Film ini diedarkan di Jepang tahun 1996 dengan judul Shall We Dansu (Dansu dengan huruf katakana) dan diedarkan secara internasional dengan judul Shall We Dance

– Cuma 3 film karya Masayuki Suo yang pernah kutonton dan kutulis reviewnya yaitu Sumo Do, Sumo Don’t, Shall We Dansu dan karya terakhirnya hingga saat ini I Just didn’t Do It, tapi ketiganya sanggup membuatku menempatkan Masayuki Suo sebagai salah satu sutradara yang filmnya wajib tonton. Sayangnya, Suo bukanlah sutradara produktif. Beliau bahkan sangat pelit membuat film. Bayangkan saja, sepanjang karirnya Suo hanya membuat 4 film layar lebar. Sisanya adalah film dokumenter, dan video clip (plus sebuah film semiporno diawal karirnya).

– Fancy Dance adalah film layar lebar karya Suo yang belum kutonton, dan mungkin nanti akan diulas setelah nonton. Dibintangi oleh (lagi-lagi) duet Masahiro Motoki-Naoto Takenaka plus Honami Suzuki (pemeran Rika Akana dalam Tokyo Love Story)

– Pebalet Tamiyo Kusakari berkencan dengan sang sutradara Masayuki Suo diawal produksi Shall We Dansu dan akhirnya mereka berdua menikah.

– Masahiro Motoki (pemeran utama Departures) menjadi cameo di pertengahan film sebagai rekan pedansa Mai.

– Hollywood membuat versi re-make film ini dengan judul sama pada tahun 2004 yaitu Shall We Dance, dibintangi oleh Richard Gere dan Jeniffer Lopez.

Rating: 4.5/5

6 Responses to “Shall We Dansu? – Dansa sang salaryman”


  1. 1 Asop August 1, 2010 at 2:03 am

    Mirip ya ama pilem “Shall we Dance”?😀

  2. 3 emina August 5, 2010 at 11:14 pm

    Sampe skrg sy nyari film hyde dan chiaki yang the last quarter ga pernah nemu hiks…

    • 4 安藤君 August 6, 2010 at 12:14 pm

      @emina
      dan sampai sekarang saya juga bingung sama orang suka browsing internet yg nyari dvd film jepang tp gak nemu2. padahal tinggal googling di internet nyari penjual online, pesan, bayar dan barang dikirim.

      apa bagusnya sih kage no tsuki? aku nonton jg cm gara2 ada chiaki doang. lagian ini posting film berjudul shall we dansu, bukan ttg the last quarter, apalagi ttg hyde. Kalau ttg Chiaki sih masih dimaafkan

  3. 5 emina August 9, 2010 at 12:47 pm

    pertama,
    karena sy ga terlalu suka transaksi lewat dunia maya,apalagi dgn orang yang baru dikenal.lbh baik cari langsung aja gitu.
    kedua.
    mohon maaf bang yus m(_ _)m. OOT ya, habisnya kangeun dengan blog ini dan langsung ingin menanyakan tentang last quarter pada yus sensei, hehe. eh emang ga bagus ya filem itu ?

    maaf ya sensei u_u karena telah OOT u_u

    • 6 安藤君 August 9, 2010 at 3:05 pm

      @mina
      hmmm kalau begitu silahkan mencari orang yg dikenal untuk bertransaksi. transaksi dunia maya jg gak sembarangan koq, krn kita jg harus hati2 liat kredibilitas yg jual.
      lagian saya jg dikenal emina lwt dunia maya koq😈
      the last quarter sih mending lah walau gak bagus2 amat, namanya juga film nge-pop. Kalah jauh sama Shall We Dansu atau Departures dalam kualitas film maupun cerita.
      Mungkin beda selera kali yah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: