Yamazakura

Sejak pertama kali menonton film adaptasi dari cerita pendek karya Fujisawa Shuhei yang berjudul Twilight Samurai, boleh dibilang aku jadi ketagihan film-film adaptasi dari karya tulis beliau. Berturut-turut trilogi Samurai buatan sutradara Yoji Yamada yang dibuat berdasarkan cerpen Fujisawa telah kutonton: Twilight Samurai, Kakushiken: The Hidden Blade dan terakhir Love and Honor. Fujisawa tidak menitik beratkan plot ceritanya pada aksi keahlian bertarung para samurai yang menjadi tokoh utama, melainkan menampilkan kehidupan sehari-hari para samurai kelas rendahan. Misalnya saja sosok Seibei sang samurai kelas rendah dalam Twilight Samurai yang ditugaskan klan bentengnya sebagai juru tulis digudang beras, lebih banyak mengangkat kuas (pena) dari pada mengangkat pedangnya. Dalam Yamazakura, tokoh utama yang menjadi fokus cerita bukanlah samurai yang bergaman pedang melainkan seorang perempuan yang bernama Noe.

Noe (Tanaka Rena) seorang janda yang suami pertamanya telah meninggal dunia, menikah untuk kedua kalinya dengan putra dari keluarga Isomura. Walaupun hidupnya tidak bahagia, Noe memilih tetap bertahan untuk tinggal di rumah keluarga suaminya terlepas dari banyak hal yang kurang berkenan dihatinya. Bisa dilihat penderitaan bathinnya dalam menghadapi sikap ibu mertuanya yang sinis, bisnis rentenir ayah mertuanya, hingga sikap suaminya yang kasar. Sewaktu pergi mengunjungi keluarganya, Noe bertemu kembali dengan Tezuka (Higashiyama Noriyuki), samurai muda yang pernah melamarnya setelah kematian suami pertama Noe, namun ditolak oleh Noe dengan halus sebelum menerima lamaran dari keluarga Isomura. Hubungan Noe-Tezuka yang aneh (disepanjang film, mereka berdua hanya sekali bertemu secara fisik) diwarnai dengan konflik di dalam benteng antara samurai kelas atas dengan para petani penggarap yang dibela oleh samurai kelas rendahan termasuk Tezuka.

Sekali lagi cerita pendek karya Fujisawa yang berjudul Yamazakura diangkat ke layar lebar oleh sutradara Tetsuo Shinohara pada tahun 2008. Kali ini penekanan cerita bukan lagi pada pandangan tokoh utama seorang lelaki samurai melainkan berdasarkan pandangan sosok perempuan yang berada ditengah para samurai. Yamazakura menampilkan hidup perempuan pada jaman Edo yang telah menikah dan menjadi “milik” keluarga suaminya. Tokoh Noe memandang betapa kebanyakan para samurai tak lebih dari orang-orang kasar yang mengandalkan pada status kesamuraiannya dan hak membawa pedang. Intrik politik antara golongan borjuis (samurai bangsawan) dengan golongan proletariat (samurai rendahan dan para petani penggarap) menjadi latar dalam adaptasi ini.

Menilik dari plot cerita, intrik politik antar golongan serta cara pandang karakter yang dibuat oleh Fujisawa, seharusnya film ini bisa dibuat lebih menarik. Sayangnya eksekusi yang dilakukan oleh Shinohara membuat Yamazakura mengalir lambat. Tidak seperti Twilight Samurai yang begitu enak dinikmati alur ceritanya, Yamazakura cenderung membosankan terutama dipermulaan film. Memang menjelang pertengahan film intrik antar golongan mulai membuat alur cerita semakin menarik, tensi cerita kembali menurun pada 3/4 akhir film. Walaupun demikian, aku menyukai adegan akhir dimana Noe bertemu dengan ibunda Tezuka. Adegan mereka berdua memang berdurasi pendek, tetapi justru paling membuatku terkesan. Akting Tanaka Rena sebagai Noe cukup baik dan terlihat pas. Kelihatannya Tanaka memang cocok berperan sebagai wanita muda dalam film bergenre era samurai.

Memang sih, Yamazakura tak bisa menandingi kualitas Twilight Samurai, bahkan Love and Honor sekalipun. Akan tetapi film ini lumayan menghibur para penggemar drama jidaigeki (genre samurai). Proyek adaptasi cerita karya Fujisawa selanjutnya adalah Hana no Ato dengan bintang Kitagawa Keiko sebagai wanita anak samurai yang diajari ilmu pedang oleh ayahnya. Menyusul kemudian Hisshiken Torisashi yang termasuk dalam seri Kakushiken (The Hidden Blade dan juga Love and Honor termasuk seri Kakushiken).

Trailer Hana no ato
Trailer Hisshiken Torisashi

Rating: 3/5

NB.
Lagu Shiori yang menjadi ending film yang dibawakan Hitoto Yo enak didengar. Lagu bergenre pop yang dinyanyikan dengan alunan vokal bergaya enka terasa unik dikuping.

1 Response to “Yamazakura”


  1. 1 noitakarai July 25, 2010 at 7:54 am

    makasih atas rekomendasinya , saia selalu suka dengan film tentang samurai ….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: