L’Immortel – Manusia 22 peluru

Horeeee….. Jean Reno akhirnya sering main film Perancis lagi. Bukannya saya tidak suka dengan film-film Reno buatan Hollywood, tapi aku merasakan totalitas akting Reno biasanya lebih kuat jika ditangani oleh orang Perancis. Malah salah satu film terbaik buatan Hollywood (sebenarnya sih semi-Hollywood) Reno yaitu Leon aka The Professional, diarahkan oleh Luc Besson yang notabene orang Perancis. Anda juga tentu tak lupa dengan salah satu film Mystery-Thriller terbaik Crimson Rivers, juga merupakan film Perancis. Walaupun demikian, tidak semua film Perancis yang melibatkan Jean Reno bisa memuaskan diriku. Misalnya saja film yang kutonton sebelum L’Immortel yang berjudul Le Premier Cercle . Peran Reno dalam Le Premier Cercle agak mirip dengan L’Immortel yang kubahas dalam postingan ini yaitu Reno berperan sebagai boss gangster. Hanya saja Le Premier Cercle jatuhnya biasa-biasa saja kalau dibandingkan dengan drama gangster Russia-nya Viggo Mortensen dalam Eastern Promises.

[spoiler]

Film dibuka dengan adegan lelaki paruh baya Charles Mattei (Reno) pulang dari rumah ibunya bersama anak lelakinya. Setelah menurunkan anaknya yang ingin menonton aksi akrobat, Mattei memarkir mobilnya sambil menikmati musik klasik. Tiba-tiba saja sebuah mobil datang dan menurunkan 7 orang dengan senjata api ditangan yang memberondong tubuh Mattei hingga 22 peluru bersarang dibadannya. Setelah itu barulah dijelaskan bahwasanya si tua Mattei adalah gangster yang baru saja pensiun dari adegan kedatangan “rekan-rekan seprofesi” yang menyambanginya di rumah sakit. Oh ya, walaupun diterjang 22 peluru, ternyata Mattei masih bisa selamat setelah menjalani operasi intensif yang berhasil dengan sukses. Apakah sampai disitu sajakah cerita L’Immortel? Karena tugas menghabisi Mattei belum selesai, film dilanjutkan dengan usaha tokoh antagonis untuk menghancurkan Mattei, jika perlu menghabisi seluruh keluarganya.

Adegan diawal film sangat dramatis, penuh kejutan, terlihat anggun dan indah walaupun brutal. Sayangnya cuma itu saja yang mampu menarik perhatianku karena adegan sisanya hanya berjalan lambat dan agak membosankan. Masih ada sih adegan yang agak membuatku tercekam ketika Mattei terjebak kawat berduri sewaktu berusaha menyelamatkan anak lelakinya dari tangan para penculik. Tapi secara keseluruhan, film ini lewat begitu-begitu saja kurang mengesankan. Apalagi ditambah dengan karakter-karakter stereotip hitam-putih disepanjang film. Mattei dan kawan-kawan sang jagoan versus para gangster jahat sang antagonis. Sampai-sampai film ini melupakan satu hal: Mattei adalah sosok berdarah dingin yang dengan gampang menghabisi musuhnya tak ubahnya dengan para antagonis, bukan karakter putih bersih. Mirip dengan filosofi heroic blood-sheet film-film triad Hongkong era 80-an hingga 90-an, hanya saja kurang kucuran darah (setelah dihabiskan oleh adegan pembuka yang keren).

Permainan Reno sendiri cenderung datar, termasuk ketika berhadapan dengan kondisi keluarganya yang terancam bahaya. Sepertinya Jean Reno kurang sukses jika berhadapan dengan peran boss gangster seperti halnya Le Premier Cercle. Mungkin ada baiknya jika Reno mencoba bekerja sama dengan sutradara John Woo untuk membuat film dengan resep gangster-gangsteran.

Rating: 2.75/5

7 Responses to “L’Immortel – Manusia 22 peluru”


  1. 1 Asop July 11, 2010 at 8:20 am

    Pasti pake bahasa Prancis….😀

    *pertanyaan bodoh*

    Walo bagaimanapun, Jean Reno tetep salah satu aktor terbaik.🙂

  2. 2 movienthusiast July 12, 2010 at 4:57 pm

    wahhh
    harus gw tonton nihh gw penggemar jean reno

  3. 4 Zeph July 14, 2010 at 4:38 pm

    Kangen akting Jean Reno…

    * Sudah lama ga nonton film perancis*

  4. 6 Asop September 15, 2010 at 2:27 am

    Terakhir kali saya nonton akting Jean Reno di pilem “Armored”.😆 Di situ dia cuman jadi pemeran gak penting.😆

    • 7 AnDo September 15, 2010 at 11:17 am

      @Asop
      Udah lama nonton Armored, jadinya udah lupa si Reno berperan jadi apa. Kalau gak salah jadi sekuriti yang berbalik jadi perampok bukan? Kayaknya semua tokoh perampoknya penting deh. Walau bukan peran utama, kalau kurang satu perampoknya malah mengurangi tensi cerita.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: