Archive for July, 2010

Shall We Dansu? – Dansa sang salaryman

Quote: Mou ichi do, Jinsei ni koi site miyou
(Marilah sekali lagi mencintai kehidupan)

Film ini adalah salah satu film Jepang karya non-Akira Kurosawa yang mampu membuatku sangat terkesan. Ada beberapa alasan yang membuatku menobatkan film ini masuk ke dalam jajaran film Jepang favorite versi ku, baik secara teknis film maupun secara non teknis. Secara teknis, film ini bagus sekali dan merupakan salah satu jendela yang mengubah pandanganku terhadap realitas kehidupan sosial kemasyarakatan Jepang (sebelumnya aku terlampau silau dengan pemaparan versi animanga dan dorama yang terlalu stereotype). Secara non-teknis? Film ini adalah film Jepang pertama yang kutonton ketika aku berada di Jepang. Kemudian, aku menonton film ini bukan di bioskop ataupun lewat DVD player biasa, melainkan dalam sebuah theater kecil perpustakaan daerah kota Fujinomiya. Betul, anda tak salah baca. Theater kecil dalam perpustakaan tersebut mampu menampung penonton sekitar 20 orang dan setiap minggunya mereka memiliki jadwal pemutaran film. Perpustakaan pusat Fujinomiya (ada dua perpustakaan daerah, yang satu lagi perpustakaan barat Fujinomiya) selain menyediakan koleksi buku, koran, majalah dan macam-macam bahan bacaan, juga memiliki koleksi piringan hitam/kaset/MD/CD musik dan DVD film. Pengunjung bisa mendengarkan musik atau menonton film langsung di dalam blok-blok ruang audio visual perpustakaan (jarang kosong sih) atau juga meminjamnya dengan menggunakan kartu anggota. Fasilitas lain adalah ruang nonton film yang telah kusebutkan diatas.
Continue reading ‘Shall We Dansu? – Dansa sang salaryman’

Yamazakura

Sejak pertama kali menonton film adaptasi dari cerita pendek karya Fujisawa Shuhei yang berjudul Twilight Samurai, boleh dibilang aku jadi ketagihan film-film adaptasi dari karya tulis beliau. Berturut-turut trilogi Samurai buatan sutradara Yoji Yamada yang dibuat berdasarkan cerpen Fujisawa telah kutonton: Twilight Samurai, Kakushiken: The Hidden Blade dan terakhir Love and Honor. Fujisawa tidak menitik beratkan plot ceritanya pada aksi keahlian bertarung para samurai yang menjadi tokoh utama, melainkan menampilkan kehidupan sehari-hari para samurai kelas rendahan. Misalnya saja sosok Seibei sang samurai kelas rendah dalam Twilight Samurai yang ditugaskan klan bentengnya sebagai juru tulis digudang beras, lebih banyak mengangkat kuas (pena) dari pada mengangkat pedangnya. Dalam Yamazakura, tokoh utama yang menjadi fokus cerita bukanlah samurai yang bergaman pedang melainkan seorang perempuan yang bernama Noe.
Continue reading ‘Yamazakura’

L’Immortel – Manusia 22 peluru

Horeeee….. Jean Reno akhirnya sering main film Perancis lagi. Bukannya saya tidak suka dengan film-film Reno buatan Hollywood, tapi aku merasakan totalitas akting Reno biasanya lebih kuat jika ditangani oleh orang Perancis. Malah salah satu film terbaik buatan Hollywood (sebenarnya sih semi-Hollywood) Reno yaitu Leon aka The Professional, diarahkan oleh Luc Besson yang notabene orang Perancis. Anda juga tentu tak lupa dengan salah satu film Mystery-Thriller terbaik Crimson Rivers, juga merupakan film Perancis. Walaupun demikian, tidak semua film Perancis yang melibatkan Jean Reno bisa memuaskan diriku. Misalnya saja film yang kutonton sebelum L’Immortel yang berjudul Le Premier Cercle . Peran Reno dalam Le Premier Cercle agak mirip dengan L’Immortel yang kubahas dalam postingan ini yaitu Reno berperan sebagai boss gangster. Hanya saja Le Premier Cercle jatuhnya biasa-biasa saja kalau dibandingkan dengan drama gangster Russia-nya Viggo Mortensen dalam Eastern Promises.
Continue reading ‘L’Immortel – Manusia 22 peluru’

Latah perfilman Indonesia

Ingat! Latah bukanlah penyakit keturunan!
Lha? Emangnya postingan ini mau bicara soal penyakit apa? OK, kita bicara agak seriusan dikit dengan gaya tulisan tidak serius. Sekedar pemberitahuan awal, tulisan ini cuma sekedar pelepas keisengan.

Akhir-akhir ini, dunia perfilman Hollywood terserang penyakit latah bikin film remake, baik film-film jadul maupun film-film baru dengan dialog berbahasa non-Inggris selain latah memproduksi film-film sequel. Saya sih sebenarnya oke-oke aja dengan gaya marketing baru geng Hollywood beginian, toh kebanyakan dari produk mereka cukup menghibur koq (walau jarang sekali berkesan seperti versi originalnya).
Continue reading ‘Latah perfilman Indonesia’

Kaze ni Notte (Mengendara Angin)

Sebenarnya lagu yang dibawakan oleh grup Rock asal Jepang Janne Da Arc ini sudah kumuat dalam postingan di yasuitori, hanya saja aku tergerak untuk membuat translasi lirik lagu yang memang agak puitis. Harap maklum kalau kalimat terjemahan bebas yang kubuat sendiri kurang puitis dalam mengungkapkan lirik dalam bahasa Jepangnya. Kaze ni Notte sendiri dimuat dalam full album bertitel Joker yang dirilis tahun 2005.

Lirik lagu ini ditulis oleh yasu, vokalis Janne Da Arc, ketika yasu sedang menonton acara dokumenter di televisi yang berisi tentang korban bencana Tsunami di Pulau Sumatera bulan Desember 2004. Lagu ini mengisahkan perasaan kasih orang tua terhadap anaknya yang menjadi korban keganasan Tsunami.

Memang waktu terus berjalan, tapi apakan kita dengan mudah begitu saja melupakan tragedi ini? Continue reading ‘Kaze ni Notte (Mengendara Angin)’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: