True Legend

Nama si pengemis bermarga Su atau Beggar Soo sebagai pendekar mabuk nomor wahid telah dikenal di berbagai kisah dalam literatur cerita silat. Keberadaannya Su Can aka Su Qi-Erl sebagai tokoh silat handal yang hidup pada jaman pemerintahan dinasti Qing memang diakui oleh banyak orang, tetapi riwayat hidupnya sebagai seorang pengemis dan jago pukulan mabuk masih simpang siur bagaikan legenda. Masih ingat film Drunken Master-nya Jackie Chan akhir tahun 1970-an? Si pengemis Su didapuk menjadi gurunya Wong Fei-hung (Jackie Chan). Yang pernah nonton tentu ingat dengan pengemis tua berhidung merah yang mengajarkan jurus 8 dewa mabuk kepada Wong Fei-hung muda. Lalu ada lagi kisah si pengemis Su versi Stephen Chow. Dalam film King of Beggar, Su Can bernama asli Su Chaharcan, seorang bangsawan Mancu yang hidupnya berakhir menjadi si raja pengemis. Hanya saja Su dalam versi Chow, jurus andalannya bukanlah jurus mabuk melainkan 18 telapak penakluk naga andalan para raja pengemis. Kali ini penata silat terkenal sekaligus sutradara Yuen Woo-ping mengangkat cerita legenda si pengemis Su Can berdasarkan cerita yang ditulis Christine To.

Jenderal Su Can (Zhao) meninggalkan karir militernya yang cemerlang demi berkumpul bersama istrinya Ying (Zhou Xun) serta mimpinya mendirikan perguruan silat sendiri. Posisinya digantikan oleh adik iparnya Yuan (Andy On) yang akhirnya diangkat sebagai gubernur. Ternyata riwayat keluarga Su tidaklah seharmonis yang diduga. Mertua Su Can tewas dibunuh oleh ayah Su sehingga membuat Yuan mendendam walaupun adiknya Ying sudah tak mempermasalahkannya lagi, malah Ying telah menikah dengan Su Can dan dikaruniai seorang anak. Tepat pada hari Su Can meresmikan perguruan silatnya, Yuan pulang kampung untuk membalaskan kematian ayahnya kepada ayah Su.

Kalau anda seorang penggemar film silat bak bik buk, film ini memang untuk anda. Adegan laga yang ditampilkan oleh Yuen Woo-ping benar-benar memuaskan dahaga para pecinta film silat yang agak jarang diproduksi akhir-akhir ini. Berbagai macam adegan perkelahian mampu ditata dengan apik, termasuk beberapa pertarungan yang unik seperti adegan tarung dalam sumur yang sempit ataupun ide menjahit armour pelindung pada tubuh (walaupun tenyata hal ini justru menjadi senjata makan tuan). Hal ini ditambah dengan penampilan barisan aktor yang memang menguasai seni bela diri seperti Vincent Zhao (Zhao Wen-zhuo), Andy On, dan Cung Le. CGI yang ditampilkan juga tak terlalu berlebihan seperti kasus film Storm Warrior sehingga tak mengganggu tata laga yang kebanyakan ditampilkan dengan efek film silat tradisional. Mungkin baru dalam film ini, bayanganku tentang ilmu cakar beracun benar-benar sesuai dengan imajinasiku. Sinematografinya sendiri cukup memikat dan enak untuk dilihat, terutama dalam adegan outdoor.

Bagaimana dengan plot cerita? Lebih baik tak usah terlampau dihiraukan. Plot cerita standar tentang balas dendam sudah terlampau sering ditampilkan sehingga alur cerita bisa sangat mudah ditebak, begitu juga plot drama yang cenderung membosankan. Yang paling menyebalkan justru peralihan plot pada seperempat akhir cerita, dari cerita tentang balas dendam berubah menjadi kisah bela tanah air. Kalau dalam film Fearless-nya Jet Li, kisah tragedi keluarga Huo Yuen-jia bisa dengan mulus dialirkan menjadi kisah bela negara. Film ini justru mengubah alur cerita dengan tiba-tiba tanpa memberikan persiapan awal yang layak (kalau tidak mau dibilang mencontek ide adegan pamungkas film Fearless). Satu-satunya keunikan yang kusukai dan mungkin baru pertama kali kutonton dalam film silat, film ini menampilkan jago silat yang menderita schizophrenia.

Beberapa aktor yang ditampilkan dalam film ini pernah bekerja sama dengan Yuen Woo-ping, baik sebagai sutradara maupun sebagai penata laga. Sebut saja mantan juara nasional Wushu Zhao Wen-zhuo (King of Kungfu), Zhou Xun (The Banquet) serta penampilan cameo Michele Yeoh (Crouching Tiger Hidden Dragon) dan Gordon Liu (Kill Bill 2). Turut meramaikan film ini sebagai bintang tamu penyanyi Jay Chou dan penampilan terakhir mendiang David Carradine.

Rating: 2.75/5

4 Responses to “True Legend”


  1. 1 Asop May 10, 2010 at 8:20 am

    Hooooo David Carradine main ya?😮

  2. 3 syelviapoe3 June 8, 2010 at 11:20 am

    ini produksi lama ato baru, mas yus ?

    udah lama gak nonton film kungfu…

    Saiah selalu suka Stephen Cow…he..he..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: