Resensi pendek dan singkat [4]

20th Century Boys 3 (2009)

Lagi-lagi bagian ketiga dari trilogi 20th Century Boys mengecewakanku. Ketidak puasan muncul mulai dari akting kaku, dialog cheesy, special effect tanggung, pokoknya setelah menonton sampai habis yang ada hanya rasa sebal. Pertanyaan yang tersisa setelah nonton film ini hanya satu, kemana perginya budget produksi sebesar 6 milyar yen? Tadinya kukira akan habis untuk memeriahkan efek “dunia kiamat”, tak tahunya kemunculan robot dan piring UFO tak jauh beda dibandingkan efek film Kamen Rider di televisi. Hadirnya kembali tokoh Kenji tak menolong bagian terakhir dari trilogi ini menjadi lebih baik. Belum lagi cara pembawaan cerita yang kurang mulus dari sutradaranya menyebabkan orang yang tidak pernah membaca manganya akan bingung dengan siapa sebenarnya sosok tomodachi asli. Ditambah dengan panjangnya durasi film yang mencapai 2.5 jam membuatku nonton sambil melirik jam melulu. Akhir kata, aku cukup khawatir dengan kualitas film Beck, proyek film sang sutradara Yukihiko Tsutsumi yang berikutnya. Semoga saja Beck The Movie tidak mengecewakan para penggemar Beck versi manga dan anime.

Rating: 2.25/5

Kamui Gaiden (2009)

Sehabis menonton film Goemon yang mengetengahkan kisah heroik seorang Ninja berbalut efek CGI, aku sebenarnya jadi agak malas nonton film Kamui Gaiden, walaupun film ini sebelumnya sudah masuk incaran bakalan kutonton. Soalnya aku curiga kalau film ini tak kan jauh beda dengan Goemon yang belepotan dengan CGI berlebihan dan membuatku muak. Faktor Kenichi Matsuyama lah yang membuatku memaksakan diri nonton film ini. Ternyata hasilnya tidak mengecewakan, paling tidak tak banyak efek CGI yang digunakan dalam adegan pertarungan antara para Ninja dalam film ini. Sekali lagi, kemampuan akting Matsuyama semakin hari semakin matang saja. Sosok Kamui sang Ninja penyediri dan selalu curiga pada orang disekitarnya benar-benar meyakinkan. Yang paling terlihat adalah ekspresi dan sorot mata Matsuyama yang kadang terpancar bagaikan hewan liar yang diburu, kadang bagaikan kelinci polos yang gampang masuk perangkap. Sayangnya kemampuan Matsuyama kali ini tidak dibarengi akting yang mumpuni dari pemain lainnya, termasuk aktor Hongkong Ekin Cheng sebagai pemeran pembantu. Begitu juga dengan jalan cerita yang terlihat sangat mudah dibaca dan streotip kisah Ninja pelarian.

Soal adegan action, film ini menampilkan gaya pertarungan yang seru dan terkesan lebih realistis dibanding Goemon, thank to fighting choreographer Kenji Tanigaki. Memang Tanigaki saat ini bisa dibilang penata laga paling panas didunia perfilman Jepang, terutama kemampuannya memadukan bela diri Jepang dengan wuxia China hasil Tanigaki menimba ilmu di Hongkong dengan mentornya penata laga ternama Donnie Yen. Kejar-kejaran antara Kamui dengan Ninja yang memburunya ditampilkan dengan napas terburu-buru sehingga menimbulkan efek manusiawi. Begitu juga ilmu Ninja yang ditampilkan tidak terlalu berlebihan.

Kamui Gaiden merupakan adaptasi langsung dari cerita Manga Kamui Den karya Sanpei Shirato yang pernah juga diadaptasi menjadi serial anime Ninpu Kamui Gaiden. Tokoh utama cerita adalah Kamui, seorang Ninja yang lari dari klannya dan dikejar-kejar oleh para anggota klannya yang notabene mantan rekannya karena dianggap sebagai pengkhianat. Akibat pelarian ini, Kamui mulai menumbuhkan sifat paranoid dan berprasangka buruk pada orang-orang disekitarnya. Dalam film ini Kamui terdampar di sebuah kampung nelayan yang terlihat mampu menumbuhkan kepercayaannya pada manusia lain.

Rating: 3/5

Divergence (2005)

Walaupun telah dirilis 5 tahun yang lalu, film action thriller ini baru bisa ditonton sekarang. Garapan Benny Chan yang dikenal juga menggarap dua film Jackie Chan sebelum dan setelah film ini (New Police Story dan Rob B Hood) tenyata lumayan enak ditonton dengan pace cepat, sinematografi dan editing yang mendukung suasana silih berganti antara tegang dan melodramatis di sepanjang film. Akting Aaron Kwok memang memukau dan pantas dianugrahi gelar aktor terbaik Golden Horse Award. Emosi dan kepedihan tokoh inspektur polisi Suen mampu dibawakan oleh Kwok dengan baik hingga mampu membuatku tercenung. Terutama ekspresi sewaktu adegan Kwok membiarkan mobilnya mundur ditanjakan tanpa rem yang serasa mengiris hati. Tak kusangka, ternyata Kwok yang lebih kukenal sebagai penyanyi ini mampu membawakan peran yang jauh lebih bagus dari pada perannya dalam The Detective.

Film ini mengemukakan cerita tentang hubungan segitiga antara polisi depresi yang kehilangan kekasihnya tanpa kabar 10 tahun yang lampau (Aaron Kwok), pengacara yang terjepit antara hati nurani dan tugas membela klien gangster (Ekin Cheng), serta pembunuh bayaran yang ternyata kenal dengan kekasih sang polisi yang raib (Daniel Wu). Walaupun ada twist ending di akhir kisah, bagi yang sudah biasa menonton film genre misteri, twist ending seperti ini sepertinya dengan gampang bisa ditebak oleh penonton.

3.75/5

Connected (2008)

Lagi-lagi sebuah film karya Benny Chan, sepertinya aku lumayan suka dengan gaya penyutradaraannya dalam membawakan film aksi. Film ini merupakan remake versi Hongkong dari film Amerika yang berjudul Cellular. Hal yang agak aneh mengingat biasanya industri perfilman Hollywood lah yang sering me-remake film-film luar Amerika. Terus terang saja, walaupun aku juga menyukai versi Amerikanya, tapi bagiku film ini justru mampu membangkitkan ketegangan tersendiri sehingga menurutku versi Hongkong ini justru lebih baik dibandingkan versi originalnya. Karakter Bob (Louis Koo) dibuat lebih kompleks dibandingkan Ryan (Chris Evans) yang hanya seorang pemuda asoy geboy doyan pacaran. Latar belakang tokoh Bob, duda satu anak yang berprofesi tukang tagih uang justru bisa menambah tegang suasana dengan problematika moral yang dihadapinya. Akting Barbie Hsu (Meteor Garden) yang berperan sebagai korban penculikan juga terlihat matang, jauh dibandingkan dengan perannya sebagai Shan Cai dalam Meteor Garden. Kekuatan film ini seperti juga film-film aksi garapan Benny Chan lainnya adalah editingnya yang mantap. Jika dibandingkan dengan versi aslinya, adegan eksyen rasa Hongkong sangat kental sehingga aku hampir menganggap kalau film ini bisa berdiri sendiri terlepas dari versi Amerikanya.

3.25/5

Harry Brown (2009)

Film yang membawakan cerita mengenai vigilante sudah banyak yang ditampilkan dari sosok superhero (Batman, Watchmen, dkk), wanita korban kekerasan (The Brave One), sosok ayah (Taken), hingga sosok kepala keluarga (The Death Sentence). Kali ini yang menjadi tokoh utama sang vigilante adalah seorang kakek tua penderita Emphysema (sejenis penyakit paru-paru). Film produksi Inggris Raya ini mungkin jatuhnya bakalan biasa-biasa saja kalau aktor senior Michael Caine tidak dipasang sebagai pemeran utamanya. Yang menarik dalam film ini adalah bagaimana taktik sang vigilante tua mengatasi rapuhnya kondisi tubuhnya akibat usia dalam memerangi kejahatan dan seperti biasanya, Caine mampu membawakan peran ini dengan baik. Film ini sedikit mengingatkanku pada karya Clint Eastwood Gran Torino walaupun dengan pendekatan berbeda. Yang pasti agak berbeda dengan film-film vigilante bergaya Hollywood.

Harry Brown (Caine) seorang kakek-kakek pensiunan Royal Marine baru saja menjadi duda setelah istrinya meninggal. Harry terlambat datang ke rumah sakit menemui istrinya untuk terakhir kalinya karena dia harus mengambil jalan memutar akibat dirinya tak berani menyeberang lewat lorong penyeberangan yang sering dijadikan tempat berkumpul geng pimpinan Noel (Ben Drew). Selanjutnya hidup Harry disibukkan dengan bermain catur bersama satu-satunya teman karibnya Leonard (David Bradley) hingga akhirnya Harry benar-benar jatuh dalam kesunyian setelah Leonard tewas dibantai oleh kelompok Noel. Awalnya Harry hanya diam saja dan menyerahkan segala urusan pada polisi sampai pada suatu ketika, si tua Harry ditodong oleh salah seorang anggota geng Noel dan Harry mampu membunuh sang penodong. Merasa masih memiliki kemampuan masa lalunya sebagai seorang Royal Marine, Harry mulai berkeinginan menyantroni geng Noel. Hanya saja kondisi tubuh renta dan penyakit emphysema yang dideritanya ternyata menjadi kendala.

3.25/5

20 Responses to “Resensi pendek dan singkat [4]”


  1. 1 Putri March 25, 2010 at 11:05 pm

    Wohoooo..
    genre-genre action….:mrgreen:

    Sepertinya film Kamui Gaiden menarik…dan sorot mata si pelakon utama (*secara terlihat dari poster yang dipampang di atas😀 ) emang tajam banget…jadi berasa ‘in’ dengan resume yang diberikan mas Yusahrijal..😀

    wah..putri baru tahu kalo Aaron Kwok itu penyanyi… Lebih kerenan suaranya ato aktingnya, ya, mas ?

  2. 2 安藤君 March 26, 2010 at 3:15 pm

    @Putri
    Kamui Gaiden lumayan lah buat film action. Yang menarik cm permainan Matsuyama aja sih, sisanya ya begitulah.

    Aaron Kwok tuh salah satu dari 4 raja langit (julukan 4 penyanyi pop Hongkong paling populer tahun 90-an). Aku sendiri kurang suka dengar lagu2 C-Pop, jadinya kurang tau.

  3. 3 jensen99 March 28, 2010 at 4:24 pm

    Saya komen per film ya?
    1] Sebenarnya wajar kalo filmnya sepanjang 2,5 jam. Wong ceritanya juga panjang kok. Hanya saja emang sayang kalo sudah sepanjang itu lalu masih gak mampu menampilkan suspense di manga-nya secara utuh. Apalagi dari film pertama masbro terus2an mengeluh soal FX-nya.🙂
    2] Efek CGI berlebihan di film Goemon itu gimana?
    3] Seharusnya gak sulit membuat film dengan tema “panggilan tak dikenal” yang melibatkan hal hidup-mati. Kesulitannya cuma menentukan seberapa besar ‘faktor kebetulan’ bisa dimasukkan di cerita. DI versi AS, sepertinya terlalu banyak kebetulan.😕
    4] Saya baca ringkasannya di wikipedia, asyik juga. Tipikal B-movie minus adegan seks tokoh utama.😆

  4. 4 安藤君 March 28, 2010 at 4:48 pm

    @jensen
    1] Situ nonton sendirilah. kalau manganya yang beribu halaman sanggup bikin pembacanya lupa makan saking penasaran, filmnya justru bikin penonton pengen cepet diselesaikan😦
    Oh, keluhan FX berbanding lurus dgn budget produksi film😀
    2] Khabarnya situ suka film Casshern, mungkin cocok buat situ. Masalahnya kemampuan Ninja dibikin sehebat Casshern, kesannya gimana yah??? Tak cocok buat selera saya:mrgreen:
    3] Aku lebih memilih sisi pandangan: seberapa perduli orang yang “kebetulan” memiliki kesempatan menyelamatkan satu nyawa tak dikenalnya. Mau susah payah menyelamatkan atau cuek aja, toh gue gak kenal (plus gue jg punya masalah pribadi yg bikin pusing)
    4] Habis nonton film ini aku justru berpikir: Apa yg dipikirkan/dilakukan orang2 lanjut usia di Indonesia jika melihat generasi mudanya jadi pecundang?

    NB: Oh kelewat satu film: Divergen, yg justru dpt nilai plg gede😛

    • 5 riki sulung nugraha May 10, 2010 at 4:26 pm

      1] mas jensen kira2 dah ntn pelmnya blum yah?dijamin bengong2 dah ama ceritanya,klo gk baca manganya mah…entah apa komentar naoki urasawa sensei soal pelm ini…jadi inget kasus FF spirit within,cm lebih edan aja budgetnya!!!

  5. 6 lambrtz March 28, 2010 at 8:15 pm

    kalau manganya yang beribu halaman sanggup bikin pembacanya lupa makan saking penasaran

    This. Saya baca itu habis, dari Minggu sore dulu entah kapan sampai Senin siangnya.:mrgreen:

  6. 7 Disc-Co March 29, 2010 at 5:50 am

    Saya cuman nonton 20th Century Boys yang pertama.😦

    Tapi apa emang benar segitu mengecewakannya?😕

  7. 9 jensen99 March 29, 2010 at 8:07 am

    NB: Oh kelewat satu film: Divergen

    Crap! Kok bisa ya?😕

    Hmm, yah, sepertinya ini film yang bagus (walopun rumit), tapi rasanya kok gak keluar dari skema yang sama untuk film2 bertema kepolisian: miskin polisi. Maksudku, sepertinya kasus2 yang begitu rumit cuma ditangani oleh satu dua reserse saja sampai setengah mati. Sementara di indo pasti sudah dibentuk tim yang berbagi tugas, bahkan diambil alih oleh Polda atau bahkan mabes Polri dan Densus 88.:mrgreen:

    Oiya, katanya henpon semua karakter di film ini Nokia ya?
    Satu lagi, Fong & Amy itu ****?:mrgreen:

  8. 10 Zephyrus April 1, 2010 at 11:46 am

    5 film di atas kurang menarik perhatian:mrgreen: soalnya lagi nyari film yang “touching and impressing”, punya rekomendasi?

  9. 11 安藤君 April 24, 2010 at 2:57 pm

    @lambrtz
    Yup, itu dia yg saya maksudkan!

    @Disc-Co
    Silahken tonton sendiri untuk membuktikannya. Tapi selera tiap orang mungkin berbeda sih….

    @jensen
    Ooohhh…. Kasus dlm film divergen emang ditangani satgas khusus koq:mrgreen:
    Hanya saja salah satu anggota satgas (detektif yg diperankan Aaron Kwok) memandang kasus ini sebagai hal pribadi, gara2 istri tokoh lawannya mirip dgn mantan kekasihnya yg hilang.

    Pesan sponsor Nokia kali😛
    Fong dan Amy????🙄

    @Zephyr
    coba: entre les murs, the beat that my heart skipped, atau the white ribbon.

  10. 12 dan May 18, 2011 at 6:24 pm

    maaf ni,klo boleh tau profesi bos rizal ni apa ya??sutradarakah????
    kyanya bos in banyak tau soal film.ko kyanya komentarnya mengenai film terutama 20th century boys dalem bgt ya…..
    emang filmnya mungkin sedikit mengecewakan,apalagi yang belum baca manganya ato nonton dari seri pertama.tapi buat ane ga masalah lha wong tinggal nonton gratis aja koq…..lagian ane suka baca manganya,jadi sejelek apapun filmnya ane ga ambil pusing….
    justru film kamui gaiden yang menurut ane sangat mengecewakan,tapi sekali lagi ga masalah soalnya bener kata agan akting tokoh utamanya emang bagus…..
    o ya,agan dah nonton film beck?gimana menurut agan,klo menurut ane si tu film jempolan ga tau deh klo menurut sutradara jempolan kita yang satu ini…..

    • 13 dan May 18, 2011 at 6:39 pm

      o ya,agan ga suka film goemon ya??ane si belum nonton tapi kyanya ane klo dah nonton bakalan suka banget ma tu film mengingat agan sendiri ampe muak ngeliat tu film……
      yach….selera orang awam ma sutradara handal emang jauh beda si…..

      • 14 AnDo May 19, 2011 at 9:35 am

        @dan

        klo boleh tau profesi bos rizal ni apa ya??sutradarakah????

        Begini yah Boss. Profesi saya bisa dilihat dari profil: KULI!
        Saya emang sutradara, sutradara blog yang anda komentari ini. Jadinya terserah saya mau nulis apa keq, mau komentar apa keq, toh yang bikin tulisan dan blog ini saya koq. Kalau yang baca nggak suka yah silahkan bebas-bebas aja nggak suka, lebih baik lagi kalau kasih argumen pribadi buat counter penilaian. Atau lbh baik cari blog lain yg pendapatnya lebih suka menyenangkan pembaca jenius kayak Tuan Ardan dari pada kayak saya yg nulis jujur dan berterus terang.
        Orang sejenius Tuan Ardan tentu tahu kalau selera orang nggak ada yang sama.
        Anda nggak suka Kamui Gaiden? Yah wajar aja toh beda orang beda selera, apalagi kalau anda bisa mengemukakan alasan yg tepat untuk mendukung pendapat anda sendiri. Gak perlu muji-muji kayak komentar jenius Tuan Ardan ini, saya yang cuma kuli jadi merasa nggak ngerti dengan kata2 anda yg hiperbolis.

        ga suka film goemon ya??ane si belum nonton tapi kyanya ane klo dah nonton bakalan suka banget ma tu film mengingat agan sendiri ampe muak ngeliat tu film……

        Kayaknya Tuan Ardan bakalan suka Goemon deh, maklumlah ini film khusus untuk selera orang jenius lulusan Unsoed kayak Tuan Ardan Sls, apalagi kalau ditonton gratisan. Jangan bandingkan lah lulusan bertitel dari universitas ngetop kayak Unsoed seperti Tuan Ardan dengan saya yang cuma kuli dan sutradara blog ini. Apalagi jurusan Biologi Universitas Jend Soedirman kabarnya nomer satu di Asia ngalahin Tokyo University, selera yang pernah kuliah disana tentunya sangat tinggi, gak kayak selera kuli seperti saya.

        apalagi yang belum baca manganya ato nonton dari seri pertama.tapi buat ane ga masalah lha wong tinggal nonton gratis aja ko…..lagian ane suka baca manganya,jadi sejelek apapun filmnya ane ga ambil pusing….

        pertama, saya BACA manganya dan SUKA dengan gaya BERCERITA Urasawa. TAPI saya TIDAK SUKA dengan gaya PENYUTRADARAAN tsutsumi dalam film.
        kedua, saya BAYAR 1000 YEN buat nonton 21 Century Boys di bioskop dan BAYAR 400 YEN per keping untuk sewa DVD original sequel 2 dan 3 nya. Anda ngomong GRATISAN karena anda sendiri yang bilang nonton TIDAK BAYAR, tapi saya BAYAR pakai DUIT untuk nonton! Saya BUKAN ANDA dan saya merasa rugi kalau nonton film jelek. Yang namanya kuli kerja banting tulang buat cari duit tentunya berhak ngomel kalau merasa rugi bayar nonton film tapi filmnya mengecewakan, gak kayak Tuan Ardan berotak encer dapet nonton gratisan dengan mengandalkan kejeniusannya.
        ketiga, kalau ada film yang diadaptasi dari novel/manga/komik yang saya sukai, dan hasilnya mengecewakan, saya akan ngomong apa adanya. Nggak bakalan saya muji2 film yang menurut saya jelek cm gara2 media yang diadaptasinya saya sukai. Saya suka manga 21st Century Boys, Gantz, dan Beck, tapi film adaptasinya masih mengecewakan

        dah nonton film beck?gimana menurut agan,klo menurut ane si tu film jempolan ga tau deh klo menurut sutradara jempolan kita yang satu ini…..

        Beck Live Action movie udah ditonton dan ditulis reviewnya, dan sekali lagi saya nonton film BECK BAYAR 1000 YEN di bioskop. Kalau anda nonton GRATISAN, jangan samakan dengan saya yang nonton merasa rugi karena BAYAR.
        Asal tau aja, Beck Live Action Movie yang Tuan Ardan yang jenius bilang jempolan, dicerca abis2an oleh kritikus Jepang. Saya masih mending ngasih nilai lumayan hanya karena musiknya bagus.
        ups maaf. Saya lupa kalau kritikus Jepang yang mencerca Beck Live Action bukan orang jenius kayak Tuan Ardan, mereka nggak kuliah di jurusan Biologi Unsoed yang ternama itu. Makanya maklumi saja pendapat mereka, toh mereka cuma kritikus bukan sutradara.

  11. 15 dan May 20, 2011 at 9:48 pm

    hahaha………..boleh lah………
    ga ada maksud offense ko gan,yang bener tu ane yg ga tau apa2 soal film.ane cm ngetes ja ko gmn reaksi agan klo ane ngomong blak2an yg “maaf” mungkin menyinggung agan.
    tp wlopun ane bilang ga offense,ane jujur bilangnya.dan reaksi agan bnr2 sangat menarik dan kyanya jg menyinggung perasaan agan ampe segala facebook dibawa2.tp ga pa2 lah,ane maklum ko.
    o ya,ane cuma orang awam yg klo mo ntn film tu harus download di warnet temen dulu biar dpt gratisan,copas punya temen trus ditonton di laptop tmn,ato klo bayar jg pake patungan dulu buat nyewa dvd bajakan.itupun mata uangnya pake rupiah ga pake yen.
    kata agan ane orang jenius jurusan biologi lulusan unsoed,unversitas terbaik di asia ngalahin universitas tokyo???hahahaha…….ane ngakak ampe hampir nelen asbak bacanya gan,ane ma tempat ane kuliah dulu ga sehebat itu gan,gila nih bcandanya si agan….
    makasih atas tanggapannya gan,juga share film2nya sekalian dengan penilaiannya.maaf udah menyinggung & ngejunk di blog agan,maaf jg klo ane ga kepikiran buka profil agan,saking jeniusnya ane mungkin.hahaha…..dame ya gan….
    kembali ke film,bener kata agan selera film tiap2 orang tu beda2….klo ane pribadi si orangnya masa bodo ma kritikus film ato orang2,klo menurut ane bagus ya brarti tu film bagus dan juga sebaliknya.cuma sesederhana itu.
    apapun profesi agan,ane mendoakan kesuksesan buat agan.tp jgn bawa2 privasi lg ya gan klo tersinggung klo misalnya suatu saat agan ktm lg ma orang yg nyebelin kya ane.hehehe…..
    PEACE………..

    • 16 AnDo May 21, 2011 at 4:18 am

      tp wlopun ane bilang ga offense,ane jujur bilangnya.dan reaksi agan bnr2 sangat menarik dan kyanya jg menyinggung perasaan agan ampe segala facebook dibawa2.tp ga pa2 lah,ane maklum ko.

      Begini yah Tuan Ardan, anda mungkin nggak kenal pribadi saya. Mungkin sampeyan merasa saya marah, tapi yang benar saya nggak marah dan merasa biasa-biasa aja. Apa yang saya tulis itu bentuk sarkasme, dan memang gaya sarkasme saya ambil buat balas komentar yang saya rasa ofensif ke pribadi, bukan ke tulisan.
      Sampeyan bilang blak2an nggak bermaksud ofensif? Lha? Situ bawa2 profesi saya segala itu masuk ruang pribadi lho. Banyak pengunjung blog yg mengkritik isi tulisan dan postingan yang saya bahas, tapi nggak bawa2 profesi, kepribadian dan soal privasi, dan untuk itu saya balas dgn gaya komentar biasa.
      Kalau sampeyan baca short profile saya, disitu bakalan kebaca: An unpleasant sarcastic creature with weird personalities.
      Soal facebook, salah sampeyan sendiri nggak punya blog. Saya cm intelnet doang buat bahan komentar sarkasme, dan kayak hampir semua troll pinter di Indonesia, semua punya facebook😆

      ane cm ngetes ja ko gmn reaksi agan

      Wah, benar2 orang jenius calon peneliti sukses. Yang gak penting kayak beginian aja pake tes-tesan. Salut! Mungkin sampeyan bakalan jadi menteri riset dan teknologi di masa depan.

      ane cuma orang awam yg klo mo ntn film tu harus download di warnet temen dulu biar dpt gratisan,copas punya temen trus ditonton di laptop tmn,ato klo bayar jg pake patungan dulu buat nyewa dvd bajakan.

      Waw? Dimasa depan kalau bukan jadi menristek, agan bisa jadi boss pasar gelap, ngatur bajak2an dan copy2an gak bayar copyright se-Indonesia. Bakalan kaya raya nih dan bermasa depan cerah!

      kata agan ane orang jenius jurusan biologi lulusan unsoed,unversitas terbaik di asia ngalahin universitas tokyo???hahahaha

      Model orang kayak sampeyan bisa dikenali dgn segera koq. Tipe merendahkan diri meningggikan mutu, meninggikan orang lain sambil meremehkannya untuk memuji diri sendiri. Saya suka loh yang tipe begini, lumayan buat latihan komentar sarkasme hahahaha….

      klo ane pribadi si orangnya masa bodo ma kritikus film ato orang2,klo menurut ane bagus ya brarti tu film bagus dan juga sebaliknya.cuma sesederhana itu.

      Kalau cm sesderhana itu, koq komentar sampeyan malah terkesan nggak terima kalau film yg sampeyan tonton gak sama penilaiannya dgn orang lain? Jangan2 split personality? Cepetan ke dokter gan, kalau udah parah bahaya kayak Dr. Jekyl and Mr. Hyde ntar.
      Kalau saya sih nggak langsung menghakimi dgn masa bodoh, karena banyak kritikus biasanya menilai film dari berbagai aspek berbeda. Lumayan untuk nambah pengetahuan saya yg kurang, walau bukan sutradara beneran.

      tp jgn bawa2 privasi lg ya gan klo tersinggung klo misalnya suatu saat agan ktm lg ma orang yg nyebelin kya ane.hehehe…..

      Saya selalu berusaha membalas komentar sesuai dgn komentar yg ditulis koq. Sampeyan bawa2 privasi, saya juga merasa gak salah kalau bawa privasi juga,
      Adil bukan? atau sampeyan merasa nggak adil krn merasa derajat sampeyan lbh tinggi dan merasa lbh pinter menilai sesuatu termasuk film?
      Sering2 komen yang ginian yah, lumayan bisa buat di-sarkas-in😆

      PEACE………..

      Tuan Ardan nonton gratisan, saya nonton bayar
      Tuan Ardan pinter, saya blo’on
      Tuan Ardan berpendidikan tinggi, saya cuma kuli
      Tuan Ardan gak suka film jelek kayak Kamui Gaiden, saya suka

      Sebenarnya inti dari balasan komentar saya sebelumnya cuma satu: Saya dan Tuan Ardan berbeda, beda orang beda penilaian, beda gaya hidup, beda pemahaman, dsb.
      Jadinya jangan samakan tiap orang berbeda harus punya satu pendapat.
      Salam damai juga.

  12. 17 Ade_San July 3, 2011 at 8:46 am

    Hahaha..
    “Semoga saja Beck The Movie tidak mengecewakan para penggemar Beck versi manga dan anime.”
    Ternyata jauh lbh mengecewakan drpd 20CB!!
    Pas bagian nyanyinya malah nge-blank, muncul gambar2 pemandangan gt. Wkwkwk.. Acting Hiro Mizushima jg mengecewakan. Zzzzz..

    • 18 AnDo July 3, 2011 at 12:06 pm

      @Ade_San
      Hahahaha juga deh..
      Beck the Movie udah lama banget nonton, malah udah dibikin reviewnya.
      Yup… aku juga kecewa sama bagian itu, tapi mau gimana lagi, si pencipta Beck Harold Sakuishi yang minta adegan nyanyi Koyuki dibikin tanpa vokal.

      Setidaknya dibandingkan 20CB, Beck masih menghibur dgn beberapa lagunya (yg tidak di mute tentunya). Dari pada dengerin Paman Kenji nyanyi … du tra la la du tra la la terus sampe bosen. Wkwkwk…
      Zzzz…..

  13. 19 jensen99 April 5, 2016 at 9:30 am

    Baru kelar nonton tadi. Iya saya bengong, merasa ada sub2 plot penting dalam usaha mengungkap identitas Sahabat yang sayang sekali tidak muncul di film. Usai nonton dan baca2 internet (maklum komiknya sudah kabur dari memori sejak khatam bertahun silam) baru sadar kalo sejak film kedua ceritanya memang menempuh jalur agak berbeda dengan komiknya, sehingga klimaksnya pun beda. Sayang sekali..😦

    • 20 AnDo April 7, 2016 at 4:39 am

      @jensen
      Yup, film terbaik dari trilogy kayaknya yang pertama deh, setidaknya scene flashback masa kecil Kenji dan teman2nya itu keren. Makin menuju akhir cerita makin antiklimaks.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: