I just didn’t do it – Jujur tempatnya di neraka

Pengadilan bukanlah tempat untuk mengungkapkan kebenaran. Tak lebih dari tempat berspekulasi menentukan bersalah atau tidak berdasarkan bukti yang dikumpulkan.
Kaneko Teppei (Ryo Kase)

Banyak orang-orang yang beranggapan bahwa perempuan Jepang adalah cewek gampangan. Tentunya ini tak bisa dilepas dari pengaruh manga/anime yang isinya menyerempet aktivitas seksual. Belum lagi dengan banyaknya produk hentai, erogame dan juga adult video yang beredar bebas dipasaran. Hal ini menyebabkan banyaknya aktivitas pelecehan seksual di Jepang semakin marak. Di kampusku sendiri sampai melancarkan kampanye anti sexual harassment yang juga merupakan kelanjutan dari kampanye menyeluruh pemerintah Jepang. Salah satu sexual harassment yang banyak terjadi justru berlangsung di dalam ruang fasilitas umum, terutama di dalam kereta listrik. Pelecehan seksual ini di Jepang disebut Chikan-痴漢, dan kebanyakan berupa meraba bagian-bagian tertentu korban dalam kondisi berdesak-desakan di dalam kereta. Perempuan yang menjadi korban biasanya tidak bisa berbuat banyak karena posisi orang-orang yang kerumunan. Terlebih lagi, usia para korban biasanya sangat muda (sekitar usia anak SMP) untuk memiliki keberanian mengungkapkan pelecehan. Jika sang korban cukup berani, dia bisa saja menangkap tangan sang pelaku dan tak melepaskannya sambil berteriak “chikan” hingga keadaannya memungkinkan untuk melaporkan si pelaku ke petugas kereta. Mengenai kasus tukang raba (groper) bisa dibaca sedikit di link tulisan ini

Film ini mengambil tema tentang chikan lewat tokoh bernama Kaneko Teppei (Ryo Kase) yang dituduh sebagai pelaku chikan. Dari awal kisah boleh dikatakan kalau Kaneko benar-benar pemuda sial yang berada diwaktu dan posisi yang salah. Seorang gadis umur 15 tahun diraba pantatnya sewaktu dalam kereta yang padat penumpang dan kebetulan Kaneko berada di belakangnya. Sang gadis melaporkan dirinya hingga membawa Kaneko ke kantor polisi. Sebenarnya Kaneko bisa saja langsung mengaku melakukan chikan pada saat itu juga (seperti kebanyakan pelaku chikan lainnya) dan bebas keesokan harinya disertai kewajiban membayar penalti di luar pengadilan kepada korban. Sialnya, Kaneko cukup bodoh untuk tidak mengaku demi cepatnya proses pembebasan dirinya. Malah Kaneko terlampau tolol untuk terus-terusan berkata jujur kalau dirinya tak melakukan apa yang telah dituduhkan. Mulailah proses pengadilan panjang yang memakan waktu untuk membuktikan hal yang terlihat sia-sia, yaitu Kaneko berkata jujur bahwa dirinya tidak bersalah.

Film yang berjudul asli “Soredemo, Boku wa Yattenai” ini diangkat dari kisah nyata tentang perjuangan Kato Hideki, seorang terdakwa pelaku chikan yang berkeras dirinya tidak bersalah (Baca kisah Kato Hideki disini dan disini). Lewat film ini kita bisa melihat bahwa kemudahan akan diberikan bagi pelaku chikan yang mengakui dirinya bersalah dan mendapatkan keringanan hukum hanya dengan membayar denda. Malah orang yang berkeras dirinya tak bersalah harus menjalankan proses pembuktian kejujuran dirinya dalam lingkaran setan sistem pengadilan selama bertahun-tahun dengan kemungkinan kalah 99.99%. Ya! Ironisnya kejujuran malah menempatkan dirinya di dalam neraka dunia. Asal anda tahu, pelaku chikan hampir bisa dipastikan mengambil jalan damai untuk menyelamatkan mukanya dari rasa malu, keluarga berantakan hingga kehilangan pekerjaan seperti yang dialami Kato.

Film ini juga memperlihatkan kelemahan sistem hukum Jepang pada umumnya. Terlihat bagaimana betapa kuatnya posisi jaksa penuntut, penilaian bias hakim dan polisi, serta lemahnya prosedur pemaparan bukti peradilan. Seperti yang dikatakan oleh sang sutradara Masayuki Suo dalam wawancara dengan The Japan Times terbitan 2 Februari 2007:

“As a Japanese citizen, I was very angry to find that such injustice exists in this society. But even though I lived in Japan, I didn’t know this, and I think many others don’t know about it, either,” Suo said. “And having recognized this, I couldn’t just go on with life as if I didn’t know anything about it.”

Untuk bacaan pengetahuan yang lebih jauh, anda bisa membaca kelemahan sistem pengadilan Jepang dari link paper yang berjudul Why is The Japanese Conviction Rate So High (paper ini sangat menarik untuk dibaca)

Film ini adalah film pertama sang sutradara Masayuki Suo setelah 10 tahun tak pernah menggarap satu film pun sejak film Shall We Dance yang meraih berbagai macam penghargaan festival. Butuh waktu 4 tahun bagi Suo untuk melakukan riset hingga wawancara tentang sistem peradilan Jepang dan kasus-kasus chikan yang pernah terjadi. Untuk menonton karya terakhirnya ini, anda harus tahan menghadapi adegan-adegan berdialog panjang di dalam dan luar proses pengadilan. Banyak adegan dan dialog bernuansa sinisme dan satir yang mewarnai film. Seakan-akan jika ada korban, pengadilan harus mencarikan jalan untuk menghukum seseorang sebagai pelaku.

Menonton film ini mau tidak mau mengingatkan aku pada proses pengadilan di Indonesia yang mirip melodrama sinetron. Tidak usah dipertanyakan lagi bagaimana kondisi pengadilan di Indonesia yang semakin hari semakin sulit dipercaya “kebenarannya”. Kalaupun ada ketidak puasan yang ingin disampaikan lewat postingan resensi film ini, sepertinya tidak cukup ruang untuk menuliskannya. Biarlah anda menilai dan membandingkan sendiri setelah menonton film yang penuh dengan adegan di dalam ruang pengadilan Jepang ini. Menurut anda sendiri, yang mana lebih baik dilakukan? Berkata jujur dan menjalani hidup bagai neraka dunia atau berbohong dan memperoleh kemudahan?

Rating: 4.25/5

26 Responses to “I just didn’t do it – Jujur tempatnya di neraka”


  1. 1 itikkecil March 11, 2010 at 8:39 am

    sebagian besar orang dan mungkin termasuk saya mungkin akan memilih untuk mengalah saja. oleh karena itu, salut dengan orang-orang yang berani berjuang untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
    btw, bukankah gerbong khusus untuk perempuan ada di kereta?

  2. 2 sora9n March 11, 2010 at 10:09 am

    Lupa dapat kalimat ini di mana, tapi…

    Only in the planet of Japan!™

    Sebenarnya dalam konteks otaku, tapi rasanya kok relevan.😆

    *miris*

    BTW saya dari dulu curiga ada hubungan antara kultur chikan dan materi violent sex di eroge, animanga, dsb. Barangkali ada paper/studinya. Masbro ada info?😕

  3. 3 jensen99 March 11, 2010 at 11:56 am

    Jepang punya sistem transportasi kereta yang mengagumkan, tapi soal berdesak2annya itu…😦

    mana lebih baik dilakukan? Berkata jujur dan menjalani hidup bagai neraka dunia atau berbohong dan memperoleh kemudahan?

    Yang saya takutkan cuma penyiksaan saat interogasi ala penyidikan polisi Indonesia sih, tapi saya tetap pilih jujur. Difitnah melakukan Chikan itu melukai harga diri soalnya, seperti gak sanggup ngajak cewek ngesex baik2 aja. Mending kalo difitnah rencanakan kudeta.

    BTW, gak ada desakan reformasi hukum di Jepang?

  4. 4 gilasinema March 12, 2010 at 3:15 am

    MENARIK…MENARIK…MENARIK…
    MENARIK…MENARIK…MENARIK…
    MENARIK…MENARIK…MENARIK…
    MENARIK…MENARIK…MENARIK…
    MENARIK…MENARIK…MENARIK…

  5. 5 Snowie March 12, 2010 at 4:54 am

    Kayaknya saya setuju dgn komen senpai Jensen deh. Itu soal harga diri dan reputasi nama baik. u_u

    Apa ya pribahasanya; biar mati berputih tulang daripada hidup berputih mata. ^^

  6. 6 安藤君 March 12, 2010 at 5:16 am

    @itikkecil
    Kalau baca link yg saya kasih diatas, salah satu tindakan pencegahan yg dilakukan pemerintah adalah diberlakukannya gerbong KRL khusus wanita di Tokyo dan Osaka sejak 2001.

    @Sora
    Seperti yg saya tulis diatas, saya jg curiga kalau hal tersebut berhubungan erat. Ada beberapa paper yg kutemukan, sayangnya berbahasa Jepang. contohnya paper penelitian di sini.
    Tapi di film ini (dan jg kejadian nyata), ada hal lucu. Rumah tersangka chikan kadang digeledah. Kalau ditemukan video porno/buku/majalah/erogame dll milik terdakwa, barang itu bisa dijadikan barang bukti😆 Sampai aku punya ide kalau kena tangkap gara2 chikan, suruh teman secepatnya mengumpulkan barang2 homoseksual buat kamuflase😈

    @jensen
    Yang berdesakan itu hanya waktu rush hour aja koq (hari kerja di pagi dan sore ketika berangkat/pulang kerja dan sekolah). Kayaknya hal ini sama aja dengan Indonesia. Bedanya cuma satu hal, di Indonesia rawan copet, sedangkan di Jepang nggak😆

    Difitnah melakukan Chikan itu melukai harga diri

    Berarti sanggup menanggung nasib seperti tokoh Kaneko dan pengalaman Kato yg setelah keluar penjara susah dpt kerjaan, hidup berantakan setelah selesai pengadilan dan masuk penjara😦

    Mending kalo difitnah rencanakan kudeta.

    Kudeta pemimpin kelompok Chikan tomo no kai (Chikan Brotherhood) yah!😆

    Mengenai desakan reformasi pengadilan sebenarnya sudah banyak. Film ini termasuk salah satu kritik terhadap sistem pengadilan Jepang dan sering dijadikan bahasan diskusi mengingat detail adegan pengadilan (ingat, sang sutradara melakukan survey dan penelitian serius selama 4 tahun sebelum mulai syuting)

    @gilasinema
    Eh, mas suby. tumben komentarnya cm begini doang:mrgreen:

    @Snowie
    Selamat bergabung dgn kelompok idealisme bersama jensen🙂

  7. 7 Snowie March 12, 2010 at 12:22 pm

    Anu, seandainya semua orang mulai berfikir membiarkan dirinya difitnah demi memperoleh kenyamanan hidup dari pada mempertahankan kebenaran dan akhirnya harus menderita, mau jadi seperti apa dunia ini. u_u

  8. 8 gilasinema March 12, 2010 at 1:06 pm

    Lah aku suka banget dengan film-film model begini.Gemesss pengen nonton😦

  9. 9 安藤君 March 13, 2010 at 8:59 am

    @Snowie
    Mau jadi apa? Mungkin jadi seperti Indonesia pada saat ini. Hanya saja ada tambahan untuk harga kenyamanan itu: DUIT.😈

    @gilasinema
    Film yang sulit didapat kecuali download di internet. Ubek-ubek lagi kios bajakan langganannya mas!

  10. 10 richard April 23, 2010 at 4:36 am

    meskipun film ini ujung2nya sad ending…tapi at least kaneko teppei yang sebenarnya sudah dibuktikan TIDAK BERSALAH setelah 5 tahun…kasian tu orang lama banget baru trbukti!!

    uda kaya di negri ini,ga jelas siapa yang salah…orang yang ga salah pun disalahin..kacaw😀

  11. 11 Asop April 30, 2010 at 1:48 am

    Film-nya sepertinya bagus.🙂

    @Asop
    sepertinya iya sih😛

  12. 12 sussii May 9, 2010 at 3:47 pm

    saya tertarik dengan film ini dan bermaksud menjadikannya sebagai bahan skripsi saya..
    tetapi saya menemukan kendala karena saya tidak dapat menemukan skenario film ini.
    bisa bantu saya?

    • 13 安藤君 May 20, 2010 at 9:36 am

      @sussii
      😯
      ehhhh??? yang bener??? Kalau ingin menjadikan studi kasus peradilan jepang menjadi bahan skripsi sih saya masih maklum, tp kalau film ini? Lagian bicara soal kendala, kalau mau baca skenario film ini, mau tdk mau harus bisa baca huruf Jepang lho, dan itu jg sulit didapat kecuali lsg menghubungi pihak studio filmnya. Wajar aja situ tidak dapat menemukan skenario film ini. emangnya tadinya udah nyari dimana?

  13. 14 maryamingty June 15, 2010 at 2:26 pm

    postingan lama, tapi tetep mau komen.
    jadi penasaran mau nonton nih Andy kun… dapetnya dimana ya??

    FYI, di Indonesia, tepatnya di jakarta baru-baru ini diberlakuin koridor yang berbeda buat laki-laki dan perempuan. “chikan” versi indon lebih agresif, pelakunya sampe ngikutin korban naek ke angkutan umum selanjutnya (setelah turun dari bus way)

  14. 15 安藤君 June 16, 2010 at 5:55 pm

    @maryamingty
    oh… boleh saja. kalau komentarnya serius saya tanggapi koq🙂
    saya nonton streaming di internet koq (mumpung kecepatan internet di jepang kencang)
    ada info link ttg chikan di indonesia?

  15. 16 maryamingty June 19, 2010 at 3:04 pm

    hehe gak punya. Soalnya saya gak gitu interest waktu lihat berita ini. Karena sebetulnya isu harrashment sexsual (chikan) ini udah isu lama. Di mata kuliah kriminologi dipelajari loh.

    Btw, bagi link untuk mendownload filmnya dong..
    nuhun ya kang🙂

  16. 18 nao April 24, 2011 at 8:25 pm

    anoo,, maaf ne baru gabung sekarng cm mau kasi komen sebagai org yg belajar tentang kebudayaan jpg di kampus,,

    “Perempuan yang menjadi korban biasanya tidak bisa berbuat banyak karena posisi orang-orang yang kerumunan. Terlebih lagi, usia para korban biasanya sangat muda (sekitar usia anak SMP) untuk memiliki keberanian mengungkapkan pelecehan.”

    kata dosen saya,, kejadian semacam ini terjadi krn adanya budaya malunya orang jepang, berbeda dengan budaya malunya indonesia, org jpg merasa malu untuk mengungkapkan kesusahannya, malu menjadi pusat perhatian dan adanya sifat individual nya org jepang, sehingga para chikan bebas leluasa melakukan aksinya. mungkin itu sebabnya juga, perempuan jepang membuat pertahanannya sendiri dengan membawa alat setrum listrik agar org yg meraba itu kena getahnya dan menjadi malu krn menjerit di kereta.
    kalo soal hukum jpg yg yang sangat lemah ini, saya sendiri kurang tahu, mungkin nanti saya tanyakan ke dosen saya,, ^^

    • 19 AnDo April 25, 2011 at 9:26 am

      @nao
      Ma kasih udah ngasih komen. Asal tau saja, kalau wanita dewasa (usia kerja sekitar pertengahan 20-an) cukup berani untuk menghadapi chikan. Asalkan tidak terlalu padat dan bisa diketahui pelakunya, si wanita dewasa akan menangkap tangan pelaku dan diserahkan ke petugas kereta. Tapi hal ini hampir tak pernah terjadi, soalnya para chikan mengincar cewek2 sekolahan usia smp.
      Soal hukum di jepang ttg kasus chikan, coba baca link paper yang aku kasih di dalam postingan, print lalu diskusikan dgn teman maupun dosen. menarik koq.

  17. 20 nao April 25, 2011 at 12:16 pm

    bisa dibahas untuk skripsi nih,,
    ^^

  18. 21 zaldi aryana March 6, 2012 at 8:12 am

    ni cerita bagus juga nih buat cewe cewe yang ada di manapun

  19. 22 Laudya March 9, 2012 at 1:45 pm

    By any chance, do you ever lived in japan? Please reply me. I have urgent matter

  20. 24 Radira February 2, 2013 at 5:25 am

    Saya “stress” berat nnton film ini! Stres liat sistem peradilannya yang mirip sistem di tanah air. But this is recommended movie!

    saya bikin reviewnya juga di blos saya:
    http://eigarebyu.blogspot.com/2013/01/soredemo-boku-wa-yattenai-2007.html

    monggo mampir jika sempat😀

    ando-kun, bisa tukaran link ga??
    nih link blog saya http://eigarebyu.blogspot.com/

    sankyu🙂

    • 25 AnDo February 2, 2013 at 11:35 am

      @Radira
      Udah singgah tadi. Setting blog emang keren, tapi bikin saya bingung mau ngasih komen karena gak tau di mana nulisnya. Jadinya cuma baca doang gak ngasih komen apa-apa😀
      silahkan pasang link.


  1. 1 Gyakuten Saiban « Toumei Ningen – The Reviews Trackback on September 2, 2012 at 11:01 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: