From Japan with Eiga

Judul diatas bukanlah judul film ataupun judul lagu, melainkan hanya sebuah judul postingan:mrgreen: Eiga dalam bahasa Jepang berarti film dan memang postingan kali ini berisi 3 film Jepang yang kutonton marathon minggu ini. Film Jepang biasanya memiliki pace yang lambat sehingga banyak orang yang kurang berminat menontonnya (tentu saja kecuali para japanophile). Hanya saja, film Jepang sering menawarkan ide menarik dan unik yang jarang ditawarkan oleh industri film lain termasuk Hollywood. Lihat saja Departures yang menyabet piala Oscar 2009 kategori film berbahasa asing terbaik, ide ceritanya yang unik berhasil mengantarkan film ini mendapatkan penghargaan dimana-mana. Kali ini aku menuliskan 3 film yang dua diantaranya pernah mendapatkan gelar film terbaik Japan Academy Prize (Academy Award versi Jepang).

Sumo Do, Sumo Don’t (Shiko Funjatta)

Film yang berjudul aslinya berarti tak sengaja mejejak Shiko menyabet 5 gelar Japan Academy Prize (JAP) 1993 termasuk film, skenario, aktor utama (Motoki), Aktor pembantu (Takenaka) dan sutradara terbaik. Dalam film ini, Motoki Masahiro mendapatkan penghargaan aktor terbaik JAP untuk pertama kalinya. Kalau anda melihat tampang Motoki diposter sebelah, tentunya masih ingat kalau dialah pemeran Kobayashi Daigo si penyelenggara jenazah dalam film Departures. Film ini juga merupakan karya pertama sutradara Masayuki Suo yang mendapatkan penghargaan JAP (Piala JAP kedua disabetnya lewat Shall We Dance? yang diremake oleh Hollywood dengan bintang Richard Gere). Sebagaimana judulnya, film ini menceritakan tentang olah raga Sumo sebagai sajian utama cerita.

Cerita film diawali dengan memperkenalkan sang tokoh utama mahasiswa tingkat akhir Shuhei (Motoki) yang kekurangan SKS sebagai syarat lulus perguruan tinggi. Pembimbingnya Prof. Anayama memberikan syarat kelulusan asalkan Shuhei mau bergabung dengan klub Sumo yang kekurangan anggota untuk bisa tetap ikut kompetisi. Anggota klub Sumo sendiri cuma satu orang yaitu Aoki (Takenaka Naoto) seorang mahasiswa senior (8 tahun belum juga lulus) yang sudah 4 tahun menjadi anggota klub Sumo. Untuk melengkapi jumlah peserta mulailah mereka merekrut member lain sampai akhirnya mendapatkan Tanaka (mahasiswa gemuk yang introvert), Haruo (adik Shuhei) dan terakhir George Smiley (mahasiswa asing asal Inggris). Dari sini mulailah suka duka tim yang dimanajeri mahasiswi S2 Kawashima (Shimizu Misa) dalam berinteraksi satu sama lain dalam klub Sumo.

Kesan pertama nonton film ini adalah ceritanya yang sederhana dan tidak muluk-muluk, hanya saja eksekusi yang dilakukan oleh sang sutradara membuat film sederhana ini menjadi istimewa. Perjuangan para mahasiswa pesumo dadakan ini terlihat lebih menarik dengan bentrokan perbedaan karakter anggota tim yang memiliki latar belakang dan tujuan berbeda-beda untuk masuk klub sumo. Belum lagi akting Motoki yang bermain bagus sebagai sang kapten tim Sumo dan permainan Takenaka yang benar-benar bisa mengocok perut penonton turut memberikan nilai tambah. Tak berlebihan rasanya jika aku memberikan nilai tinggi buat film ini.

Rating: 4/5

After the Rain (Ame Agaru)

Mungkin para penggemar film sekalian mengetahui kalau film terakhir yang digarap oleh salah satu sutradara terbaik abad lalu Akira Kurosawa adalah Madadayo, tapi tidak banyak yang tahu kalau skenario terakhir yang ditulis Kurosawa adalah After the Rain. Bagi penggemar Kurosawa, anda pasti akan menemui banyak ciri khas Kurosawa dalam film ini termasuk hobinya memasukkan perubahan cuaca kedalam suasana film. Film ini seakan-akan menjadi ajang reuni klan Kurosawa. Lihatlah di kursi sutradara, duduk mantan asisten Kurosawa dalam 4 film terakhirnya. Lalu dijejeran nama produser terdapat anak sulung Kurosawa bernama Hisao. Tak ketinggalan pula putra aktor favorit Kurosawa, Toshiro Mifune yang bernama Shiro Mifune ikut bermain sebagai sang daimyo. Reuni memang tinggal reuni, tetapi secara kualitas film ini sanggup mengadaptasi skenario terakhir sang legenda menjadi film yang bagus dan enak ditonton, setidaknya bisa membuat bangga sang sutradara maestro kalau klannya bukan keluarga sembarangan. Film ini berhasil menyabet gelar film terbaik JAP tahun 2001 beserta penghargaan untuk skenario dan aktor utama terbaik.

Film berkisah tentang seorang Ronin (samurai tanpa tuan) bernama Ihei beserta istrinya Tayo yang terpaksa menginap di sebuah penginapan karena hujan lebat yang menyebabkan sungai meluap dan menyebabkan mereka tak bisa menyeberang. Selain Ihei, dipenginapan juga banyak tamu lain yang menumpang berteduh mulai dari pedagang, entertainer hingga pelacur. Selain interaksi sang ronin dengan istri dan penghuni penginapan, juga diceritakan pertemuan Ihei dengan daimyo setempat Shigeaki. Melihat kemampuan Ihei dalam bertarung, Shigeaki tertarik merekrut Ihei masuk kedalam klannya sebagai instruktur pasukan. Sayangnya bawahan Shigeaki yang lain menganggap Ihei sebagai orang luar yang ingin merebut jatah posisi mereka dalam benteng.

Baru kali ini aku melihat sebuah film yang menceritakan tentang interaksi antara ronin dengan istrinya. Istri samurai biasa mungkin lebih terjamin hidupnya, tapi istri ronin yang sering berkelana tentu lebih sulit menjalani hidup dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Lalu hubungan antara sang ronin dengan para penghuni penginapan lain ditampilkan dengan menarik, lewat acara pesta minum disertai nyanyian dengan lirik bermakna ganda. Begitu pula dengan relasi sang daimyo yang berpikiran liberal dengan anak buahnya yang kolot. Film ini memang banyak membahas mengenai hubungan antar manusia yang berbeda status. Adegan paling berkesan bagiku adalah adegan ketika Ihei bercerita tentang riwayat hidup dan perjalanannya. Bagaimana Ihei muda bekelana dari kampung halamannya ke kota Edo hingga sampai bertemu dengan senseinya seorang grandmaster, samurai ahli pedang ternama di Edo. Khas gaya cerita Kurosawa yang unik, tak terduga dan membuat penonton tercenung.

Berkebalikan dengan Sumo do Sumo don’t, film ini berangkat dari cerita yang dalam maknanya tetapi dieksekusi oleh sutradaranya menjadi lebih ringan dan enak ditonton oleh orang awam.

Rating: 4/5

Happy Flight

Berbeda dengan dua film diatas, Happy Flight bukanlah film pemenang ajang festival walaupun tak bisa dibilang film kacangan. Yang membuatku tertarik nonton film ini adalah nama sang sutradara Shinobu Yaguchi yang pernah membesut Waterboys dan Swing Girls. Yaguchi ini sepertinya memang sutradara yang hobi membuat cerita dengan plot from zero to hero. Lihatlah para karakter utama dalam Waterboys dan Swing Girls yang di awal film digambarkan tak memiliki kemampuan lebih, baik dalam renang indah (Waterboys) maupun memainkan musik Jazz (Swing Girls), namun seiring dengan berjalannya cerita, mereka mampu menguasai kemampuan tersebut dengan baik setelah berjuang keras. Kali ini Yaguchi memindahkan setting cerita dari panggung pelajar sekolah ke panggung profesi yaitu industri penerbangan.

Tokoh utama dalam film ini adalah penerbangan NH 1980 dari pesawat milik meskapai penerbangan ANA dengan rute Tokyo-Honolulu. Terlalu banyak tokoh yang berperan dalam film ini sehingga tidak ada yang benar-benar ditonjolkan secara penuh. Kalaupun ingin mengikuti alur style from zero to hero milik Yaguchi, mungkin ada 2 tokoh yang mewakili hal ini yaitu co-pilot Suzuki yang sedang ujian kelayakan naik pangkat jadi pilot penuh dalam penerbangan ini dan sosok pramugari Saito yang baru pertama kali memulai tugasnya sebagai pramugari.

Terus terang saja, film ini agak berbeda dengan film-film karya Yaguchi sebelumnya. Sangat banyak hal teknis yang ditampilkan dalam layar sehingga seolah-olah film ini dibuat untuk presentasi iklan atau lebih tepatnya memperkenalkan secara teknis seluk beluk bisnis penerbangan komersial. Saya sendiri sebenarnya senang menonton film ini karena banyak hal-hal yang tak kita ketahui dari sistem penerbangan komersial dipaparkan dalam film. Bukan hanya kerja awak pesawat saja yang di tampilkan melainkan juga bagaimana usaha teknisi maintenaince, air traffic control, petugas di tower bandara, hingga yang remeh semacam petugas pengusir burung untuk mencegah bird strike dalam menjalankan tugasnya agar penerbangan bisa berjalan dengan lancar. Saya tahu kalau penerbangan bukan bisnis main-main karena keselamatan para penumpang benar-benar diutamakan agar tak terjadi kecelakaan selama penerbangan. Mengingat banyaknya terjadi kecelakaan pesawat di Indonesia tahun kemarin, setelah nonton Happy Flight, saya merasakan betapa beratnya tanggung jawab orang-orang yang terlibat dalam menentukan apakah sebuah penerbangan layak diberangkatkan atau tidak.

Cerita filmnya sendiri ringan, predictable dengan selipan adegan komedi yang menggelitik. Seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air. Sambil nonton dapat hiburan, juga dapat pengetahuan.


Rating: 3.25/5

12 Responses to “From Japan with Eiga”


  1. 1 noitakarai March 6, 2010 at 10:37 am

    makasi buat rekomendasinya baru tahu klo ada film kurosawa yang ini … hmm

  2. 2 jensen99 March 6, 2010 at 6:09 pm

    Urutan ketertarikan saya pada ketiganya: 3, 2, 1.😀

    Film #1: kalo lihat pesumo dengan tubuh normal seperti itu kesannya kok sehat dan bagus ya? Kalo badannya dah melar besar saya jadi ngeri…😐
    BTW, Shuhei kekurangan SKS gimana? Apa waktu yang dihabiskan tuk ikut klub sumo gak sebaiknya dipake aja tuk kuliah lagi/nambah SKS?😕

    Film #2: film masih berlanjut keluar penginapan sesudah hujan reda ya? Biasanya kalo ada sekumpulan stranger terjebak bersama2 di suatu bangunan, cerita berikutnya bakalan jadi survival thriller/horror, dengan hanya satu-dua jagoan yang tetap hidup di akhir film.😆

    Film #3: No comment! Bener2 pengen nonton yang ini…😦

  3. 3 安藤君 March 7, 2010 at 7:06 pm

    @noitakarai
    sama-sama….hmmm

    @jensen
    Kalau liat urutan film, bisa ditebak kalau masbro penggemar segala hal berbau sayap:mrgreen:
    Aku pernah nonton pertandingan Sumo sekali, yang juara saat itu sang yokozuna adalah asashouryuu. Walaupun tubuhnya gempal, kayaknya lemaknya gak banyak amat dan penuh dengan otot. Yang hebat dgn tubuh kayak gitu, dia bisa bergerak gesit.
    *inget sama Sammo Hung, walaupun sammo hung masih lbh kecil dibandingkan si sumo*

    BTW, Shuhei kekurangan SKS gimana?

    SPOILER!!!
    Si Shuhei kebanyakan main, sering bolos kuliah sehingga nilainya pas-pasan. Dan SKS yang kurang itu buat nilai TA (tugas akhir) bukan SKS kuliah, krn itu dia benar2 ngarep sama kebaikan pembimbingnya. Sedangkan pembimbingnya minta dia masuk klub sumo krn sang Prof. adalah pengurus klub sumo, mantan ketua klub dan mantan jawara waktu dia masih kuliah jaman dulu. Kalau anggota klub kurang, klub sumo dibubarkan.

    Biasanya kalo ada sekumpulan stranger terjebak bersama2 di suatu bangunan,…..

    Battle Royal dong jadinya😆
    Ini film drama, bukan thriller kayak Battle Royal😆:mrgreen:

  4. 4 gilasinema March 9, 2010 at 4:00 am

    Waduuuh…film-filmnya bikin ngiler!

  5. 5 安藤君 March 10, 2010 at 3:51 am

    @gilasinema
    Film-filmnya udah agak jadul (kecuali nomer 3 yg buatan 2006). Mungkin bajakannya juga agak sulit dicari😦
    Kecuali tentunya beli dari pembajak yang merangkap penggemar film jepang dalam bentuk file DIVX (mereka jg dapat donlot dr internet). Cobain lihat/cari di idws (indowebster).

  6. 6 lambrtz March 10, 2010 at 6:27 am

    *Baru nonton trailernya*

    Ooooooooooooooooooooooooo……
    Yang Sumo Do Sumo Don’t pernah nonton, dulu disetel di TV…yang saya masih ingat itu waktu si bule ga mau lepas celananya, dan baru mau ketika pertandingan penentuan…:mrgreen:

  7. 7 安藤君 March 11, 2010 at 5:16 pm

    @lambrtz
    Keterlaluan emang TV Indonesia. Film sebagus ini malah ditaruh di jam penayangan yg susah ditonton. Golden prime time malah dicekoki sama acara sinetron😦

  8. 8 Diana S.Nugroho June 2, 2010 at 10:12 am

    Konnichiwa

    JAPAN FOUNDATION JAKARTA akan menyelenggarakan ulang tahun 100 tahun Akira Kurosawa di akhir Oktober~awal November 2010 ( di Jakarta & Bandung ) . Master film karya-karyanya sedang dalam perjalanan menuju Indonesia, bila ingin tahu kabar acara ini silakan bergabung dalam Face Book : NUANSA, The Japan Foundation, Jakarta

    salam,
    Diana.S.N

    • 9 安藤君 June 3, 2010 at 11:06 am

      Waduh. Kalau saya ada di Bandung/Jakarta, tentu bakalan hadir krn saya termasuk penggemar film2 sang master Kurosawa. Thanks atas infonya, mungkin ada pembaca yg berminat datang.

  9. 10 capt.. August 19, 2010 at 7:14 am

    mw tanya nih dimana bisa download subtitles indonesia film happy flight..please

  10. 11 mahdie April 24, 2013 at 11:42 am

    boleh tau download film sumo do sumo don’t nya di situs mana ya?

    kalo punya kirimin dong lewat email q. .


  1. 1 Robo-G « Toumei Ningen – The Reviews Trackback on August 16, 2012 at 9:13 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: