Archive for March, 2010

Resensi pendek dan singkat [4]

20th Century Boys 3 (2009)

Lagi-lagi bagian ketiga dari trilogi 20th Century Boys mengecewakanku. Ketidak puasan muncul mulai dari akting kaku, dialog cheesy, special effect tanggung, pokoknya setelah menonton sampai habis yang ada hanya rasa sebal. Pertanyaan yang tersisa setelah nonton film ini hanya satu, kemana perginya budget produksi sebesar 6 milyar yen? Tadinya kukira akan habis untuk memeriahkan efek “dunia kiamat”, tak tahunya kemunculan robot dan piring UFO tak jauh beda dibandingkan efek film Kamen Rider di televisi. Hadirnya kembali tokoh Kenji tak menolong bagian terakhir dari trilogi ini menjadi lebih baik. Belum lagi cara pembawaan cerita yang kurang mulus dari sutradaranya menyebabkan orang yang tidak pernah membaca manganya akan bingung dengan siapa sebenarnya sosok tomodachi asli. Ditambah dengan panjangnya durasi film yang mencapai 2.5 jam membuatku nonton sambil melirik jam melulu. Akhir kata, aku cukup khawatir dengan kualitas film Beck, proyek film sang sutradara Yukihiko Tsutsumi yang berikutnya. Semoga saja Beck The Movie tidak mengecewakan para penggemar Beck versi manga dan anime.

Rating: 2.25/5
Continue reading ‘Resensi pendek dan singkat [4]’

Advertisements

Tokyo Jihen – Sports (album)

Sudah cukup lama aku tidak meresensi musik. Selain waktuku lebih banyak digunakan untuk membahas film-film yang kutonton, mengisi blog baru juga mengambil jatah menulis di blog ini. Belum lagi kesibukan di dunia nyata. Kebetulan sekali keinginan menulis resensi musik bertepatan dengan peluncuran album terbaru Tokyo Jihen yang berjudul Sports. Seperti yang kita ketahui, Tokyo Jihen lama tidak meluncurkan album baru, setelah terakhir menelurkan album Variety pada tahun 2007. Album yang isi liriknya mengambil tema olah raga ini bertahan selama 2 minggu di puncak tangga lagu Oricon sejak peluncurannya tanggal 24 Februari 2010.
Continue reading ‘Tokyo Jihen – Sports (album)’

I just didn’t do it – Jujur tempatnya di neraka

Pengadilan bukanlah tempat untuk mengungkapkan kebenaran. Tak lebih dari tempat berspekulasi menentukan bersalah atau tidak berdasarkan bukti yang dikumpulkan.
Kaneko Teppei (Ryo Kase)

Banyak orang-orang yang beranggapan bahwa perempuan Jepang adalah cewek gampangan. Tentunya ini tak bisa dilepas dari pengaruh manga/anime yang isinya menyerempet aktivitas seksual. Belum lagi dengan banyaknya produk hentai, erogame dan juga adult video yang beredar bebas dipasaran. Hal ini menyebabkan banyaknya aktivitas pelecehan seksual di Jepang semakin marak. Di kampusku sendiri sampai melancarkan kampanye anti sexual harassment yang juga merupakan kelanjutan dari kampanye menyeluruh pemerintah Jepang. Salah satu sexual harassment yang banyak terjadi justru berlangsung di dalam ruang fasilitas umum, terutama di dalam kereta listrik. Pelecehan seksual ini di Jepang disebut Chikan-痴漢, dan kebanyakan berupa meraba bagian-bagian tertentu korban dalam kondisi berdesak-desakan di dalam kereta. Perempuan yang menjadi korban biasanya tidak bisa berbuat banyak karena posisi orang-orang yang kerumunan. Terlebih lagi, usia para korban biasanya sangat muda (sekitar usia anak SMP) untuk memiliki keberanian mengungkapkan pelecehan. Jika sang korban cukup berani, dia bisa saja menangkap tangan sang pelaku dan tak melepaskannya sambil berteriak “chikan” hingga keadaannya memungkinkan untuk melaporkan si pelaku ke petugas kereta. Mengenai kasus tukang raba (groper) bisa dibaca sedikit di link tulisan ini
Continue reading ‘I just didn’t do it – Jujur tempatnya di neraka’

From Japan with Eiga

Judul diatas bukanlah judul film ataupun judul lagu, melainkan hanya sebuah judul postingan :mrgreen: Eiga dalam bahasa Jepang berarti film dan memang postingan kali ini berisi 3 film Jepang yang kutonton marathon minggu ini. Film Jepang biasanya memiliki pace yang lambat sehingga banyak orang yang kurang berminat menontonnya (tentu saja kecuali para japanophile). Hanya saja, film Jepang sering menawarkan ide menarik dan unik yang jarang ditawarkan oleh industri film lain termasuk Hollywood. Lihat saja Departures yang menyabet piala Oscar 2009 kategori film berbahasa asing terbaik, ide ceritanya yang unik berhasil mengantarkan film ini mendapatkan penghargaan dimana-mana. Kali ini aku menuliskan 3 film yang dua diantaranya pernah mendapatkan gelar film terbaik Japan Academy Prize (Academy Award versi Jepang).
Continue reading ‘From Japan with Eiga’

Samurai High School

Judul asli: サムライ・ハイスクール (Samurai Haisukuuru)
Produksi: NTV (Nippon Television)
Jumlah episode: 9
Pemain: Miura Haruma, Watanabe Anne, Shirota Yuu


Cukup lama juga aku tak pernah nonton serial TV Jepang alias Dorama sampai habis (terakhir, aku nonton Densha Otoko). Kalaupun nonton, biasanya jarang-jarang sampai selesai. Jika ditanya penyebabnya, kebanyakan dari dorama memiliki ceritanya klise, membosankan dan bertele-tele (tidak semuanya sih, tapi kebetulan yang kutonton emang yang seperti itu). Yah, tentu saja tak se-bertele-tele drama korea yang panjangnya saja bikin aku males nonton hanya dari sekedar melihat jumlah episodenya. Dorama kebanyakan hanya memiliki jumlah episode pendek, paling belasan episode karena diputar per musim (samurai High School sendiri merupakan dorama musim gugur). Kebetulan aku nonton sampai habis dan relatif menyukainya, disini aku membuat tulisan resensi dorama ini.
Continue reading ‘Samurai High School’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: