The Message – Pesan atau Propaganda?

Film produksi China Mainland (RRC) ini bertaburan bintang-bintang serial silat terkenal China yang masing-masing sudah memiliki nama yang cukup dikenal oleh pecinta film-serial silat seperti Huang Xiao-ming (Yo Ko/Yang Guo dalam Return of The Condor Heroes 2006), Zhou Xun (Oey Yong/Huang Rong dalam Legend of The Condor Heroes 2003), Alec Su (Thio Buki/Zhang Wuji dalam Heaven Sword and Dragon Sabre 2003) hingga Li Bingbing (Penyihir rambut putih dalam The Forbidden Kingdom bareng Jet Li dan Jackie Chan). Film bertema thriller misteri dan bernuansa noir spionase ini diangkat dari adaptasi novel berjudul sama (judul asli feng sheng yang berarti suara angin alias gosip) karya Mai Jia yang memang cukup dikenal di RRC sebagai penulis novel misteri.

Film bersetting pada masa pendudukan Jepang di China dimana Wang Jingwei bertindak sebagai presiden boneka rezim militer Jepang dengan kedudukan di Nanking. Seiring dengan meningkatnya pembunuhan tokoh-tokoh politik dalam pemerintahan rezim Wang oleh pemberontak (alias pejuang dari versi Kuomintang), Kolonel Takeda mengindikasikan adanya mata-mata dalam biro anti pemberontak pimpinan Kapten Wu dan menitahkan agar mengumpulkan 4 anggota biro beserta pimpinannya Kapten Wu untuk diinterogasi. Hampir sepanjang film berisi adegan saling tuduh menuduh antara ke lima orang tersangka disertai dengan penyelidikan kelompok pimpinan Kolonel Takeda untuk mengungkap siapa sebenarnya si penyusup yang menggunakan nama sandi Lao Gui (setan tua). Selain itu juga info palsu untuk membunuh Jenderal Jepang bagi para pemberontak telah disebar agar mereka masuk perangkap dan tujuan lain dari penahanan 5 orang tersangka agar mereka tidak bisa membocorkan perangkap tersebut.

Terus terang saja, film ini kentara sekali hawa propagandanya yang mengusung patriotisme seorang mata-mata dalam membela tanah airnya. Memang tidak separah gaya propaganda film The Founding of a Republic yang malah bikin muak, unsur propaganda dalam film ini masih bisa ditolerir dengan hawa drama thriller-nya yang masih bisa dinikmati. Yang agak mengganggu, mungkin naskah ceritanya sendiri yang menimbulkan kesan betapa konyolnya para tokoh antagonis. Bayangkan saja, wakil Takeda yang bernama komisaris Wang sudah mengusulkan agar membunuh saja kelima orang tersangka supaya tak perlu repot menghabiskan waktu untuk interogasi. Takeda menolak dengan alasan yang terdengar omong kosong bagi orang sepintar dan sekeras karakternya, dan pada akhirnya justru segala macam rencana interogasi ini malah berakhir konyol dengan tewasnya orang-orang yang justru tak terlibat pemberontakan. Belum lagi beberapa kekonyolan lain dimana para interogator bertindak main tuduh dan siksa dengan sembarangan, bukankah itu sama saja dengan mengurangi jumlah tersangka dengan cara mematikan tersangka lainnya? Sebenarnya hal ini wajar untuk proses interogasi tahanan perang oleh militer, hanya saja kembali lagi ke ide awal interogasi, kenapa tidak dihabisi saja sejak awal? Kalaupun ingin mengorek data rahasia yang lebih mendalam, kenapa tidak disiksa saja semuanya sekaligus sampai mengaku? Toh pada akhirnya juga, tujuan akhir penahanan para tersangka agar perangkap yang telah disusun tidak bocor keluar (yang justru akhirnya bisa bocor akibat kekonyolan para antagonis). Bagiku hal ini sulit dimaafkan karena film ini bagaimanapun juga dari awalnya berniat menawarkan thriller psikologi yang seharusnya pintar meramu konflik antara interogator-tersangka juga konflik antar tersangka sendiri. Tentunya thriller jadi kurang menarik jika menampilkan antagonis yang kelihatan berkarakter pintar-pintar bodoh.

Apakah film ini jatuhnya menjadi film yang jelek? Oh tidak, paling tidak masih jauh lebih bagus dibandingkan film propaganda jelek yang telah kusebut diatas. Permainan Huang Xiao-ming (Takeda), Zhang Hanyu (sebagai Kapten Wu) dan Zhuo Xun (Nona Gu) cukup menarik koq, terutama akting Zhuo Xun yang ekspresif. Setting dan sinematografinya juga bagus dan terlihat mendukung suasana tegang film. Film ini agak membosankan di 2/3 awal, tetapi justru lebih menarik menjelang 1/3 akhir ketika identitas sang Luo Gui telah terungkap. Terakhir, sulitkah menebak siapa sesungguhnya si setan tua? Gampang! Aku yang menebak dengan alasan asal-asalan saja bisa dengan tepat menunjuk siapa sang penyusup dipertengahan cerita. Hanya saja masih ada kejutan lain bagi penonton selain identitas si setan tua. Judul bahasa inggris film ini mungkin mengacu pada pesan yang ingin dibocorkan oleh Luo Gui, walaupun aku justru menganggapnya sebagai lelucon bermakna ganda pesan propaganda pemerintah RRC.

3/5

4 Responses to “The Message – Pesan atau Propaganda?”


  1. 1 lambrtz January 10, 2010 at 1:15 am

    Memang tidak separah gaya propaganda film The Founding of a Republic yang malah bikin muak

    Saya malah pingin nonton The Founding of a Republic, tapi dari dulu belum sempat. Pingin nonton propagandanya.😀

  2. 2 Ando-kun January 12, 2010 at 11:21 pm

    @lambrtz
    Aku udah nonton The Founding of a Republic, tapi nggak abis, saking bosennya. Anda bisa melihat titisan dewa baik hati yang datang lewat sosok pria bernama Mao Zedong melawan jelmaan setan bernama Chiang Kaisek.😈

  3. 3 Swoosh August 10, 2011 at 5:20 pm

    Propaganda? Sejak kapan film perjuangan melawan penjajah dibilang film propaganda? Apa salahnya film perjuangan berbumbu patriotisme? Apa harus dibumbui komedi? Bagi yg tak pernah hidup di zaman perjuangan melawan penjajah, ketika negara terancam kehancuran, rasanya terlalu gampang menilai pesan cinta negara sebagai propaganda. But oh well, melihat blogger yg memakai nama jepang, saya tidak heran bah.

    • 4 AnDo August 11, 2011 at 10:58 am

      @Swoosh
      Udah nonton The Founding of a Republic dan The Founding of a Party belum?
      Kalau belum, silahkan tonton dulu dan asah otak anda supaya tidak terlampau tumpul dalam membedakan mana film perjuangan dan mana film propaganda.

      melihat blogger yg memakai nama jepang, saya tidak heran bah.

      Terima kasih buat pujiannya. Tahukah anda kalau film Jepang kayak Medeka 17805 juga saya bilang propaganda. ckckckck…. saya jadi kasihan sama anda. btw, apa anda bela2in komen begini karena anda Cina? saya tidak heran bah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: