(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi

Apakah cinta itu manusiawi ataukah bersifat Illahi

(500) Days of Summer

Walaupun Roger Ebert memberikan nilai 4/4 dalam review yang dibuat olehnya, aku menonton film ini dengan harapan rendah dan hanya berharap untuk medapatan hiburan dari cerita komedi romantis. Tahu sendiri lah Mr. Ebert seperti apa, kadang beliau gampang ngasih nilai tinggi buat film yang biasa-biasa aja. Tak disangka, pada awal film saja sudah muncul tulisan “this is not a love story”. Eh? Film apa nih? Sepertinya Roger Ebert gak salah ngasih bintang buat film ini. Sebenarnya sudah banyak blogger tukang nonton yang membahas mengenai film ini, tapi aku tertarik untuk membahasnya dari sudut pandangku. Mengapa? Karena aku pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi Tom Hansen.

Seperti judulnya, film ini bercerita dari sudut pandang seorang pria muda bernama Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt) yang bekerja di perusahaan greeting cards tentang hubungannya dengan seorang cewek bernama Summer (Zooey Deschanel). Film dimulai dengan bukan dari hari pertama, melainkan dari hari ke 488 (dari sini kita pasti beranggapan akan terjadi alur flashback karena cerita berlanjut ke hari pertama sembari menikmati informasi tentang tokoh utama dari narator). Lalu tiba-tiba kisah meloncat ke hari ke 290 (nah lho!). Kemudian cerita terus mengalir dengan alur bolak-balik tak beraturan. Tapi anehnya alur yang terkesan acak ini justru malah terlihat menarik dan mempermudah memahami tarik ulur hubungan Tom dan Summer hingga diakhiri dengan hari ke 500. Film ini juga semakin menarik dengan selingan lagu-lagu asyik yang ditempatkan dengan cara yang pas.

[edit] Beberapa lagu lama yang memorable buat penggemar lagu 1980-an:
You make my dreams – Hall & Oates [Tom menari di taman]
Here comes your man – Pixies [Tom menyanyi karaoke]
There Is A Light That Never Goes Out – The Smiths [Dari earphone Tom yg bocor dan didengar Summer yang akhirnya ikut bersenandung]

[Spoiler Alert]
Seperti yang telah diperingatkan diawal film, film ini memang bukan cerita cinta melainkan lebih ke arah perjalanan dan proses pendewasaan dari seorang Tom Hansen lewat hubungannya dengan Summer. Satu hal lain yang aku rasakan dari film ini adalah betapa cinta itu sangat manusiawi. Cinta yang bagaikan makhluk hidup, lahir ketika Tom bertemu Summer, beranjak remaja sewaktu bernyanyi di karaoke, tumbuh dewasa ketika Summer mencium Tom di tempat mesin photocopy, lalu akhirnya layu dan mati diakhir kisah. Tentunya sebelum ber-reinkarnasi kembali menjadi cinta dalam bentuk yang lain. Bagi orang yang putus hubungan cinta secara menyakitkan, dunia memang serasa kiamat. Tapi itu hanyalah akhir dunia dalam kepingan kehidupan Tom-Summer, dan itu berarti pula dimulainya kepingan kehidupan Tom dengan dunia baru yang lain. Terlihat dari tindakan Tom berhenti dari pekerjaannya dan memburu karir baru di bidang yang diminatinya hingga ending yang terlalu mengasyikkan kalau dibocorkan bagi yang belum menonton. Ah ya, selain adegan memorable menari di taman, pecahan fragmen realita dan harapan, serta ending yang manis kata gilasinema, munculnya Tom bernyanyi karaoke lagu Pixies yang berjudul Here comes your man juga spesial bagiku pribadi.

Film ini memang film biasa dengan tema biasa yang bercerita tentang hal-hal biasa dalam kehidupan, tapi eksekusi yang dilakukan sutradara ditopang dengan akting natural para pemerannya membuat (500) Days of Summer menjadi film tidak biasa tanpa jatuh jadi lebay seperti film-film komedi romantis lainnya. Cukup banyak momen-momen yang ditampilkan dalam film dapat membuat penonton seakan-akan melihat dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari sehingga penonton dapat ikut larut dalam aliran cerita. Sepertinya, aku menjadi tertarik dengan proyek film panjang sang sutradara Mark Webb yang berikutnya.

Rating: 4.25/5

Rab ne Bana di Jodi

Sebagai pembanding (500) Days of Summer, aku juga menampilkan film Bollywood yang berjudul Rab ne Bana di Jodi (jodoh dari Tuhan) dalam satu tulisan.
Eh? Ando-kun juga nonton film India? Boleh dibilang ini gara-gara pengaruh masbro Frozen yang pernah memasang foto tokoh Suni dalam avatarnya.
Memang sebenarnya aku kurang berminat nonton film India yang berdurasi panjang sehingga mungkin film ini adalah film India pertama yang kutonton setelah 5 tahun terakhir (Slumdog Millionaire itu film Inggris dgn setting dan pemeran orang India). Sesuai dengan judulnya pula, film ini justru kebalikan dengan tema (500) Days of Summer. Film ini memberikan impresi bahwa cinta itu bersifat Illahiah, bersifat ketuhanan. Bisa dilihat dari dialog antara Suni dan istrinya Tania, “aku mencintaimu karena aku melihat Tuhan dalam dirimu.

Film berkisah tentang Surinder Sahni alias Suni (Shahrukh Khan), seorang pria biasa saja, naif, pemalu, pegawai rendahan di Punjab Power, menghadiri pesta pernikahan Tania alias Tani (Anushka Sharma) atas undangan ayah Tani, mantan profesor pembimbingnya. Pesta pernikahan justru berakhir menjadi memilukan karena mempelai pria beserta keluarganya kecelakaan dan tewas dalam perjalanan menuju rumah mempelai wanita. Sakit jantung ayah Tani kumat (lumayan klise sih) dan sebelum wafat, sang profesor tua meminta Suni menikahi Tani. Setelah menikah dan mengadakan acara pengabuan mayat yang keduanya dilaksanakan dengan sederhana, Suni memboyong istri barunya pulang ke kampung halamannya di Amritsar, Punjab.

Cerita kemudian mengalir lancar mengetengahkan bagaimana Suni yang jatuh cinta pada Tani berusaha agar sang istri mau membalas cintanya, apalagi Tani telah mewanti-wanti Suni (jadi ingat Summer mewanti-wanti Tom soal cinta) betapa dia bisa saja menjadi istri yang baik namun soal cinta, dirinya yang lama telah mati. Awalnya Suni hanya ingin memastikan Tani gembira secara diam-diam dengan cara menyamar lewat bantuan teman baiknya Bobby seorang pemilik salon, namun justru samaran Suni dengan nama Raj Kapor justru menarik perhatian Tani. Jadilah cerita cinta ini menjadi hubungan segi tiga antara Suni, Tani dan Suni sendiri sebagai Raj Kapoor yang berpenampilan modern, cool, dan macho.

Satu hal yang ingin kutekankan disini, setting Amritsar yang dipilih sutradara benar-benar mengesankan. Entah kenapa adegan disekitar Kuil emas Sikh lebih terasa mistisnya daripada adegan di kuil seperti film-film India lainnya. Permainan Shahrukh Khan sebagai dua orang berbeda karakter cukup mengesankan dan agak berbeda dibandingkan dengan peran protogonis yang pernah dia bawakan sebelumnya. Akting Sharma sendiri cukup bagus, apalagi jika mengingat ini adalah debut Sharma sebagai pemain film. Aku bukanlah pengamat serius lagu-lagu film India, tapi lagu Haule Haule yang dibawakan didalam film benar-benar asyik.

Mengapa aku menyebut film ini memberikan impresi bahwa cinta bersifat Illahiah? Bagaimana tidak, sepanjang film banyak sekali adegan yang melibatkan campur tangan takdir (dari Tuhan). Beberapa kali Suni berusaha menghindar, tapi takdir tetap membimbing dirinya untuk semakin dekat dengan Tani (walaupun dalam sosok Raj). Kesan kebetulan dalam beberapa scene justru dianggap oleh Suni sebagai skenario cerita cinta yang telah ditetapkan Tuhan untuk dirinya dan Tani. Memang terlihat klise, tapi bagaimanapun juga film ini masih asyik untuk dinikmati.

Rating: 3.75/5

12 Responses to “(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi”


  1. 1 gilasinema December 28, 2009 at 2:20 am

    Aku juga sudah liat Rab ne Bana di Jodi. Lagunya asyik banget dan paling tersentuh ketika lagu pas di kuil itu lho (menjelang akhir). Cuman kadang sebel juga liat si cewek gak sadar-sadar.

  2. 2 Felicia December 28, 2009 at 7:40 am

    udah baca 2 review tentang 500 Days of Summer…
    dua2nya bikin pengen nonton…😀

  3. 3 Snowie December 28, 2009 at 12:52 pm

    Ttg isi cerita, kesimpulannya apa? Mana yg lbh bagus, cinta yg manusiawi, atau takdir Ilahi?

    • 4 安藤君 December 29, 2009 at 3:46 pm

      @gilasinema
      Paling berkesan liat akting Shahrukh Khan pas pertama kali dapat rantang buat bekal makan siang ke kantor. Ekspresinya itu antara tertegun, gak percaya, dll.

      @Felicia
      Silahkan cari filmnya.

      @Snowie
      Masing2 orang punya pendapat berbeda koq. Tapi secara penggarapan film, (500) Days of Summer lebih bagus menurutku. Sama ringan dengan Rab ne Bana di Jodi dalam hal cerita, tapi lebih mendalam dalam menyampaikan pesan.

  4. 5 jensen99 December 29, 2009 at 6:45 pm

    Akhirnya ada juga yang memberi pencerahan, apa sebenarnya yang dimuat Frozen di Avatarnya itu.:mrgreen:

  5. 6 Arm Kai December 29, 2009 at 11:51 pm

    kebetulan ada film ini di harddisk eksternal saya, ntar saya tonton dulu, trus update komen di sini:mrgreen:

    kalo yg film India-nya, ga komen dulu deh😛

  6. 7 Arm Kai December 30, 2009 at 4:02 am

    baru selesai nonton:mrgreen:
    dan jadi inget pernah hampir mengalami seperti Tom🙄 untungnya sebelum terlambat sudah menyadari duluan😎

    lagu2nya asik, pas juga penempatannya, jadi menyenangkan dengernya \m/
    saya suka ama endingnya, natsu ga owatta, ato wa aki ga kuru dayo ne?:mrgreen: tulung benerin kalo salah grammar😛😆

    • 8 安藤君 December 31, 2009 at 5:08 am

      @jensen
      sebenarnya pernah juga disinggung masbro frozen koq soal avatarnya, walaupun cuma sekilas:mrgreen:

      @Arm Kai

      ….hampir mengalami seperti Tom…. untungnya sebelum terlambat sudah menyadari duluan😎

      Berarti penjiwaan dan pengalaman anda kurang mendalam secara keseluruhan😈
      *sok expert*

      Adegan lagu the smiths dalam lift yg bocor dari earphone nya Tom lalu dikomentarin Summer… itu keren banget!!!

      Perbaikan: Habis Natsu, Terbitlah Aki😆

      Film Indianya sekalian lah, sekalian liat goyangan India, selingan buat goyangan ala britpop😆

  7. 9 Kurotsuchi January 1, 2010 at 9:18 pm

    olala… jadi ini tah yang pada diomongin temen2 blogger soal filem Tom Hansen nyang katanya keren itu😐 btw, satu-satunya film lembah hindustan yang bikin saya terperangah cuman satu, tapi saya nggak tau judulnya (nontonnya cuman kebagian buntut), soal orang yang diuber2 karena sudah menghabisi tokoh penting pemerintahan… ceritanya yang kurang lebih ngegambarin revolusi reformasi itu keren juga🙂

    • 10 安藤君 January 2, 2010 at 9:30 am

      @Kurotsuchi
      Makanya nonton donk spy bisa nyambung kalo gaul sama blogger lain…😈
      *maksa*

      Film apaan yah? Rasanya sih film India yg membahas ttg revolusi reformasi itu lumayan banyak. Gak kayak Indo yg apa2 keburu dilarang krn dianggap mengganggu ketentraman masyarakat🙂

  8. 11 frozen January 9, 2010 at 10:52 pm

    Huuwaaaa…!!! Rab Ne-nya direviewww~!!! X) X) X)
    .
    .
    .
    ahem™, maaf, histeris… u_u

    It’s great to be ordinary. Dan dari situ saya melihat justru Surinder benar-benar pria romantis dengan caranya yang elegan dan menawan–soft sweet slow (haule haule).😛 *halah*

    Satu hal yang masih menjadi pertanyaan saya—dan mungkin ini menjadi kritik bagi Aditya dan Yashraj Chopra dalam filmnya ini—adalah perihal “bagaimana mungkin seorang istri tidak mengenal sama sekali suaminya hanya karena dia mencukur kumisnya dan menggunakan pakaian ketat yang norak”. Ini pun pasti banyak dipertanyakan para penonton Rab Ne, saya kira🙄

    Banyak sekali “scene” yang membuat saya panas-dingin dan emosi turun-naik dipermainkan alur. Simak ketika menjelang bagian akhir, Surinder dan Taani menonton film di bioskop namun Taani pergi lebih dulu. Dan ketika Surinder mencari-cari namun tak ketemu, dan menduga Taani pulang duluan, ia malah mendapat telepon bahwa istrinya ada di bengkel Raju, mencari Raj. Saya yang melihatnya dibuat tertegun, seolah merasakan batin yang dialaminya.

    Ini menarik sekali. Seorang laki-laki cemburu pada laki-laki lain dan ingin menang darinya yang tak lain adalah alter egonya sendiri. Jika yang diburu adalah nafsu semata, tentu tak sulit bagi Surinder untuk mendapatkan Taani benar-benar, yakni dengan selamanya menjadi Raj, seperti yang dikatakan sahabatnya itu; “apa bedanya Surinder dan Raj, yang jelas dia telah mendapatkan Taani”, dan pandangan ini ditepis oleh Surinder sendiri. Surinder dan Raj memang orang yang sama, tapi berbeda jauh.

    Ah, banyak ikhtiar Surinder yang membuat saya kagum, lebih kagum lagi adalah betapa benar-benar teman sejati yang namanya Bobby itu. Dan di film ini saya benar-benar melihat (atau diperlihatkan), seperti apa dan bagaimana Tuhan campur tangan dalam sebuah kisah manusia.

    *ambil tissue*

    .
    .
    .

    *jadi ingin nonton lagi, sudah lama*
    *obrak-abrik folder Movie*

    • 12 Ando-kun January 12, 2010 at 11:16 pm

      @frozen
      wah… biang nya Rab ne Bana di Jodi dateng bikin komentar.
      btw, terima kasih krn telah memperkenalkan saya pada film ini:mrgreen:

      Soal kumis dan dandanan nyentrik, mungkin bisa dianalogikan Superman berubah jadi Clark Kent hanya dengan pake kaca mata plus rambut disisir terbalik😛

      ngomong2, komentar anda sepertinya sangat menarik untuk ditulis dalam postingan tersendiri. inspiratif.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: