Archive for December, 2009

(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi

Apakah cinta itu manusiawi ataukah bersifat Illahi

(500) Days of Summer

Walaupun Roger Ebert memberikan nilai 4/4 dalam review yang dibuat olehnya, aku menonton film ini dengan harapan rendah dan hanya berharap untuk medapatan hiburan dari cerita komedi romantis. Tahu sendiri lah Mr. Ebert seperti apa, kadang beliau gampang ngasih nilai tinggi buat film yang biasa-biasa aja. Tak disangka, pada awal film saja sudah muncul tulisan “this is not a love story”. Eh? Film apa nih? Sepertinya Roger Ebert gak salah ngasih bintang buat film ini. Sebenarnya sudah banyak blogger tukang nonton yang membahas mengenai film ini, tapi aku tertarik untuk membahasnya dari sudut pandangku. Mengapa? Karena aku pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya menjadi Tom Hansen.
Continue reading ‘(500) Days of Summer/Rab ne Bana di Jodi’

Resensi pendek dan singkat [2]

Akhir-akhir ini jatah nonton film serial berkurang karena banyak serial yang libur tayang menjelang natal dan tahun baru. Untuk mengisi kekosongan, film layar lebar kembali menjadi santapan penulis. Hanya saja karena lumayan banyak yang ditonton, ditambah malasnya penulis bikin resensi per film yang memakan waktu, akhirnya hanya membuat resensi pendek seperti ini yang bisa dilakukan. O iya, kali ini resensi pendeknya hanya menampilkan film-film produksi asia.

1. 4th Period Mystery (Korea, 2009)
Masih ingatkah kalian pada anak kecil yang minta fried chicken pada neneknya yang tua renta tapi malah dikasih ayam rebus dalam film Korea yang berjudul The Way Home? Yoo Seung-hoo adalah namanya, dan dia telah cukup dewasa untuk berperan sebagai anak SMU yang mencoba memecahkan kasus pembunuhan disekolah tempat dirinya belajar. Lumayan menghibur sih, terutama untuk penggemar wajah cewek-cewek korea yang cute dan menggemaskan. Tapi dari segi penggarapannya, misteri yang ditawarkan kurang gereget dan yang sangat terlihat adalah sutradaranya gagal membangun ketegangan. Padahal Yoo dan temannya hanya punya waktu untuk memecahkan kasus sampai jam sekolah berdentang di periode ke-4 tanda waktu ganti mata pelajaran. Jadinya malah mirip dengan drama remaja korea dengan selipan misteri pembunuhan yang renyah.

Rating: 2.75

2. Rebellion (Hongkong, 2009)
Shawn Yue mulai banyak terlihat wajahnya dalam film-film aksi produksi Hongkong akhir-akhir ini. Dalam film ini Yue berperan sebagai Po, tukang pukul boss gangster yang pada awal film sekarat akibat percobaan pembunuhan. Karena kekuasaan geng lowong selama menunggu penunjukan boss baru, Po ditunjuk sebagai boss sementara. Tentu saja hal ini membuat anggota geng lainnya merasa dilecehkan, cuma tukang pukul malah diangkat sebagai boss. Padahal masih ada anggota geng lainnya yang memiliki kekuasaan yang lebih besar. Film ini boleh dikatakan bergenre thriller detective karena selain menampilkan konflik antar geng, karakter yang dibawakan Yue juga bertindak sebagai detektif amatir untuk mencari dalang pembunuh si boss. Sayangnya akting Yue terlihat mentah dalam film ini, malah tokoh sekunder yang diperankan Champman To sebagai orang geng nomer dua lebih meyakinkan dibandingkan Yue. Aku benar-benar sebal dengan eksekusi akhir yang cuma menampilkan adegan flashback 3 bulan dan 1 tahun sebelumnya. Kesannya norak dan kayak tak punya ide untuk menampilkan ending yang lebih baik.

Rating: 2.75/5

3. Super Cub (Jepang, 2009)
Film ini mengambil tema yang agak mirip dengan film action komedi Perancis Taxi, hanya saja mobil Taxi digantikan perannya dengan motor ber cc rendah yaitu Honda Super Cub yang dipermak menjadi motor balap super cepat. Tokoh utamanya mantan jawara balapan liar Takeshi yang terpaksa bekerja part time di kedai soba ( jenis mie Jepang), termasuk mengantarkan pesanan dengan motor Honda Super Cub bergigi tiga. Ceritanya memang terlalu mengada-ada dan kadang humor orang Jepang dalam film ini terasa garing bagi penonton non-Jepang yang kurang mengerti tradisi humor orang Jepang.

Rating: 2.5/5

4. Murderer (Hongkong, 2009)
Film ini menarik perhatianku lebih dikarenakan posternya yang mengundang. Tampang manis Aaron Kwok disulap menjadi sosok yang aku sendiri sulit menggambarkannya. Marah? putus asa? gila? dendam? psikopat? entahlah. Yang pasti filmnya cukup menarik untuk diikuti. Thriller yang menegangkan, balutan misteri yang cukup bikin penasaran, plus sedikit adegan gory walaupun tak separah serial SAW. Aku suka dengan sinematografinya, tapi tidak dengan ritme yang dibangun oleh sang sutradara. Seharusnya film ini bisa jadi lebih menegangkan asalkan sutradaranya pandai mengatur tempo. Terlebih lagi Aaron Kwok terlihat over acting dalam memerankan tokoh detektif yang dicurigai sebagai pembunuh, apalagi pada adegan akhir yang menurutku gaya Kwok terlalu berlebihan.

Rating: 3.25/5

Menunggu penerus Ghibli: Karigurashi no Arrietty

Bagi penggemar film animasi buatan Ghibli, Studio Ghibli telah mengumumkan peluncuran film terbarunya yan berjudul Karigurashi no Arrietty (Arrietty si tukang pinjam) pada musim panas 2010. Film ini merupakan debut animator muda Ghibli kelahiran 1973 yang bernama Yonebanashi Hiromasa sebagai sutradara penuh, setelah sebelumnya bekerja dibawah mentornya Miyazaki Hayao (sebagai ilustrator dan animator Princess Mononoke, Spirited Away, Howl’s Moving Castle, hingga Ponyo) dan Takahata Isao (sebagai animator dalam My Neighbor Yamadas).

Karigurashi no Arrietty sendiri merupakan adaptasi dari serial novel The Borrowers karya penulis Inggris Mary Norton yang pernah di adaptasi ke dalam mini seri TV dan film layar lebar sebelumnya. Dua dari trio pendiri Studio Ghibli ikut terlibat dalam proyek ini. Miyazaki Hayao dikabarkan terjun langsung membantu Yonebayashi dalam pembuatan film animasi ini dibantu Suzuki Toshio sebagai produser, ketika Takahata sendiri sedang sibuk dengan proyek pembuatan film terbarunya yang telah lama ditunggu-tunggu, Taketori Monogatari yang dibuat berdasarkan cerita rakyat Jepang Kaguya Hime. Aku curiga, jangan-jangan kedua film ini bakalan dirilis barengan seperti Totoro dan Grave of the Fireflies. Bagaimanapun juga, karya perdana Yonebayashi ini patut ditunggu sekaligus menanti apakah regenerasi Ghibli akan berlangsung dengan sukses ataukah mereka harus menanti lagi dimasa depan, munculnya generasi baru yang akan melanjutkan tongkat estafet dari tangan trio Ghibli, Miyazaki, Takahata dan Suzuki.

Summer Wars – Antara perang virtual dan realita

Hito wo mamotte koso, onore mo mamoreru
~Dengan melindungi orang lain, diri sendiri juga terlindungi~

(Shimada Kanbei – Shichinin no Samurai aka Seven Samurai)
Para penggemar anime mungkin pernah mendengar nama sutradara Hosoda Mamoru sang sutradara versi anime adaptasi novel The Girl who leapt through time (dikenal dengan singkatan TokiKake) yang meraih penghargaan dimana-mana dan mengalahkan film buatan Ghibli, Tales from Earthsea yang dirilis pada tahun yang sama diberbagai festival. Kali ini Hosoda benar-benar fokus demi proyek Summer Wars hingga selama 3 tahun belakangan ini Hosoda hanya memiliki satu proyek saja dan menolak mengerjakan proyek yang lain. Hasilnya, Summer Wars tidaklah mengecewakan dari segi kualitas dan dapat menghibur orang-orang yang menontonnya. Film ini merupakan film anime kedua garapan Hosoda setelah debutnya 3 tahun yang lalu lewat TokiKake.
Continue reading ‘Summer Wars – Antara perang virtual dan realita’

Snow and Winter

Bulan Desember di Jepang berarti sudah mulai memasuki musim dingin dan di tempat-tempat tertentu (terutama Jepang utara) juga salju sudah mulai turun. Di Jepang tengah, walaupun salju belum turun tetapi udara sudah mulai turun dibawah 10 derajat di malam hari dan biasanya mulai mencapai puncak kedinginan di bulan januari. Aku sendiri tidak suka pada musim dingin, malah boleh dikatakan aku jauh lebih suka berpeluh-peluh berkeringat karena kepanasan dari pada meringkuk dibawah selimut sepanjang hari karena kedinginan.

Satu-satunya hal yang kusuka dari musim dingin hanyalah salju. Bukan salju yang bertumpuk di pekarangan ataupun salju yang berserakan di sepanjang jalan, tetapi lebih spesifik lagi salju yang turun dari langit. Melihat salju turun memang menyenangkan walaupun jika sudah sampai menjadi badai berubah menjadi menakutkan. Memasuki bulan Desember, WordPress juga menyediakan efek salju turun di halaman blog hingga awal Januari nanti. Untuk menyambut salju dan musim dingin, 3 buah tembang berlainan genre (Pop, Jazz fushion, dan JRock) yang dibawakan live oleh Mai Kuraki, Sukima Switch dan L’Arc~en~Ciel tentang salju dan musim dingin akan menyambut kedatangan anda. Selamat meringkuk dibawah selimut.
*Sleeping like a log*

Shiroi Yuki (Salju Putih) – Mai Kuraki

Fuyu no Kuchibue (Siulan musim dingin) – Sukima Switch

Winter Fall – L’Arc~en~Ciel


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: