Archive for October, 2009

Enka: Misora Hibari vs Tokyo Jihen

Genre enka adalah genre musik khas Jepang yang cukup populer, terutama dikalangan orang-orang tua. Untuk penjelasan lebih lanjut, bisa dicari infonya di lagi-lagi wikipedia.

Sebenarnya postingan pendek ini di tulis gara-gara masbro lambrtz bikin komentar beruntun tentang link youtube yang kutampilkan di facebook. Link yang berisi klip lagu Kurumaya-san yang dibawakan si ratu enka Misora Hibari memang unik (enka dengan sentuhan kental Jazz), sehingga tak aneh kalau Tokyo Jihen tertarik meng-cover lagu beliau dengan gaya berbeda (memasukkan unsur Jazz Rock). Menurut anda mana yang lebih baik? menurutku sih keduanya sama kerennya dengan ciri khas masing-masing. O iya, ini adalah satu-satunya lagu enka yang pernah dibawakan oleh Tokyo Jihen hingga saat ini. Silahkan menikmati lagu genre enka Kurumaya-san dalam dua versi.

Lirik lagunya sendiri bercerita tentang cewek Geisha yang menjalin hubungan gelap dengan pria beristri dan mereka sering berhubungan satu sama lain lewat surat cinta yang diantar oleh seorang Kurumaya-san. Si Kurumaya-san ini rupanya sering bikin kesal si Geisha karena pelupa dan suka ngilangin surat si Geisha.

Versi Queen of Enka, Misora Hibari sumber dari link ini

Versi Tokyo Jihen, sumber dari link ini

Nara-Kyoto-Osaka 2009 (bagian dua)

Melanjutkan kisah sebelumnya pada bagian satu yang menceritakan tentang kunjungan ke Nara.

IMG_0115Setelah bermalam di manga cafe yang terletak di daerah Dotonbori Osaka, kami berdua memulai perjalanan hari kedua menuju kota tua Kyoto yang menjadi pusat perhatian utama para turis yang datang ke Jepang. Ini adalah kali ketiga bagiku datang ke Kyoto setelah kunjungan sebelumnya pada tahun 2007 dan 2008. Ternyata aku masih belum bosan untuk jalan-jalan ke kota tua ini. Tujuan utama perjalanan ini adalah 清水寺 (Kiyomizudera), kuil Buddha yang terkenal dengan keberadaannya diatas pilar dan terletak diatas bukit yang memungkinkan pemandangan kota Kyoto. Tetapi sebelum itu, kami terlebih dahulu mengunjungi 東映太秦映画村 (Toei Uzumasa Eigamura atau kampung film Toei Uzumasa) dan 二条城 (Nijou-jou alias kastil Nijou).

IMG_0110Studio film milik Toei di daerah Uzumasa yang didirikan demi kepentingan pembuatan film genre Jidaigeki ini cukup menarik perhatian para turis karena menampilkan berbagai macam setting untuk situasi jaman samurai dari bangunan, jalan, sungai, jembatan hingga pasar. Benar-benar beruntung ketika berkunjung ke Eigamura, mereka sedang mengadakan pertunjukan yang dibintangi oleh seorang aktor yang cukup terkenal di dunia perfilman genre Jidaigeki, yaitu Fukumoto Seizo. Malah sempat foto bareng dengan si aktor yang masih berpakaian samurai. Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan ke kastil Nijou.

Gerbang masuk utama Ninomaru Gouten

Gerbang masuk utama Ninomaru Gouten

Kastil Nijou dikenal sebagai tempat tinggal resmi Shogun Tokugawa selama menjalankan tugasnya di ibu kota kekaisaran Kyoto untuk mendampingi tempat tinggal resmi Kaisar Jepang di Kyoto (Kyoto Gosho). Kompleks Nijoujou sangat luas tak kalah dari Kyoto Gosho hingga membuat kakiku kesemutan untuk mengelilinginya, dimulai dari gerbang utama, bangunan utama Ninomaru Gouten, Honmaru Gouten hingga tamannya yang luas. Hal yang paling menarik dari Ninomaru Gouten adalah lantai burung bul-bul yang akan berderit walaupun cuma diinjak pelan.
Taman disekitar Ninomaru Gouten

Taman disekitar Ninomaru Gouten

Konstruksi demikian dibuat untuk mencegah penyusup menyelinap masuk ketempat tinggal Shogun tanpa ketahuan. Kalau misalnya musuh Shogun mengirim seorang Ninja yang ingin membunuh sang Shogun, dipastikan dia harus mengirim Ninja dengan ilmu meringankan tubuh yang sangat mumpuni untuk menghindari jebakan lantai berderit. Selain itu gedung ini memiliki beberapa pintu rahasia tempat pengawal Shogun bersembunyi melindungi Shogun secara diam-diam.

2 Maiko dan gerbang depan kompleks, Nioumon atau Akamon

2 Maiko dan gerbang depan kompleks, Nioumon atau Akamon

Menjelang sore kami berdua bergerak menuju 祇園 (Gion), daerah pusat yang terkenal dengan banyak Maiko di Kyoto. Maiko adalah murid Geisha yang sedang berada dalam masa training. Karena sewa Geisha per jam sangat mahal, rata-rata hanya Maiko yang bertugas melayani tamu dengan diawasi langsung oleh Geisha yang men-training-nya. Sayang sekali, Maiko hanya bekerja pada malam hari, sehingga sulit ditemukan (lagi pula mereka bekerja didalam Machiya). Kami hanya melihat 3 Maiko saja, 2 orang ketika berada di Kiyomizudera (sepertinya diundang untuk sesi foto) dan 1 orang ketika berkeliaran di daerah Hanamikoji pada malam hari setelah pulang dari Kiyomizudera.

Salah satu dari koi Uranai no Ishi (Batu peramal cinta)

Salah satu dari sepasang Koi Uranai no Ishi (Batu peramal cinta)

Kiyomizudera yang berarti kuil air murni merupakan kuil Buddha yang dibangun “tanpa paku” dan berada diatas bukit dengan susunan pilar pada konstruksi dasar bangunan. Terus terang saja, Kiyomizudera merupakan tempat favoritku jika berkunjung ke Kyoto terutama sewaktu menikmati matahari terbenam disana sambil memandang kota Kyoto dari atas bukit. Di sebelah kompleks kuil terdapat jinja (kuil Shinto) bernama Jishu Jinja yang didedikasikan bagi dewi cinta dan jodoh. Disana akan ditemukan sepasang batu peramal cinta yang berjarak sekitar 18 meter. Silahkan baca di wikipedia tentang legenda dibalik Kiyomizudera kalau tertarik.

Kiyomizudera di waktu senja

Kiyomizudera di waktu senja

Setelah menikmati matahari terbenam di atas beranda Kiyomizudera, kami turun dari atas bukit setelah hari gelap dan sempat berputar-putar disekitar daerah Gion sebelum pulang kembali ke Osaka dan menginap di Manga Cafe daerah Dotonbori seperti hari sebelumnya. Malam itu benar-benar capek sehingga semua fasilitas Manga Cafe seperti makan eskrim dan minum sof drink/kopi/coklat, main PlayStation, serta Internet tak terlalu menarik perhatian. Setelah mandi, langsung tidur terkapar untuk mempersiapkan hari esok perjalanan ke 大阪城 (Osaka-Jou alias Kastil Osaka).

Bersambung: bagian akhir, Osaka Castle.

Koran Jepang tentang demo AV idol di Indonesia

Media cetak maupun televisi Indonesia memang ribut membahas pro kontra kedatangan Maria Ozawa untuk membintangi film yang direncanakan berjudul menculik Miyabi (padahal di Jepang sendiri, Ozawa sudah lama tak memakai nama panggung miyabi). Bagaimana dengan media cetak Jepang? Ternyata berita tentang pro kontra ini juga ada yang menghiasi media cetak Jepang, walaupun harus diakui bahwa hanya satu dari media cetak beroplah besar yang memberitakan hal ini yaitu Asahi Shimbun, itupun hanya memberikan sedikit info tanpa opini. Yomiuri Shimbun dan Mainichi Shimbun malah tak pernah menyinggungnya sama sekali. Berita tentang Indonesia yang mendominasi isi koran oplah besar ternyata mengenai gempa di Sumatera beberapa minggu yang lalu, termasuk cara penanggulangan, sistem pemberian bantuan obat-obatan dan makanan yang masih mengecewakan hingga berbagai macam tetek bengeknya seperti tentang konstruksi rumah masyarakat Indonesia yang gampang runtuh, walau terkena gempa berskala kecil sekalipun.

Asahi Shimbun
Asahi Shimbun membahas tentang kemungkinan pencekalan Maria Ozawa masuk ke Indonesia untuk tujuan syuting film, sehingga menyebabkan jadwal syuting film menculik miyabi tersebut terpaksa ditunda. Selain menuliskan komentar Menkominfo M. Nuh, Asahi Shimbun juga menuliskan keberadaan UU anti-pornografi.
“Walaupun tidak bugil, AV idol dilarang syuting” oleh Asahi Shimbun (10/13 ‘2009)

Shikoku Shimbun/Fukui Shimbun/Chuugoku Shimbun, dll
Shikoku Shimbun, dll menekankan tentang kontroversi kedatangan Ozawa-san yang berhubungan dengan keberadaan Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar sedunia. Lucunya, koran ini juga menampilkan foto lampiran pedagang kaki lima yang sedang menjajakan jualan DVD bajakan Maria Ozawa di trotoar jalan. Berita yang ditampilkan oleh beberapa koran online ternyata mempunyai isi yang sama, kadang dengan judul berbeda.
“Demo menolak pemakaian artis AV idol” oleh Shikoku Shinbun (10/14 ‘2009)
“Demo menolak pemakaian artis AV idol” oleh Fukui Shimbun (10/14 ‘2009)

Resensi pendek dan singkat

Selama 2 minggu nonton film dari yang ringan hingga yang agak berat, tapi males banget bikin review. Sepertinya virus kemalasan sedang menyerang para blogger akhir-akhir ini. OK, kali ini cuma review singkat saja dari hasil nonton dua minggu.

1. Tracing Shadow

Genre: Kungfu, Comedy
Sebetulnya film produksi Hongkong ini tidak terlalu istimewa menurutku, hanya saja kemunculan 3 pelawak dengan tampang mirip trio superstar Hongkong Jackie Chan, Jet Li dan Andy Lau plus gerombolan penyaru penyanyi Hip Hop asal Taiwan Jay Chou cukup memeriahkan film kungfu komedi yang dibalut petualangan mencari harta karun ini. Sayangnya hanya sekedar meriah, dalam artian tanpa berisi. Kehadiran anak kandung Jackie Chan yang bernama Jaycee ternyata tak terlalu menolong film ini untuk jadi lebih baik. Tapi untuk sekedar hiburan sih lumayan lah.

Mau lihat tampang plagiator sang superstar mirip apa tidak? silahkan lihat disini:
Trailer Tracing Shadow

Rating: 2.5/5

2. 20th Century Boys, 2nd Chapter

Genre: Adventure, Mystery
Sekali lagi aku kecewa dengan film Jepang dengan budget besar adaptasi dari salah satu manga favoritku ini. Setelah plot cerita yang lumayan dengan gaya flash back pada chapter pertama, bagian kedua ini justru berjalan datar begitu saja mirip dorama tanggung. Ada dua hal hal yang menarik perhatianku yaitu, pertama keberadaan si cakep imut Airi Taira yang berperan sebagai Kanna. Yang kedua adalah kemunculan Kenji kembali diakhir film sambil mengendarai motor, plus menggendong gitarnya. Bagi pengemar versi manga-nya mungkin film ini cukup mengesankan. Tapi bagi penggemar film, adaptasi kali ini menurutku mengecewakan.

Rating: 2.5/5

3. Mother (Judul Korea: Madeo)

Genre: Drama, Mystery, Detective
Film ini mengalahkan Thirst, film pastor yang berubah jadi vampir karya sutradara langganan festival Park Chan-wook dalam ajang pengiriman film wakil Korea Selatan ke ajang Academy Award. Tapi sutradara Mother sendiri bukan orang sembarangan. Nama Bong Joon-ho yang dikenal sebagai pembuat film adaptasi dari kisah nyata Memories of Murder yang juga banyak mendapatkan apresiasi positif kritikus dari berbagai ajang festival internasional.

Seperti juga Memories of Murder, Joon-ho sekali lagi menampilkan sinematografi yang menakjubkan dalam film Mother ini. Kisah seorang ibu biasa yang menjadi detektif amatir dadakan demi membuktikan ketidak bersalahan anak kesayangannya yang berpenyakit mental dalam kasus pembunuhan seorang anak sekolah. Kim Hye-ja berperan sebagai ibu yang akan berbuat apa saja demi anaknya, berakting bagus dan menyentuh perasaan. O iya, film ini adalah come back Won Bin setelah sekian lama absen dari dunia layar lebar. Aktingnya sebagai terdakwa pembunuh, seorang pria dewasa tapi berpikiran seperti anak kecil cukup meyakinkan. Berbeda dengan genre film “drama sedih” asal Korea seperti biasanya, sedih dalam film ini justru penuh dengan ironi kasih sayang ibu.

Rating: 3.75/5

4. The Taking of Pelham 123

Genre: Action, Thriller
Sebenarnya film bertema pembajakan kereta listrik ini lumayan bisa memberikan premis positif. Sayang, hanya sekedar premis tidak diikuti dengan kenyataannya. Akting Denzel Washington dan John Travolta tidak terlalu istimewa, walaupun tidak bisa dianggap jelek. Standar akting para aktor kelas atas lah. Lumayan tegang sih, tapi masih jauh untuk mendapatkan pujian sebagai film thriller terbaik. Hal yang paling menarik justru bukan pada cara pembajakannya, melainkan hubungan antara pasar saham dan ide membajak geng John Travolta.

Rating: 3/5

5. Overheard

Genre: Drama, Thriller
Film yang mengisahkan regu khusus para tukang sadap anggota kepolisian Hongkong ini lumayan menarik menurutku, apalagi dengan menampilkan rutinitas hidup para anggota regu yang kerjanya hanya menunggu, menunggu dan menunggu sang tersangka kasus trading saham ilegal kelepasan ngomong untuk dijadikan bukti di pengadilan. Sayangnya ketegangan diawal film ketika mereka memasang penyadap cuma begitu saja. Sisanya hanya menceritakan drama kehidupan anggota regu tanpa unsur suspense yang kuat, walaupun eksekusi diakhir film agak diluar dugaanku.

Rating: 3/5

6. Zombieland

Genre: Horror, Comedy, Road Movie
Campuran film zombie dan road movie ini sangat sukses meraih dollar dalam daftar box office movie. Ramuan komedi yang pas dalam perjalanan 4 survivor serangan zombie ini enak ditonton sebagai hiburan. 4 karakter berbeda dengan chemistry unik, dengan sukses ditampilkan untuk menghadapi para zombie. Tiap karakter diberikan nama berdasarkan daerah asal mereka yaitu Tallahassee, Colombus, Wichita dan Little Rock. Karakter Tallahassee yang dimainkan oleh Woody Harrelsson cukup menarik, terutama hobinya yang lebih suka membantai zombie dengan “penuh gaya” dari pada langsung tembak hingga menghadirkan Zombie Kill of the Week sebagai hiburan. O iya, komedian Bill Murray muncul sebentar sebagai dirinya sendiri yang selamat dari serangan zombie. Percayalah, Bill Murray masih mampu memancing tawa dari penampilannya yang cuma secuil itu. Tapi film ini tetap saja hanya sebuah film hiburan yang setelah ditonton dengan gampang dilupakan.

Rating: 3.25/5

K-On! Real Live Compilation

Lagi nggak mood bikin review anime K-On! Buat gantinya, aku bikin postingan ini saja. Walaupun secara plot dan cerita, K-On! masih kurang luar biasa sebagai sebuah anime, tetapi jika ditinjau dari segi musikalitas kukira anime bertema kelompok musik ini patut diacungi jempol. Lagu-lagu yang dibawakan oleh grup fiksi Houkago Tea Time alias After School Tea Time yang mewarnai anime 12 episode (plus 1 special episode) bagus dari segi aransemen musiknya. Selain laku dipasaran*), ending theme song Don’t Say Lazy juga berhasil meraih penghargaan Best Theme Song dalam Animation Kobe Award 2009. Kesuksesan ini dilanjutkan dengan perilisan CD single khusus image character’s song) yang menampilkan masing-masing karakter anime dengan seiyuu (pengisi suara) sebagai vokalis. Hampir seluruh lagu diciptakan dan diaransemen oleh Hyakkoku Hajime. Mengenai siapa vokalis Houkago Tea Time yang lebih cocok antara Mio dan Yui, Arm-suhu juga telah membahasnya di postingan ini
Continue reading ‘K-On! Real Live Compilation’


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: