Merantau – Kembalinya film laga rasa Indonesia

Pada saat mudik ke Indonesia, tentu saja tak akan kulewatkan untuk menonton film produksi negara sendiri. Tadinya aku berminat untuk nonton 3 film, tetapi akhirnya hanya film Merantau yang dapat kutonton. Film Garuda di dadaku sudah lewat masa tayang dan film merah putih mendapat rekomendasi jelek oleh seorang teman sehingga kulewatkan untuk menyelamatkan dana nonton filmku.

Sebenarnya sudah banyak orang yang menulis resensi dan sepertinya juga sudah banyak yang tahu isi cerita film ini. Bisa dibilang plot cerita film ini sangat klise dan sedikit mirip dengan film aksi Thailand berjudul Ong Bak yang dibintangi oleh Tony Jaa. Sama-sama menceritakan orang kampung yang datang ke kota besar (walaupun dengan tujuan berbeda) dan sama-sama menampilkan tokoh utama yang masih memiliki hati nurani yang belum ternoda oleh keras dan kejamnya kota besar.

Hasilnya kalau menurutku sih lumayan, terutama dari segi adegan fighting dan kamera yang cukup memukau penonton. Sayangnya eksekusi cerita ternyata tidak berbanding lurus dengan dua hal diatas. Masih banyak bolong-bolong yang harus diperbaiki oleh sutradara yang notabene orang Inggris bernama Gareth Evans. Memang ide pembuatan film merantau ini dicetuskan oleh Evans sendiri yang tertarik untuk membuat film fiksi tentang bela diri silat setelah sebelumnya pernah menyutradarai film dokumenter tentang silat di Indonesia. Aku sempat merasakan aura kebosanan dalam beberapa adegan drama yang sangat terasa dipanjang-panjangkan tanpa maksud jelas yang membuat film seakan berjalan tertatih-tatih. Untungnya saja adegan laga yang menjadi penghubung drama sinetron (terutama drama ber-setting Jakarta) cukup dapat membuatku tak terlalu mengidahkan adegan dramanya. Belum lagi gerakan kamera yang dinamis lumayan mengobati kekecewaanku.

Akting Iko Uwais sebagai pendatang baru tidak terlalu mengecewakan, paling tidak mungkin Iko bisa belajar banyak dengan Christine Hakim yang bermain sebagai ibu tokoh Yuda yang diperankan oleh Iko. Christine Hakim sendiri bermain baik seperti biasanya, sayangnya dialog bahasa minang tidak terlampau ditonjolkan (lebih ke dialog bahasa Indonesia dengan dialek minang) sehingga rasa ke”minangkabau”an Hakim kurang kental. Mungkin akting yang paling menyebalkan justru Sisca Jessica yang berperan sebagai Astri. Kata-kata umpatannya miskin banget dan selalu berulang-ulang sehingga aku teringat pada tokoh Justo dalam serial TV Little Missy, belum lagi akting ala kadarnya. Alex Abbad yang jadi pecundang antagonis lumayan bisa menampilkan tokoh oportunis dalam kehidupan malam Jakarta.

Dengan tampilnya film merantau ini aku harapkan bisa merangsang sineas Indonesia untuk menggarap serius pasar film laga yang kukira masih banyak diminati oleh penontonton lokal. Paling tidak, bisa berkaca film Ip Man sebagai contoh. Film Ip Man disutradarai oleh Wilson Yip, tetapi khusus adegan laganya disutradarai oleh Sammo Hung yang merangkap sebagai penata laga dan Yip terlihat menyerahkan sepenuhnya konsep penyutradaraan adegan laga kepada Hung yang memang sudah berpengalaman menyutradarai film, sehingga Yip bisa fokus untuk adegan drama. Toh masih banyak gaya silat Indonesia yang belum diangkat secara komersil ke layar lebar. Contohnya saja di kampungku nun jauh di pulau Belitung sana, Silat Sinding yang jarang diminati mulai kekurangan praktisi. Walaupun ini tak terlepas juga dari sistim pengajaran Sinding yang turun temurun antar keluarga dan memang Sinding jarang diajarkan karena seluruh pukulannya hanya ditujukan untuk membunuh lawan alias silat untuk perang.

Rating Film: 2.75/5
Sutradara: 2.5/5
Kamera: 3.5/5

11 Responses to “Merantau – Kembalinya film laga rasa Indonesia”


  1. 1 Snowie September 7, 2009 at 10:38 am

    Walau itu film yang ada hubungannya sama minang, saya gak begitu tertarik nontonnya.
    Mungkin karena imbas dari rasa illfeel saya sama hampir semua film Indonesia.😛

    Kok gak ada yang bikin ‘mikir’ gitu lho.

    Kasus Laskar pelangi dan Ayat-ayat Cinta, yang tenar itu aja, Saya gak begitu tertarik nonton Filmnya. Sampe sekarang, LP belum selesai saya tonton.😛
    Walau saya akui saya menyukai novelnya.

  2. 2 ierone @ myblog4famouser.com September 7, 2009 at 1:11 pm

    thx, resensinya
    semoga bermanfaat
    he…

  3. 3 Kurotsuchi September 7, 2009 at 5:20 pm

    btw, ‘Ong Bak I’ itu dulu filem thay favorit saya selain ‘Volcano High’. pas nontonnya pun saya sampe melongo, sehingga kk saya sempat mengira saya lagi kesambet dedemit😆

    untuk ‘merantau’ sendiri, saya merasa masih lemah dari segi alur cerita yang bertele-tele sekaligus menye-menye… satu-satunya hal yang masih bisa saya terima adalah adegan gebuk-gebukan yang masih mendingan ketimbang film laga indonesia a la Barry Prima dulu, atau pas eranya ‘Jacky’, ‘Jacylin’ hingga ‘Jalan Makin Membara’😛

  4. 4 Ali Sastroamidjojo September 8, 2009 at 12:27 am

    Saya sih punya masalah sama hampir semua film Indonesia. Masalahnya selalu di cerita; tidak engaging, tidak mengalir.

    • 6 Ando-kun September 8, 2009 at 6:26 am

      @Snowie
      Saya nonton Laskar Pelangi karena tertarik sama bukunya, bukan karena ber-setting di Belitung.:mrgreen: Tapi, aktor terbaik dalam film LP justru para aktor cilik nya yang baru pertama kali main film. Ironisnya aktor dewasanya yg berpengalaman kurang gereget.

      @ierone
      Ma kasih
      ho….

      @kurotsuchi
      Setuju. Mungkin kita butuh impor sutradara Hongkong sekelas Tsui Hark buat bikin film silat yang berkelas ceritanya, bukan sutradara bule😆
      Tahun berganti, teknik pengambilan gambar dan tata lagapun pasti berubah. Pernah bandingin film Jackie Chan akhir tahun 70-an dengan filmnya awal 90-an belum? pastilah berbeda, walaupun d Indonesia bisa dibilang lumayan telat perkembangannya.

      Soal melongo emangnya pas nonton Ong Bak I demen sama ceritanya atau adegan laganya? Menurutku sih, cerita Ong Bak I sangat klise, gak jauh beda dengan Merantau.

      @Ali Sastroamidjojo
      Iya masbro, itu juga yang jadi pertimbanganku jadi males nonton film Indonesia. Tapi diantara film2 asal buat, paling tidak ada nyempil satu dua film Indonesia yang bagus seperti film Jermal. Sayang kurang komersil.

      @pasha
      Betul, SERU! sayangnya kurang berisi. Semoga tak membuat sineas Indonesia jera bikin film laga yg bagus.

  5. 7 Kurotsuchi September 12, 2009 at 6:46 pm

    Soal melongo emangnya pas nonton Ong Bak I demen sama ceritanya atau adegan laganya? Menurutku sih, cerita Ong Bak I sangat klise, gak jauh beda dengan Merantau.

    haiyah… kalo Ong Bak I mah, alur ceritanya ndak penting!:mrgreen: bahkan, kalo itu filem tanpa alur dan cuman diisi adegan gebuk-gebukan saja saya justru tambah suka! ibarat nonton highlight liga premier, saya ndak perlu bosan sambil meracuni sistem perncernaan saya dengan kafein cuman buat nunggu gol tercipta di menit ke 3 babak perpanjangan waktu… jadi isinya yang adegan-adegan gol tercipta itu malah bikin saya tambah demen😉

    • 8 Ando-kun September 13, 2009 at 5:45 pm

      Ong Bak II malah alur cerita lebih gak penting lagi, bak bik buk nya lbh banyak dan keren. Pake banyak gaya tarung beragam lagi.

      Kalau diibaratkan nonton highlight, mungkin lbh mending nonton WWF Wrestling. langsung bak bik buk😆

  6. 9 bangmupi January 31, 2010 at 4:29 pm

    Lumayanlah untuk sebuah film aksi Indonesia, sudah berada di jalur yang tepat.😀

    • 10 安藤君 January 31, 2010 at 5:06 pm

      @bangmupi
      Kayaknya perfilman Indonesia gak ada semangat buat ngelanjutin bikin genre ini yah? Bingung, padahal tadinya aku berharap banyak.😦
      Yang muncul malah ide ngendatangin artis JAV main di film horor seronok😈

  7. 11 Michael June 5, 2013 at 1:48 pm

    Mungkin OOT nih
    Saya nonton film merantau ini sekitar 2 minggu lalu d stasiun tv lokal china cctv 6 dan di dubbing ke bahasa mandarin hehe..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: