Archive for September, 2009

Another season with a brand new story

Bulan September biasanya memang menjadi awal penayangan season baru serial TV di USA dan sekitarnya. 4 buah serial TV yang biasa kuikuti setiap minggu sampai sekarang juga mulai menayangkan episode terbaru mereka dibulan September. Diawali oleh penayangan episode perdana season 5 oleh serial Supernatural pada 10 September 2009 dan diakhiri oleh episode terbaru season 4 serial milik stasiun TV Canada yang berjudul Little Mosque on the Prairie pada 28 September 2009.

Supernatural
Kali ini serial Supernatural memasuki akhir dari penayangannya dengan menampilkan musuh terbesar dua bersaudara Winchester yaitu Lucifer. Nikmatilah petualangan akhir Dean dan adiknya Sam dalam season pamungkas ini, sebab kreator serial Eric Kripke sudah beberapa kali menyatakan kalau rancangan dasar serial ini mencakup 5 season. Setelah menyaksikan episode 1 hingga 3, aku merasakan kalau season kali ini akan lebih berfokus pada hubungan persaudaraan Dean dan Sam serta perselisihan mereka dengan Lucifer dalam mencegah Apocalypse. O iya, Misha Collins pemeran Malaikat Castiel kali ini naik pangkat menjadi regular cast.

Heroes
Sebenarnya aku agak kecewa dengan ending season 3 volume 4: Fugitive tahun lalu. Cara mereka menghidupkan kembali karakter Nathan benar-benar tak masuk akal. Mengapa para penulis melupakan cara mereka menghidupkan karakter Noah Bennet lewat transfusi darah Claire? Sangat bodoh kalau para penulis tak mengidahkan cerita dalam episode-episode sebelumnya, karena serial ini memiliki cerita berkelanjutan.
Tapi bagaimanapun juga serial ini masih cukup menarik untuk diikuti dengan ditampilkannya tokoh-tokoh baru dengan kekuatan berbeda, untuk mendampingi tokoh-tokoh Heroes reguler yang terus terang saja developing character-nya mulai membosankan.

Dexter
Sang serial killer favorite pemirsa kembali beraksi. Kali ini Dexter harus membagi perhatiannya antara hobi membunuh, kerja di laboratorium kepolisian dan kewajiban sebagai kepala keluarga. Dexter yang telah memiliki seorang istri cantik, 2 anak tiri, dan satu anak kandung yang masih bayi agak kesulitan mengatur waktunya. Masih cukup menarik untuk disimak lebih lanjut season ke 4 yang dimulai 27 Oktober 2009 kemarin.

Little Mosque on the Prairie
Ketika menyadari tokoh Reverend Magee telah angkat kaki dari serial ini, aku benar-benar kecewa. Tokoh pendeta favorite ku telah diganti dengan karakter pendeta baru yang bernama Rev. Thorne. Mengecewakan memang, namun tokoh Thorne yang sinis dan terkesan mirip gaya Chandler dalam serial Friends ternyata lumayan juga. Mungkin dia dimasukkan ke dalam serial untuk menambal sikap muslim-phobia Fred Tupper yang mulai lunak sejak season ke 3 tahun lalu. Mulai tahun ini, celetukan lucu dan segar Rev. Magee akan diganti dengan celetukan sinis dan offensive milik Rev. Thorne. Syukurlah tokoh J.J. yang menyebalkan itu telah disingkirkan karena mengganggu suasana serial sitcom ini menjadi drama romantis di tahun lalu.

Royal Tramp 2008

Judul lain: The Duke of Mount Deer, Lu Ding Ji, Pangeran Menjangan.
Produser: Zhang Jizhong
Pemain: Huang Xiaoming, Wallace Chung
Jumlah seri: 45 episode (Hongkong cutted version), 50 episode (versi RRC)

“It does not matter whether a cat is black or white. A cat that catches mice is a good cat.”(quoted from Deng Xiaoping)

royaltrampNovel wuxia alias cerita silat (cersil) yang diadaptasi menjadi serial ini merupakan novel terbaik karya Jin Yong menurut versiku. Bagaimana tidak? intrik, plot cerita dan terutama penokohan sangatlah unik bila dibandingkan dengan cersil karya Jin Yong maupun penulis terkenal lainnya seperti Gu Long, Liang Yusheng, Wen Ruian dkk. Bagi anda yang gemar membaca cersil karya penulis China seperti kawanan diatas maupun penulis lokal seperti Kho Ping Hoo, tentu akan mendapatkan ciri-ciri tokoh utama yang hampir pasti mirip. Lihatlah tokoh Guo Jing (Legend of Condor Heroes), Li Mubai (Crouching Tiger Hidden Dragon) dan Chen Jialuo (Holy Book and Sword) yang punya karakter pendekar sejati dan berbudi luhur alias orang gagah didunia persilatan. Atau karakter jago silat tangguh tanpa tanding seperti Yang Guo (Return of the Condor Heroes), Zhang Wuji (Heaven Sword and Dragon Sabre), maupun Li Xunhuan si pisau terbang (Flying Dagger series) akan terpatri dibenak anda sebagai tipe jagoan utama cersil yang sudah lazim. Tokoh pintar, licik penuh tipu muslihat biasanya diasosiasikan dengan musuh besar sang jagoan seperti halnya tokoh Yang Kang (musuh dalam selimut sekaligus saudara angkat Guo Jing dalam Legend of Condor Heroes) sampai Seng Kun (si licik dalam Heaven Sword and Dragon Sabre).

Dalam cersil ini, tokoh utama justru ditampilkan berkebalikan dengan ciri khas tokoh utama cersil seperti biasa, malah cenderung satu tipe dengan sifat musuh besar jagoan. Anda akan mendapatkan sang protogonis Wei Xiaobao yang pemalas, serakah, licik, tukang main perempuan, hobi judi, bermulut manis, tukang sogok, penuh dengan tipu muslihat. Sampai-sampai kategori khas jagoan utama yang jago silat pun tak dimiliki olehnya karena Wei Xiaobao sama sekali tak berbakat belajar ilmu silat. Satu-satunya kemampuan bela diri yang dimilikinya hanyalah ilmu melarikan diri. Dengan plot yang terbalik dibandingkan apa yang biasanya kita dapatkan dalam cersil, parodi dunia nyata dengan karakter yang abu-abu justru membuatku jatuh cinta serta menempatkan cersil ini sebagai the best wuxia novel that I ever read.

Plot cerita
Setting cerita dimulai dari jaman dinasti Qing, ketika suku bangsa Manchu menguasai daratan China. Wei Xiaobao, anak pelacur tanpa ayah yang jelas dari rumah bordil di Yangzhao, merantau ke kota raja Beijing ketika masih kecil dan masuk ke kota terlarang tempat tinggal kaisar sebagai kasim gadungan. Tanpa sengaja Xiaobao bertemu dengan kaisar Kangxi yang seusia dengannya dan Xiaobao yang tak tahu menahu dengan status sang kaisar cilik, berteman sebagai mana layaknya anak kecil lainnya. Cerita terus berlajut dengan Xiaobao sadar dengan status sahabat karibnya dan kondisi Wei Xiaobao pun berubah menjadi bawahan kepercayaan kaisar Kangxi.

Dilain cerita, Wei Xiaobao bertemu dengan kelompok anti-Manchu Tiandihui dan menjadi murid tunggal ketuanya Chen Jinnan, malah kemudian menjadi ketua cabang Tiandihui. Sejak itu Xiaobao menjalankan perannya sebagai agen ganda yaitu bawahan yang loyal bagi teman karibnya kaisar Manchu Kangxi sekaligus mata-mata dalam istana bagi Tiandihui. Dengan akal liciknya, mulut manis, tipu daya serta keberuntungannya yang besar, Xiaobao mampu menyelesaikan berbagai tugas berat yang diembankan oleh kaisar Kangxi dengan sukses sekaligus dilain pihak menyelamatkan para anggota Tiandihui dari kejaran pasukan kerajaan Manchu. Dalam petualangannya, Wei Xiaobao yang playboy berhasil memperistri 7 wanita cantik dengan akal bulusnya dan memperoleh 3 anak.

Akhirnya kaisar Kangxi mengetahui status Xiaobao dalam Tiandihui dan memaksa Xiaobao memilih antara dirinya sebagai teman atau Tiandihui. Satu-satunya karakter Wei Xiaobao yang baik dan menjadi kelemahannya adalah loyalitas. Xiaobao ingin sekali bisa loyal terhadap Kangxi sekaligus loyal kepada gurunya Chen Jinnan yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri, dan itu pula yang menyebabkan Xiaobao rela menjadi agen ganda. Xiaobao akhirnya sadar kalau dinasti Qing yang notabene bangsa Manchu dan Tiandihui yang ingin mengembalikan kekuasaan China ditangan suku bangsa Han tak bisa disatukan bagaikan air dan api.

wxbwives_bed
Wei Xiaobao dan 7 istri cantiknya

Sebenarnya novel wuxia ini sudah beberapa kali diadaptasi menjadi film layar lebar maupun serial TV. Yang terkenal diantaranya adalah film layar lebar Royal Tramp dengan Stephen Chow sebagai Wei Xiaobao dan serial TV The Duke of Mount Deer versi tahun 1984 dengan Tony Leung sebagai Xiaobao dan Andy Lau sebagai kaisar Kangxi (pernah disiarkan Indosiar dengan judul Pangeran Menjangan). Seperti juga halnya dengan cersilnya, produser Zhang Jizhong menggarap serial ini dengan penekanan pada tipu muslihat Xiaobao dan intrik yang melingkupinya, sehingga adegan laga tidak terlalu banyak dan malah boleh dikatakan kurang seru. Dalam beberapa hal versi 2008 ini memiliki irama penceritaan yang sama dengan versi 1984-nya Tony Leung-Andy Lau yang lebih berfokus pada hubungan persahabatan aneh antara kaisar Kangxi dengan Wei Xiaobao. Yang patut disayangkan, petualangan Xiaobao di Rusia dengan putri Sophia justru hanya diberikan berupa potongan kecil. Padahal kalau porsinya diperbesar dengan mengurangi beberapa adegan konyol yang tak penting tentu menambah daya tarik serial ini.

HeZhuoYan081Kelebihan serial ini tentu sudah bisa ditebak, yaitu kasting aktris pemeran 7 istri Xiaobao semuanya cakep dengan ciri khas masing-masing. Ada yang cakep judes, cakep anggun, cakep matang, cakep innocent, cakep imut, semuanya ada. Walaupun demikian karakter favorite ku tetaplah pemeran Shuang-erl (He Zhuoyan) yang cakep imut. :mrgreen: Selain itu juga desain kostum, sinematografi serta set dekorasi nya yang memukau patut mendapat pujian karena detailnya. Musical score nya juga lumayan memikat. Mungkin yang agak mengganggu adalah akting beberapa pemeran utamanya. Huang Xiaoming yang berperan sebagai Wei Xiaobao agak kaku pada awalnya, tetapi menjelang pertengahan terlihat dia sudah bisa menghayati karakter Wei Xiaobao. Wallace Chung sendiri terlihat kurang berwibawa dalam membawakan peran Kangxi. Justru yang mencuri perhatian adalah dua aktor cilik yang memerankan Xiaobao dan kaisar Kangxi kecil.

Salah satu isu yang dicoba untuk diangkat oleh Jin Yong dalam cersil karyanya yang terakhir ini adalah patutkah suku bangsa minoritas menjadi penguasa negeri dan memerintah suku mayoritas. Kebanyakan cersil (termasuk karya Jin Yong sebelumnya) memposisikan suku bangsa Manchu sebagai penjajah suku mayoritas Han di daratan China. Berdasarkan sejarah China yang tercatat, Kangxi termasuk salah satu kaisar yang berhasil memerintah China dengan sukses dan membuat rakyatnya aman makmur sentosa hingga jaman cucunya kaisar Qianlong (Kangxi merancang banyak pembangunan hingga diantaranya masih berlanjut sampai jaman cucunya memerintah). Walaupun ayah Kangxi seorang kaisar Manchu, ibunya berasal dari campuran suku bangsa Han bermarga Tong. Akan tetapi tetap saja hal ini belum memuaskan para pemberontak anti-Qing.

Sebetulnya kondisi Indonesia cukup mirip dengan China, yaitu memiliki banyak suku yang tersebar di seluruh negeri. Sadarkah anda kalau sejak memproklamirkan kemerdekaan, Indonesia hampir selalu dipimpin oleh presiden dari suku mayoritas? Mungkin posisi Sukarno mirip dengan kaisar Kangxi yang ibunya masih turunan suku berbeda. Pernah ayahku bercerita ketika beliau masih sekolah di kota Yogyakarta awal tahun 1960-an, banyak orang Jawa yang mengatakan Mohammad Hatta sebagai tukang nebeng Sukarno 😆 . Padahal menurutku yang pernah membaca beberapa karya tulis duo proklamator itu, isi pikiran Hatta jauh lebih rasional, maju dan rapi perencanaannya dibandingkan dengan kolega proklamatornya. Jaman sekarang juga masih banyak yang mengkampanyekan pemimpin yang putra daerah, alias turunan suku mayoritas (jadi ingat jaman kampanye Habibie yang mengklaim dirinya masih turunan bangsawan Jawa). Bagaimana dengan anda sendiri? Setujukah anda jika misalnya Indonesia dipimpin oleh orang yang asli suku Dayak, Asmat atau suku minoritas lainnya? Atau paling tidak, untuk pemimpin tingkat propinsi lah.

Kutipan Deng Xiaoping tentang kucing diatas dijadikan opini Wei Xiaobao pada akhir novel untuk mengungkapkan visi Jin Yong tentang kepemimpinan.

Relevansi Sejarah
Dalam petualangannya Wei Xiaobao banyak bertemu dengan tokoh yang akan berperan dalam sejarah dinasti Qing, khususnya pada masa pemerintahan kaisar Kangxi. Diantaranya yang sangat terkenal adalah:

Oboi, jenderal Manchu yang berkuasa mewakili Kangxi yang masih kecil dan membuat Kangxi menjadi kaisar boneka. Xiaobao membunuhnya untuk membantu Kangxi meraih kekuasaannya secara mutlak.
Wu Sangui, mantan jenderal dinasti Ming yang berkhianat dan berencana memberontak untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan dinasti Qing. Xiaobao membantu Kangxi dengan cara mengadu domba antar rekan Wu Sangui, sehingga kekuatan militer Wu Sangui menjadi lemah.
Chen Yuanyuan, wanita paling cantik seantero China pada jamannya dan menjadi ibu salah satu istri Xiaobao.
Li Zhicheng, pemberontak yang meruntuhkan dinasti Ming dan mengangkat dirinya menjadi kaisar baru, walaupun akhirnya harus turun tahta dengan cepat karena dikalahkan oleh bangsa Manchu.
Putri Changping, putri kaisar terakhir dinasti Ming yang menjadi guru salah satu istri Xiaobao dan Xiaobao sendiri.
Shi Lang, Laksamana yang menghancurkan sisa-sisa kekuasaan jenderal dinasti Ming di Taiwan. Shi Lang yang namanya kurang dikenal direkomendasikan oleh Xiaobao kepada kaisar Kangxi dan memimpin angkatan laut Manchu dalam menaklukkan Taiwan.
Zheng Keshuang, raja terakhir kerajaan Tungning turunan jenderal dinasti Ming (Koxinga) penguasa Taiwan.
Putri Sophia, anak perempuan Tsar Russia yang dibantu oleh Xiaobao mengkudeta saudara tirinya Peter I.

Un Prophete – Sang Nabi dibalik Terali

Judul lain: A Prophet
Sutradara: Jacques Audiard
Pemain: Tahar Rahim, Niels Arestrup

Bukanlah pekerjaan gampang untuk membuat film yang bersetting didalam penjara. Selain harus memaksimalkan ruang yang relatif sempit karena syuting ditempat yang itu-itu saja, sutradara harus pintar-pintar menerjemahkan isi skenario sehingga membuat film buatannya tidak membosankan selama 2 jam. Memang tak banyak-banyak amat film penjara yang pernah dibuat karena agak sulit membuatnya menjadi film menarik dan kalau bisa cukup komersil. Lihat saja film Lock Up nya Sylvester Stallone yang membosankan dan kurang laku, walaupun menjual nama si Rambo. Berbanding terbalik dengan film bertema serupa seperti Shawshank in Redemption dan The Green Mile buah karya dari novel adaptasi Stephen King yang sangat menarik untuk ditonton. Film ini disutradarai oleh Jacques Audiard yang dikenal sebagai sutradara The Beat That My Heart Skipped, sebuah film wajib tonton yang mengantarkannya meraih gelar sutradara terbaik Cesar award. Menurutku Audiard berhasil menyuguhkan penjara sebagai sebuah tempat tinggal yang penuh dengan kesedihan, ketakutan, kekerasan, kegembiraan, kebersamaan, sekaligus tempat untuk memulai harapan baru. Continue reading ‘Un Prophete – Sang Nabi dibalik Terali’

Largo Winch – thriller Perancis adaptasi komik Belgia

Aku memang lebih tertarik nonton film thriller buatan Perancis dari pada buatan Hollywood, padahal kalau dipikir-pikir buatan Hollywood jauh lebih bombastis dan banyak menampilkan adegan-adegan seru yang memakan banyak uang dollar. Selain itu juga, film thriller Perancis seringkali memakai cara penceritaan yang agak lambat diawal film, baru kemudian perlahan semakin cepat setelah pertengahan film. Beda dengan film Hollywood yang selalu berusaha menampilkan adegan tegang disetiap menit. Tapi ada satu kelebihan film thriller Perancis yang kusuka, mereka pandai sekali menyimpan kejutan-kejutan spesial yang akan membuat anda tahan menyimak setiap adegan hingga film habis. Kejutan-kejutan itu bagaikan kado yang disimpan dalam kotak yang berlapis-lapis bungkusnya dan disingkap sehelai demi sehelai sehingga membuat anda penasaran. Contoh film thriller Peracis yang kusuka adalah Tell No One yang pernah kubahas sebelumnya.

Film dimulai dengan dibunuhnya Nerio Winch (Miki Manojlovic) milyuner Perancis berdarah Balkan di kapal pesiarnya yang berada di perairan Hongkong. Karena kematiannya bisa menyebabkan kericuhan bursa saham dan mengacukan perekonomian dunia (mengingat perusahaan Winch Group W termasuk salah satu yang terbesar seantero jagat), kematian Winch dilaporkan akibat penyakit kanker. Dewan direksi Group W pimpinan direktur sementara Ann Ferguson (Kristin Scott Thomas) menjadi kacau balau, apalagi mereka baru mengetahui kalau si Winch tua ternyata mewariskan 65% saham miliknya kepada Winch junior bernama Largo yang keberadaannya dirahasiakan hingga tak satupun anggota direksi mengetahuinya. Largo Winch (Tomer Sisley) adalah anak angkat Winch tua yang memang sudah dipersiapkan untuk menggantikan kedudukannya sebagai boss kerajaan bisnis Winch.

Largo sediri sebenarnya enggan untuk melanjutkan kekuasaan bisnis ayah angkatnya, terlihat dari sikap pemberontakannya yang lebih suka bertualang sekehendak hatinya hingga masuk penjara dibelahan bumi Amerika Selatan dengan tuduhan menyelundupkan narkotik. Sampai akhirnya Largo mendapatkan bahwa ayah angkatnya bukan mati karena kanker, melainkan dibunuh. Dari sini mulailah cerita petualangan Largo dalam membuktikan dirinya sebagai pewaris asli kerajaan bisnis Winch, mencari dalang pembunuh ayah angkatnya, menelusuri jejak latar belakangnya di panti asuhan sebelum dipungut, hingga berkelit dari incaran pembunuh ayahnya yang ingin menguasai Group W dengan cara menghabisi pewaris akhir keluarga Winch.

Walaupun seperti film Perancis lainnya yang mengawali kisah dengan lambat, film ini lumayan bisa membuatku penasaran dengan membuka bungkusan misterinya secara perlahan dan satu persatu. Siapa yang berkhianat, siapa yang jual informasi pada musuh, siapa yang menjadi dalang cukup sulit ditebak. Kadang musuh menjadi kawan dan begitu pula sebaliknya hingga aku sampai beberapa kali tertipu salah menduga dan menebak.

Meski secara keseluruhan menarik untuk ditonton, film ini bukannya tanpa kelemahan. Kadang aku merasa sutradaranya Jerome Salle kurang bisa memaksimalkan beberapa adegan tegang sehingga terasa kurang seru. Belum lagi proses edit yang kadang bikin bingung antara mana adegan flashback dan mana adegan masa kini sehingga membuatku bingung dengan kehadiran Nerio Winch yang terlihat seperti hidup kembali. Music score yang ditampilkan kurang membantu mewujudkan ketegangan beberapa adegan aksi, akan tetapi cukup manis dan mulus ketika mengiringi peralihan adegan flashback. Hal terakhir yang agak kusesalkan adalah beberapa miscasting termasuk komedian Tomer Sisley yang didapuk sebagai Largo yang serius serta peran beberapa anggota direksi yang tidak terlihat cocok sebagai anggota dewan pemegang saham.

Sekedar info, film ini merupakan adaptasi komik Belgia yang juga pernah dibuat serial televisinya tahun 2001 seperti halnya komik XIII yang juga penah kubahas. Penulis cerita komik ini sama dengan penulis cerita komik XIII yaitu Jean Van Hamme. Sekali lagi, film ini menekankan nilai jualnya pada thriller dan misteri, sehingga sayang dilewatkan bagi anda para penggemar film jenis ini.

Rating: 3.25/5

Info sekolah di Jepang

Bagi yang berminat untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1 (undergraduate) di universitas negeri Jepang. Mereka membuka pendaftaran di Indonesia, Vietnam dan Thailand serta melaksanakan ujian masuk di negara masing-masing peserta. Kunjungi link dibawah ini:

Shizuoka University NIFEE Program

Merantau – Kembalinya film laga rasa Indonesia

Pada saat mudik ke Indonesia, tentu saja tak akan kulewatkan untuk menonton film produksi negara sendiri. Tadinya aku berminat untuk nonton 3 film, tetapi akhirnya hanya film Merantau yang dapat kutonton. Film Garuda di dadaku sudah lewat masa tayang dan film merah putih mendapat rekomendasi jelek oleh seorang teman sehingga kulewatkan untuk menyelamatkan dana nonton filmku.

Sebenarnya sudah banyak orang yang menulis resensi dan sepertinya juga sudah banyak yang tahu isi cerita film ini. Bisa dibilang plot cerita film ini sangat klise dan sedikit mirip dengan film aksi Thailand berjudul Ong Bak yang dibintangi oleh Tony Jaa. Sama-sama menceritakan orang kampung yang datang ke kota besar (walaupun dengan tujuan berbeda) dan sama-sama menampilkan tokoh utama yang masih memiliki hati nurani yang belum ternoda oleh keras dan kejamnya kota besar.

Hasilnya kalau menurutku sih lumayan, terutama dari segi adegan fighting dan kamera yang cukup memukau penonton. Sayangnya eksekusi cerita ternyata tidak berbanding lurus dengan dua hal diatas. Masih banyak bolong-bolong yang harus diperbaiki oleh sutradara yang notabene orang Inggris bernama Gareth Evans. Memang ide pembuatan film merantau ini dicetuskan oleh Evans sendiri yang tertarik untuk membuat film fiksi tentang bela diri silat setelah sebelumnya pernah menyutradarai film dokumenter tentang silat di Indonesia. Aku sempat merasakan aura kebosanan dalam beberapa adegan drama yang sangat terasa dipanjang-panjangkan tanpa maksud jelas yang membuat film seakan berjalan tertatih-tatih. Untungnya saja adegan laga yang menjadi penghubung drama sinetron (terutama drama ber-setting Jakarta) cukup dapat membuatku tak terlalu mengidahkan adegan dramanya. Belum lagi gerakan kamera yang dinamis lumayan mengobati kekecewaanku.

Akting Iko Uwais sebagai pendatang baru tidak terlalu mengecewakan, paling tidak mungkin Iko bisa belajar banyak dengan Christine Hakim yang bermain sebagai ibu tokoh Yuda yang diperankan oleh Iko. Christine Hakim sendiri bermain baik seperti biasanya, sayangnya dialog bahasa minang tidak terlampau ditonjolkan (lebih ke dialog bahasa Indonesia dengan dialek minang) sehingga rasa ke”minangkabau”an Hakim kurang kental. Mungkin akting yang paling menyebalkan justru Sisca Jessica yang berperan sebagai Astri. Kata-kata umpatannya miskin banget dan selalu berulang-ulang sehingga aku teringat pada tokoh Justo dalam serial TV Little Missy, belum lagi akting ala kadarnya. Alex Abbad yang jadi pecundang antagonis lumayan bisa menampilkan tokoh oportunis dalam kehidupan malam Jakarta.

Dengan tampilnya film merantau ini aku harapkan bisa merangsang sineas Indonesia untuk menggarap serius pasar film laga yang kukira masih banyak diminati oleh penontonton lokal. Paling tidak, bisa berkaca film Ip Man sebagai contoh. Film Ip Man disutradarai oleh Wilson Yip, tetapi khusus adegan laganya disutradarai oleh Sammo Hung yang merangkap sebagai penata laga dan Yip terlihat menyerahkan sepenuhnya konsep penyutradaraan adegan laga kepada Hung yang memang sudah berpengalaman menyutradarai film, sehingga Yip bisa fokus untuk adegan drama. Toh masih banyak gaya silat Indonesia yang belum diangkat secara komersil ke layar lebar. Contohnya saja di kampungku nun jauh di pulau Belitung sana, Silat Sinding yang jarang diminati mulai kekurangan praktisi. Walaupun ini tak terlepas juga dari sistim pengajaran Sinding yang turun temurun antar keluarga dan memang Sinding jarang diajarkan karena seluruh pukulannya hanya ditujukan untuk membunuh lawan alias silat untuk perang.

Rating Film: 2.75/5
Sutradara: 2.5/5
Kamera: 3.5/5


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: