Shinjuku Incident – Drama kekerasan imigran gelap

Produksi: JCE Movie Ltd. (2009)
Sutradara: Derek Yee
Pemain: Jackie Chan, Daniel Wu, Naoto Takenaka, Xu Jinglei, Fan Bingbing

Bukan hanya sekali Jackie Chan bermain film serius dalam artian keluar dari lingkaran film yang membuat namanya ngetop yakni eksyen komedi. Salah satu film serius terbaik Jackie yang pernah kutonton adalah Crime Story, film buatan tahun 1993 yang mengangkat kisah nyata penculikan usahawan kaya Hongkong. Selain itu Jackie juga pernah membuat film serius lainnya seperti New Police Story. Mungkin Jackie ingin sekedar refreshing dari dunia eksyen komedi dan mencoba bermain dalam film yang lebih menekankan akting dari pada mengadu jotosnya.

Jackie Chan bermain bagus sebagai Teitou si imigran gelap yang terdampar di jepang akibat mencari kekasihnya yang hilang, hanya saja akting Jackie dalam Crime Story masih lebih bagus dari pada film ini. Daniel Wu yang main bareng Jackie dalam New Police Story bermain lumayan bagus terutama dibagian awal film, hanya saja gayanya dipertengahan akhir film sebagai pecandu berpakaian ng-punk kayaknya kurang ngepas. Xu Jinglei yang jadi rebutan Andy Lau dan Jet Li dalam The Warlords kurang bermain total. Si cantik Fan Bing Bing terlihat berakting bagaikan pemanis saja (tampang cakepnya lumayan menghibur ditengah gersangnya wajah-wajah kereng dan sangar aktor lain). Para aktor Jepang lainnya sepertinya memiliki wajah balok, mimik muka mereka tampak kurang bisa berekspresi, apa mungkin karena peran mereka sebagai Yakuza mengharuskan berwajah cool? Hanya Naoto Takenaka yang bermain sebagai inspektur polisi Kitano bermain keren, lengkap dengan banyolan kasar dan dialog broken Chinese-nya. Aktor ahli bela diri Yasuaki Kurata yang baru-baru ini ikutan tampil dalam Blood: The Last Vampire hanya sekedar numpang lewat dengan dialog seperlunya. Jangan harap ada adegan pertarungan Jackie Chan vs Kurata dalam film ini seperti Jet Li vs Kurata dalam film Fist of Legend.

Walaupun film ini menampilkan beberapa adegan eksyen, tapi perkelahian yang ditampilkan hanya eksyen gaya serabutan alias tidak pakai jurus. Maklumlah tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam film ini, termasuk peran Jackie Chan, bukanlah sosok pendekar. Terus terang saja gaya berantem yang brutal dalam Shinjuku Accident mengingatkanku pada film-film bertema gangster China Triads Young and Dangerous yang pernah booming akhir 1990-an dengan bintang Ekin Cheng hingga sequel nya berseri-seri. Labrak sana sini, sikat kanan kiri, serabutan, sampai main keroyokan gaya tawuran hingga belepotan darah. Malah mungkin tawuran versi Shinjuku Incident lebih brutal. Ya, kalau dari segi eksyen film ini tidak menawarkan apa-apa, karena terlihat sutradara Derek Yee hanya ingin merefleksikan betapa kerasnya hidup sebagai imigran gelap.

Film ini menampilkan cerita drama kekerasan tentang nasib buruh imigran China yang datang sebagai pendatang gelap di Jepang dengan setting awal tahun 1990-an, ketika industry Jepang sedang sibuk-sibuknya menerima orderan disertai banyaknya imigran gelap China yang masuk ke jepang berkat masih lemahnya peraturan keimigrasian Jepang pada saat itu. Sebenarnya tema ini juga sudah beberapa kali diangkat oleh sutradara lainnya dan memang masih menjadi masalah dunia secara global. Ironis memang, kapitalisme yang melahirkan permasalahan buruh imigran gelap justru menolak kehadiran mereka secara terang-terangan. Memang permasalahan ini bagaikan pedang bermata dua. Disatu sisi menimbulkan permasalahan sosial, disisi lain roda industri membutuhkan buruh yang mau bekerja di lingkungan yang biasanya kotor dan berbahaya dengan upah rendah.

Yang patut kuacungi jempol untuk sang sutradara adalah usaha memotret hidup para imigran ilegal pada awal film hingga pertengahan. Potret para imigran gelap hidup berkumpul satu sama lain, dari saling mengajari trik “hidup mudah” bagi para pendatang baru hingga prinsip kekeluargaan yang saling membantu, dapat ditampilkan lumayan menyentuh. Penggambaran prinsip saling makan satu sama lain dan cari selamat masing-masing juga disuguhkan cukup baik. Sebenarnya pertentangan antara komunitas imigran gelap dalam film bisa ditampilkan tanpa melibatkan Yakuza terlalu banyak. Sayangnya skenario dan plot cerita mengharuskan demikian, sehingga film justru jatuh menjadi film perseteruan gangster-gangsteran. Drama mengesankan di awal cerita agak melorot ritmenya menjelang sepertiga akhir. Walaupun demikian, tetaplah film ini masih cukup layak untuk ditonton bagi para penggemar drama kehidupan manusia. Sekali lagi, jangan berharap Jackie Chan akan memamerkan jurus-jurus kung fu nya dalam film ini.

Salah satu dialog favoritku antara Jackie Chan dan Daniel Wu
Jackie Chan melihat temannya mengambil barang tanpa bayar.

Jackie: Eh, koq itu barang gak ada yang jagain?
Daniel: Orang Jepang nggak mencuri, jadinya mereka pikir orang lain juga sama kayak gitu. …. Goblok !!

Rating: 3.5/5

18 Responses to “Shinjuku Incident – Drama kekerasan imigran gelap”


  1. 1 Kurotsuchi August 6, 2009 at 6:56 pm

    another side of jackie? saya juga merasa begitu. bahkan dalam Rush Hour pun, saya merasa Jackie berkepribadian ganda, karena memerankan sosok polisi yang ‘keras’, namun tetap ‘membanyol’ dengan cara yang unik.

    pas dulu kali pertama liat posternya yang gede di M2S, yaa… saya langsung teringat dengan film geng brutalnya Ekin Cheng yang pake adegan potong jari segala… tapi potret jepang dari sisi yg lain malah lebih menarik menurut saya. secara selama ini kayaqnya yang ada adalah kehidupan modern dan serba tertib yang digambarkan secara sempurna via dorama.

    • 2 Ando-kun August 9, 2009 at 9:25 am

      @Kurotsuchi
      Memang akhir2 ini Jackie mulai mengurangi intensitas adegan eksyen berbahaya dalam filmnya. Bisa dlihat koq dari potongan2 klip di akhir film yang menampilkan Jackie be-stuntman ria dan terlihat kini dia lebih sering menggunakan pengaman.

      Jadi pengen ngembandingin sama drama Indonesia alias sinetron. Kalau orang luar liat Indonesia lewat sinetron, mungkin mereka berpikir, “Wah…. orang Indonesia ternyata tajir-tajir yah, tapi sayangnya sebagian kejam dan cerewet sedangkan yg lainnya lbh suka menyelesaikan masalah lwt air mata.

      NB. Hingga skrg sih sebagian besar orang jepang masih hidup tertib, teratur kayak robot koq. Yang suka hidup acak-acakan itu kebanyakan para pendatang alias orang asing.

  2. 3 lovepassword August 6, 2009 at 8:59 pm

    Jacky emang TOP

  3. 5 Kurotsuchi August 9, 2009 at 1:37 pm

    Hingga skrg sih sebagian besar orang jepang masih hidup tertib, teratur kayak robot koq. Yang suka hidup acak-acakan itu kebanyakan para pendatang alias orang asing

    well… thats news for me… pernah liat rekaman bullying di jepun, bro… sampe mikir, mosok sih di jepun ada yang seliar ini?

    dulu pernah punya temen OL asli jepun, tapi komunikasi udah keputus. lagian dulu cuman nanya2 hal sederhana soal penghasilan sama musik di jepun sih…

    • 6 Ando-kun August 9, 2009 at 2:19 pm

      @Kurotsuchi
      Terus terang aja, kondisi anak muda jepang jaman sekarang rada mengkhawatirkan para orang tua mereka. Mereka udah terbiasa hidup enak, jadinya daya tahan dan keuletan mereka kurang dibanding generasi sebelumnya.

      Hehehe…. Ttg bully mana ada sih negara dgn penduduk berperilaku sempurna? Di Jepang tuh kasus bully (alias ijimeru) udah sangat kelewatan sampai sering dibahas. Teman gw yg org jepun pernah bilang, kalau ada cewek pas SMA masih perawan, habis diledekin. dan aksi ijimeru kadang sangat keterlaluan dan parah (hingga membahayakan nyawa yg di kerjain atau plg tdk bisa membuat cacad fisik)

  4. 7 aNGga Labyrinth™ August 9, 2009 at 1:37 pm

    Udah nonton… ide ceritanya keren
    Tapi ngeri liat adegan-adegan gore nya,
    terutama pas tangan nya di ******

    Akhirnya… rada2 kurang puas sebenernya, kirain mo tersisa tinggal si jackie nya, ternyata amblas semuanya

    Satu kalimat yang melekat difikiran diriku
    “good man looking for good women”😀

    • 8 Ando-kun August 9, 2009 at 2:21 pm

      Hehehe…. Kalau aku justru lebih tertarik dgn dialog Jackie Chan dan Daniel Wu diatas, mengingat cara pandang orang Jepang trhdp orang lain (termasuk org asing)

  5. 9 Kurotsuchi August 9, 2009 at 1:41 pm

    ..errr… pernah ndak bro kepikiran buat ngulas soal sutradara? saya masih saja suka sama joko anwar. saya nilai dia jenius, karena bisa mengambil sudut2 pandang yang jarang diambil oleh sutradara lainnya. atau tim burton yang jago menciptakan filem bernuansa kelam…

    • 10 Ando-kun August 9, 2009 at 2:24 pm

      @Kurotsuchi
      Pernah. Misalnya tadinya aku mau bikin tulisan ttg 3 orang pendiri studio Ghibli selain Hayao Miyazaki yang sudah ngetop ampun2an itu. Jarang ada orang yg kenal nama Isao Takahata, maupun Toshio Suzuki.
      Tp gak tau kenapa, idenya lenyap gitu aja….:mrgreen:
      Ntar deh dipertimbangkan lagi.

      • 11 Kurotsuchi August 10, 2009 at 4:51 pm

        ho ho…
        jangan lupa buat ngulas mamoru oshii😉 saya sampe terperangah sangking bingungnya nongton itu GITS alias kokaku kidotai:mrgreen:

  6. 12 jensen99 August 12, 2009 at 1:42 pm

    Sperti komen saya disini, saya cuma tertarik pada Fan Bing Bing saja.:mrgreen:

    roda industri membutuhkan buruh […] dengan upah rendah.

    Bukannya itu jadi alasan dipakainya imigran gelap, sebab mereka tidak bisa menuntut upah layak karena illegal? Jadi inget nasib TKI ilegal di Malaysia, illegal, murah dan bermasalah..🙄

  7. 13 Ando-kun August 12, 2009 at 5:03 pm

    @jensen
    Fan Bingbing emang manis. Sayang, aku lbh suka sama Yang Mi si Guo Xiang dlm Return of The Condor Heroes 2006 dari pada si putri Huanzhu.😳

    Imigran gelap di Jepang sebenarnya pendapatannya lumayan koq. Cuma ya itu, pekerjaannya kebanyakan hal yang gak mau dilakukan orang Jepang kayak pekerjaan yg kotor/bau, pekerjaan berat, dll

  8. 14 swindleroz August 22, 2009 at 7:11 am

    Hingga skrg sih sebagian besar orang jepang masih hidup tertib, teratur kayak robot koq. Yang suka hidup acak-acakan itu kebanyakan para pendatang alias orang asing

    setuju, tahun saya dapet kesempatan visit japan (walau cuma beberapa hari) dan bener2 beda sama kondisi indo. vending machine dimanamana😀 dan ga ada satupun yang rusak

  9. 15 aryakuro August 30, 2009 at 10:33 am

    “Walaupun demikian, tetaplah film ini masih cukup layak untuk ditonton bagi para penggemar drama kehidupan manusia.” –> It’s true, I’m one of them! No one can beat reality. :p

    Definitely one of my favourite movies. You should give 0.5 extra for the score anyway, hahah…

    • 16 Ando-kun September 7, 2009 at 6:39 am

      @swindleroz
      ya jelas beda lah. yang satunya jepun, yang satunya lagi indonesia. gak sama tuh nama negaranya. apalagi perilaku penduduknya:mrgreen:

      @aryakuro
      Kukira aku sudah cukup menghargai film ini dengan skor 3.5
      jarang lho aku ngasih 3.5/5 buat film hongkong, dan memang menurutku film ini cukup menyentuh dan bisa membuat penonton cewek terkuras air matanya.

  10. 17 bosog July 30, 2011 at 7:08 pm

    film bosok


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: