Archive for July, 2009

K-20: Legend of the Mask

Judul asli: K-20: 怪人二十面相・伝 (K-20: Legenda si misterius berwajah 20)
Produksi: Toho dan NTV ( 2008 )
Genre: Mystery, Adventure, Fantasy
Sutradara: Shimako Sato
Pemain: Kaneshiro Takeshi, Matsu Takako, Nakamura Toru

Mungkin tidak terlalu banyak penggemar cerita detektif yang mengenal pengarang novel cerita misteri asal Jepang yang bernama Edogawa Ranpo. Di Jepang sendiri nama Edogawa dikenal lewat tokoh detektif fiktif rekaannya Kogoro Akechi, yang banyak dipengaruhi oleh tokoh detektif Sherlock Holmes ciptaan Sir Arthur Conan Doyle. Dalam cerita yang melibatkan tokoh Kogoro Akechi, salah satu rival berat sang detektif adalah si maling bermuka 20 alias Kaijin nijuu mensou (si misterius dengan 20 wajah). Film yang diangkat dari novel misteri karya Kitamura Sou ini menampilkan tokoh-tokoh ciptaan Edogawa Ranpo termasuk side-kick Kogoro Akechi, Kobayashi Yoshio dan geng detektif ciliknya (Shounen Tantei Dan). Bagi penggemar manga dan anime Detective Conan, tentu merasa familiar dengan banyak hal. Ya, memang Aoyama Gosho menciptakan Detective Conan berdasarkan karya dan tokoh ciptaan Edogawa Ranpo. Bisa dilihat dari pemilihan nama Edogawa Conan (nama Edogawa), Kogoro Mouri (berdasarkan nama Kogoro Akechi) hingga tokoh maling misterius Kaito Kid (berdasarkan Kaijin 20 Mensou).

Cerita film ini berlangsung pada dunia alternatif, dimana Perang Dunia II berhasil dihindari dan Jepang tak pernah terlibat dalam perang tersebut. Ibukota Jepang Tokyo dikenal dengan nama Teito (arti harfiah: Ibukota Kaisar), dan masyarakat Jepang terbagi menjadi dua kelas yaitu kelas rakyat jelata dan aristokrat yang hidup dengan strata sosial dan ekonomi yang jauh berbeda. Selain itu juga Jepang lebih banyak dipengaruhi oleh Jerman dibandingkan Amerika (pada kenyataan sekarang) dilihat dari sosial budaya dan sistem kemiliteran. Pada masa ini muncul sang maling misterius dengan panggilan Kaijin nijuu mensou (disingkat K-20) alias si misterius berwajah 20 karena kemampuan menyamarnya yang lihay dan banyak membuat para petugas hukum kewalahan mengungkap identitas aslinya.

Kisah berawal dari pencurian mesin transfer energi ciptaan ilmuwan jenius Nikola Tesla oleh maling misterius K-20. Pada kesempatan lainnya, detektif ternama Kogoro Akechi (Nakamura Toru) akan melangsungkan pertunangannya dengan Yoko (Matsu Takako), seorang wanita dari keluarga bangsawan Hashiba, yang memiliki lukisan “Tower of Babel” (tentu saja lukisan ini menjadi incaran K-20). Pada saat pesta pertunangan berlangsung, Endo Heikichi (Kaneshiro Takeshi) ditangkap dan dituduh sebagai K-20 yang mengincar lukisan “Tower of Babel”. Endo yang notabene seorang pemain akrobat sirkus, merasa dipermainkan dan dijebak oleh K-20 asli. Setelah berhasil meloloskan diri dengan dibantu oleh teman-temannya kelompok maling kelas teri, Endo bertekad mencari K-20 asli untuk membersihkan namanya dan membangun kembali kelompok sirkusnya yang telah dihancurkan oleh pemerintah melanjuti penangkapan Endo sebagai K-20. Pertemuan Endo dkk dengan pasangan Kogoro dan Yuko mengungkap ada suatu misteri dibalik lukisan incaran K-20. Selain itu juga timbul percikan konflik antara Endo yang mewakili kelompok masyarakat kelas bawah dengan golongan aristokrat dan bangsawan yang diwakili Kogoro dan Yoko. Dan pada akhirnya, benarkah Endo dijebak oleh K-20? Atau malahan Endo sendirilah K-20 itu? Silahkan menebak hingga film berakhir.

Awalnya aku menyangka film ini akan penuh dengan dialog-dialog yang membutuhkan konsentrasi tinggi layaknya film bergenre detektif misteri. Ternyata dugaanku salah, karena porsi petualangan mendapat jatah yang jauh lebih banyak dibandingkan cerita misterinya. Cukup banyak adegan aksi yang mewarnai film ini dengan bumbu komedi yang terselip diantaranya. Cerita misterinya sendiri lebih banyak berputar disekitar kemisteriusan tokoh maling K-20 dan barang incarannya. Ya, film ini lebih mirip dengan aksi petualangan Indiana Jones dibandingkan film-film adaptasi novel tokoh Sherlock Holmes maupun Hercule Poirot. Agak mengejutkan memang, apalagi mengingat sutradara Shimako Sato adalah seorang wanita (bukan isu gender lho, karena kebanyakan sutradara wanita cenderung menggarap drama atau komedi).

Sebenarnya konflik tentang pertentangan antara kelompok proletar dan borjuis cukup menarik untuk digali lebih mendalam sebagaimana V for Vendetta. Sayangnya sejak awal memang film ini ingin ditujukan sebagai film hiburan sehingga konflik antar kelas masyarakat tersebut tidak banyak muncul. Walaupun demikian adegan pergesekan antara gaya hidup bangsawan dan jelata cukup menarik karena ditampilkan dalam bentuk dialog humor antara tokoh Endo dan Yuko. Selain itu karakterisasi tokoh kurang mendalam, apalagi sosok Kogoro yang katanya detektif ternama namun tidak terlihat kemampuannya menganalisa kasus.

Kota Teito yang direfleksikan sebagai Tokyo tahun 1949 tanpa tersentuh perang dunia II ditampilkan dalam bentuk CGI yang lumayan bagus. Sedangkan kondisi Jepang pada tahun itu yang dipengaruhi Jerman disajikan dengan lumayan menarik. Lihat saja mobil polisi yang jaman sekarang ditulis dengan kata POLICE untuk mendampingi huruf kanji, dalam film ditulis dengan kata POLIZEI. Belum lagi gaya, seragam dan penampilan militer Jepang bak tentara Jerman pada jaman perang dunia II.

Boleh dikatakan film ini sangat menghibur, seru, tidak terlalu banyak mikir, dan penuh dengan aksi akrobatik ala sirkus. Mungkin bagi anda yang melihat poster dengan kostum mirip Zorro/Robin Hood dan menonton trailer menyangka kalau film ini mewakili genre superhero Amerika yang merebak melalui Superman, Spiderman dkk. Tapi bagiku film ini lebih bernuansa petualangan ala Indiana Jones dibandingkan superhero. Yang pasti durasi film yang berjalan dua jam ini cukup membuatku betah menonton hingga selesai. Sebagai hiburan akhir dipenghujung film, silahkan menikmati lagu The Shock of Lightning milik band asal Inggris Oasis yang menghiasi ending credit title.

Rating: 3.5/5

Advertisements

17 Again – Terperangkap tubuh remaja

Sutradara: Burr Steers
Pemain: Zack Efron, Leslie Mann, Matthew Perry, Thomas Lennon.
Genre: Drama komedi remaja
Tahun: 2009

Sewaktu nonton diawal film, aku sebenarnya tidak terlalu berharap banyak karena kupikir, “toh film ini cuma seperti kebanyakan film remaja Amrik lainnya”. Ternyata film ini melewati ekspektasiku karena cukup banyak nilai lebih dari 17 again yang ditawarkan, sehingga akupun ikut merekomendasikan film ini buat ditonton para remaja abg. O iya, kalau ngomong soal orang dewasa terperangkap dalam tubuh orang yang berusia lebih muda, koq aku jadi ingat dengan serial anime Detective Conan yah.

Film diawali dengan kisah pemuda 17 tahun bernama Mike O’Donnell tahun 1989 yang memutuskan menikahi pacarnya Scarlett yang hamil diluar nikah serta meninggalkan impiannya masuk universitas dengan beasiswa sebagai pemain basket yang sudah berada didepan matanya. Hidup tak selamanya berjalan mulus, demikian juga dengan kisah romantis Mike-Scarlett. 20 tahun kemudian Mike dewasa (Matthew Perry) gagal mendapatkan promosi kerja, dipandang remeh oleh anak-anaknya, dan akhirnya menghadapi tuntutan cerai dari Scarlett. Sambil menunggu keputusan pengadilan, Mike terpaksa keluar dari rumah keluarga mereka dan menumpang hidup di rumah teman karibnya sejak SMU Ned, bujangan kaya raya yang terobsesi dengan segala macam media fantasi seperti The Lord of the Ring hingga Star Wars. Ketika mengunjungi SMU tempat anak-anaknya bersekolah (sekaligus SMU tempatnya lulus), Mike bertemu dengan petugas kebersihan sekolah yang aneh dan tanpa sengaja berkeluh kesah termasuk menyesali keputusannya pada masa lalu. Secara misterius Mike bertransformasi kembali menjadi dirinya saat berusia 17 tahun. Sayangnya keinginannya kurang komplit, karena hanya dirinya yang kembali muda, tidak demikian dengan lingkungan sekitarnya. Hanya Ned yang percaya dengan kondisi kembali mudanya Mike. Dari sini film mulai berangsur menarik melalui interaksi Mike dengan anak-anaknya yang berusia sebaya, bingungnya Mike menghadapi Scarlett yang notabene ibu “temannya”, bahkan Ned yang menyamar sebagai ayahnya Mike malah memanfaatkan kondisinya untuk mengejar cewek idamannya yang tak lain adalah kepala sekolah SMU tempat Mike “bersekolah” kembali. Campuran komedi dan drama permasalahan remaja sederhana ini cukup pas racikannya berkat skenario yang ditulis Jason Filardi dan Keenan Donahue. Sayangnya sutradara Burr Steers kurang maksimal memberdayakannya tak seperti karyanya di tahun 2002 Igby Goes Down, yang jauh lebih menarik penggarapannya.

Sebenarnya tema tentang anak kecil yang terperangkap didalam tubuh dewasa telah berulang kali dibuat oleh Hollywood, termasuk beberapa film dengan bintang ternama seperti Tom Hanks dalam Big, Robin Williams dalam Jack dan Jumanji. Kali ini yang terjadi sebaliknya, dimana Mike dewasa terperangkap dalam tubuh remaja 17 tahun (jadi ingat bertukar perannya Jamie Lee Curtis dan Lindsay Lohan dalam Freaky Friday). Mungkin hal ini lebih gampang dijalani dari pada orang dewasa dalam tubuh anak-anak seperti Detective Conan misalnya. Yang terpikir oleh kita mungkin betapa menyenangkan menjadi muda kembali dan bisa bebas bermain-main tanpa memikirkan tanggung jawab sebagai orang dewasa dengan segala tetek bengek permasalahannya. Benarkah begitu?

Terlepas dari ending klise dan beberapa adegan lebay, menurutku disinilah letak menariknya film ini dan menyebabkan 17 again berbeda dengan film-film komedi remaja Amerika yang bertebaran di layar bioskop tanpa ada hal yang bisa dipetik. Bisa dilihat lewat adegan guru membagikan kondom untuk para murid di kelas (sebagai bentuk pencegahan hamil di luar nikah, sekaligus tindakan mengijinkan free sex bagaikan pedang bermata dua). Pada saat yang bersamaan, tokoh Mike justru bertingkah bagaikan orang tua yang menasehati anak-anak disekitarnya. Hanya saja karena yang “berbicara” adalah anak SMU, murid-murid lain mau mendengarkannya. Coba Mike “dewasa” yang memberi nasehat, kemungkinan besar seluruh murid bakalan menguap kebosanan sambil merutuk betapa kolotnya si “orang dewasa”. Mungkinkah ini suatu bentuk anak muda yang menganggap orang tua kolot? Memang seseorang tak akan bisa merasakan betapa sulitnya menjadi orang dewasa dan menjadi orang tua sampai akhirnya merasakan dan mengalaminya sendiri.

Dari seluruh kasting dalam film, terus terang saja aku merasa janggal dengan si Chandler Bing yang memerankan Mike dewasa. Zack Efron bermain lumayan baik dan aku yakin, keberadaannya dalam film cukup membuat cewek-cewek penonton bakalan nggak mau diajak naik ranjang oleh pacarnya. Pasangan yang patut di karuniai jempol ganda adalah Thomas Lennon dan Melora Hardin yang kebagian peran si teman karib Ned dan kepala sekolah. Terbayang adegan nge-date mereka mengobrol mesra dengan “bahasa Elf”, antara pengen ngakak dan balik pengen baca lagi trilogi The Lord of The Ring. Hehehehe……..

Rating: 3.25/5

Storm at the peak of Mount Fuji

Barusan turun dari gunung Fuji, capek dan bingung mau nulis apa. Ya udah ini dibikin postingan ngelantur tentang pendakian untuk kali kedua ke Fujisan (gunung Fuji dalam bahasa Jepang) pada 18 dan 19 Juli 2009.

Pertama kali aku melakukan Fujitozan (mendaki Fuji) sekitar tahun 2005, kondisi puncak gunung Fuji saat itu dalam keadaan berawan. Awan yang terlihat mirip kabut yang meliputi puncak gunung mengakibatkan pandangan mata tak bisa melihat apapun lebih dari jarak 5 meter, sehingga gagallah maksud hati yang ingin melihat matahari terbit dari puncak gunung yang banyak diincar para pendaki gunung Fuji itu.

Gunung Fuji dilihat dari Gogome (dalam keadaan cerah)

Gunung Fuji dilihat dari Gogome (dalam keadaan cerah) yang diambil dari pendakian sebelumnya.

Tahun ini pada kesempatan kedua sudah dipersiapkan dengan baik. Setelah meyakinkan diri lewat ramalan cuaca kalau hari sabtu/minggu (rencana pendakian) adalah Kumori tokidoki hare (berawan terkadang cerah), dengan harapan cerah lebih banyak muncul dibanding berawan, kami berempat berangkat dan memulai pendakian lewat jalur Fujinomiya (Ada 4 jalur pendakian yaitu jalur Yoshida, Fujinomiya, Subashiri, dan Gotenba), yaitu melalui pintu Gogome. Aku dan mas Iwan untuk kedua kalinya mendaki Fuji, Dauz untuk yang keempat kalinya, sedangkan untuk AAS pendakian ini adalah untuk pertama kali.

Hingga stasiun pendakian ke 9 (Kyugome) tak terlalu banyak hal menarik yang bisa diceritakan. Tapi setelah itu hujan badai yang tak disangka-sangka datang. Diawali dengan angin yang bertiup lebih kencang dari biasanya, lalu hujan lebat mulai mengguyur lereng gunung. Banyak rekan pendaki yang mengurungkan niatnya setelah mendapati situasi pendakian yang kurang menyenangkan tersebut, termasuk seorang teman yang masuk angin dan memutuskan berhenti mendaki dan menanti badai reda sebelum kembali turun. Sisanya kami bertiga tetap penasaran dan terus naik menuju puncak sambil berharap badai reda dan matahari terbit bisa dinikmati sesuai harapan.

Ditengah badai di puncak Fujisan (depan Jinja)

Ditengah badai di puncak Fujisan (depan Jinja)

Rasa penasaran itu terbayar dengan menyakitkan. Tiba di puncak gunung, bukannya pemandangan matahari terbit yang didapatkan. Badai justru semakin dahsyat hingga beberapa kali aku hampir terjungkal tertiup angin kencang. Mau foto-foto di atas gunung Fuji? yang ada kamera jadi basah dan foto-fotonya malah gak jelas gara-gara tersamar hujan deras. Karena situasi semakin tidak menguntungkan, kamipun berlindung didalam sebuah jinja (kuil shinto), menanti badai berkurang sambil berunding untuk tetap menunggu walaupun menginap (kemungkinan besar bakalan diusir oleh si pendeta shinto, hehehe….) atau nekad pulang turun sambil melawan badai.

Dalam pejalanan pulang turun gunung. Badai masih belum reda.

Dalam pejalanan pulang turun gunung. Badai masih belum reda. Hujan masih deras dan angin masih bertiup kencang.

Akhirnya setelah menunggu 5 jam dan badai masih belum mereda, diputuskan secara bulat untuk nekad pulang. Slowly but sure, kami pelan-pelan turun menjejak bebatuan gunung yang licin tertimpa hujan deras, sambil berpegangan satu sama lain sambil menatap ngeri jurang curam di kanan kiri. Yang paling menakutkan justru kencangnya tiupan angin yang sering kali membuat keseimbangan tubuh goyah menuju tepi jurang. Hingga Hachigome (stasiun pendakian yang ke 8), badai masih belum reda dan kami tetap terus turun menuju Nanagome (stasiun pendakian ke 7). Alhamdulillah, di Nanagome hujan mulai berhenti walaupun angin masih bertiup kencang. Beberapa pendaki yang baru mau naik menuju Hachigome bertanya tentang kondisi puncak kepada kami dan kami jawab apa adanya.

Akhirnya kami bertiga pulang kembali hingga Gogome dengan selamat serta bertemu dengan rekan kami yang telah turun terlebih dahulu. Apakah aku masih penasaran naik lagi dan ingin melihat matahari terbit dari puncak gunung Fuji? Lihat saja nanti.

NB. Lagu diatas memang tidak nyambung, hanya saja penulis termasuk penggemar Paul Gilbert dan kebetulan lagu yang dibawakan ada hubungannya dengan gunung Fuji :mrgreen: Istri Paul yang orang Jepang bernama Emi Gilbert terlihat memainkan keyboard dibelakang.

Another NB.
Barusan nemu berita ini walau beda lokasi tetapi pada waktu bersamaan dengan pendakian kami. Aku sungguh bersyukur masih hidup dan bernafas serta bisa pulang dari mendaki dengan selamat.

Laughing in the Wind – Simulasi politik dalam serial silat

Judul lain: The Smiling Proud Wanderer aka Xiao Ao Jiang Hu
Jumlah episode: 40
Adaptasi novel karya: Jin Yong
Produksi: CCTV China (2001)
Produser dan sutradara: Zhang Jizhong dan Huang Jianzhong
Pemain: Li Yapeng (Linghu Chong), Xu Qing (Ren Yingying), Wei Zi (Yue Buqun), Li Jie (Li Pingzhi)

XiaoNovel silat atau cersil (cerita silat) karya Jin Yong (alias Louis Cha aka Chin Yung) yang ini sudah diadaptasi menjadi beberapa film serial oleh stasiun TV Hongkong, Taiwan dan Singapura. Malah sutradara terkenal Tsui Hark pernah membesut film layar lebar yang berjudul Swordsman dan sequelnya Swordsman 2 dgn bintang Jet Li sebagai Linghu Chong. Kali ini CCTV dari China daratan pertama kali menghadirkan adaptasi novel ini dibawah pengarahan produser Zhang Jizhong yang dikemudian hari dikenal dengan karya adaptasi cersil Jin Yong yang lain seperti Demi-gods and Semi-devils (Jimmy Lin sebagai Pangeran Dali Duan Yu), The Legend of the Condor Heroes (Li Yapeng sebagai Guo Jing/Kwee Cheng), Return of the Condor Heroes (Huang Xiao-ming sebagai Yang Guo/Yo Ko dan meroketkan nama Crystal Liu sebagai Xiao Lungli/Shiao Liong-lie)) dan yang akan segera tayang The Heaven Sword and Dragon Sabre (Deng Chao sebagai Zhang Wuji/Thio Buki).

Cersil Jin Yong yang ini walaupun berisi intrik politik sejarah Tiongkok sebagai mana plot cerita karyanya yang lain, tapi Jin Yong dengan lihainya memasukkan kondisi politik masa kini kedalam perseteruan dunia persilatan tanpa memasukkan unsur sejarah. Setting cerita yang dibuat bias tanpa dijelaskan jaman kerajaan dan tahun berapa cerita berlangsung guna mencerminkan betapa intrik politik tidak memandang waktu dan tempat (walaupun dari situasi cerita bisa ditarik kesimpulan kalau setting adalah jaman dinasti Ming). Tokoh-tokoh penting dalam cerita memang dibuat Jin Yong berkarakter “spesial”. Anda bisa membayangkan ketua biara Shaolin, ketua partai Wudang, partai Hoasan, partai Kunlun, dll bertindak bagaikan para pemimpin partai politik didunia sekarang. Anda akan menemukan sosok politisi yang munafik dalam diri ketua partai Hoasan Yue Buqun, lalu anda juga akan melihat politikus ambisius dan licin dalam sosok ketua partai Shongsan, kemudian banyak tokoh oportunis yang suka memancing di air keruh. Mungkin sosok yang paling memorable dan kontroversial dalam novel ini adalah ketua sekte matahari-rembulan Dongfang Bubai yang mengebiri diri sendiri dan menjadi banci demi kekuatan dan kekuasaan. Judul aslinya Xiao Ao Jiang Hu yang berarti mentertawakan dunia persilatan lebih mengacu pada mengejek kemapanan palsu yang membuat para aktor utama kemapanan tersebut bertingkah munafik demi kekuasaan.

Ketika Jin Yong sendiri berkunjung ke lokasi syuting dan membaca skenario adaptasi ini, beliau agak kecewa dengan keputusan Zhang Jizhong yang mengkomersialkan beberapa plot penting dalam novel. Memang ada beberapa bagian novel yang diubah demi serunya visualisasi cerita. Beberapa alegori yang menarik terlihat dikorbankan oleh Zhang Jizhong. Misalnya saja kematian Reng Woxing yang aslinya mati tua karena sakit jantung (cerminan betapa manusia paling hebatpun tak kuasa melawan waktu) justru mati dalam pertarungan seru. Selebihnya, serial adaptasi ini menurutku menunjukkan kelas Zhang Jizhong sebagai produser serial adaptasi yang mumpuni.

Sebagaimana karya Zhang Jizhong yang lain, visual artistik dan sinematografi serial ini memang menjadi daya tarik utama. Anda akan disuguhi pemandangan indah alam China yang mempesona plus setting kota jaman Tiongkok kuno (Jizhong dikenal sebagai produser yang suka membangun set kota khusus untuk syuting filmnya dan setelah syuting selesai, kota tersebut dijadikan objek pariwisata). Kostum untuk para pemainnya juga lumayan, walaupun tidak terlalu wah seperti Return of the Condor Heroes buatan Jizhong tahun 2005. Huang Jianzhong sebagai sutradara terlihat agak kelabakan mengatur plot, walaupun demikian hasilnya tidak bisa dibilang jelek. Bagaimana untuk koreografi laga? Sebagai serial silat, adegan laga merupakan nilai jual penting. Karena hampir seluruh perguruan dalam cerita ini menggunakan pedang sebagai senjata utama, adegan laga dengan pedang banyak menghiasi layar. Sebenarnya koreografi tarung lumayan baik dan keren dipandang, hanya saja khusus untuk ilmu “9 jurus pedang Dugu” andalan Linghu Chong, justru terlihat lebay. Bayangkan saja jurus andalan tokoh utama hanya sekedar jurus jumpalitan loncat sana sini, benar-benar tidak mencerminkan jurus dahsyat.

Mengenai akting para pemain, Li Yapeng yang mendapatkan peran utama Linghu Chong justru bermain seperti terbebani. Linghu yang berkarakter seenaknya dan suka kebebasan justru terlihat kagok dan terikat. Pasangannya Ren Yingying dibawakan oleh Xu Qing dengan memikat. Xu Qing memerankan Yingying yang punya karakter cewek aneh, sulit ditebak dan angot-angotan dengan pas. Kadang aku jadi tersenyum sendiri melihat tingkah Yingying sewaktu sedang marah dan terlihat seperti ingin memutilasi Linghu, lalu tiba-tiba saja ngelendot manja kayak kucing sewaktu Linghu merayunya. Wajar saja kalau Jin Yong sendiri secara pribadi memuji Xu Qing yang dianggapnya sebagai Yingying dalam imajinasinya. Sebenarnya karakter Lin Pingzhi menurutku tokoh yang paling sulit dibawakan. Pingzhi mengawali kisah dengan karakteristik tuan muda yang hidup makmur, lalu seiring dengan pembantaian seluruh keluarganya membuat karakternya berubah dratis menjadi pemurung dan akhirnya jadi pendendam yang membuatnya menghalalkan segala. Aktor Li Jie membawakannya cukup bagus terutama dibagian akhir dimana sosok Pingzhi berubah menjadi gila dendam, hanya saja tampak ada yang kurang pada karakter awal sebagai tuan muda.

Kalau anda pecinta serial silat terutama karya Jin Yong, film ini merupakan salah satu serial yang patut untuk ditonton. Malah khusus untuk adaptasi novel The Smiling Proud Wanderer, serial ini masih merupakan yang terbaik.

NB.
Aku sudah membaca seluruh novel karya Jin Yong dan harus kuakui kalau novel yang ini masuk urutan nomor tiga dari 3 besar novel Jin Yong favorite-ku setelah Duke of Mount Deer dan Demi-gods and Semi-devils. Novel ini telah diterbitkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul bervariasi termasuk Pendekar Hina Kelana.

Catatan pribadi tentang situasi politik Indonesia berdasarkan novel:
Novel ini lebih mirip novel politik yang dibingkai cerita silat daripada sebaliknya. Inget Pemilu setelah reformasi kan? “Kumpulan partai lima gunung” mirip banget sama partai2 gurem yang kalah pemilu dan mencoba ikut lagi dengan berfusi menjadi partai besar untuk menandingi partai yang sudah eksis dan kuat akarnya sejak masa orde baru. Bolehlah Shaolin dialegorikan sebagai partai beringin kuning yang punya sejarah panjang, mengakar kuat dan didukung oleh pemerintah dinasti Ming dan kaum persilatan sebagai partai terbesar. Partai Wudang (Butong) sendiri merupakan partai baru yang langsung melejit menjadi partai besar berkat dukungan sana sini. Ketua partai pertamanya yang bernama Zhang Sanfeng dulunya merupakan alumni pemerintahan lama yang diusir (PHK) dan akhirnya mendirikan partai baru yang ternyata dengan cepat berkembang. Sayangnya generasi selanjutnya dari partai Wudang kurang mumpuni untuk menggantikan ketua pertamanya. Kira-kira partai Wudang mirip sama Partai Demokrat pimpinan SBY nggak yah? Belum lagi partai Hengsan yang merupakan satu-satunya partai dengan pimpinan perempuan (yang kelihatan dihormati oleh pemimpin lain, sekaligus dipandang remeh). Bolehlah anda membuat perumpamaan sendiri.

Rating: 3.5/5


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: