Blood: The Last Vampire – Live Action

Judul lain: ラスト・ブラッド alias Last Blood
Sutradara: Chris Nahon
Produksi: Multi-National production including China, Japan, France and USA (2009)
Pemain: Gianna Jun, Allison Miller, Liam Cunningham, Yasuaki Kurata, Koyuki

lastbloodTidak seperti Dragon Ball dimana aku sendiri bukan merupakan fans, Blood: The Last Vampire (BTLV) adalah salah satu anime favoritku. Ditambah lagi serial TV Blood+ yang menampilkan cerita alternatif yang lebih panjang dan detail tentang tokoh SAYA (sengaja ditulis dengan huruf besar) merupakan salah satu serial anime yang menarik perhatianku. Juga tidak seperti Dragon Ball Evolution (DBE), kemunculan live action BTLV lumayan menggugah minatku untuk menyaksikannya karena kebetulan aku menyaksikan dua versi anime diatas hingga tamat. Secara visual (adegan eksyen) memang cukup mengesankan, lebih baik dibandingkan dengan DBE. Tapi secara cerita boleh dikatakan masih jauh untuk dibandingkan dengan versi anime/manga/serial TV, walaupun plot dan garis besar cerita mengambil langsung dari film animenya.

Seperti juga film anime BTLV dan serial Blood+, film ini juga menampilkan tokoh utama cewek usia SMU berpakaian sailor (pakaian sekolah pelajar wanita Jepang) bergaman katana (pedang para samurai) yang bernama SAYA. Dalam film ini juga SAYA harus berhadapan dengan para makhluk penghisap darah yang disebutnya sebagai blood-sucker (kontras dengan dua versi anime yang dipanggil Chiropteran alias yokushu dalam bahasa Jepang yang berarti si tangan bersayap). Dalam petualangannya yang bersetting tahun 1970 ini, SAYA mendapatkan jejak Onigen (blood-sucker level atas) di Tokyo atas dukungan informasi dari organisasi rahasia yang bernama The Council. Untuk mendapatkan info lebih lanjut dalam Kanto Air Base (nama fiksi sebagai pengganti Yokota Air Base asli dalam anime) Tokyo, SAYA terpaksa menyamar sebagai murid SMU di sekolah khusus untuk anak-anak keluarga tentara yang bertugas di pangkalan militer tersebut. SAYA yang biasanya bertindak sendiri kali ini ditemani Alice, seorang anak Jenderal yang menjadi teman sekelasnya.

Awal film ini sebenarnya cukup menjanjikan karena adegan yang ditampilkan adalah adegan permulaan anime BTLV, dimana SAYA membabat orang yang diyakininya sebagai blood-sucker dalam aksi kejar-kejaran di dalam kereta listrik bawah tanah Tokyo. Untuk menggantikan peran organisasi rahasia Red Shield dalam anime, organisasi yang dinamakan The Council muncul untuk mendukung aktivitas SAYA dibantu dengan agen lapangannya Michael Harrison (David dalam versi anime). Tokoh baru sepasang agen kembar yang ditugaskan The Council untuk “membersihkan” jejak aktivitas SAYA juga sebenar cukup keren, namun sayangnya bersamaan dengan kemunculan tokoh Alice malah imej film jadi berantakan. Banyak sekali keanehan menyebalkan yang tak sesuai dengan alur cerita muncul dan malah mengganggu keasyikan penonton dalam menikmati film. Bagi yang tak berkeberatan dengan spoiler bisa mengunjungi situs ini untuk mengetahui keanehan yang menyebalkan tersebut, terutama yang berhubungan dengan tokoh Alice. Terus terang saja menurutku sutradaranya banyak melakukan kesalahan dengan banyaknya adegan yang terasa tidak nyambung.

Untungnya adegan eksyen lumayan keren, terutama adegan laga cukup mengobati kekecewaan. Terlepas dari proses editing yang agak mengganggu (harap maklum, edit diperlukan dalam adegan laga karena Jeon Jihyun bukanlah ahli bela diri), adegan laga garapan Corey Yuen yang gemar menampilkan wire-fu (Kungfu dengan kawat tipis yang membuat aktornya terlihat meloncat terbang) terlihat jauh lebih baik dibandingkan Dragon Ball Evolution maupun Street Fighter: Legend of Chun-Li. Beberapa adegan pertarungan agak mengingatkan pada film Crouching Tiger Hidden Dragon (CTHD), misalnya adegan kejar-kejaran diatas atap mengingatkan adegan Michelle Yeoh mengejar Zhang Ziyi yang bertopeng dalam CTHD. Untuk adegan laga lain non tarung seperti blood-sucker bersayap yang mencegat truk yang dikendarai SAYA dan Alice malah terlihat menyontek adegan Underworld: Evolution-nya Kate Beckinsale, sehingga meninggalkan kesan kurang enak. Beberapa adegan dengan spesial efek yang ditampilkan agak kurang berkesan, terutama darah muncrat buatan CGI yang terlihat menyebalkan. Teknik pencahayaan yang dipakai untuk menampilkan kesan suram cukup lumayan, paling tidak pilihan warna oranye kemerahan merupakan suatu pilihan menarik untuk menggantikan kesan suram anime yang mengambil warna abu-abu sebagai warna latar.

Akting para pemainnya termasuk standar biasa saja, malah beberapa pemain yang agak kaku berbahasa Inggris terdengar seperti sedang mengeja bacaan. Dengar saja dialog antara SAYA dengan Onigen yang diperankan aktris Jepang Koyuki terdengar seperti orang debat pidato. O ya, anda bisa menyaksikan kembali penampilan aktor senior spesialis film laga Yasuaki Kurata yang didapuk sebagai pengasuh SAYA yang bernama Kato. Terakhir aku melihat penampilan Kurata yang berduel dengan Jet Li dengan mata tertutup dalam film fist of legend.

Bagi yang penasaran ingin menonton film ini, tak usah berharap banyak. Cukup ditanamkan dalam pikiran anda untuk menikmati BTLV versi live action ini sebagai hiburan semata. Bagi penggemar aktris Korea si cakep Jeon Jihyun alias Gianna Jun kayak gue:mrgreen:, anda tidak akan melihat sosok yang streotip dengan peran-peran Jihyun sebelumnya yang menguras air mata. Disini anda bisa melihat aksi Jihyun dalam memukul, menendang, dan bermain pedang bacok sana bacok sini. Lumayan buat hiburan koq.

Rating: 3/5

8 Responses to “Blood: The Last Vampire – Live Action”


  1. 1 hakimicture June 23, 2009 at 10:30 am

    Nah, lo. Saya kira filmnya bakalan full bahasa Jepang. Kayaknya, enak nonton versi aslinya, dimana suara para seiyu terdengar nyaman dan gurih, baik ketika berbicara bahasa Jepang maupun Inggris. Seharusnya tidak usah dibuat live action ya…mending bikin animasinya yang panjang saja (maunya sih dua jam lebih), soalnya anime Blood : the Last Vampire yang dulu durasinya pendek banget, enggak sampai satu jam, cuma bikin ngiler aja.
    ———————–
    @hakimicture
    filmnya pake bahasa inggeris plus bahasa jepang untuk beberapa adegan.
    suara seiyu terengar nyaman dan gurih? kayaknya mendingan nonton di Jepang aja deh. disini ada 2 versi BTLV yg main di bioskop. Versi asli dari sononya dan versi dubbing bahasa Jepang lengkap dengan suara seiyu (yg katanya nyaman dan gurih):mrgreen:
    terus terang aja film anime BTLV emang bagus dr segi animasi blending 2D dan 3D yg unik, tp untuk karakterisasi tokoh dan cerita, serial Blood+ lebih menarik. Wajarlah, dari 48 menit cerita apa yg mau disungguhkan? itu jg dikurangi dengan adegan action yang memakan hampir setengah durasi.
    Kalau live ection nya sih cerita yang ditawarkan kurang greget. Nikmati aja adegan SaYA loncat sana sini sambil ngembacok si penghisap darah. Lumayan buat hiburan.

    *Setahuku sih kebanyakan orang yang bilang “lebih suka film bioskopnya daripada serial” malah belum pernah nonton serial Blood+. Atau paling nggak, cuma nonton bagian awal doang. Padahal Blood+ lebih menarik dari segi cerita, walaupun penokohan SAYA dalam film anime lebih cool*

  2. 2 gilasinema June 24, 2009 at 8:15 am

    Reviu di beberapa media di Indonesia lumayan positif lho. Penasaran melihat aksi Jeon Jihyun
    ——————–
    @gilasinema
    Mungkin penilaianku sedikit dipengaruhi anime, tp yang menyebalkan itu justru tokoh cewek amrik yang namanya Alice. Keliatan banget cuma tempelan dgn banyak adegan yg penuh dgn cheesy and silly moment. Malah tokoh Michael Harrison si agen lapangan The Council yang jauh lebih bisa dikembangkan, justru dikasih porsi dikit dan mentok begitu aja. Seharusnya hubungan antara SAYA dgn organisasi The Council jauh lbh memikat dibandingkan dgn anak jenderal yang (sok) mau tau.

    SAYA memang tokoh super yg kuat, tahan banting, bisa sembuh dr luka dgn cepat, stamina hebat, dll krn dia berdarah vampire. Tp Alice cm manusia biasa bisa dgn cepat beradaptasi jadi supergirl.
    Kayaknya sih si sutradara bule punya prinsip “save the white girl at the end of the movie”. Banyak banget adegan Alice hampir kena celaka kayak dikeroyok dan dikejar vampire, kebanting disana sini, dll tanpa menunjukkan sedikitpun luka atau bahkan cuma lecet sedikitpun. Puncaknya adegan terakhir dimana Alice terlontar dari ketinggian belasan meter karena ledakan hebat dan lagi2…. mendarat tanpa luka berarti, apalagi luka bakar.

    Hanya saja karena lumayan menghibur, aku berani ngasih poin 3/5.

    Jeon Jihyun? walaupun nggak nangis di film ini dan sibuk ngembacok vampire, dia masih ttp cute koq:mrgreen:

  3. 3 kayas June 26, 2009 at 1:35 pm

    yeah, saya pernah nonton beberapa episode serial Blood The Last Vampire, tapi ga tau gmn akhirnya krn cuma rental doang:mrgreen:

    klo anime nya udah sadis gitu, ga kbayang live action nya gimana. tapi dari dulu, jagoan film vampire itu ttp hollywood, selalu keren abis.
    ——————————-
    @kayas
    ngerental? mangkanya, cari DVD bajakan dong! Paling cuma berapa keping lsg tamat😆
    Jagoan film vampire Hollywood yah? wah, nggak tau juga yah. itu sih tergantung selera.😎

    o iya, Blood: The Last Vampire itu film anime koq, bukan serial anime. yang serial namanya Blood+. Durasi film anime BTLV pendek, nggak sampai 1 jam.

  4. 4 Oni Suryaman June 30, 2009 at 6:28 am

    semua film yang ada jeon jihyun wajib ditonton😛 bentar lagi main di blitz.
    btw nama baratnya gianna jun ya, baru tahu aku…
    ————————
    @Oni
    Hehehehe…. sesama penggemar Jihyun dilarang saling mendahului. Film ini lemah di skenario dan sutradara sih. Boleh dibilang nilainya 2/5 utk kedua hal diatas. Padahal kalau plot ttg organisasi rahasia The Council mau dibedah, bakalan mantap nih film.
    Soal nama aku juga baru tau, maklumlah dia baru ngambil nama barat pas mulai di film ini. buat go internasional sih katanya.

  5. 5 third child July 2, 2009 at 12:22 pm

    waduh..kalau menurut g si versi live actionnya biasa ajah, ga jelek tapi juga ga bagus..dari sisi efek jauh dr harapan, apalagi pengambaran chiropteran (versi tranmutasi)..kok terlihat cupu ya? ga kaya versi OVA nya yg mnurut g sangar, walaupun yg versi blood+ jg ga kalah gahar..dan tokoh SAYA juga ga se”cold-hearted” seperti di OVA, walopun jg ga semellow di blood+
    untuk adegan di airbase juga ga sespektakuler versi OVA, tp cukuplah..
    sayang cuttingan adegannya ga berjalan mulus, terasa ada lag nya (atau karena sensor?)
    tp buat yg ngefans sama blood (OVA ataupun blood+) wajib tontonlah..hanya nikmatin saja, ga usah terlalu dibanding2in sama animenya..masih jauh lebih bagus dibandingin sama dragonball dan street fighter..
    jadi penasaran sama evangelion versi live action..
    ——————–
    @third child
    Emang dari segi cerita (skenario) dan teknik pembuatan (sutradara), versi live action ini memang masuk biasa2 aja. cutting alias proses editing emang cukup mengganggu, apalagi setelah adegan perkelahian udah berjalan beberapa lama. selain terlalu banyak edit buat menutupi gerakan Jihyun yg kaku (maklumlah, dia bukan jago silat asli) sehingga semakin keliatan kalo Jihyun emang nggak bisa silat. Tapi masih mendingan dari pada gerakan Kristin Kreuk sbg Chung Li yg lebih mirip orang menari. Paling nggak Corey Yuen sbg penata laga tidak terlalu mengecewakan, mengingat dia saudara perguruan dgn Jackie Chan dan Sammo Hung.

    Ada 4 anime yg katanya bakalan jd live action yg gue tunggu, tp beritanya masih simpang siur:
    1. Evangelion, gak tuh nih kapan mau dimulai. skenarionya aja blm kelar, produsernya kebanyakan omong lagi.
    2. Akira, tadinya sama aja dgn NGE diatas. malah skrg lbh parah, nggak jelas juntrungannya.
    3. Cowboy beebop, katanya Keanu Reeves udah mau berperan sbg Spike Spiegel si bounty hunter. tetap aja blm ada kabar pasti.
    4. Saint Seiya alias Knight of Zodiac, lagi2 katanya bakalan rilis 2010. Gak tau tuh, jangan2 masih dlm tahap proyek development in hell.

  6. 6 Oni Suryaman July 3, 2009 at 2:50 am

    aku baru liat trailernya.
    kok jeon jihyun pake baju sailor kayaknya agak gak pantes ya. aura kecantikannya kurang keluar😛
    ————————-
    @Oni
    pantesnya pake apa yah On? casual, long dress, bikini, atau nggak pake sama sekali😈
    btw, udah kenceng nih koneksinya? udah bisa nonton yutub.

  7. 7 Oni Suryaman July 4, 2009 at 2:42 am

    dia itu pasnya untuk peran umur 20-an. jadi paling cakep pakaian casual mahasiswi atau pakaian kerja gitu…
    kalau yang gak pake apa2 itu soalnya bagi2 link aja kalau ada (emang ada an… :p )
    yang pas baju sailor itu kaya aya ueto. tampang anak SMP gitu. agak lolita gitu lah…
    —————————-
    @Oni
    Hehehehe… emang kalau Jeon Jihyun disuruh pake baju sailor kesannya terlalu dewasa.

  8. 8 wiby August 1, 2009 at 5:46 am

    wah…,, pengen liat =(
    di yogya belom ada…
    —————-
    @wiby
    cari bajakan dong
    udah ada koq y kualitasnya bagus hihihihi ….:mrgreen:


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: