The Ramen Girl – Membuat mie dengan hati

Sutradara: Robert Allan Ackerman
Produksi: View Company ( 2008 )
Pemain: Brittany Murphy, Toshiyuki Nishida, Sohee Park, Tammy Blanchard

Akhir-akhir ini aku jarang nonton film akibat sibuk beraktivitas, baik itu masalah kehidupan sehari-hari maupun aktivitas kampus seperti eksperimen, bikin laporan buat presentasi hingga cari beasiswa sana sini. Ketika ada waktu luang aku menemukan film ini dan tertarik dengan trailer yang kusaksikan lewat youtube. Jadilah film The Ramen Girl ini menemaniku menghabiskan waktu luangku.

Sayangnya skenario buruk, penggarapan apa adanya dan kasting pemain utama yang salah kaprah membuat film ini jadi sekedar tontonan lewat tanpa menimbulkan kesan apapun. Padahal temanya cukup menarik yaitu bagaimana ramen (mie china buatan jepang) bisa membuat perasaan orang yang memakannya menjadi menjadi lebih baik. Intinya sih dengan menyiapkan makanan dengan penuh perasaan, justru perasaan itulah bumbu yang akan membuat orang yang memakan sajian akan menjadi lebih baik.

Abby seorang wanita muda datang dari Amerika untuk menemui kekasihnya Ethan yang bekerja di Tokyo. Kenyataannya tak lama kemudian, justru Ethan mencampakkannya hingga Abby tiba-tiba saja menjadi wanita lemah tak berdaya dengan impian hancur berantakan. Ketika sedang meratapi nasibnya, Abby melihat kedai ramen didekat apartment tempat tinggalnya dan memutuskan pergi ke sana.

Di kedai ramen milik Maezumi ini Abby makan ramen dan sehabis makan tiba-tiba dirinya merasa dirinya lebih baik Pada kesempatan makan yang kedua Abby melihat betapa seorang lelaki yang sedang kusut pikiran menjadi bersemangat setelah makan ramen buatan Maezumi. Sejak itu Abby bertekad untuk belajar bagaimana membuat ramen yang bisa mengubah perasaan orang yang memakannya menjadi lebih baik. Maezumi yang dimintanya menjadi sensei (guru), justru memberikan tugas tukang bersih-bersih kedai hingga toilet. Bagaikan cerita film silat, sang guru yang keras mulai memberikan jurus-jurus membuat ramen mulai dari tugas yang kelihatan remeh. Cerita Abby belajar juga diselingi dengan interaksi Abby dengan Toshi pacar barunya yang orang Jepang turunan Korea dan Gretchen, seorang hostes kenalan Abby yang numpang tinggal di apartement milik Abby.

Tak jelas arah film ini mau dibawa kemana. Film dengan genre semi-cerita kungfu, drama cinta mengharu biru atau masalah kritik sosial budaya. Seluruh tema tadi disajikan campur aduk dengan tanggung, belum lagi hawa kisah semi-fantasi yang mengingatkan film chocolate-nya Juliette Binoche dan Johnnie Depp yang tidak tergarap dengan baik. Ada beberapa kelemahan dalam skenario yang justru memperlihatkan betapa tak masuk akalnya cerita yang dibuat. Misalnya saja bagaimana Abby bisa mempelajari teknik pembuatan ramen yang sempurna (yang katanya rumit) dalam waktu beberapa bulan, sedangkan untuk berkomunikasi dengan sensei Maezumi saja sering tidak nyambung. Lalu ada lagi cerita rahasia pembuatan ramen yang mementingkan kokoro (perasaan) sang pembuatnya. Bagaimana bisa Maezumi seorang pemabuk yang punya masalah keluarga dan punya karakter keras bisa membuat ramen yang mampu mengubah suasana hati pemakannya menjadi gembira. Padahal katanya jika peracik ramen membuat ramen dengan kondisi tak bahagia, sedih dan tertekan, sang pemakan akan terpengaruh dengan kondisi hati si peracik.

Tokoh utama Abby yang dimainkan oleh Brittany Murphy terlihat bagaikan tokoh opera sabun atau lebih cocok lagi sinetron Indonesia yang penuh dengan tangis, lemah tak berdaya, lalu tiba-tiba bangkit melawan dengan bersimbah air mata. Jika Jihan Fahira cocok berperan dalam Sinetron Tersanjung dan sequelnya, maka Brittany Murphy terlihat cukup mewakili perumpamaan Jihan Fahira dalam film ini. Sohee Park yang membawakan tokoh Toshi hanya bermain ala kadarnya. Yang bermain mendingan justru Toshiyuki Nishida, aktor Jepang yang berperan sebagai pemilik kedai ramen Maezumi. Gaya tengil, cerewet dan kasar Nishida sebagai mentor pembuat ramen cukup jitu dan berkesan, hanya saja sayangnya skenario yang kurang kuat membuat Nishida tak bisa berbuat lebih banyak lagi. Begitu pula dengan Tammy Blanchard yang memainkan karakter Gretchen sebenarnya cukup menarik tapi sayang tokoh yang dimainkannya sendiri terlihat hanya sekedar tempelan.

Anda tak perlu membandingkan film ini dengan film bertema bentrok budaya dengan setting Jepang seperti Lost in Translation ataupun film Perancis yang berjudul Fear and Tremblings yang kubahas sebelumnya, karena perbedaan kualitasnya cukup jauh.

NB. (edit untuk yang ingin mengetahui perbedaan ramen, soba dan udon)
mie
Kategori mie di Jepang ada beberapa macam. Jenis mie Jepang yang sering dimakan adalah Soba (terbuat dari buckwheat dan berwarna kecoklatan) dan Udon (bentuk mie lebih tebal, berwarna putih, mirip kweetiau), sedangkan ramen adalah jenis mie China (seperti mie kuning buat mie rebus) yang pembuatannya telah dilokalisasi ala Jepang. Aku sendiri belum pernah makan ramen satu kalipun, maklumlah seluruh ramen mengandung lemak dan irisan daging babi.
Mie instan di Indonesia mungkin identik dengan instant ramen di Jepang karena bentuk dan kemasannya yang mirip, apalagi mie instan pertama didunia dibuat di Jepang dalam bentuk instant ramen. Seperti juga ramen biasa, instant ramen juga mengandung unsur babi.

Rating: 2.25/5

7 Responses to “The Ramen Girl – Membuat mie dengan hati”


  1. 1 lambrtz May 25, 2009 at 2:06 pm

    Aku sendiri belum pernah makan ramen satu kalipun

    Beli Indomie rasa ayam aja bos, sama rasanya:mrgreen:
    (kalo di kantin korea tempat saya sih kaya gitu)

    *habis liat trailer*
    Roshutsu!๐Ÿ˜ฏ
    ———————————-
    @lambrtz
    O gitu toh……….
    Kalo gitu mendingan makan indomie rasa mie kocok aja deh, lebih mantap:mrgreen:

    *liat ulang trailer*
    Mana??????? Mana???? Cuma gitu doang koq….๐Ÿ˜Ž

  2. 2 adi May 26, 2009 at 6:32 am

    kalo ramen tuh kayak mie instan? soalnya pernah liat di anime. btw … dapet filmnya di mana nih? donlut sendiri?
    —————————————-
    @adi
    Soal ramen dan mie instan sudah dijawab lewat editan tulisan diatas.

    dapet filmnya sih kalau tidak dunlut sendiri, tentu lewat nonton streaming atau dapet pinjem dari teman.
    The Ramen Girl juga ada tuh di youtube link ini.
    Cuma kalau setelah nonton dan kecewa, jangan salahkan gue

  3. 3 jensen99 May 28, 2009 at 2:41 pm

    Saya belum pernah makan ramen dan udon, dan bener2 pengen nyoba…๐Ÿ˜

    *penggemar segala macam mie kuah*

    BTT, dari resensimu tampaknya ceritanya memang aneh dan gak jelas fokusnya. Ide ceritanya dari mana ya? Maksudku, kenapa harus cewek barat di negeri timur? Apa gak ada lagi makanan selain coklat yang bisa dijadikan “perubah hati” di dunia barat sana? Atau makanan Asia bianggap lebih ‘masuk akal’ untuk ‘berkekuatan mistis’?:mrgreen:

    mungkin tahun depan akan ada sequelnya dengan menampilkan Gudeg Jogja, dibintangi Aya Koizumi
    ———————————–
    @jensen
    Harusnya sebelum download, aku mesti merati’in siapa bintang utamanya.Kalau tau dr awal nggak bakalan kudownload, ngabisin waktu doang.

    Saya belum pernah makan ramen dan udon, dan bener2 pengen nyoba…๐Ÿ˜

    ramen dan udon? soba udah pernah makan yah?
    btw, bagi yg makan soba tuh ati2. pastikan dulu nggak alergi, soalnya aku pernah berapa kali ketemu orang alergi makan soba. Makan dikit aja, kulit merah dan gatel, malah kalau banyak bisa di infus masuk rumah sakit.

    O iya, semua ramen disajikan panas2. Tp Soba dan udong disajikan tergantung musim. Musim dingin, mie-nya disajikan panas2, musim panas disajikan dlm kondisi adem.

    Makanan orang bule tuh menurutku kurang enak dan kurang variatif. emang sih, lbh sehat krn kebanyakan direbus tp bukannya rasa adalah segalanya:mrgreen:
    Yup, makanan asia memang memiliki kekuatan mistis. Nggak percaya? Liat aja makanan yang ditaroh dimeja sesembahan orang china. mistis khan๐Ÿ˜†

    Nggak usah jauh jauh lah, Mie ayam Girl.
    *bacanya Mie-ayam Girl atau Mie Ayam-girl*๐Ÿ™„

  4. 4 jensen99 May 29, 2009 at 4:59 pm

    ^

    soba udah pernah makan yah?

    Blum pernah juga, cuma ntah knapa lebih ngiler ramen & udon.:mrgreen:
    BtW makasih infonya soal soba. Syukurnya sejauh ini gak pernah alergi makanan tertentu.๐Ÿ™‚

    tp bukannya rasa adalah segalanya

    Amen to that!

    *bacanya Mie-ayam Girl atau Mie Ayam-girl*๐Ÿ™„

    Sialan!๐Ÿ˜† ๐Ÿ˜†

    *ngakak*
    ———————–
    @jensen
    Kalau baca komentar lambtz sih, rasa ramen nggak jauh beda sama indomie kari ayam tuh:mrgreen:
    Tapi udon dan soba agak beda dibandingkan mie biasa.

  5. 5 piko June 9, 2009 at 5:28 am

    sial… jadi laper…
    —————
    @piko
    Hehehehe… laper sama Ramen-nya atau laper sama Girl-nya?๐Ÿ˜†

  6. 6 Rusli June 9, 2009 at 3:33 pm

    klo saya lbh sk makan bakso ayam ja dech…….???hi..hi….,
    —————————
    @Rusli
    Namanya jg nyicip masakan luar negeri, nggak berarti nggak suka sama masakan lokal.

  7. 7 chielicious July 13, 2009 at 3:12 am

    Aku cuma pernah makan ramen, itu pun di indo ya,,gak mengandung buta sama sekali jadi mungkin rasanya beda ama yg aseli jepun ~^^ menurut ku sieh beda rasanya ama mie instan indo dari kuahnya.. mie instan kan terlalu banyak MSG =_=
    —————————-
    @chielicious
    instant ramen jg kayaknya sama aja dgn mie instant indo, mengandung MSG. Tp dr pada makan ramen, aku lbh tertarik makan mie rebus belitung. sayang disini nggak ada…. jadi kepengen….๐Ÿ˜ฆ


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: