Archive for May, 2009

Swing Girls – Big Band para cewek SMU

Sutradara: Shinobu Yaguchi
Genre: Drama, komedi, musical
Produksi: Altamira Pictures, Japan (2004)
Pemain: Juri Ueno, Yuta Hiraoka, Shihori Kanjiya, Yuika Motokariya dan Naoto Takenaka.

Swing Girls ……. and a boy
(Takuo Nakamura, pemain piano, leader dan satu-satunya cowok dalam band)

Setelah pada postingan sebelumnya aku membahas film Linda Linda Linda yang bertemakan perjuangan 3 hari grup girl band yang beranggotakan 4 orang, kali ini aku membahas film Swing Girls yang bercerita tentang usaha anak-anak SMU dalam membentuk grup Big Band dari permulaan. Dibilang dari permulaan karena mereka sama sekali tak bisa memainkan alat musik tiup yang menjadi instrument utama Big Band. Kalau anda mengenal nama sutradara Shinobu Yaguchi yang dikenal lewat karya fenomenal Waterboys, tentu anda tak bakal kecewa dengan film garapannya kali ini. Yaguchi kembali mengangkat cerita perjuangan anak-anak SMU dalam menghadapi tantangan untuk melakukan hal yang berbeda. Kalau dalam Waterboys Yaguchi mengangkat cerita anak lelaki berlatih renang indah, kali ini Yaguchi menggunakan grup musik Big Band sebagai tujuan belajar hidup anak-anak SMU (seberapa banyak sih anak SMU tertarik main musik Jazz dalam grup Big Band?).

(warning, sinopsis dibawah mengandung spoiler)
Tomoko Suzuki (Juri Ueno) dan teman-teman sekelasnya merasa bosan dalam kelas matematika pak guru Ozawa (Naoto Takenaka). Supaya bisa membolos dari pelajaran matematika, Tomoko dkk membujuk pak Ozawa untuk mengijinkan mereka untuk mengantar makanan untuk grup brass band yang tertinggal. Karena keteledoran Tomoko dkk, seluruh anggota grup brass band sakit perut akibat makanan basi. Pemain simbal Takuo Nakamura (Yuta Hiraoka) yang mengurusi makanan dituntut bertanggung jawab untuk menyiapkan pemain brass band pengganti, karena tugas brass band selanjutnya adalah mendukung tim baseball sekolah dalam pertandingan yang akan diadakan dalam waktu dekat.

Merasa dikerjai, Takuo ganti meminta pertanggung jawaban Tomoko dkk dengan cara menyuruh mereka mengisi lowongan pemain brass band. Walaupun pada awalnya tak tertarik, tetapi demi bolos pelajaran pak Ozawa secara legal, Tomoko dkk menerima tawaran Takuo. Sayangnya jumlah mereka hanya 14, jumlah yang tak mencukupi untuk kelompok brass band yang membutuhkan 25-26 pemain, walaupun sudah ditambah 2 cewek pemain gitar dan bass grup punk yang barusan bubar. Takuo yang ternyata jago main piano ini mendapatkan ide untuk menutupi kekurangan jumlah pemain dengan cara membentuk kelompok Big Band yang memiliki jumlah pemain standarnya 17 orang. Lewat latihan intensif (walaupun pada awalnya para cewek kurang kerjaan ini cuma main-main), cewek-cewek yang tadinya tak bisa memainkan alat musik ini mulai dapat membawakan sebuah nomor jazz standard karya Duke Ellington, Take the “A” train, dengan “lumayan”. Sayangnya para pemain asli brass band yang tadinya sakit sudah sehat kembali dan meminta balik alat musik mereka.

Terlanjur cinta pada saxophone pinjamannya, Tomoko mulai mencari cara untuk membeli sebuah saxophone walaupun banyak anggota lainnya sudah menyerah. Temannya Yoshie (Shihori Kanjiya) yang mendapat tugas bermain trompet ikut terpengaruh dengan semangat Tomoko, begitu juga Sekiguchi (Yuika Motokariya) yang memang dari awal sangat bersemangat menguasai permainan trombone dan Naomi Tanaka (Yukari Toyoshima) yang mulai gandrung bermain drum. Ditambah Takuo pada piano dan duo cewek punk pada gitar dan bass, mereka mulai berlatih lagu-lagu standar Big Band lain seperti In The Mood karya Glenn Miller. Setelah menyadari kemampuan mereka tak menunjukkan peningkatan berarti tanpa pelatih yang tepat, mereka dikejutkan oleh sosok pak guru matematika Ozawa yang ternyata penggemar musik Jazz. Bagaimanakah perjuangan mereka selanjutnya dan apakah jumlah mereka kembali lengkap 17 orang untuk membawakan Big Band secara lengkap?

Terus terang saja skenario film ini masih menunjukkan beberapa bolong disana sini dengan peristiwa kebetulan demi menyederhanakan dan memendekkan cerita, tapi aku sendiri masih bisa memaklumi jika menonton secara keseluruhan. Nilai yang ingin disampaikan tentang “dimana ada kemauan, disitu ada jalan” cukup berhasil dibawakan oleh Yaguchi tanpa terkesan menggurui. Adegan komedi khas Yaguchi terselip disana sini semakin menyegarkan suasana yang telah dibangun lewat lagu-lagu Big Band lawas yang cukup dikenal oleh para penggemar musik. Sayangnya, karena terlalu banyak kasting pemerannya sehingga fokus tokoh utamanya agak bergeser dan kurang digali. Jadilah latar belakang tokoh dan permasalahan disekelilingnya tertutupi dengan usaha dan semangat para anak SMU ini untuk meraih tujuan mereka bermain musik dalam sebuah grup Big Band. Biarpun demikian, secara keseluruhan Swing Girls masih lebih baik dibandingkan Linda Linda Linda yang menurutku terlalu datar dan sederhana dari segi plot cerita.

Akting para pemain muda Juri Ueno dan Yuta Hiraoka cukup gemilang sehingga mereka diganjar New comer of the Year dalam Japanese Academy Award 2004 selain 5 penghargaan lainnya. Yang cukup mengejutkan, sebagian besar cewek yang berperan sebagai anggota grup Big Band ternyata sebelum main film ini juga memang tak bisa memainkan alat musik. Mereka dilatih bermain saxophone, trumpet, trombone dan drum selama 3 bulan untuk persiapan film dan jadinya mereka benar-benar memainkan seluruh lagu dalam film tanpa pemusik pengganti. Malah khusus untuk Kanjiya dan Motokariya yang baru bergabung satu setengah bulan sebelum syuting perdana (karena harus menyelesaikan kontrak film lain) hanya punya waktu satu setengah bulan untuk menguasai trumpet dan trombone. Sebagai pembuktian dan ajang promosi film, seluruh anggota grup Big Band Swing Girls mengadakan sebuah live concert dan mengeluarkan single dari lagu-lagu yang mereka mainkan dalam film (lihat saja kemampuan mereka dalam klip live concert dibawah).

Tambahan
Jika ingin melihat perjuangan mereka berlatih 3 bulan sampai nangis-nangis sebelum syuting, bisa dilihat di link youtube sini. Sedangkan cuplikan perjuangan Kanjiya dan Motokariya selama 1.5 bulan mengejar ketinggalan bisa dilihat disini. Yang paling lelet bergabung adalah Hiraoka yang juga belum bisa bermain piano dan Toyoshima yang baru pertama kalinya bermain drum. Hiraoka yang satu-satunya cowok bergabung dengan kumpulan 16 cewek lain serta Toyoshima hanya punya waktu latihan 1 bulan, cuplikan latihan 1 bulan mereka berdua bisa dilihat disini.
Hasil latihan mereka bisa dilihat dari video konser mereka di balasan komentar di bawah. O iya, mereka juga sempat mengisi acara Summer Jazz Festival di Nango (2004/8/30) walaupun mereka cuma Big Band amatiran.

Bagi penggemar musik terutama Jazz, rugi kalau belum nonton film ini.
I Love Big Band!!!!

Rating: 3.5/5

Trailer Swing Girls

In the mood oleh Swing Girls dalam live concert

Advertisements

Linda Linda Linda – 3 hari girl band dadakan

Sutradara: Nobuhiro Yamashita
Genre: Drama, musikal, remaja
Produksi: Covers & Co Japan (2005)
Pemain: Bae Do-na, Yuu Kashii, Aki Maeda, Shiori Sekine

lindaposterKetika menonton film ini, tanpa sadar aku teringat pada film-film produksi dalam negeri yang suka mengambil tema yang tak jauh dari cerita hantu dan komedi seks. Kalaupun ada yang mengambil tema diluar “pakem” favorit, tema film yang diambil justru terlalu berat untuk ditonton oleh orang-orang muda maupun kalangan remaja. Hasilnya para remaja Indonesia mengalihkan perhatian mereka pada film-film produksi Hollywood seperti Twilight. Film Linda Linda Linda ini seharusnya bisa menjadi contoh bagaimana membuat film remaja dengan cerita ringan tapi cukup menarik untuk disaksikan.

Sebuah girl band (grup band yang seluruh anggotanya cewek) SMU terancam bubar 3 hari sebelum pertunjukan terakhir mereka diajang festival budaya di sekolah mereka. Pemain gitar yang tangannya cidera dan vokalis yang bertengkar dengan pemain keyboard menjadi penyebabnya. Setelah sang vokalis keluar, pemain keyboard Kei (Yuu Kashii) yang menjadi band leader sementara memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana mereka untuk manggung. Pemain bass Nozomi (Shiori Sekine) dan drummer Kyoko (Aki Maeda) mendukung keputusan Kei, walaupun dalam waktu tiga hari mereka harus mencari pemain gitar dan vokalis baru sekaligus berlatih untuk persiapan pertunjukan. Akhirnya diputuskan Kei pindah peranan menjadi pemain gitar sehingga tinggal posisi vokalis yang masih lowong. Ketika mereka bertiga sedang berembug tentang penentuan vokalis, dengan enaknya Kei bilang siapapun cewek pertama yang lewat depan gerbang sekolah yang mulai sepi akan diminta untuk menjadi vokalis anyar band mereka. Dengan mengesampingkan mantan vokalis sebelumnya yang lewat, muncul pelajar asing dari Korea Selatan yang bernama Son (Bae Doo-na). Seketika itu juga mereka bertiga mengajak dan membujuk Son untuk bergabung dengan girl band mereka.

Setelah Son setuju bergabung, kwartet ini mulai memilih lagu dan berlatih memainkannya. Karena hanya memiliki waktu 3 hari saja, mereka memilih untuk membawakan lagu cover version band Punk Rock terkenal The Blue Hearts yang diantaranya berjudul Linda Linda daripada menciptakan lagu original sendiri. Masalah dimulai dari Kei si pemain keyboard yang tidak biasa memainkan gitar. Tetapi yang lebih parahnya lagi adalah masalah Son yang tidak bisa berbahasa Jepang dengan lancar. Waktu pendek selama tiga hari membuat mereka berempat berjuang keras supaya penampilan terakhir di festival budaya sekolah tidak menjadi ajang yang memalukan. Akibatnya mereka begadang semalaman dan kurang tidur. Bagaimanakah hasil akhir dari usaha mereka?

lindalindalinda

Kalau membaca sinopsis singkat diatas, film ini kelihatan sekali mengambil tema dan alur yang sangat sederhana. Tetapi sederhana bukanlah berati tidak menarik. Memang ada film Indonesia seperti Bukan Bintang Biasa yang mengambil tema remaja yang bergelut dengan seni, hanya saja cerita dan alur yang diambil terlalu mengawang-awang. Ada pula film Hollywood yang mengambil tema drama remaja pemusik, namun lagi-lagi dengan cerita yang kurang membumi. Lihatlah film ini, para remaja tokoh utama film ini tidak berniat nge-band untuk tampil dipanggung sebesar Tokyo Budokan yang hanya ada didalam mimpi mereka. Mereka hanya ingin tampil di ajang festival budaya sekolah yang levelnya hanya untuk menghibur teman-teman satu sekolah. Kisah cinta dalam film ini hanyalah bumbu pemanis belaka karena hampir tak terlalu mempengaruhi plot cerita yang lebih berfokus pada hubungan antara anggota band. Mungkin hanya cerita hubungan malu-malu mau antara Kyoko dengan cowok taksirannya Kazuya yang agak mendominasi cabang plot romantisasi anggota band.

Awalnya film ini berjalan agak lamban, tapi seiring dengan masuknya tokoh siswi Korea yang pemalu menjadi vokalis membuat film berangsur menjadi lebih menarik. Tokoh Son yang tidak lancar berbahasa Jepang berusaha untuk tidak mengecewakan teman-temannya dengan cara berlatih menyanyi lagu Jepang sendiri di karaoke. Lucu juga adegan Son dengan bahasa Jepangnya yang pas-pasan mendebat pegawai karaoke untuk mendapatkan sewa karaoke box yang lebih murah. Belum lagi usaha mati-matian Son menyanyi lagu Jepang di karaoke hingga akhirnya dengan setengah putus asa banting setir nyanyi lagu Korea 😆

Permainan aktris Korea Bae Doo-na sebagai Son memang menjadi daya tarik utama film ini karena keunikan karakter si pelajar asing. Tanpa tokoh Son dan gaya kikuk Bae Doo-na dalam membawakannya, mungkin Linda Linda Linda hanya akan menjadi film remaja yang biasa-biasa saja. Shiori Sekine dan Aki Maeda yang membawakan peran pemain bass dan drummer memang aslinya adalah pemusik, sehingga mereka tidak canggung bermain alat-alat musik dalam film ini. Berbeda dengan Yuu Kashii atau Yuu Odagiri (setelah menikah dengan pemeran Kamen Rider Kuuga, Joe Odagiri) yang aslinya aktris dan model. Paling tidak, penampilan cewek-cewek cute ini membuat susana lebih meriah. Yang agak mengejutkan, mungkin penampilan cameo Kenichi Matsuyama (L dalam Death Note) yang berperan sebagai Maki, cowok yang naksir Son dan “nembak” si siswi Korea pake bahasa Korea :mrgreen:

Judul film ini diambil dari judul lagu band Punk Rock populer Jepang The Blue Hearts, yang terkenal pada akhir 1980-an. Ada 3 lagu milik The Blue Hearts yang dinyanyikan oleh grup tokoh utama dalam film yaitu, Linda Linda, Boku no Migi Te dan Owaranai Uta. Tokoh Son si pelajar Korea yang memberi nama grup mereka berdasarkan nama The Blue Hearts, yaitu Paran Maum (The Blue Heart dalam bahasa Korea). Paran Maum sendiri merilis CD single mereka menyertai album OST Linda Linda Linda yang digarap oleh gitaris The Smashing Pumpkins, James Iha. Bagi penggemar film drama musikal, Linda Linda Linda bisa menjadi pilihan menarik untuk melewatkan waktu.

Rating: 3/5

Trailer

Paran Maum mini concert – Linda Linda and Owaranai Uta

The Ramen Girl – Membuat mie dengan hati

Sutradara: Robert Allan Ackerman
Produksi: View Company ( 2008 )
Pemain: Brittany Murphy, Toshiyuki Nishida, Sohee Park, Tammy Blanchard

Akhir-akhir ini aku jarang nonton film akibat sibuk beraktivitas, baik itu masalah kehidupan sehari-hari maupun aktivitas kampus seperti eksperimen, bikin laporan buat presentasi hingga cari beasiswa sana sini. Ketika ada waktu luang aku menemukan film ini dan tertarik dengan trailer yang kusaksikan lewat youtube. Jadilah film The Ramen Girl ini menemaniku menghabiskan waktu luangku.

Sayangnya skenario buruk, penggarapan apa adanya dan kasting pemain utama yang salah kaprah membuat film ini jadi sekedar tontonan lewat tanpa menimbulkan kesan apapun. Padahal temanya cukup menarik yaitu bagaimana ramen (mie china buatan jepang) bisa membuat perasaan orang yang memakannya menjadi menjadi lebih baik. Intinya sih dengan menyiapkan makanan dengan penuh perasaan, justru perasaan itulah bumbu yang akan membuat orang yang memakan sajian akan menjadi lebih baik.

Abby seorang wanita muda datang dari Amerika untuk menemui kekasihnya Ethan yang bekerja di Tokyo. Kenyataannya tak lama kemudian, justru Ethan mencampakkannya hingga Abby tiba-tiba saja menjadi wanita lemah tak berdaya dengan impian hancur berantakan. Ketika sedang meratapi nasibnya, Abby melihat kedai ramen didekat apartment tempat tinggalnya dan memutuskan pergi ke sana.

Di kedai ramen milik Maezumi ini Abby makan ramen dan sehabis makan tiba-tiba dirinya merasa dirinya lebih baik Pada kesempatan makan yang kedua Abby melihat betapa seorang lelaki yang sedang kusut pikiran menjadi bersemangat setelah makan ramen buatan Maezumi. Sejak itu Abby bertekad untuk belajar bagaimana membuat ramen yang bisa mengubah perasaan orang yang memakannya menjadi lebih baik. Maezumi yang dimintanya menjadi sensei (guru), justru memberikan tugas tukang bersih-bersih kedai hingga toilet. Bagaikan cerita film silat, sang guru yang keras mulai memberikan jurus-jurus membuat ramen mulai dari tugas yang kelihatan remeh. Cerita Abby belajar juga diselingi dengan interaksi Abby dengan Toshi pacar barunya yang orang Jepang turunan Korea dan Gretchen, seorang hostes kenalan Abby yang numpang tinggal di apartement milik Abby.

Tak jelas arah film ini mau dibawa kemana. Film dengan genre semi-cerita kungfu, drama cinta mengharu biru atau masalah kritik sosial budaya. Seluruh tema tadi disajikan campur aduk dengan tanggung, belum lagi hawa kisah semi-fantasi yang mengingatkan film chocolate-nya Juliette Binoche dan Johnnie Depp yang tidak tergarap dengan baik. Ada beberapa kelemahan dalam skenario yang justru memperlihatkan betapa tak masuk akalnya cerita yang dibuat. Misalnya saja bagaimana Abby bisa mempelajari teknik pembuatan ramen yang sempurna (yang katanya rumit) dalam waktu beberapa bulan, sedangkan untuk berkomunikasi dengan sensei Maezumi saja sering tidak nyambung. Lalu ada lagi cerita rahasia pembuatan ramen yang mementingkan kokoro (perasaan) sang pembuatnya. Bagaimana bisa Maezumi seorang pemabuk yang punya masalah keluarga dan punya karakter keras bisa membuat ramen yang mampu mengubah suasana hati pemakannya menjadi gembira. Padahal katanya jika peracik ramen membuat ramen dengan kondisi tak bahagia, sedih dan tertekan, sang pemakan akan terpengaruh dengan kondisi hati si peracik.

Tokoh utama Abby yang dimainkan oleh Brittany Murphy terlihat bagaikan tokoh opera sabun atau lebih cocok lagi sinetron Indonesia yang penuh dengan tangis, lemah tak berdaya, lalu tiba-tiba bangkit melawan dengan bersimbah air mata. Jika Jihan Fahira cocok berperan dalam Sinetron Tersanjung dan sequelnya, maka Brittany Murphy terlihat cukup mewakili perumpamaan Jihan Fahira dalam film ini. Sohee Park yang membawakan tokoh Toshi hanya bermain ala kadarnya. Yang bermain mendingan justru Toshiyuki Nishida, aktor Jepang yang berperan sebagai pemilik kedai ramen Maezumi. Gaya tengil, cerewet dan kasar Nishida sebagai mentor pembuat ramen cukup jitu dan berkesan, hanya saja sayangnya skenario yang kurang kuat membuat Nishida tak bisa berbuat lebih banyak lagi. Begitu pula dengan Tammy Blanchard yang memainkan karakter Gretchen sebenarnya cukup menarik tapi sayang tokoh yang dimainkannya sendiri terlihat hanya sekedar tempelan.

Anda tak perlu membandingkan film ini dengan film bertema bentrok budaya dengan setting Jepang seperti Lost in Translation ataupun film Perancis yang berjudul Fear and Tremblings yang kubahas sebelumnya, karena perbedaan kualitasnya cukup jauh.

NB. (edit untuk yang ingin mengetahui perbedaan ramen, soba dan udon)
mie
Kategori mie di Jepang ada beberapa macam. Jenis mie Jepang yang sering dimakan adalah Soba (terbuat dari buckwheat dan berwarna kecoklatan) dan Udon (bentuk mie lebih tebal, berwarna putih, mirip kweetiau), sedangkan ramen adalah jenis mie China (seperti mie kuning buat mie rebus) yang pembuatannya telah dilokalisasi ala Jepang. Aku sendiri belum pernah makan ramen satu kalipun, maklumlah seluruh ramen mengandung lemak dan irisan daging babi.
Mie instan di Indonesia mungkin identik dengan instant ramen di Jepang karena bentuk dan kemasannya yang mirip, apalagi mie instan pertama didunia dibuat di Jepang dalam bentuk instant ramen. Seperti juga ramen biasa, instant ramen juga mengandung unsur babi.

Rating: 2.25/5

OST part 2: Dorama

Melanjutkan postingan lagu-lagu slow OST anime, kali ini aku menampilkan lagu-lagu yang menjadi OST drama Jepang yang cukup membuatku terkesan. Walaupun drama Jepang akhir-akhir ini mulai disaingi drama korea, termasuk TV Jepang sendiri, tapi soundtrack yang menghiasi dorama (serial drama TV Jepang) masih memiliki kekuatan tersendiri untuk ikut bersaing dan membuat rating drama-nya ikut meningkat. Karena aku sangat jarang nonton drama TV, beberapa daftar lagu dibawah ini malah kuambil dari drama yang tidak ku tonton sampai habis. Berbeda dengan postingan OST anime sebelumnya, walaupun lagu-lagu OST dibawah ini tidak jauh bercerita tentang cinta, tidak semuanya berirama slow dan mellow.

Love Story wa Totsuzen ni by Oda Kazumasa
Salah satu OST dorama favorit-ku sepanjang masa dan menempati urutan 8 single paling laku sepanjang masa di Jepang. Drama yang ceritanya mengalir cepat tanpa banyak adegan tarik ulur (hanya 11 episode) ditambah dengan OST yang menggugah semangat untuk menonton serial drama-nya hingga habis. Sori, nggak ketemu versi MV asli lagunya di youtube, tapi lumayan buat mengenang jaman baheula.

True Love by Fujii Fumiya
Bagi penggemar dorama lawas buatan tahun 90-an, siapa yang nggak tahu lagu ini? Kalau ingat cerita cinta antara Kakei dan Narumi dari drama Ordinary People aka Asunaro Hakusho (kertas putih Asunaro), pasti nggak bakalan lupa sama lagu keren yang dibawakan penyanyi pop ballad terkenal Jepang ini. Asal tahu saja, drama ini yang membuat nama Kimura Takuya meroket jadi bintang ngetop untuk pertama kalinya.

Sora mo Toberu Hazu by Spitz
Lagu ini dikenal luas berkat serial drama Hakusen Nagashi yang ditayangkan oleh Fuji TV. Memang lagunya bagus dengan balutan musik pop yang enak didengar dan gampang dimengerti, tapi terus terang saja lagu ini merupakan lagu Spitz nomor dua yang paling kusuka setelah lagu Robinson yang punya gaya musik lebih atraktif. Ngomong-ngomong, lagu yang berarti “ke langit pun pasti bisa terbang” ini merupakan lagu wajib non-official (tak resmi) yang sering dibawakan oleh para murid yang baru lulus sekolah. Mungkin karena lirik lagunya mengemukakan semangat untuk meraih masa depan.

Sign by Mr. Children
Pertama kali dengar lagu ini, aku malah belum nonton drama Orage Days yang menjadikan lagu sign sebagai theme song-nya. Dramanya sendiri cukup bagus dan tak bertele-tele seperti drama kebanyakan (lagi-lagi cuma 11 episode) dan lagu sign cukup mewakili isi film yang menceritakan tentang gadis tuli yang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat.

Ai wo Komete Hanataba wo by Superfly
Lagu ini merupakan theme song dorama Edison no Haha (Ibunya si Edison) yang ditayangkan oleh TBS yang pernah kutonton bagian awalnya doang. Lagunya enak dengan suara melengking Ochi Shiho diiringi dengan iringan irama slow-rock plus orkestra.

Kimagure Romantic by Ikimono-gakari
Aku belum pernah menonton drama yang menjadikan lagu ini sebagai theme song-nya yaitu Celeb to Binbo Taro (Selebritis dan Taro si kere) yang dibintangi oleh Aya Ueto. Tapi lagunya sendiri penuh semangat dan lucu, apalagi kalau melihat klip videonya yang menarik dengan menampilkan penyanyi Ikimono-gakari Kiyoe-chan yang imut dalam tema permainan RPG.

Sebenarnya daftarnya masih bisa diperpanjang, namun untuk sementara cukup sekian dulu.

Crossing Over – Terlalu banyak maunya

Produksi: The Weinstein Company (2009)
Sutradara: Wayne Kramer
Pemain: Harison Ford, Ashley Judd, Ray Liotta, Summer Bishil

crossing-over-posterMasalah keimigrasian selalu saja menghiasi permasalahan sosial di setiap negara, terlebih lagi di negara maju seperti USA. Kebanyakan dari para imigran dari luar negeri datang ke negara maju dengan motif untuk memperbaiki kondisi perekonomian dirinya dan keluarga. Apalagi negara seperti USA yang menawarkan iming-iming semu American Dream membuat banyak orang tertarik untuk mengadu nasib di sana baik secara legal maupun illegal. Hal lainnya mungkin disebabkan oleh motif politik ataupun alasan mengejar karir. Aku merasa film ini memiliki kemiripan kerangka dengan Crash dengan tendensi dan cara bercerita yang lebih sederhana dibandingkan film terbaik OSCAR 2005 tersebut.

Karena film ini menampilkan banyak karakter dengan permasalahan imigran yang berbeda-beda, dapat diasumsikan tak ada pemeran utama yang betul-betul menjadi sentral cerita. Setiap tokoh dalam kondisi dan batasan tertentu saling berhubungan satu sama lain, baik langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perubahan nasib karakter. Beberapa bagian cerita cukup menarik dan menyentuh perasaan ditambah dengan berbagai konflik sosial kemasyarakatan seperti masalah terorisme, pemalsuan dokumen hingga urusan gangster.

Masalahnya, film ini memuat terlalu banyak hal untuk diceritakan sehingga apa yang ingin disampaikan seakan-akan mentah begitu saja. Contohnya saja bagian cerita yang paling kusukai yaitu tentang Talisma Jahangir, seorang remaja muslim 15 tahun yang berurusan dengan FBI dan dituduh sebagai calon suicide bomber hanya karena menulis makalah tugas sekolah dengan tema memahami maksud dan pemikiran pembajak pesawat insiden 11 September 2003. Cerita Talisma dibikin kontras dengan kisah keluarga Baraheri, imigran politik kaya raya dari Iran yang merasa dirinya sebagai muslim yang baik dan mendapatkan kewarganegaraan USA lewat proses naturalisasi. Belum lagi cerita digali lebih mendalam tiba-tiba perhatian penonton teralih dengan kisah aktris Australia yang mengejar karir Hollywood tapi terhadang visa ijin tinggal, cerita petugas imigrasi menolong anak imigran meksiko, persoalaan pengacara pembela imigran yang ingin mengadopsi anak afrika, hingga urusan Yahudi atheis berkewarganegaraan Inggris yang ingin mendapatkan visa ijin tinggal sebagai pengajar di sekolah Yahudi di USA lewat turunan darah Yahudinya.

Walaupun demikian, film ini menawarkan konflik-konflik yang menarik untuk disimak sekalipun dengan tumpang tindihnya cerita. Anda bisa memikirkan permasalahan yang ditawarkan dalam film ini lebih lanjut setelah menonton tanpa perlu memikirkan ending film. Toh hasil akhir yang didapat oleh para imigran hanya ada tiga koq, dapat ijin tinggal secara legal, gagal dan dideportasi, atau malah nekad tinggal terus tanpa ijin dengan segala resikonya. Mengenai akting para pendukungnya, aktor senior seperti Harison Ford tampil cukup meyakinkan sebagai petugas polisi bagian imigran gelap. Namun yang benar-benar patut mendapat pujian khusus adalah aktris muda turunan India, Summer Bishil yang membawakan peran Talisma sang anak imigran Bangladesh.

Rating: 3.25/5

OST part 1: Slow OST from Anime

Postingan kali ini sebenarnya kurang nyambung sama tema blog, tapi bisa disambung sedikit (paksa) karena isinya membahas lagu Jepang dan semuanya diambil dari OST (Original Soundtrack) lagu-lagu anime yang pernah aku tonton. Yang menjadi virus penggoda adalah postingan jensen yang membahas lagu mendayu-dayu, hanya saja yang aku bahas kali ini adalah lagu-lagu mendayu hasil OST anime. Terus terang saja aku bukan orang yang suka-suka amat sama lagu mendayu, tetapi lagu-lagu berikut ini memang bisa membuat hati penggemar metal sedikit lumer.
Hanya sekedar sharing kenikmatan di kuping.

Crucify My Love by X Japan
Legenda Visual Kei ini bukan hanya membawakan lagu cadas doang, tapi sekali-kali juga membawakan lagu slow yang menyentuh. Lagu Crucify My Love bisa didengar dalam OVA Rurouni Kenshin cerita Kenshin bertemu dengan istrinya Tomoe dalam bentuk alunan instrumental piano dan cello. Jika ingin mengunduh satu album koleksi balad mereka silahkan berkunjung ke halaman J-music rare album.

One More Time, One More Chance by Yamazaki Masayoshi
Lagu ini sebenarnya lagu lumayan lama, malah pernah dijadikan soundtrack film Jepang akhir tahun 1997/1998. Bagi yang menonton film anime 5 centimeters per second karya Makoto Shinkai akan mendapatkan sensasi yang mendalam serta terbawa dalam suasana yang diciptakan animasi diiringi dengan lagu keren ini. Bisa diunduh diatas dalam bentuk file RAR.

Garnet by Oku Hanako
Seperti kebanyakan judul film/buku/lagu/nama penyanyi yang lumayan panjang, biasanya orang Jepang suka menyingkatnya menjadi sebuah kata pendek seperti Laruku (L’arc en Ciel) dan Bokuchu (Bokutachi to Chuuzaisan no 700 nichi sensou). Film Toki wo Kakeru Shojo (cewek yang melompati waktu) buatan tahun 2006 ini juga biasa disingkat menjadi Tokikake, walaupun tetap saja bagi penonton yang non-jepang terbiasa menyebut dengan judul bahasa Inggrisnya, The Girl who Leapt through Time. Yang pernah menonton kemungkinan besar terkesan dengan lagu yang dibawakan oleh Oku Hanako dengan piano berjudul Garnet ini pada ending film.

Kataritsugu koto by Hajime Chitose
Penggemar serial anime Blood+ dijamin nggak bakalan melewatkan lagu ending pertama ini. Vokal Hajime yang penuh falseto dengan gaya nyanyi rada-rada nyerempet enka ini benar-benar unik dan membuatku mencari lagu ini untuk diunduh. Sebenarnya ada 2 lagu ending Blood+ yang menjadi favoritku, yang lain adalah Cry No More oleh Mika Nakashima yang bergaya R&B Gospel yang bisa diunduh disini.

Konya mo Hoshi ni Dakarete by Ayaka
Lagu ini sudah dibahas pada postingan anime The Sky Crawlers sebelumnya. Ayaka menyanyikannya dengan piano dan hanya diiringi dengan manisnya bersama permainan biola. Manis dan menyentuh, itulah komentarku. Yang mau liat klip sekaligus liriknya bisa karaokean dengan file youtube dibawah ini.

Kimi wo Nosete by Inoue Azumi
Tambahan terakhir ini untuk menghormati komposer hebat yang selalu berada dibelakang layar seluruh anime Ghibli yang dibuat oleh Hayao Miyazaki yaitu Joe Hisaishi. OST Laputa: Castle in the Sky ini sanggup membuat penonton tersentuh pada akhir film yang memang memiliki cerita dan pembuatan yang luar biasa. Entah karena pengaruh filmnya yang hebat atau memang lagu Kimi wo Nosete ini sendiri yang bagus, silahkan dengar dan tebak sendiri. Toh Laputa kutempatkan sebagai film karya Miyazaki dengan rating paling tinggi bersama Spirited Away. O iya, lagu ini merupakan lagu favoriteku dari seluruh OST anime karya Miyazaki.

Bagi yang ingin menambahkan daftar isi lagu diatas, silahkan mengisi di kolom komentar. Kalau bisa sekalian link buat mendengarkannya :mrgreen:

Bokuchu: Perang jahil anak SMU vs Polisi Kampung

Judul: Bokutachi to Chuuzaisan no 700 nichi sensou (ぼくたちと駐在さんの700日戦争)
Arti: 700 hari pertempuran antara kami dan sang polisi
Sutradara: Tsukamoto Renpei
Produksi: Gaga Film ( 2008 )
Pemain: Ichihara Hayato, Sasaki Kuranosuke, Asou Kumiko
bokuchu1

Kebetulan sekali aku belum lama habis menonton film ini ketika seorang pengunjung blog datang dan bertanya bahasan tentang film yang diadaptasi dari novel ini. Awalnya, novel yang judul panjangnya disingkat menjadi Bokuchu (dari kata Boku dan Chu) ini adalah sebuah essay yang dimuat didalam sebuah blog tahun 2006 yang diakui oleh penulisnya Kurowa sebagai cerita semi-fiksi pengalaman pribadinya. Essay ini menarik pehatian banyak orang hingga dalam waktu satu tahun sanggup menarik pengunjung dan pembaca tetap hingga 5 juta orang. Pada bulan Maret tahun 2009, bab terakhir menceritakan tokoh utama dan teman-temannya lulus SMU. Cerita bersambung ini akhirnya dibuat dalam bentuk novel hingga diadaptasi menjadi film. Jika cerita aslinya mengambil setting lokasi kampung kecil ditepi kota Nagai, propinsi Yamagata, film adaptasinya memindahkan setting cerita ke sebuah kampung di Karasuyama, propinsi Tochigi.

Cerita bersetting pada tahun 1979 dengan narrator cerita yang menyebut dirinya dengan kata Boku (artinya:aku) tanpa mengungkapkan nama tokoh, hanya nama panggilannya saja yang lebih ngetop dan menjadi trademark dirinya sepanjang cerita, yaitu Mamachari (sepeda emak-emak) karena dia sering bepergian mengendarai sepeda keranjang milik ibunya. Mamachari dan teman-teman satu gengnya dikenal sebagai anak SMU tukang rusuh nomor satu dikampungnya dan tak ada yang bisa lolos dari ulah jahil mereka. Hingga kedatangan seorang polisi yang baru pindah ke kampung mereka dan sang polisi menilang seorang anggota kelompok jahil mereka karena mengendarai motor skuter dengan kecepatan melebihi batas. Tindakan polisi baru ini tentu dianggap kelompok jahil Mamachari sebagai tindakan cari gara-gara, sehingga mereka berencana untuk membalasnya.

Dalam aksinya membalas dengan cara menjahili sang polisi (dipanggil Chuuzaisan), justru Chuuzai balik mengerjai mereka. Sejak itu Mamachari dan kelompoknya merasa ditantang dan mendeklarasikan perang jahil-jahilan terhadap Chuuzai tanpa menyadari kalau Chuuzai adalah lawan berat yang punya ide jahil tak kalah canggih dibandingkan ide jahil Mamachari dan kawan-kawan. Mulailah perang urat saraf hingga perang urat malu antara sang polisi kampung dengan geng Mamachari disepanjang cerita.

Sebenarnya plot film ini tidak terlalu istimewa amat, malah mirip dengan dorama (sinetron Jepang) dengan cerita yang datar begitu-begitu saja. Ditambah lagi tiap cerita dibuat terpisah-pisah dan terpotong satu sama lain seperti tiap bab novel yang ceritanya diadaptasi oleh film ini. Akting pemainnya juga tidak terlampau istimewa, hanya akting Sasaki Kuranosuke sebagai Chuuzai dan Ichihara Hayato sebagai Mamachari yang lumayan bikin cengengesan. Tapi yang membuat film ini istimewa adalah adegan komedinya yang benar-benar bisa membuat penonton ngakak sampai sakit perut. Belum lagi ide-ide kreatif saling berbalas jahil, saling mem-bully antara kedua belah pihak yang walaupun bisa ditebak, tapi tetap saja mampu membuat tertawa terpingkal-pingkal. Sayangnya ketika film mendekati akhir, tiba-tiba saja suasana film mendadak berubah dari komedi menjadi drama mendayu-dayu yang bagiku justru agak mengganggu suasana lucu yang sudah dirancang dari awal dengan baik. Walaupun demikian, film ini tetap lumayan menarik untuk ditonton oleh anda yang suka komedi slaptik nan konyol model Warkop Dono Kasino Indro jaman baheula.

Nb.
1. Chuuzai berarti ditempatkan dan Chuuzai-san berarti orang yang ditempatkan. Dalam konteks cerita ini, sang polisi kampung ditempatkan di pos polisi dan menetap disana sebagai rumahnya, dimana tingkat bawah (lantai satu) adalah pos polisi dan tingkat atas difungsikan sebagai tempat tinggal sang polisi bersama keluarganya. Jika sang polisi menetap ditempat lain, dia bukanlah Chuuzai-san melainkan polisi biasa.
2. Kebetulan sekali tokoh Mamachari dalam film ini punya gaya jalan, ketawa hingga tingkah lakunya mirip dengan teman Jepang yang bernama Hara. Bikin aku ketawa lebih ngakak lagi tuh.
3. Kalau anda mengerti bahasa dan tingkah laku kehidupan orang Jepang sehari-hari, kelucuan film ini akan bertambah dengan sendirinya berdasarkan pemahaman anda.

Rating: 3.25/5


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: