Archive for March, 2009

Departures – Piala Oscar untuk si Tukang Antar

Judul asli: おくりびと – Okuribito (tukang antar)
Produksi: Tokyo Broadcasting System dan Shochiku ( 2008 )
Sutradara: Takita Yojiro
Pemain: Motoki Masahiro, Hirosue Ryoko, Yamazaki Tsutomu, Yo Kimiko.
Tag:
人は誰でも、いつか。。。おくりびと、おくられびと
Hito wa daredemo, itsuka…Okuribito, Okurarebito
(Manusia itu siapapun, kapankah….. menjadi pengantar, atau yang diantar)

departures

おまえら、死んだ人間で食ってんだろう
Omaera, sinda ningen de kutten darou
Kalian khan hidup dapat makan dari orang mati

(Keluarga klien kepada Daigo dan mentornya Sasaki)

Pada tahun 1996, sebuah novel berjudul Noukanfu Nikki (Catatan harian pria penyelenggara jenazah) karya Aoki Shinmon diterbitkan dan kemudian dibaca oleh aktor Motoki Masahiro. Selain Motoki, mangaka bernama Sasou Akira juga membacanya dan berminat untuk mengadaptasi novel tersebut kedalam manga. Motoki membujuk beberapa sutradara untuk membuat film berdasarkan novel karya Aoki tersebut hingga akhirnya Takita Yojiro yang dikenal sebagai sutradara film samurai “When the Last Sword is Drawn” tertarik untuk membuat film dan turut melobi studio film TBS. Setelah manga karya Sasou diluncurkan, film adaptasi novelnya juga mulai diproduksi.

Cerita film dimulai dengan tokoh utama Kobayashi Daigo mengurus jenazah sambil bercerita tentang latar belakang pekerjaan barunya sebagai penyelenggara jenazah. Lewat narasi diceritakan bagaimana dua bulan sebelumnya, Daigo yang berprofesi sebagai pemain cello harus menghadapi kenyataan bubarnya orchestra tempat dirinya bergabung. Menyadari bakatnya sebagai pemain cello biasa-biasa saja, Daigo akhirnya memutuskan berhenti mengejar karir musiknya dan pulang ke kampung halamannya di Yamagata bersama istrinya Mika. Continue reading ‘Departures – Piala Oscar untuk si Tukang Antar’

Dexter – Sosok Serial Killer yang Unik

Adaptasi Novel: Darkly Dreaming Dexter oleh Jeff Lindsay
Genre: Drama, Komedi Satir
Tayang Perdana: Oktober 2006
Pemain: Michael C. Hall (Dexter), Jennifer Carpenter (Debra), Julie Benz (Rita)

dex1

“You can’t be a killer and a hero. It doesn’t work that way!”
(Ice truck killer, season 1 episode 12)

Perkenalkan: Dexter Morgan, bujangan, berpenampilan menarik, kulit putih, petugas forensik spesialis “bloodstain pattern analysis” (what a profession!). Siapa yang menyangka kalau Dexter yang bekerja disiang hari di kantor kepolisian Miami akan berubah menjadi pembunuh berantai berdarah dingin dimalam hari. Bagi para pecandu kisah serial killer tentu membayangkan sosok bujangan keren, kulit putih, anti-sosial, broken-home, orang tua abusive dan karakteristik umum serial killer lainnya. Tapi Dexter bukanlah serial killer biasa dan ciri-ciri umum serial killer pada umumnya justru hanya terlihat fisiknya saja. Dilihat dari segi mental dan latar belakangnya, Dexter terlihat normal, punya hubungan sosial yang baik di lingkungannya, adik perempuan yang menyayangi dan terlihat sangat tergantung padanya, pacar tetap yang cakep, datang dari keluarga baik-baik. Dengan deskripsi cerita sampai disini saja, tentu anda akan membayangkan Dexter sebagai sebuah serial TV yang sangat menarik untuk diikuti.

Ketika umur 3 tahun, Dexter diadopsi oleh keluarga Morgan sebagai anak mereka. Dexter memperoleh ayah Harry Morgan seorang detektif kepolisian Miami yang disegani, ibu bernama Doris dan adik perempuan Deborah yang biasa dipanggil Debra dalam kondisi keluarga bahagia. Ketika mulai beranjak dewasa Harry mendapatkan Dexter memiliki kecenderungan psikopat. Karena semakin sulit dikendalikan, Harry awalnya mengijinkan Dexter untuk hanya membunuh hewan, hingga pada akhirnya Harry sadar kalau pada suatu saat Dexter dewasa tak akan bisa mengendalikan dirinya lebih jauh lagi. Harry memutuskan untuk mendidik dan melatih Dexter untuk menjadi vigilante yang hanya diperbolehkan membunuh orang-orang yang sudah dipastikan layak untuk dibunuh, ketika kebutuhan biologisnya untuk membunuh muncul. Kebanyakan korban Dexter sendiri malahan mempunyai kepribadian yang sama dengan Dexter, yaitu sesama serial killer.

Metode pembunuhan tanpa meninggalkan jejak rancangan Harry ini disebut dengan Code of Harry oleh Dexter. Karena training inilah hubungan Harry dan Dexter terlihat lebih akrab dimata Debra, sehingga Debra menganggap ayahnya lebih menyayangi Dexter si anak sempurna. Tentu saja Debra tidak tahu menahu dengan latihan dan sisi psikopat Dexter, belum lagi larangan Harry untuk membuka rahasianya pada siapa saja termasuk keluarga dekatnya. Harry adalah seorang detektif berpengalaman yang mengetahui ciri-ciri umum serial killer, sehingga dia mulai mengajari Dexter untuk mulai menerapkan cara hidup keseharian yang normal untuk menjauhkan kesan anti-sosial, dan hal lainnya yang mengacu pada sosok serial killer.

Tema serial ini sangat kontroversial. Jangankan di Indonesia, di Amerika sendiri walaupun mendapat pujian kritikus dan memenangkan Emmy Award tetap saja banyak orang yang memperdebatkan isi dan pesan serial TV ini. Ada pihak yang menunding serial ini ingin memberi pemakluman atas tindakan serial killer dan menunjukkan empati pada kekerasan yang dilakukan si serial killer. Karena itu jangan harap serial ini akan diputar di dunia pertelevisian Indonesia. Satu-satunya jalan hanya lewat DVD bajakan. Itu juga kalau anda tidak keberatan dan muak dengan banyaknya adegan sadis seperti mutilasi dan cipratan darah yang mewarnai serial ini.

Adalah novel laris berjudul Dark Dreaming Dexter karya Jeff Lindsay (sudah terbit terjemahan Indonesianya) yang menjadi pijakan pembuatan season 1 serial Dexter ini, walaupun season 2 dan selanjutnya sudah tidak mengikuti sequel novel karya Jeff Lindsay lagi. Sebagaimana novelnya, dalam serial ini juga Dexter berperan sebagai narator cerita. Season 1 banyak menampilkan adegan flashback mengenai hubungan Dexter dan ayahnya, pengaruh wejangan Harry terhadap Dexter hingga training yang diterima Dexter. Dexter ditampilkan sebagai orang tanpa emosi (Dexter menyebutnya “empty”) yang menjalani kehidupan sosialnya sebagai topeng sosok psikopat sesuai ajaran ayahnya. Selain itu juga ditampilkan hubungan Dexter dan adiknya Debra, seorang polisi yang berambisi untuk masuk jajaran detektif elit Miami Vice, juga hubungan Dexter dengan Rita, janda beranak dua korban mantan suami abusive yang digambarkan Dexter sebagai kamuflase sosial sosok serial killer dirinya. Season 1 ini juga mengetengahkan perburuan Dexter terhadap serial killer pintar berjuluk Ice Truck Killer yang terlihat sangat mengenal Dexter luar dalam termasuk masa lalu Dexter yang membuat dirinya menjadi monster pembunuh. Memasuki season 2, cerita lebih berfokus pada perburuan “Bay Harbor Butcher” yang tak lain tak bukan merupakan alter ego Dexter sebagai serial killer.

Bagi anda yang menyukai musik latin terutama irama Afro-Cuban tentu akan sangat menikmati iringan lagu berirama latin dengan banyak perkusi dan alat musik tiup disepanjang serial Dexter. Nilai lebih lainnya dalam film ini selain cerita drama misteri yang menarik, humor satir penuh ironi yang ditawarkan juga bisa membuat anda tersenyum pahit, bahkan tertawa masam. Entah berapa kali aku dibuat tertawa dengan perasaan tak enak pada adegan tertentu, terutama oleh kalimat satir dari narasi yang dibawakan oleh tokoh utamanya Dexter.

Dibawah ini adalah trailer serial Dexter untuk season 3.

Dragonball Evolution – Evolusi Manga yang Terlecehkan

Produksi: 21th Century Fox
Sutradara: James Wong
Genre: Fantasy Action
Pemain: Justin Chatwin, Jamie Chung, James Marsters, Chow Yuen-fat, Emma Rossum.

dragonballKebetulan sekali aku menonton 2 buah film adaptasi komik secara berurutan. Yang pertama aku nonton Watchmen yang diadaptasi dari komik Amerika berjudul sama karya duet Moore/Gibbons. Yang kedua adalah Dragonball Evolution yang merupakan adaptasi manga (komik Jepang) karya Akira Toriyama. Dalam tulisan ini aku cuma ingin membicarakan tentang bagaimana hasil karya kerja sama Hollywood dan perfilman Hongkong dalam rangka melecehkan sebuah karya manga fenomenal seperti Dragonball.

Sebelum menontonnya aku memang tidak berharap terlalu banyak pada adaptasi Dragonball kali ini. Paling tidak yang kucari adalah hiburan semata. Mengingat salah seorang produsernya adalah Stephen Chow, yang kunantikan dalam film ini adalah kelucuan tingkah Son Goku dan kawan-kawan. Apa lacur, jangankan adegan komedi khas Akira Toriyama muncul dalam film, hiburan yang kuharapkan juga sama sekali tak muncul seperti yang kubayangkan. Justru kebosanan melandaku ketika menonton film yang cuma berdurasi sekitar satu setengah jam ini. Bahkan hanya untuk sekedar film hiburan saja, Dragonball Evolution ini sudah mengecewakan.

Bagi para penggemar manga Dragonball tentunya tak perlu lagi kutulis isi ceritanya dan bagi yang belum pernah baca, agaknya cerita petualangannya tidak terlalu berat dan cukup menghibur. Masalah utama film ini adalah semangat petualangan yang begitu kental digambarkan dalam manga justru cuma jadi tempelan belaka. Yang ditonjolkan dalam film hanya Amerikanisasi kehidupan Son Goku, termasuk gaya setting sekolah Amerika yang “bullying the nerd guys” oleh para “cool guys” dalam film remaja Amerika turut meramaikan film ini. Apa tidak bosan mengulang adegan beginian? Tema hubungan romantis Goku dan Chichi yang unik dalam manganya diganti dengan gaya pacaran anak Amerika. Masih ingatkah anda adegan Chichi yang mengejar-ngejar Goku untuk minta kawin, sedangkan Goku yang polos menganggap kawin itu sejenis permen. Maaf, tidak bakalan ada adegan lucu seperti itu dalam film ini.

Bicara mengenai akting, lebih baik pasrah saja deh. Aktor senior seperti Chow Yuen-fat saja tak bisa berbuat banyak dengan kenyataan parahnya skenario film yang ditulis. Chow Yuen-fat disini cuma mirip pemain lenong yang mau melucu tapi nggak bisa bikin ketawa penonton. Hilang sudah sosok si tua bangka hentai Kame Sennin Muten Roshi yang genit dan lucu. Justin Chatwin yang dipuji sewaktu berperan sebagai anak sulung Tom Cruise dalam film War of the Worlds, dalam film ini seperti lupa cara berakting baik. Hal ini ditambah lebih parah dengan karakterisasi seluruh tokoh yang lemah.

Dan kalau anda berharap adegan tarung yang dahsyat, siap-siap saja kecewa. Mendingan nonton The Forbidden Kingdom-nya Jacky Chan yang paling tidak memperlihatkan adegan kelahi keren dengan jurus-jurus indah atau jurus-jurus lucu animasi Kung Fu Panda. Disini anda akan disungguhkan pertarungan antara penari yang sibuk berdansa saling menyerang tanpa ada semangat memukul lawan tarungnya. Spesial efeknya sendiri walaupun lumayan bagus, tapi sudah biasa dilihat difilm-film lain sehingga terlihat seperti tidak ada keistimewaannya. Bahkan tongkat dan awan kintoun yang identik dengan sosok Son Goku hilang dari layar lebar. Apakah karena produsernya yang orang China tidak mau sosok Son Goku disamakan dengan tokoh Sun Gokong yang memang diambil Toriyama sebagai dasar penciptakaan tokoh Son Goku?

Jadi sebenarnya apa yang ingin dijual oleh film ini? Hanya franchise sajakah? Entahlah, tapi paling tidak menurutku ini hanya sekedar film dengan niat nyari untung gede dengan cara melecehkan manga aslinya dengan membuat film yang asal jadi. Judul filmnya sangat tepat, Dragonball manga telah berevolusi menjadi Dragonball Amerika yang norak dan komersil. Mungkin kelebihan film ini ada dipemeran tokoh ceweknya yang menyegarkan mata seperti Jamie Chung (Chichi) dan Emmy Rossum (Bulma). Persetan dengan akting kaku mereka, tapi kok Muten Roshi tidak sampai tergoda ber-hentai ria dengan dua cewek mulus ini yah??

Rating: 1.5/5

The Pillows – Japanese Alternative Rock Band

Kemungkinan besar kebanyakan dari anda belum pernah mendengar nama band Jepang yang satu ini. Jangankan di Indonesia, orang muda Jepang sendiri belum tentu kenal dengan nama band pengusung alternative rock ini. Harap maklum, alternative rock bukanlah visual kei yang banyak digandrungi anak muda Jepang. Padahal dikalangan para pemusik Jepang, nama The Pillows sudah cukup layak untuk disandingkan dengan nama band legenda genre lain. Bahkan pada tahun 2004, sebuah album tribute untuk The Pillows berjudul Synchronized Rock pernah diluncurkan dengan pengisi band-band terkenal Jepang seperti Mr. Children, Ellegarden dan Bump of Chicken yang membawakan cover version lagu-lagu lawas milik The Pillows.

pillows31

The Pillow pertama kali terbentuk di Hokkaido pada bulan September tahun 1989. Kisah dimulai dengan bubarnya grup band Kenzi and The Trips dimana Kenji Ueda tadinya bergabung sebagai pemain bass. Pada saat itu Ueda bertemu dengan vokalis grup band The Coinlocker Babys yang bernama Sawao Yamanaka. Ueda dan Yamanaka mulai merencanakan untuk membentuk grup band baru. Ueda mengajak Shinichiro Sato, mantan drummer Kenzi and The Trips untuk ikut bergabung, sedangkan Yamanaka mengajak Yoshiaki Manabe gitaris utama grup band Persia yang juga telah bubar untuk ikut bergabung melengkapi kwartet The Pillows.

Awal karir The Pillows menelurkan dua mini album indies lewat perusahaan rekaman Captain Record hingga mereka pindah dan mendapatkan kontrak dari perusahaan rekaman besar Pony Canyon pada tahun 1991. Formasi awal The Pillows ini masih memainkan musik yang ambigu tanpa ada genre musik utama yang jelas. Pada saat itu pengaruh musik punk dan nama grup Kenzi and The Trips masih kental terasa pada perkembangan musikalitas The Pillows, padahal dalam grup band itu sendiri sangat menginginkan originalitas bermusik yang berbeda. Mungkin ini disebabkan oleh pengaruh kuat Ueda dalam membuat komposisi lagu untuk The Pillows (komposer utama adalah duet Ueda-Yamanaka). Akhirnya demi kelangsungan band, Ueda mengundurkan diri karena perbedaan visi bermusik. Dengan keluarnya leader band dan perpindah perusahaan rekaman, membuat aktivitas The Pillows juga ikutan berhenti selama satu tahun.

pillows4
Trio The Pillows. Kiri-kanan: Sato (drum), Yamanaka (vokal) dan Manabe (gitar)

Yamanaka sebagai leader band yang baru menggantikan Ueda mulai mencari pemain bass untuk mengisi kekosongan. Hanya saja, ketiga anggota The Pilows yang tersisa sama-sama sepakat untuk tak pernah menggantikan posisi pemain bass secara resmi demi menghormati Ueda yang telah membentuk The Pillows. Tatsuya Kashima datang mengisi posisi supporting member untuk pemain bass dan mereka pindah lagi ke perusahaan rekaman baru King Record. Formasi kedua The Pillows ini mulai menetapkan genre musik yang mereka mainkan yaitu alternative rock bergaya jazzy dan bossanova dengan campuran soul. Pada saat inilah mereka mengeluarkan dua album yang menurutku sangat inspiratif dan penuh imajinasi, Kool Spice dan Living Field. Walaupun demikian, album ini masih kurang laku. Mungkin akibat pilihan genre yang kurang popular dikuping masyarakat Jepang. Walaupun demikian, kedua album ini akan menjadi koleksi favorit para fans The Pillows dimasa depan.

junPada tahun 1997, The Pillows meluncurkan album Please Mr. Lostman dengan mengubah gaya bermusik mereka menjadi pure alternative rock tanpa embel-embel jazzy. Album ini cukup sukses dipasaran dan diikuti album-album lain dengan tipe genre serupa. Setelah pelepasan album ke-7 mereka, pada tahun 1999 Kashima memutuskan keluar dan diganti dengan mantan pemain bass grup The Chewinggum Weekend, Jun Suzuki (gambar samping). Hingga sekarang, Suzuki masih tetap terdaftar sebagai supporting member (anggota pendukung) tetap untuk pemain bass. Sebagai supporting member, Suzuki seperti juga halnya dengan Kashima harus menerima konsekuensi gambar dirinya tidak akan pernah muncul dalam cover album, promotion video (PV) clip, maupun sesi pemotretan untuk promosi walaupun hak lainnya sama dengan anggota tetap The Pillows.

Tahun 1999 ini juga, The Pillows didekati pihak studio anime Gainax untuk mengisi soundtrack lagu untuk anime OVA produksi terbaru mereka FLCL (Furi Kuri). Selain mengambil beberapa lagu dari 3 album terakhir, The Pillows juga membuat 2 lagu baru khusus untuk soundtrack anime FLCL. Seiring dengan meledaknya OVA FLCL, nama The Pillows juga ikut terangkat naik. FLCL lebih banyak dikenal di Amerika utara lewat saluran anime Adult Swim sehingga menyebabkan The Pillows beberapa kali bolak-balik diundang untuk manggung di USA. Harus diakui bahwa OST FLCL inilah yang membuat nama The Pillows benar-benar meroket. Dua dari lima lagu favoritku juga berasal dari album OST FLCL (I Think I Can, Funny Bunny, She’s Perfect, Skim Heaven, dan Girl Friend)

pillows5

Hingga kini, The Pillows telah menelurkan 16 studio album (terakhir 2008, album Pied Piper), 28 single, 7 live album hingga 4 album kompilasi. Genre musik yang mereka mainkan sekarang masih tetap alternative rock, belum berubah sejak album Please Mr. Lostman walaupun beberapa lagu dalam satu album kadang mereka mencampurnya dengan pop, blues hingga rock and roll. Tidak seperti Tokyo Jihen yang cukup rumit, komposisi musik mereka gampang dicerna dan enak untuk didengar kuping. Seorang teman penggemar slank (slanker) yang kuberikan album MP3 The Pillows untuk didengarnya mendapatkan kesan bagaikan mendengarkan lagu slank dalam bahasa Jepang (itu katanya dia sih :mrgreen: ). Aku pribadi merasakan keasyikan tersendiri dalam mendengar lagu-lagu yang dibawakan oleh The Pillows. Malah dalam satu kesempatan manggung berdua dengan teman, kami membawakan salah satu lagu The Pilows yang berjudul Funny Bunny. Bagi yang ingin mencoba dengar lagu-lagu mereka bisa mengunduh album The Pillows di halaman J-Music Rare Album Link disamping kanan atas. Bagi yang mau lihat klip musik mereka, silahkan lihat dibawah ini.

The Pillows sekilas info:
busterkun21Main genre: Alternative Rock
Mascot: Buster-kun (gambar samping)
Fans nickname: Little Busters
Recent members:
Sawao Yamanaka (Vocal, Rhythm Guitar)
Yoshiaki Manabe (Lead Guitar)
Sinichiiro Sato (Drums, Percussion)
Jun Suzuki (Bass) – supporting member

Ex Members:
Kenji Ueda (Bass, 1989-1992)
Tatsuya Kashima (Bass, 1993-1999) – supporting member

OST FLCL – I Think I Can

The Pillows live show – Skim Heaven

Manga SKET DANCE mengambil lagu Funny Bunny, sebagai latar cerita band mereka

Gue manggung barengan teman – Funny Bunny

Lagu Girl Friend dari album Living Field yang beraroma jazzy

Varg Veum – The Next Sequels of Norwegian Detective

Sejak menonton film pertamanya Bitter Flowers yang dirilis ke bioskop-bioskop pada tahun 2007, aku mulai tertarik untuk mencari dan menonton 5 sequel drama detektif Norwegia ini. Harap maklum, aku lumayan suka dengan film misteri dan kisah detektif asah otak model beginian. Dua film awal dirilis seperti halnya film biasa ke bioskop, tapi 4 sequel terakhir diproduksi dan dirilis langsung lewat DVD. Film pertama yang diarahkan oleh sutradara Norwegia berdarah Pakistan Ulrik Imtiaz Rolfsen telah kubahas sebelumnya dilink ini. Seluruh film menampilkan aktor Norwegia Trond Espen Seim sebagai detektif swasta Varg Veum dan Bjorn Floberg sebagai Inspektur Polisi Hamre.

2nd Movie: Varg Veum – Sleeping Beauty
Judul asli: Varg Veum – Tornerose
Sutradara: Erik Richter Strand
vargroseSinopsis singkat: Veum diminta oleh untuk pasangan Halle untuk menemukan anaknya Lisa yang lari dari rumah. Setelah memulangkan Lisa ke rumah orang tuanya, Veum bertemu dengan tetangga keluarga Halle yaitu pasangan Werner yang juga kehilangan anaknya Peter dan meminta Veum untuk mencari anak mereka juga. Rupanya larinya Lisa dari rumah berhubungan erat dengan menghilangnya Peter. Tak lama kemudian Peter ditemukan tewas. Siapakah yang membunuh Peter?

Bergantinya sutradara memang membuat film terasa lain. Entah kenapa, hawa misteri dan suspense di film pertama banyak yang menguap di film kedua ini. Ketegangan dan misteri diganti dengan drama yang berjalan dengan agak lamban. Padahal sayang sekali jika misteri berbelit dalam film ini tidak terlalu memancing penasaran para penonton. Kebetulan sekali sinematografernya sama (kayaknya sama untuk seluruh film) dan sinematografinya lumayan enak untuk dilihat.

Rating: 3/5
————————————————————–
3rd Movie: Varg Veum – Yours Until Death
Judul asli: Varg Veum – Din Til Døden
Sutradara: Erik Richter Strand
vargtillSinopsis singkat: Veum disewa oleh Jonas Andresen untuk menemukan mobilnya yang dikabarkannya dicuri oleh istrinya Wenke. Pasangan Andresen sendiri sedang berada dalam proses perceraian. Mobil tersebut ternyata telah dijual oleh Wenke ke bengkel milik Pedersen. Masalahnya mobil sengketa pasangan Andresen tersebut dipakai untuk merampok. Jadilah Veum terjebak diantara perseteruan perceraian pasangan Andresen, kasus perampokan dan ditambah lagi Veum mulai tertarik dan berkencan dengan Wenke.

Perasaan agak membosankan dari film kedua masih terasa di sequel ketiga ini. Aku tidak tahu alasan dibalik perilisan film ketiga ini (juga keempat lima dan enam) bukan di bioskop melainkan direct to DVD. Yang pasti bila pendapatku ditanyakan mengenai film sequel kedua, jawaban negatifku mungkin dijadikan acuan untuk menghentikan rilis bioskop (untung aku cuma amatiran). Padahal secara cerita sebenarnya lebih menarik dibandingkan yang kedua karena melibatkan emosi tokoh utama Varg Veum, hanya saja jatuhnya jadi biasa saja mirip kasus film kedua. Kurang tegang dan misterinya juga kurang bikin penasaran. Kelihatannya sutradara Erik Richter Strand kembali gagal dalam membangun ketegangan dan misteri kasus yang ditangani oleh Varg Veum. Apakah ini dikarenakan kurang suksesnya sang sutradara mencoba men-drama-kan film misteri detektif? Entah kenapa beberapa kritikus Norwegia memuji film ini lebih baik dari film pertama Bitter Flowers. Satu-satunya hal yang lebih dibandingkan yang pertama dalam film ini adalah tensi adu akting yang menarik antara duet Seim dan Floberg.

Rating: 3.25/5
—————————————————————————————-
4th Movie: Varg Veum – Fallen Angel
Judul asli: Varg Veum – Falne Engler
Sutradara: Morten Tyldum
vargfallenSinopsis singkat: Veum bertemu dengan mantan kekasihnya Rebecca yang telah menikah dengan sahabat karibnya Jacob, seorang vokalis band terkenal. Jacob curiga kalau Rebecca selingkuh dan meminta Veum untuk menyelidikinya. Kobaran asmara masa lalu membuat Veum justru melakukan affair dengan Rebecca. Celakanya setelah acara one night stand dengan Veum, Rebecca terbunuh dan polisi menemukan sisa sperma Veum pada mayat Rebecca. Selain itu juga berturut-turut ditemukan korban lain yang tewas dengan cara yang sama dengan kematian Rebecca.

Sequel keempat ini menyelamatkan keinginanku untuk menonton lebih lanjut hingga film terakhir setelah tadinya aku mulai berangsur tak tertarik lagi. Lagi-lagi mungkin dikarenakan pergantian sutradara kembali. Kasus kali ini sekali lagi melibatkan emosi Varg Veum karena korban adalah kenalan dekatnya. Misteri yang diusung cukup membuat penasaran, malahan aku sempat salah menebak motif pembunuhannya hingga dua kali. Dalam film ini, misteri siapa pembunuhnya tidak terlalu menarik perhatian karena sosok pembunuhnya terlalu cepat diungkapkan. Justru motif pembunuhnyalah yang membuatku penasaran. Selain itu juga tensi adu akting antara Seim dan Floberg jauh berkurang dibanding film sebelumnya. Mungkin karena sang sutradara ingin mengurangi porsi drama dari sequel kedua dan tiga sebelum menambah unsur suspense.

Rating: 3.25/5


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: