Waltz with Bashir – Sebuah Genosida Pasif

Judul asli: Vals im Bashir
Genre: Animasi, Semi-dokumenter
Sutradara: Ari Folman
Pengisi suara: Ari Folman, Ori Sivan, Ron Ben Yishai
Catatan, hampir seluruh tokoh yang muncul adalah tokoh nyata yang juga diisi suaranya oleh tokoh aslinya.

waltzwithbashir1Seingatku, aku belum pernah nonton film produksi Israel, jadi menonton film animasi semi-dokumenter ini merupakan pengalaman pertamaku melihat dan meresensi sebuah film buatan Israel. Film ini adalah wakil Israel untuk memperebutkan piala Oscar dalam ajang Academy Award for Best Foreign Language Film, masuk nominasi utama tetapi kalah bersaing dengan film wakil Jepang yang berjudul Departures (Okuribito). Walaupun Waltz with Bashir ini termasuk kategori film istimewa, tapi kupikir masih sedikit berada dibawah Okuribito dan The Class (wakil Perancis).

Ari Folman seorang produser dan sutradara film mengalami halusinasi dan mimpi buruk tentang kejadian invasi Israel ke Lebanon. Anehnya kejadian pada saat Folman bertugas dalam rangka wajib militer tersebut sama sekali tidak dapat diingatnya secara jelas. Untuk mengumpulkan ingatannya kembali, Folman mulai mencari mantan rekan-rekan sesama serdadunya pada saat kejadian dan melakukan serangkaian wawancara dengan mereka. Selain itu juga ditampilkan wawancara Folman dengan psikolog dan wartawan yang juga hadir pada saat kejadian invasi, terutama yang menyangkut peristiwa pembantaian Sabra dan Shatila

Hal yang pertama ingin aku komentari adalah pilihan sutradara membuat film ini dengan teknik animasi dibanding dengan live action. Terus terang saja, menurutku mungkin efek penceritaan dan daya tarik film akan berkurang banyak jika menggunakan visualisasi live action. Oleh karena itu pemilihan media animasi sebagai pilihan sangatlah tepat.
Permainan warna dan pencahayaan! Itulah yang menjadi kekuatan utama sinematografi film animasi comic strip ini. Warna-warna gelap dan suram mewarnai film, ditimpa dengan cahaya terang yang menyebabkan degradasi warna menjadi terlihat unik dan mewakili kekalutan pikiran tokoh utama serta kekosongan jiwanya. Aku sendiri walaupun penggemar anime Jepang, sebenarnya agak kurang tertarik dengan gambar animasi comic strip. Hanya saja keunikan gambar animasi film ini memang berbeda dan menarik.

Lagu-lagu yang menghiasi film ini kadang berlirik komedi satir. Dengar saja sebuah lagu rock yang bertema tentang “aku mengebom Beirut setiap hari” diiringi secara visualisasi tentara Israel mengicar “teroris” yang malahan lolos melulu disertai banyaknya korban penduduk akibat salah sasaran dan rudal nyasar. Pada akhir lagunya keluar lirik “tentu saja disepanjang jalan kami juga tak sengaja membunuh orang-orang tak bersalah”. Sulit untuk tertawa walaupun lirik lagunya yang satir seolah-olah mengolok-ngolok tentara Israel sendiri yang tidak becus membidik atau memang sengaja menembak salah sasaran. Belum lagi hiasan musik klasik disepanjang adegan pertempuran, baik yang ditampilkan slow motion ataupun sambil berdansa waltz mengacu pada judul film.

Bukan teknik animasi dan musik saja yang patut dipuji dari film ini. Inti cerita dari film itu sendiri yang menyebabkan para juri Oscar memasukkan film animasi ini masuk nominasi. Bagi yang kurang tertarik dengan film bergaya narasi digabung dengan deskripsi kilas balik (flashback) mungkin akan bosan dengan dialog-dialog antar tokohnya, walaupun bagiku justru dialog-dialog inilah yang menjadi kekuatan film animasi ini. Lewat narasi tokoh utamanya beserta obrolan dan wawancara dengan rekan-rekannya, para penonton dibawa masuk kedalam realitas kehidupan para serdadu bawahan Israel, khususnya secara psikologis.

Bagian terbesar yang menjadi inti film ini adalah peristiwa pembantaian Sabra dan Shatila yang terjadi di Lebanon tahun 1982. Ketika itu Milisi Kristen Phalangist yang berada dibawah pengawasan Israel membantai pengungsi palestina di kamp pengungsi Sabra dan Shatila tanpa ada tindakan Israel untuk mencegah, malahan “membantu” visual para milisi dimalam hari lewat penembakan cahaya flare ke langit diatas kamp pengungsi. Ada yang menyebutkan kalau Israel terlibat langsung dan ada pula yang menyatakan Israel terlibat secara tidak langsung (pinjam tangan milisi Phalangist). Dalam film ini, para serdadu Israel memposisikan dirinya sebagai pihak yang terlibat secara tidak langsung. Melihat dan mengetahui adanya pembantaian didekatnya tetapi tidak ada niat dan usaha untuk mencegah, walaupun sebenarnya mereka mampu. Cahaya-cahaya suar kekuningan (dari flare) di langit yang ditembakkan oleh militer Israel diatas kamp pengungsi terlihat indah didalam film berpadu dengan kegelapan malam yang mistis. Pada saat yang sama, terjadi pembantaian berdarah yang berlangsung secara mengerikan didalam kamp pengungsi Sabra dan Shatila.

Kalau anda selesai menonton film ini, ada kemungkinan anda akan mempertanyakan hal yang sama dengan diriku. Apakah jika anda punya kemampuan untuk menghentikan pembantaian tetapi justru membiarkannya, anda sama saja dengan menjadi pelaku pembantaian itu sendiri? Tragedi pembantaian paling aktual yang terjadi akhir-akhir ini adalah serangan zionis Israel ke Jalur Gaza. Ironisnya justru film Israel sendiri yang mengingatkan betapa sikap diam banyak negara didunia terutama tetangga perbatasan Jalur Gaza yaitu Mesir sama artinya ikut membantai penduduk Jalur Gaza. Mereka semua memang boleh mengutuk, tapi apakah hanya dengan mengutuk akan menghentikan pembantaian? Toh lebih dari seminggu serangan gencar dilakukan dan membunuh lebih dari seribu rakyat sipil. Dengan menghentikan serangan zionis Israel selama satu hari saja, mungkin bisa menyelamatkan puluhan hingga ratusan penduduk. Jika mampu mencegah tapi tak mau melakukannya, apa bedanya dengan melakukan lewat pinjam tangan orang lain?

Apakah Ari Folman benar-benar lupa dengan peristiwa Sabra dan Shatila, atau dia memang terpaksa lupa sebagai wujud melarikan diri dari rasa bersalah? Dipersilahkan anda menjawabnya sendiri. Lagipula banyak negara didunia ini yang berpura-pura lupa dengan pembantaian di Jalur Gaza setelah gencatan senjata dibelakukan bulan Januari lalu. Justru film produksi Israel yang kembali mengingatkanku pada kejamnya Operation Cast Lead dan sikap berpangku tangan dunia internasional. Mengulangi sejarah pembantaian di Rwanda, Somalia dan Bosnia yang terjadi sebelumnya dengan hanya mengungkapkan rasa penyesalan tanpa tindakan mencegah. Di Indonesia sendiri masih banyak orang yang berpura-pura lupa dengan tragedi DOM di Aceh. Sebuah Genosida pasif.

Film animasi ini diakhiri dengan pemutaran film dokumenter asli (bukan animasi) hasil akhir dari pembantaian Sabra dan Shatila, sunyi tanpa suara, hanya pemandangan mayat-mayat bergeletakan sehingga sangat mencekam perasaan.

NB:
– Postingan ini hanya membahas tentang film yang bertema politik dan genosida. Harap memberi komentar yang sesuai dengan tema postingan yaitu film. Jika tidak, saya tidak ragu untuk menghapus.
– Walaupun film ini dipenuhi adegan kekerasan perang, semangat anti genosida-nya sangat terasa. Tercermin lewat Folman yang membandingkan Kamp Auschwitz dengan pembantaian penduduk Palestina. Dalam hal ini Folman cukup berani mengkritik kebijakan politik zionisme negaranya sendiri.
– Kemungkinan besar film ini tidak akan masuk Indonesia, hanya ada dua jalan untuk menontonnya: download bajakannya atau nonton DVD bajakan. Ingat, menonton bajakan film ini berarti merugikan perindustrian Israel (dalam hal ini industri film).😆😆

Rating: 4/5

15 Responses to “Waltz with Bashir – Sebuah Genosida Pasif”


  1. 1 Tigis February 26, 2009 at 3:58 pm

    gue tadinya excited ama pilem ini. Tp terus pas tau kalo ini pilem animasi jadi males. Ga tau kenapa koq gue males banget ya nonton pilem kartun:mrgreen:

    eh btw, elo ada yg nyariin pren di posting review IP Man gue. Ditanyain elo ini anak ***** bukan?

    @Tigis
    Pertanda jiwamu semakin tua, Oom:mrgreen:
    Katanya sih, kalau suka film animasi jiwa penontonnya kembali muda hingga 10 tahun… wakakak😆

    Balik serius lagi deh. Ini film kalau dibikin live action malah bakalan kurang menarik, pasti kesannya kayak film dokumenter biasa yang banyak adegan wawancara. ada sih kepikiran ide jika misalkan adegan cerita flashback tetap dibikin animasi, cuma adegan ngobrol dan wawancara doang yg dibikin live action. Mau sutradaranya kayak gitu, mau gimana lagi. Wong nonton streaming gratis koq😛

    Waakkkkkk, Terbongkar deh borok gue, terpaksa diedit😈
    Tuh anak siapa yah? kenapa nggak lsg nyamperin blog gue sini, toh alamatnya gue link lsg koq.
    Susah jadi orang ngetop nih😎

  2. 2 gilasinema February 27, 2009 at 2:41 am

    Belum liat bang. Semoga gak dihapus😛
    Dari reviewnya kok jadi terbayang Persepolis yang juga menceritakan pembuatnya.
    Makin penasaran nih.
    Reviewnya aku suka, sangat informatif.

    @gilasinema.
    Hehehe…. sori deh, gw rada khawatir cuma karena resensi film dijadikan ajang debat sara azhari gak tau juntrungannya. Soalnya pernah liat resensi punya org jerman ditutup komentarnya gara2 debat kusir politik penuh sumpah serapah, sedangkan filmnya sendiri justru dicuekin.
    Iya, aku juga sebelum nonton jadi ingat film animasi ttg revolusi Iran itu.
    Thanks for your compliment, thanks to wikipedia either for the Sabra and Shatila Massacre info😳

  3. 3 Yari NK February 28, 2009 at 11:22 pm

    Memang selalu punya pengalaman tersendiri saat menonton film dari sebuah negara yang filmnya belum pernah ditonton. Bagi saya film animasi ataupun live tidak masalah, yang penting memang sinemtografinya bagus dan juga scriptnya juga bagus, tidak monoton dan tidak klise. Wah, sebuah referensi yang afdol nih…

    @Yari NK
    Memang betul mas, yang paling kerasa itu intonasi dan ekspresi pada saat dialog antar tokoh. Karena ini film animasi, intonasi percakapan yang lebih terasa. Maklumlah nggak ngerti gaya berbahasanya. Nonton film berbahasa perancis, jerman atau spanyol tidak terlalu “asing”, paling nggak udah sering dengar walau nggak ngerti artinya.
    Terima kasih sudah berkunjung dan kasih komentar.

  4. 4 Lelouch Lamperouge March 1, 2009 at 3:46 am

    kalau menurut saya, filem animasi yang lebih menyerupai vektor dengan garis-garis yang tegas, permainan pencahayaan dan warna2 suram bisa menjadi daya tarik tersendiri. apalagi kalau saja benar tata warna filem ini sama dengan yang tergambar dalam cover box di atas…

    apa Ando-kun masih ingat dengan paket animasi The Animatrix? ada beberapa gaya gambar dan gaya penyutradaraan sih, namun masing2 memiliki daya tarik tersendiri, bahkan saking ampuhnya ada yang membuat saya mual juga karena yang disampaikan bisa 100 persen saya terima…

    @Lelouch Lamperouge
    Sebenarnya apa yg ditampilkan dalam adegan utama film ini (pembantaian Sabra dan Shatila) adalah indahnya langit malam yang dipadu cahaya flare (seperti pada cover) sangat kontradiktif terhadap pembantaian dalam kamp pengungsian. Padahal 2 kejadian yang sangat bertolak belakang tersebut terjadi ditempat dan waktu yang sama. Selain adegan malam, adegan lain jg banyak menampilkan gambar yg bersifat simbologis dan analog. Sulit menjelaskannya dgn kata-kata. Lebih enak lsg nonton dan mengerti lwt pandangan mata sendiri. Selain itu bagiku, bagian terpenting dari film animasi yang paling ku perhitungkan adalah cerita, nomer duanya baru teknik penyampaian cerita lewat gambar.
    Pernah nonton film anime karya Hayao Miyazaki yg judulnya Laputa, Castle in the Sky. Film udah agak jadul dan gambarnya nggak istimewa2 amat, tp gaya film dan cerita petualangannya justru bikin aku nempatin film ini bersama Spirited Away sbg film Miyazaki terbaik yg pernah kutonton.

    The Animatrix yah? memang menarik manyaksikan kumpulan tema yang sama tapi dibuat oleh studio dan sutradara berbeda. Jelas saja gaya pembuatan animasi berbeda akan memberikan efek tontonan berbeda pula. Paling suka adegan kerusuhan yg diakhiri pembantaian robot AI.

  5. 5 Oni Suryaman March 2, 2009 at 6:03 am

    @sigit: git, kamu masih terpengaruh dengan stereotype kartun sebagai film anak2, padahal dalam beberapa dekade terakhir hal tersebut sudah berubah. jangan berharap lagi model kartun gaya disney. kartun dari yang realis, sangar sampai porno pun sudah menjadi hal yang biasa. sayang git, soalnya kadang film kartun bisa lebih real dari film biasa.

    an. udah lama nih gak ubek2 film bajakan. mudah2an dalam waktu dekat bisa dapat sambungan internet yang bisa nonton streaming. langganan im2 indosat mengecewakan, cuma dapat sinyal gprs, gak dapat 3g, apalagi 3.5g seperti yang diiklankan.

    menurutmu bagusan mana sama film jepang yang dapat oscar.

    @Oni
    Kalau dibandingkan sama Okuribito, lebih bagus Okuribito menurutku. Tapi kalau dibanding sama The Class, terus terang aja aku lebih milih The Class (yg menurutku lbh heboh) daripada 2 yg ini. Mungkin orang bule (juri Oscar) rada kaget dan jd tertarik sama “keanehan” konsep hidup dan mati orang2 jepang dlm film okuribito, jdnya yg menang Oscar justru Okuribito.

    O iya, aku barusan dapat film saingan Oscar mereka, Revanche (nominasi kiriman Austria). Belum nonton, sibuk banget sih. 2 film perancis, Flight of the red balloon dan I’ve loved you so long, juga udah ada dlm komputer, tapi belum kutonton jg. Malah kemaren nonton sequel film detektif norwegia Varg Veum (lebih pendek durasinya, gampang ditonton). Kalau saja bisa kirim file film secepat kilat, udah kukirim dari dulu.

    Ntar kalo kau udah bisa nonton streaming, aku kasih tau deh alamat dimana nyari film langka, walaupun kadang juga kepaksa download krn sering nggak ada terjemahannya

  6. 6 Emina March 2, 2009 at 12:44 pm

    bentuk-bentuk film animasi, semua saya suka. eh tapi tergantung ceritanya juga deng. biasanya saya ga terlalu suka ituh animasi binatang (fabel), tapi tergantung juga. klo kisahnya bagus kyk Spirit: The Medallion, malah bikin saya nangis.

    tapi, klo melihat latar belakang film ini, rasanya jadi ingin nonton..tapi dimana saya bisa nonton, mas?
    kok mas ando bisa dapat film2 keren kyk gini, eh tinggal di jepang jadi sangat up to date sama film ya..xD
    *ngiri*

    @Emina. Sori, terjaring Akismet. sudah dibebaskan.
    Iya saya jg tergantung, tergantung saya suka sama filmnya atau nggak😆

    Orang jepang sangat “TIDAK” up to date sama film (non-jepang), malah masuk kasus cukup parah. Aku tau banyak judul film bagus karena teman2 blogger tukang nonton di daftar sebelah kanan suka ngasih rekomendasi. Dan kebetulan tinggal di jepang bisa akses internet super kencang.

    Nggak perlu ngiri, tinggal di jepang biaya hidup mahal. Nonton bioskop sekali di jepang bisa buat 2-3 kali di indonesia. Bedanya, harga tiket di jepang semua sama, nggak ada kelas VIP atau kelas 21. Wong standar bioskopnya sama koq

  7. 7 gilasinema March 3, 2009 at 12:41 am

    TETAP NGIRI!!!
    Apalagi dengan I’ve Loved You So Long nya😦

    @gilasinema
    Hehehe….. silahkan ngiler dgn sukses:mrgreen:

  8. 8 Oni Suryaman March 3, 2009 at 6:18 am

    aku udah nonton flight of the red baloon. terlalu abstract. saking abstractnya sampai gak jelas. film ini bisa memberi potret kehidupan real banget sih, tapi ya gitu, gak ada ceritanya, cuma potongan kehidupan yang kebetulan dilintasi balon berwarna merah.

    @Oni
    Aku pernah nonton Karya sutradaranya yg lain, judulnya Three Times (yg main Shu Qi). Filmnya penuh dgn bahasa gambar, simbolis dan minim dialog. Jangan2 gaya pembuatannya sama yah?

  9. 9 jensen99 March 5, 2009 at 11:33 am

    Hee, tumben ada warningnya serem sekali. Jangan2 komen saya disensor juga ni😯
    1] idenya menarik. Membuat film tentang dokumenter (tentang diri sendiri pula! Jarang itu) dengan teknik animasi. IMO, ini mestinya bisa dilakukan juga oleh sineas Indonesia, mengingat di negara ini juga ada banyak sejarah yang layak dianimasikan (terutama yang terlalu kolosal atau terlalu “gelap” dan “abu2”, seperti DOM itu)
    2]

    Apakah jika anda punya kemampuan untuk menghentikan pembantaian tetapi justru membiarkannya, anda sama saja dengan menjadi pelaku pembantaian itu sendiri?

    Umm… IMO, tergantung kepentingan saya. Sederhananya: kalo teman saya bunuh musuh saya, itu tidak masalah buat saya. Hanya saja, jangan sampai saya ikut mengatur supaya hal itu terjadi. Itu sudah beda kasusnya.😉

    @jensen99. Komentarnya cuma gitu doank??? yahhh, jadi nggak ada alasan nih komentarnya buat disensor. Padahal udah diincer tuh 😆
    1] Belum diproduksi jg bisa2 tim kreatif-nya bakalan kena “teror” orang2 yg berkepentingan. *takut*
    2] Hehehe.. prinsip cari selamat yah. Tapi kalau sampai kejadian ngasih alamat “musuh saya” buat teman, ngasih kunci palsu buat masuk rumah musuh saya dan pas malam2 sampai ngasih pinjem senter dan api obor segala labelnya sudah ikutan ngatur tuh.

  10. 10 ab.satriatataka March 6, 2009 at 11:32 am

    alow, ‘lam kenal,banyak blog resensi film..kyknya cm blog sy aja yg sajikan posting “adegan2 terbaik/best scenes” films, alasan sy,biar ada identitas pembeda dgn blog film sejenis alias biar jd trade-mark blog sy jg.lagipula biar ngga plagiat,krn minimal utk tau best scenesnya hrs nonton dolo filmnya (bukan hy thrillernya lho), dan baru deh bs tentukan mana best scenes-nya tho?dan kadang ngga cm film aja siy yg ku review, krn best paragraphs dr buku2 jg sdh ku draft utk best paragraphs, maklum kebanyakn baca buku jg, ngga ada salahnya bagi2 ilmu kan?. Kedua, klo nulis resensi kyknya sy ngga sanggup deh,byk bener..hehe.(maklum sibuk tulis thesis jg niy). aku dah nonton se7en pounds ini, check deh di blog.tp PUSH dan watchmen belum. PUSH mgkn inspired dr HEROES ya?hehe mdh2n aku bs segera nonton PUSH dan Watchmen deh jd bs cpt pilih best scenesnya. see u.peace.

    @ab.satriatataka
    Halow djuga. Ngomong2 yang copy paste komentar itu yang ini atau yg di komentarnya mas Ekoadit disini?😆
    Trade mark yah? blog saya nggak punya. Tp mungkin saya lbh fokus ke film2 alternatif yg jarang diulas sama orang lain. Kadang jg mengulas musik (lebih tepatnya band) dari Jepang.
    7 Pounds dan PUSH udah nonton, tp kayaknya terlalu biasa. Jadi males nulis resensinya. PUSH apalagi, benar2 mengecewakan. Ntar dichek di blog situ deh.
    Wah nulis thesis yah, semoga cepat selesai thesisnya:mrgreen:

  11. 11 ab.satriatataka March 11, 2009 at 10:05 am

    haha..tau aja klo saya jg copy komentar sy sendiri n paste di bbrp blogs kawans lain utk komentarin tema yg sejenis.habis males nulis lagi,tapi malah jadi keliru tuh jadinya…(semoga ngga kejadian di tesis ku nti,hehe)

    resensi film bos emang justeru trademarknya kyknya krn ambil films yg alternatif itu deh..jarang2 lho resensor films yg kyk bos.Salut deh.
    have a nice days!

    @ab.satriatataka
    Habis bikin kopian komentar koq diblog tetangga teman nonton gue, jadinya gampang dilacak. Lain kali naroh kopiannya jauhan dikit donk😆
    [Copy paste buat nulis thesis sama aja dngn gali lobang kubur sendiri, good luck aja deh buat thesisnya]😉

    Tengkyu atas apresisasinya. [bales pake judul lg Bon Jovi jg deh]
    It’s My Life !!😆😆😆

  12. 12 jensen99 March 11, 2009 at 11:12 am

    2] Hehehe.. prinsip cari selamat yah. Tapi kalau sampai kejadian […] sudah ikutan ngatur tuh.

    Bukan, bukan karena prinsip cari selamat, tapi karena saya diuntungkan dengan peristiwa itu, tapi bukan berarti karena diuntungkan lalu saya ikutan ngatur seperti Ariel Sharon di Lebanon itu.
    Jadi, kalo ternyata tak terjadi apa2 pada musuh saya (nyerang duluan, misalnya), ya sudahlah, tak perlu diapa-apain apalagi sampai pinjam tangan, tapi kalo dia tertimpa sesuatu didepan mata saya (tanpa campur tangan saya), saya akan menungguinya mati perlahan tanpa memberi pertolongan dengan senang hati.😉

    @jensen99
    Itu namanya mau dapat untung tanpa mau ngeluarin modal, prinsip ekonomi paling praktis:mrgreen:
    Sebenarnya ada yg lebih kejam dgn sikap diam, yaitu nggak mau bantu karena nggak dapat untung apa-apa atau nggak mau bantu karena nggak mau direpotin. Yang beginian walau darahnya belum beku tapi udah mulai dingin.

  13. 14 an99ong December 3, 2009 at 4:41 am

    hmm,, jadi kalo dengan ngebajak dvd nya bisa bikin rugi israel,, i’ll loved to download it!😄 pengen banget ngancurin zionis2 ituh! dari pandangan kenapa si ari folman itu seperti sengaja melupakan peristiwa sabra dan shatila,, kita juga harus inget kalo yahudi tu ada dua,, zionis dan non-zionis. nah,, para zionis inilah yang harus dikecam,, bukan yahudinya… mungkin ari folman bukanlah zionis,, tapi yahudi yang juga mengecam zionis dengan caranya sendiri..
    well,, just found this site! i like your reviews though.. ^^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: