Fear and Tremblings – Cinta tidak berarti pasti memahami

Judul asli: Stupeur et tremblements
Produksi: Studio Canal – Perancis ( 2003 )
Genre: Drama-komedi satir
Sutradara: Alain Corneau
Pemain: Sylvie Testud, Kaori Tsuji

fearfilm

“Bagaimana para customer bisa bicara bisnis didepan orang asing yang ngerti bahasa Jepang? Mulai sekarang kamu jangan ngomong bahasa Jepang lagi!”
(Kabag Saito kepada Amelie, setelah rapat dengan customer bubar akibat Amelie menyediakan kopi dan mempersilahkan minum para tamu dengan bahasa jepang)

Dalam film Lost in Translation telah disinggung bagaimana cultural shock terjadi akibat kesalahpahaman dan ketidakpahaman bahasa. Bagaimana bila dibuat kondisi paham bahasa, apakah benturan budaya masih terjadi? Dalam film ini tokoh utamanya fasih berbahasa dan tentu saja memahami bahasa Jepang. Latar belakang yang dipakai film untuk menggambarkan benturan budaya adalah dunia kerja, khususnya pekerja kantoran.

Film diawali dengan pengenalan tokoh Amelie seorang gadis Belgia yang lahir dan tumbuh di Jepang hingga usia 5 tahun. Setelah dewasa Amelie memutuskan untuk kembali lagi ke Jepang. Dia melakukan ini bukan sebagai turis melainkan seorang pekerja (penerjemah) di perusahaan raksasa Jepang Yumimoto dengan kontrak kerja satu tahun dan dengan tujuan jangka panjang, “menjadi orang Jepang!” Amelie merasa jatuh cinta pada Jepang beserta budayanya dan patah hati ketika ketika kembali pulang mengikuti orangtuanya ke Belgia. Kali ini Amelie datang lagi untuk merajut kembali cintanya yang dicerabut belasan tahun yang lalu dengan keyakinan kuat berkat kerja kerasnya untuk menguasai pengetahuan bisnis perusahaan Jepang beserta bahasanya sekalian.

Sayangnya jalan yang diidam-diamkan oleh Amelie tidak semulus yang dibayangkan. Pengetahuannya tentang kehidupan orang Jepang ternyata tidak banyak membantu. Otak encernya juga jadi sia-sia akibat Amelie tak mampu memahami sosial budaya masyarakat Jepang (termasuk memahami kondisi mental perawan tua Jepang yang sibuk mengejar karir). Malah jabatan staff kantor diawal cerita perlahan turun dan berakhir menjadi petugas pembersih toilet. Apakah akhirnya Amelie tetap berkeras kepengen jadi orang Jepang? Cinta Amelie terhadap Jepang belum tentu berarti Amelie telah memahami masyarakat Jepang secara utuh.

buku1Film Perancis ini sangat cocok buat anda yang: penggemar film bagus, suka komedi satir, pemerhati budaya, pekerja kantoran, Japanese freaks, Japanese wannabe ataupun hanya tertarik dengan kejepangan dan orang yang tidak keberatan nongkrongin tampang cakep dan judes Kaori Tsuji sampai film selesai. Diadaptasi dari novel semi autobiografi berbahasa perancis dengan judul sama karya pengarang Belgia Amelie Nothomb (lagi nyari versi bahasa Inggrisnya nih) yang memang lahir di Jepang dan tinggal disana hingga umur 5 tahun. Judul novel dan film diambil berdasarkan ungkapan kondisi yang harus dilakukan oleh setiap orang sewaktu menghadap Tennou (sang kaisar Jepang), walaupun tentu saja hal ini sudah tidak dihiraukan oleh orang Jepang generasi sekarang.

Satu hal yang mesti digaris bawahi, walaupun dalam banyak hal film ini memaparkan kondisi budaya dan sistem kehidupan sosial masyarakat Jepang terutama suasana kantor dan pekerjaan yang sesungguhnya, penggambarannya terlampau hiperbolik. Bagi para penonton yang kurang mengerti budaya kerja orang Jepang, film ini lucu dan menarik. Akan tetapi bagi anda yang pernah tinggal cukup lama di Jepang, anda akan merasakan banyak adegan yang berlebihan. Mungkin sutradara bermaksud memperbandingan perbedaan budaya barat dan Jepang secara tajam dengan membuat suasana satir.

Misalnya saja posisi atasan dengan bawahan di perusahaan Jepang memang sangat terlihat jurang perbedaannya. Kalau boss bilang A, bawahan harus bilang A dan tidak boleh bilang B atau yang lain selain A. Ketika Amelie dipanggil managernya dan diperingatkan kalau dia salah, Amelie yang merasa benar justru membantah sang boss dan mendebatnya. Padahal bagi staff Jepang diposisi Amelie akan segera meminta maaf dan biasanya persoalan akan habis sampai disitu saja. Hal ini juga berlaku bagi posisi senpai (senior) dan kohai (junior), walaupun tidak sekaku posisi boss dan bawahan. Peraturan dan hirarki jabatan adalah mutlak. Akan tetapi hanya itu sajakah? Bagaimana dengan adegan boss teriak-teriak tanpa alasan masuk akal, kerja tidak efisien yang buang-buang waktu, uang dan tenaga, belum lagi mempekerjakan pegawai kompeten dengan tugas bukan keahliannya. Bila mengingat betapa efisiennya perusahaan Jepang dalam menjalankan bisnis tentu saja hal ini aneh, apalagi untuk perusahaan raksasa.
Saya pernah mendengar cerita mengenai bawahan yang dimarahi oleh supervisor Jepangnya secara tidak sopan, biasanya yang bertingkah seperti itu hanya memiliki jabatan boss kecil atau memang boss mental kuli dari perusahaan kecil. Namanya juga film, jangan terlalu dipikir serius.

Sylvie Testud bermain luar biasa sebagai Amelie hingga tak heran jika dia berhasil menggondol pulang Cesar Award tahun 2004. Gaya Testud berbicara, ekspresi dan bahasa tubuhnya benar-benar membuatku kagum. Banyak kejadian yang memancing tawa ataupun senyum miris lantaran melihat gaya dan ekspresi Testud, padahal adegannya sendiri bukanlah adegan komedi dan dialognya juga cukup serius. Dialek Perancis Testud sewaktu ngobrol dengan bahasa Jepang juga cukup lucu dan menarik. Secara mengejutkan permainan Kaori Tsuji sebagai Mori Fubuki mampu mengimbangi akting Sylvie Testud. Sayangnya akting pemain Jepang yang lain terlalu biasa-biasa saja bagaikan pelengkap. Selain itu juga ada tendensi seksual didalam film yang digambarkan secara halus, termasuk orgasme Fubuki atas kepuasannya menyiksa Amelie (berbau S & M).

Pelajaran moral dalam film ini adalah kalau ingin mengikuti aturan Jepang, ikuti saja peraturannya apa adanya, jangan coba-coba menjadi Jepang karena bisa dipastikan gagal. Ada hal-hal tertentu dalam budaya yang bisa dipelajari orang asing secara teori tetapi tidak secara praktek. Walaupun anda fasih berbahasa dan mengerti budaya Jepang secara teori, anda tidak akan pernah mengerti orang Jepang secara penuh karena anda bukan orang Jepang. Mungkin hal ini juga berlaku untuk orang yang hidup di budaya yang berbeda.

Kalau anda memiliki pengetahuan tentang sosial dan budaya Jepang, melihat keanehan yang ditulis diatas, mungkin rating yang akan diberikan adalah 3.75/5. Dibawah ini adalah rating saya secara objektif.

Cerita: 4.25/5
Sutradara:3.75/5
Total rating: 4/5

NB. Gaijin dan Gaikokujin sama-sama berarti orang asing, hanya saja panggilan Gaijin terkesan melecehkan orang asing dibanding kata Gaikokujin yang lebih respek.

10 Responses to “Fear and Tremblings – Cinta tidak berarti pasti memahami”


  1. 1 Lelouch Lamperouge February 20, 2009 at 1:28 pm

    sungguh filem (dan resensi) yang menarik! dan saya rasa, saya sendiri termasuk dalam kategori orang yang anda sebut; a japanese wannabe. entahlah, menurut saya jepang itu eksotik! meski yang saya lihat baru sisi surgawi jepang yang digambarkan dalam anime, dorama hingga PV.

    sebut saja, saya pengin tinggal di jepang, lalu, bila sudah, saya mau apa? apakah saya bisa benar2 bahagia di sana? saya merasa saya pengin menjadi orang jepang, tanpa memikirkan apakah saya bakal bisa memahami kebudayaan masyarakat jepang.

    dan ngomong2, apakah filem ini bisa didapatkan di Indonesia?

    @Lelouch Lamperouge
    Kadang harapan dan kenyataan itu berbeda jauh kadang pula cuma sedikit berbeda. Hidup di Jepang dan numpang lewat jadi turis di Jepang sangat berbeda. Mungkin anda bakalan lebih mengerti kalau sudah tinggal di Jepang dan menjalani kehidupan sehari-hari bersama orang Jepang. Kalaupun anda bisa sedikit memahami budaya orang Jepang, tetap saja anda sulit memahami orang Jepangnya sendiri beserta kebiasaan yang tidak akan pernah tertulis di buku teks.

    Wah mengenai film nggak tau tuh. Ini film Perancis produksi tahun 2003. Saya aja dapet downloadannya setelah berjuang nyari sana sini lwt internet. Mungkin kalau beruntung bisa didapatkan lewat DVD bajakan barangkali.

    Ada yang bisa ngasih info?

  2. 2 frozen February 20, 2009 at 2:36 pm

    aduh, saya ini jarang sekali nonton film, karena memang tidak suka. Tapi kalau ada review seperti ini, “iman” saya bisa goyah, nih, kayaknya.

    @frozen
    Menggoyang “iman” seorang frozen benar2 suatu prestasi luar biasa. Kalau itu terjadi lewat tulisan review saya, saya merasa sangat tersanjung. Tengkyu peri mach😀

  3. 3 jensen99 February 21, 2009 at 6:43 pm

    Hee.. Saya malah merasa bakal suka film ini bukan karena Jepangnya, tapi karena ini film Prancis!:mrgreen:
    Sebenarnya hal yang biasa melihat orang asing tinggal di Jepang, cuma sampai kerja di perusahaan raksasa mereka memang baru pernah dengar.😀
    IMO, kita bisa saja mempelajari segala kejepangan tuk tinggal di Jepang, tapi apakah orang Jepangnya sendiri bisa melihat kita sebagai bagian dari mereka? Sekalipun bicara bahasa yang sama, dan bisa menjalankan budaya mereka? Di film itu bagaimana?

    @Jensen99.
    Memang film Perancis banyak yang punya tema unik dan lebih bagus daripada produksi Hollywood. Sayang di Indonesia kurang promosi😥. Lumayan banyak juga koq orang asing kerja di perusahaan besar Jepang, tapi tidak di posisi sangat vital.

    Sebenarnya dalam film ini sendiri ada sedikit tendensi membahas masalah rasisme dalam hal ini sikap rasis orang asia terhadap orang bule (aneh juga yah, biasanya orang kulit putih yg memandang rendah kulit warna lain), hanya saja lebih dititik beratkan pada masalah budaya dan bisnis, bukan politik.
    Jangankan di Jepang, dibelahan dunia lainnya juga banyak kejadian sulitnya kelompok mayoritas menerima minoritas. Didalam film ini sendiri walaupun ada karyawan Jepang yang menerima Amelie dan bekerja sama dengan pandangan “sesama karyawan”, tapi tak kalah banyak pula yang masih memandang Amelie sebagai “orang asing yang jadi karyawan” walaupun bukan dalam artian negatif. Tokoh Mori Fubuki dalam film memandang sosok Amelie sebagai “sesama karyawan”, tapi dia justru berusaha menjatuhkan karir Amelie karena khawatir Amelie akan menyingkirkan dirinya dari posisi supervisor.

    Lihat saja di USA. Walaupun presiden barunya semi-kulit hitam (nggak full hitam sih), apakah dengan demikian bisa menghapus diskriminasi antara orang kulit putih dengan kulit berwarna lain? Perjalanan mereka masih panjang untuk memperoleh status “sama”, malah Australia lebih parah dalam soal diskriminasi dari pada USA. Indonesia sendiri belum bisa melepaskan diri dari masalah diskriminasi dan sikap rasis terhadap ras/suku lain. Jangankan masalah WNI keturunan tionghoa, masalah satu suku tapi berbeda kampung saja bisa menyebabkan konflik berkepanjangan.

  4. 4 Irene February 24, 2009 at 2:20 am

    film prancis! i heart film prancis! tapi belum liat yg ini…

    @Irene
    Yup, I love France movie either. More than Hollywood. Ini film bagus tp susah nyarinya. Kalau mau ikutan cara saya, unduh dr internet deh.

  5. 5 gilasinema February 24, 2009 at 3:40 am

    Bang…pengen deh film-filmnya.
    Dah ngiler nih🙂
    Download gak mungkin banget, soalnya pake fasilitas kantor hehehe.

    @gilasinema.
    Halah, si mas gimana sih. Masih inget komen saya di blognya situ? 20 film terbaik yg mas gilasinema bahas, saya malahan baru nonton 13 biji. Harusnya saya yang ngiler nih:mrgreen:

    Beli DVD bajakan nggak mungkin dapet. Di Jepang nggak ada Glodok dan Mangga dua sih😆

  6. 6 gilasinema February 25, 2009 at 1:11 am

    Masih kurang bang, dan masih “lapar” (rakus soalnya)😀
    Soalnya suka film yang gak beredar luas..Pembajak sini kan gak mudheng film-film luar Amrik.

    @gilasinema
    Harap maklumlah, pembajak juga manusia khan. Butuh duit buat makan:mrgreen:
    Mereka cuma mau ngembajak film2 yg diprediksi bakalan laku. Dulu ada teman pernah bilang, kalau poster depan film ada gambar cowok/cewek cakep sambil pegang pistol/senjata api, dijamin film itu lebih cepat laku😆
    Yang bikin sebal justru pembajak asal2an. Kualitasnya itu loh makin parah. Dulu film2nya berkualitas bagus bagaikan DVD asli (cuma nggak ada feature khusus) sekarang jadinya bajakan ancur2an. Kadang rekaman kamera dlm bioskop.

    *koq jadi curhat nih….😦 *

  7. 7 Irene March 2, 2009 at 7:27 pm

    iya tadi aku juga cari2. haha kebetulan di youtube ada. cuman keliatannya ga di sub. dan sayangnya gw ga bisa bhs prancis. *nangis*

    @Irene
    yang di youtube tanpa subs yah? Aku jg awalnya nemu yg itu sebelum gerilya nyari lg ditempat lain dan sukses menemukan yg lengkap dgn subs (harus download).
    .
    .
    cup….cup….cup….

  8. 8 Roux May 5, 2009 at 12:57 pm

    ada di youtube? nice…

    masa sih bule rasis, kayaknya nggak juga, apalagi di negara2 yang kuat hukumnya.

    rasisme biasanya umum terjadi antara kalangan pendatang dan penduduk asli, wajar, karena perebutan lapangan pekerjaan dan benturan budaya..terutama bagi bangsa asing yang sulit / tidak mau berbaur…dan cenderung lebih senang berkelompok dengan kaumnya sendiri..

    btw. selain lost in translation banyak film2 yg menggambarkan impian org asing akan eksotisme atau subkultur jepang, contohnya, stratosphere girl..kalau suka tipe2 film seperti diatas coba tonton..:)
    —————————
    @Roux
    Rasisme itu ada dimana-mana koq. Bule rasis? Pernah dengar Ku Klux Klan? Atau pernah dengar partai sayap kanan di Australia yg anti imigran? Memang sih alasannya berbeda-beda walaupun kebanyakan karena alasan ekonomi. Jepang jaman sebelum krisis, rasis thd non-jepang (kebanyakan org asing dari benua asia) lbh dikarenakan orang non-jepang suka cuek sama aturan dan norma orang jepang. jaman sekarang sih, kalau kondisi ekonomi memburuk, bisa2 alasan rasisme lbh krn alasan ekonomi.

    Bagaimanapun orang asing tetaplah agak sulit berbaur dgn orang lokal, apalagi dgn bahasa pergaulan sehari-hari yg berbeda. Pernah aku dan teman sesama orang Indonesia kerja part-time bareng di restoran dan chief restoran minta agar kami berdua berbahasa Jepang selama dlm restoran termasuk ketika ngomong berdua. Jadinya kikuk, aneh, dan kayak ada yg ganjel. Ujung2nya mendingan nggak usah ngomong aja, walaupun kami berdua bisa ngobrol dan ngerti bahasa Jepang. Atau lebih baik ngomong bahasa Jepang dgn sesama staff non-Indonesia, daripada ngobrol pake bhs Jepang dgn sesama Indonesia.
    Hal yg sama terjadi dgn teman yg orang vietnam yang jg kerja part-time bareng.

    Thank you atas infonya, ntar dicari deh.

  9. 9 Anes January 4, 2011 at 7:55 am

    “Bagaimana para customer bisa bicara bisnis didepan orang asing yang ngerti bahasa Jepang? Mulai sekarang kamu jangan ngomong bahasa Jepang lagi!”
    (Kabag Saito kepada Amelie, setelah rapat dengan customer bubar akibat Amelie menyediakan kopi dan mempersilahkan minum para tamu dengan bahasa jepang)

    Bingung maksud ini adegan. Kenapa si amelie dimarahin yah karena dia menggunakan bahasa jepang.
    lalu mksdnya ini kalimat apa yah “Bagaimana para customer bisa bicara bisnis didepan orang asing yang ngerti bahasa Jepang?”
    Makin bikin bingung.

    Tolong jelasin dunk. Hehehee….

    • 10 AnDo January 4, 2011 at 10:52 am

      @Anes
      Begini, konteks kalimat itu dipakai untuk menjelaskan pola pikir bisnisman Jepang kolot ttg kepercayaan terhadap orang diluar komunitas mereka.

      Kalau anda ingin mengerti maksud kalimat itu, anda harus memposisikan diri anda sbg orang yang hanya bisa percaya dgn “lingkaran komunitas anda sendiri”.
      Perumpamaannya, anggap anda sebagai orang Minang yg lbh suka berbinis dgn sesama komunitas Minang dgn bahasa kode rahasia “bahasa Minang” untuk berkomunikasi. Jika anda mendapatkan ada orang asli Papua mengerti bahasa Minang dan berusaha masuk komunitas bisnis anda, bagaimana sikap anda? Adakah kekhawatiran kalau “orang luar” tsb akan mengetahui rahasia bisnis atau lebih parah lagi bisa merebut pangsa pasar (baca: customer) “komunitas Minang” yang anda miliki?
      In this contact: Business is War.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: