Archive for February, 2009

Waltz with Bashir – Sebuah Genosida Pasif

Judul asli: Vals im Bashir
Genre: Animasi, Semi-dokumenter
Sutradara: Ari Folman
Pengisi suara: Ari Folman, Ori Sivan, Ron Ben Yishai
Catatan, hampir seluruh tokoh yang muncul adalah tokoh nyata yang juga diisi suaranya oleh tokoh aslinya.

waltzwithbashir1Seingatku, aku belum pernah nonton film produksi Israel, jadi menonton film animasi semi-dokumenter ini merupakan pengalaman pertamaku melihat dan meresensi sebuah film buatan Israel. Film ini adalah wakil Israel untuk memperebutkan piala Oscar dalam ajang Academy Award for Best Foreign Language Film, masuk nominasi utama tetapi kalah bersaing dengan film wakil Jepang yang berjudul Departures (Okuribito). Walaupun Waltz with Bashir ini termasuk kategori film istimewa, tapi kupikir masih sedikit berada dibawah Okuribito dan The Class (wakil Perancis).
Continue reading ‘Waltz with Bashir – Sebuah Genosida Pasif’

Advertisements

Detroit Metal City – Adaptasi manga yang komikal

Judul asli: デトロイト・メタル・シティ (Detoroito Metaru Shiti)
Produksi: Toho Cinema Jepang ( 2008 )
Genre: Drama komedi musikal
Sutradara: Toshio Lee
Pemain: Kenichi Matsuyama, Rosa Kato, Gene Simmons

efbd84efbd8defbd83

“No Music, No Dream”
(Negishi Soichi aka Johannes Krauser II)

Wakil Jepang yang berjudul Okuribito (sang pengantar) berhasil meraih piala Oscar 2009 untuk kategori film berbahasa asing terbaik. Ini menunjukkan kualitas film Jepang memang patut diperhitungkan dunia internasional. Tapi untuk sementara tinggalkan dulu sejenak film serius, mari kita bahas film ringan yang penuh dengan hiburan ini.

Setelah nonton adaptasi manga 21th Century Boys yang telah kubahas sebelumnya ditulisan ini, aku mencoba untuk tidak terlalu banyak berharap ketika menonton adaptasi manga Detroit Metal City yang juga telah kubahas manga dan animenya ditulisan ini. Seperti janjiku sebelumnya, kali ini aku membahas versi live action Detroit Metal City yang meraih titel box office di Jepang dan mendapat berbagai penawaran oleh perusahaan film berbagai negara seperti USA dan Hongkong untuk dibuat versi remake-nya.

Soichi Negishi berangkat dari kampung halamannya di propinsi Oita pulau Kyushu (ujung selatan Jepang) diantar oleh emaknya untuk melanjutkan kuliah ke sebuah universitas di Tokyo. Soichi memilih Tokyo dengan pertimbangan meraih mimpinya menjadi pemusik lagu-lagu pop trendy yang manis di masa depan setelah lulus kuliah. Apa daya, kebanyakan orang menganggap lagu-lagu pop trendy karya Soichi hanyalah sampah. Cuma sedikit orang yang menghargai lagu-lagu karyanya, termasuk Aikawa cewek manis teman seangkatan Soichi di universitas. Setelah lulus dari universitas, Soichi memang tetap melanjutkan karir musiknya, hanya saja kali ini dia terjerumus menjadi vokalis band death metal bernama Detroit Metal City atau di singkat menjadi DMC dengan nama panggung Johannes Krausser II. Justru lagu-lagu metal karya Soichi sebagai Krauser II ini laku kayak kacang goreng dan ngetop ampun-ampunan. Apakah Soichi akan mengorbankan popularitas dirinya sebagai Johannes Krauser II demi meraih mimpi dengan musik pop trendy yang disukainya, atau yang terjadi justru Soichi menyerah demi ketenaran namanya sebagai Johannes Krauser II. Jika ingin mengetahui cerita lengkap dengan spoiler dari manga/animenya, silahkan baca disini.

Seperti yang telah kuduga sebelumnya, humor-humor kasar dan brutal dari versi manga dan animenya bukan hanya dikurangi malah dihilangkan cukup banyak untuk menghindari kontroversi dan sensor pembatasan usia penonton. Tidak ada tokoh si masochist Nashimoto yang didalam manga/animenya berperan sebagai babi kapitalisme diatas panggung DMC dan termasuk juga adegan kurang senonoh lainnya. Selain itu juga adegan drama yang mendapatkan porsi sedikit didalam manga dan animenya mendapat jatah lumayan banyak dalam versi live action kali ini, termasuk adegan masa kuliah Soichi dan pulangnya Soichi ke kampung halamannya. Terus terang saja, adegan drama yang diusung, ceritanya sangat klise tapi untunglah tidak terlalu mengganggu isi film secara keseluruhan sehingga tak perlu di seriusi (namanya juga komikal). Ada beberapa perubahan pada latar belakang Soichi dalam film ini yaitu peran emaknya Soichi cukup memberikan pengaruh signifikan terhadap pengembangan tokoh Soichi serta surprise dengan munculnya anggota keluarga Soichi yang lain.

Satu hal yang aku syukuri dari sutradara film ini. Toshio Lee tidak berusaha membuat film komedi serius atau komedi satir terlebih lagi komedi slaptick biasa, suatu hal yang aku khawatirkan akan merusak imajinasi manga/animenya. Justru Toshio Lee mengarahkan film ini ke arah film komedi yang kental dengan nuansa mirip anime. Banyak sekali humor-humor aneh dan tidak masuk akal didalam film sehingga sangatlah tepat keputusan Toshio Lee membuat komedinya dengan gaya komikal, pas dengan jiwa manga/anime yang diadaptasi. Humor slapticknya sendiri pun dibikin oleh sutradaranya dengan gaya komikal juga. Ditambah lagi dengan akting keren Kenichi Matsuyama sebagai Soichi/Krauser II dengan permainan ekspresi wajah bagaikan tokoh manga (jadi ingat Jim Carrey) benar-benar membuatku kagum pada totalitas Matsuyama, asal tahu saja kalau seluruh lagu yang dibawakan oleh tokoh Soichi dan Krauser II di nyanyikan sendiri oleh Matsuyama. Memang sudah seharusnya Toshio Lee berterima kasih kepada kualitas seorang Matsuyama yang memberikan hawa manga dalam film dan menghidupkan karakterisasi musisi dalam diri Soichi dan alteregonya Krauser II.

Karakter utama manga lainnya yang muncul tidak terlalu berkesan seperti halnya akting Kenichi Matsuyama, paling cuma tokoh Aikawa yang dibawakan Rosa Kato yang agak terlihat. Itu juga karena tampang cakep dan kawai (cute) Rosa Kato yang memang enak dipandang. Gene Simmons yang muncul sebagai bintang tamu memainkan peran si legenda death metal Amerika Jack Lil Dark secara biasa-biasa saja. Justru yang mencuri perhatian adalah peran 3 aktor numpang lewat sebagai ultra fans DMC yang suka nyeletuk sembarangan dengan kata-kata gokil. Dedikasi sampai mati masuk neraka para fans berat DMC ini benar-benar bikin aku ketawa terpingkal-pingkal.

Lagu-lagu yang menghiasi film dari genre death metal hingga pop easy listening juga cukup enak buat didengar kuping siapapun. Yang agak menggangguku mungkin dialog antara Soichi dengan keluarganya yang menggunakan dialek Hita-ben dari pulau Kyushu yang tidak kupahami (maklumlah aku nonton tanpa teks terjemahan). Akhir kata, versi live action Detroit Metal City ini kuanggap sukses menghibur para penonton termasuk yang belum pernah membaca manga ataupun melihat versi animenya. Bagi yang pernah baca manga, tidak perlu takut kecewa karena walaupun adegan lelucon parahnya telah hilang, jiwa manganya sendiri masih cukup kental koq.

GO TO DMC…. GO TO DMC…. SATSUGAI SEYO………

Rating: 3.0/5

Fear and Tremblings – Cinta tidak berarti pasti memahami

Judul asli: Stupeur et tremblements
Produksi: Studio Canal – Perancis ( 2003 )
Genre: Drama-komedi satir
Sutradara: Alain Corneau
Pemain: Sylvie Testud, Kaori Tsuji

fearfilm

“Bagaimana para customer bisa bicara bisnis didepan orang asing yang ngerti bahasa Jepang? Mulai sekarang kamu jangan ngomong bahasa Jepang lagi!”
(Kabag Saito kepada Amelie, setelah rapat dengan customer bubar akibat Amelie menyediakan kopi dan mempersilahkan minum para tamu dengan bahasa jepang)

Dalam film Lost in Translation telah disinggung bagaimana cultural shock terjadi akibat kesalahpahaman dan ketidakpahaman bahasa. Bagaimana bila dibuat kondisi paham bahasa, apakah benturan budaya masih terjadi? Dalam film ini tokoh utamanya fasih berbahasa dan tentu saja memahami bahasa Jepang. Latar belakang yang dipakai film untuk menggambarkan benturan budaya adalah dunia kerja, khususnya pekerja kantoran.

Film diawali dengan pengenalan tokoh Amelie seorang gadis Belgia yang lahir dan tumbuh di Jepang hingga usia 5 tahun. Setelah dewasa Amelie memutuskan untuk kembali lagi ke Jepang. Dia melakukan ini bukan sebagai turis melainkan seorang pekerja (penerjemah) di perusahaan raksasa Jepang Yumimoto dengan kontrak kerja satu tahun dan dengan tujuan jangka panjang, “menjadi orang Jepang!” Amelie merasa jatuh cinta pada Jepang beserta budayanya dan patah hati ketika ketika kembali pulang mengikuti orangtuanya ke Belgia. Kali ini Amelie datang lagi untuk merajut kembali cintanya yang dicerabut belasan tahun yang lalu dengan keyakinan kuat berkat kerja kerasnya untuk menguasai pengetahuan bisnis perusahaan Jepang beserta bahasanya sekalian. Continue reading ‘Fear and Tremblings – Cinta tidak berarti pasti memahami’

20th Century Boys, 1st Chapter – Adaptasi manga keren yang kurang menggigit

Judul asli: Nijyuu Seiki Shounen Dai Isshou (二十世紀少年 第一章)
Produksi: Toho Cinema ( 2008 )
Sutradara: Yukihiko Tsutsumi
Pemain: Toshiaki Karasawa (Kenji), Takako Tokiwa (Yukji), Etsushi Tokawa (Otcho)

century

“Musisi rock mati pada umur 27 tahun. Brian Jones, Janis Joplin, Jim Morisson, Jimi Hendrix. Kupikir aku bakalan mati seperti mereka juga. Tak tahunya aku hidup melewati ulang tahunku yang ke 28, benar-benar membuatku kecewa. Rupanya aku ini bukan Rocker.”
(Kenji Endo, 20th Century Boys)

Terlalu banyak berharap mungkin salah satu musuh para penggemar film. Memang ekspektasi berlebihan bisa menjadi bumerang bagi penilaian terhadap film yang ditonton. Kali ini korbannya adalah saya sendiri yang mungkin terlalu banyak berharap ketika menonton versi live action dari manga sensasional karya Naoki Urasawa ini. Tapi bagaimana saya tidak berharap banyak, dengan cerita berdasarkan pada manga yang penuh imajinasi beserta koleksi penghargaan yang mengakui kehebatan manganya, film ini mau tidak mau akan ditunggu dengan ekspektasi besar.

Film action live ini adalah bagian pertama dari 3 chapter yang direncanakan. Berdasarkan manga-nya kisah dibagi menjadi 4 era yaitu masa kecil Kenji dan kawan-kawan, masa dewasa mereka, masa dewasa Kanna (keponakan Kenji), dan masa depan. Bagian pertama ini menampilkan 2 era awal yaitu masa kecil dan dewasa Kenji beserta kawan-kawannya. Teknik flash back digunakan sutradara untuk menceritakan Kenji dan teman-temannya yang masih bocah dengan fokus cerita utama bersetting akhir tahun 1990-an. Judul film dan manganya sendiri diambil dari judul lagu 20th Century Boys yang dibawakan grup Rock era awal 1970-an T. Rex.

Kenji Endo si pemusik Rock gagal yang tadinya bercita-cita mengubah dunia dengan musik Rock harus menerima kenyataan dirinya berakhir sebagai pemilik kombini kecil (semacam mini-market) King-Mart yang hidup bersama ibunya yang sudah tua beserta Kanna, anak kakaknya Kiriko yang raib tanpa kabar. Ketika menghadiri reuni SD, Kenji kembali bertemu teman-teman lamanya selagi bocah. Pada saat yang sama sebuah sekte agama baru yang dipimpin oleh ketuanya yang misterius bernama Tomodachi (artinya: teman) sedang tumbuh pesat. Sekte ini mulai menguasai hampir seluruh sektor penting di Jepang termasuk kepolisian, ekonomi dan politik. Yang membuat Kenji and the Gang kaget adalah lambang yang dijadikan dijadikan Tomodachi sebagai symbol adalah lambang gang mereka ketika masih bocah. Dari sini mulailah cerita kilas balik Kenji and the Gang sewaktu masih kecil.

Kenji and the Gang sewaktu kecil pernah membuat buku ramalan yang berisi imajinasi mereka tentang konspirasi kelompok rahasia yang menghancuran dunia dimasa yang akan datang lengkap dengan detail penyerangan ke kota-kota besar dunia (anak sekecil mereka cuma tahu nama San Francisco dan London dari nama bar doang) sebelum diakhiri dengan datangnya robot penghancur di awal abad 21, tepatnya tahun 2001 masehi. Sebagaimana layaknya imajinasi anak-anak, mereka membayangkan 9 tokoh hero yang menyelamatkan dunia dari kehancuran adalah mereka sendiri.

Kembali kemasa dewasa, Kenji and the Gang kembali terkejut karena bukan hanya symbol saja yang mirip tetapi seluruh detail kejadian serangan juga menjadi kenyataan. Apakah yang akan dilakukan Kenji and the Gang? Apakah mereka akan mengumpulkan kembali teman-teman mereka dan beraksi sebagai 9 jagoan sesuai buku ramalan yang ditulis berdasarkan imajinasi anak-anak mereka? Lalu siapakah Tomodachi yang mengetahui segala detail kejadian buku ramalan? Bagian pertama film ini akan diakhiri oleh adegan klimaks dipenghujung abad 20 dan awal tahun baru 2001.

Bagi yang baru pertama kali nonton tanpa membaca versi manga, mungkin sulit untuk menghapal nama-nama tokoh yang cukup banyak lalu lalang sepanjang film, apalagi bagi penonton yang belum terbiasa dengan nama orang Jepang.
Kabarnya ini adalah film dengan biaya produksi termahal di Jepang. Mungkin yang memakan biaya besar adalah bagian kedua yang mengetengahkan Kanna, keponakan Kenji yang telah dewasa dan melanjutkan kisah dengan petualangan keliling dunia untuk menghadapi konspirasi sekte pimpinan Tomodachi. Untuk film bagian pertama ini sepertinya biaya produksi tidak terlalu mahal-mahal amat.

Kelemahan utama film ini adalah akting dan sutradara. Pemeran Kenji, Otcho (teman Kenji yang berprofesi gangster) dan Yukiji (satu-satunya cewek dalam gang yang jadi polisi) masih mending, tapi yang lainnya kurang meyakinkan. Justru aku suka sama para bocah yang muncul dicerita flash back. Tingkah mereka sangat meyakinkan dan memancing tawa. Sutradaranya sendiri gagal mengadaptasi jiwa manga kedalam film. Ada adegan usaha penculikan si kecil Kanna oleh sekte Tomodachi yang kelihatan sekali cheesy. Seharusnya para anggota sekte adalah orang-orang yang dicuci otak dan bersedia menjadi martir demi kejayaan sekte. Yang muncul malah adegan seperti film-film zombie, pokoknya cheesy banget deh. Lalu sinematografi juga kurang meyakinkan (kecuali adegan para bocah) dengan gambar-gambar hasil bidikan kamera yang terlalu biasa-biasa saja. Spesial efek sendiri kurang mantap, jangan-jangan ini disebabkan pengalihan dana besar-besaran untuk ditumpuk demi pembuatan chapter keduanya? Pokoknya jiwa thriller didalam manga banyak yang menguap entah kemana, walaupun untung saja hawa misteri dalam manga masih bisa tetap terjaga. Kelebihan utama film ini justru ada pada adegan anak-anak kecil yang diambil lewat cerita flash back.

Terus terang saja bagi saya pribadi, bagian pertama yang mengetengahkan tokoh utama Kenji ini yang paling saya sukai dari keseluruhan manga, karena itu harapanku tehadap episode terbaik manga yang diadaptasi menjadi live action film sangat besar. Selain tema utama tentang konspirasi yang mengancam dunia, bagian pertama manga ini juga memuat unsur kritik sosial, persahabatan murni kanak-kanak, imajinasi anak kecil, kondisi Jepang tahun 1969-1970 yang masih labil perekonomiannya, proses kedewasaan dan tentu saja musik Classic Rock yang tak pernah berhenti bergulir seperti kata Kenji mengacu pada lagu Bob Dylan, “Just like a rolling stone.”

Sayang sekali hasil adaptasinya tidak sesuai dengan yang kuharapkan, atau akunya yang berharap terlalu banyak? Semoga bagian kedua bisa lebih baik dari yang ini (paling tidak pada adegan akhir film bagian satu ini memperlihatkan Kanna dewasa yang lumayan cakep 😀 ).

Rating: 3/5

Rachel Getting Married – Sebuah drama keluarga

Sutradara: Jonathan Demme
Produksi: SONY Pictures ( 2008 )
Genre: Drama
Pemain: Anne Hathaway, Rosemarie DeWitt, Bill Irwin.

“Everyone in the house is looking at me like I’m a sociopath. What do you expect me to do? Burn the house down?” (Anne Hathaway as Kym)

Sudah cukup lama tidak menonton film karya Jonathan Demme sejak The Manchurian Candidate, kali ini Demme mengajak para penonton meninggalkan dunia thriller dan memasuki genre film drama kehidupan keluarga. Drama versi Demme kali ini agak unik, berbeda dengan garapan film dramanya seperti Philadelphia yang mengantarkan Tom Hanks menggondol piala Oscar pertamanya. Hasilnya, banyak para kritikus menilai film ini sebagai karya terbaik Demme setelah Silence of the Lamb yang fenomenal itu.

Walaupun judul film mencantumkan nama Rachel (Rosemarie DeWitt), tokoh utama film ini adalah Kym (Anne Hathaway), saudara perempuan Rachel yang bolak balik masuk program rehabilitasi buat para pecandu obat-obatan. Film diawali dengan dijemputnya Kym dari tempat rehabilitasi oleh ayahnya Paul (Bill Irwin) dan ibu tirinya Carol (Anna Devaere Smith) untuk menghadiri persiapan pernikahan Rachel dengan calon suaminya Sydney. Dimenit-menit awal film hubungan antar anggota keluarga terlihat akrab dan harmonis, terutama hubungan dua kakak-adik Kym dan Rachel. Semakin lama semakin terlihat kalau Kym tidaklah sehangat itu hubungannya dengan seluruh anggota keluarga, malah sering dianggap sebagai si pengacau. Tentunya ada alasan dan latar belakang mengapa Kym kecanduan dan memiliki hubungan “basa-basi” dengan anggota keluarga yang lain. Lalu muncul tokoh Abby (Debra Winger) ibu kandung Kym dan Rachel yang terlihat cukup dekat dengan Rachel tapi tidak untuk Kym.

Aku suka dengan shoot dan pergerakan kamera serta pengambilan gambar gaya Demme yang menghiasi film ini. Kadang kamera menyorot adegan seperti layaknya standar film biasa. Tetapi jika sudah memasuki wilayah makan malam, rehearsal, resepsi pernikahan dan adegan rumah serta keluarga, kamera mengambil gambar bergaya semi-dokumenter. Menonton film ini seperti sedang menonton dokumentasi video keluarga Paul yang menyebabkan kita yang menonton mau tidak mau ikut terseret masuk kedalam film sebagai orang dekat keluarga yang sedang menonton rekaman video acara pernikahan kerabat kita sendiri.

Acara pernikahan dalam film ini sendiri unik. Tak usah berkomentarlah mengenai para hadirin yang multi ras (Sydney dan keluarganya sendiri berkulit hitam dan kerabat serta teman mereka yang multi etnis), musik yang menghiasi suasana seperti acara kumpul-kumpul bareng para pemusik berbagai aliran. Kadang background musiknya diisi oleh si pemusik yang hadir sebagai seorang tokoh di dalam adegan yang membutuhkan musik latar, walaupun si pemusik cuma figuran yang membawa gitar atau biola saja. Benar-benar mantap dan keren.

Akting para pemainnya benar-benar top, hampir seluruhnya bermain bagus terutama Anne Hathaway (Kym), Rosemarie DeWitt (Rachel) dan Bill Irwin (sang ayah Paul). Hathaway memang patut ikut bersaing bersama para nominator pemeran utama wanita terbaik piala Oscar 2009 karena dia berhasil membawakan peran Kym yang sinis sekaligus rapuh. Entahlah, apakah para juri OSCAR sempat juga melirik DeWitt dan Irwin sebagai nominator pemeran pembantu? Lalu ada pula Debra Winger yang berperan sebagai Ibu kandung. Walaupun porsi Winger tidak banyak, tapi Winger bermain bagus. Bisa dilihat pada adegan dialog penuh emosi antara Kym dan ibunya Abby yang mencuri perhatian. Terakhir coba bandingkan adegan antara Abby si ibu kandung dengan banyak dialog tapi jarang muncul dan Carol si ibu tiri dengan dialog seperlunya tapi selalu ada disetiap adegan penting. Seperti inikah peran ibu kandung dan ibu tiri ketika anak mereka menikah?
Selain itu juga terselip sedikit pertanyaan buat penonton, menurut anda apa sih makna dari pernikahan dan keluarga itu? Silahkan jawab sendiri……..

NB. Mulai sekarang aku akan menggunakan sistem perhitungan per 0.25

Rating: 4.25/5


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic