Lost in Translation – Lost in Deja Vu

Catatan: Tadinya aku ragu untuk memasukkan tulisan ini ke blogspot yang memuat unek-unekku. Karena berhubungan dengan film, kuputuskan untuk mempostingnya disini.

Sutradara: Sofia Coppola
Produksi: Focus Features ( 2003 )
Pemain: Bill Murray, Scarlett Johansson

Pertama kali aku menonton film ini pada tahun 2004 lewat VCD di Indonesia dengan kondisi mengerti bahasa Inggris, melihat teks terjemahan bahasa Indonesia dan buta bahasa Jepang. Memang film yang mengisahkan tentang 2 orang asing yang kesepian sekaligus merasa terisolasi di tempat yang sama sekali asing sangat menarik untuk disimak. Masih ingat dibenakku seluruh adegan bahasa Jepang sengaja dibiarkan tanpa terjemahan sehingga lebih terasa lost in translation yang diinginkan oleh sang sutradara. Kondisi bentrok budaya antar timur dan barat juga sangat terasa walaupun dulu aku kurang mengerti mengapa Jepang dipilih, toh masih ada budaya timur lain dengan bahasa dan tulisan sama sekali berbeda seperti misalnya China, Korea atau Thailand.

Kira-kira empat setengah tahun kemudian tiba-tiba aku menemukan film yang sama lewat jalur internet dengan kualitas divx yang bisa ditonton dengan streaming video. Entah kenapa aku jadi tertarik untuk menontonnya lagi, tentu dengan perspektif berbeda mengingat aku sudah cukup mengerti budaya Jepang dan bahasa Jepang (walaupun masih kacau balau) beserta pengalaman pribadi kaget budaya yang aku alami sendiri. Bukan cuma perspektif baru yang kudapatkan tetapi juga sebuah Deja Vu aneh.

Seharusnya orang yang mengalami Deja Vu adalah orang yang sama, yang mengalami (dalam hal ini melihat) sesuatu yang rasanya pernah dilihat. Memang aku sudah pernah melihat film Lost in Translation, hanya saja kini aku merasa orang yang melihat film itu empat setengah tahun yang lalu bukanlah diriku. Rasanya jadi absurd. Film yang dulunya lebih kuanggap sebagai film drama dengan sedikit selipan komedi malah kini jadi terbalik. Adegan lost in translation yang dulu membuat aku tersenyum miris, kali ini malah menjadi lelucon lucu yang dapat membuatku tertawa terbahak-bahak.

Mulai dari adegan sutradara orang Jepang yang mengarahkan film iklan wiski Santori, Bill Murray yang mengantar Scarlett Johansson ke rumah sakit, adegan Johansson melihat anak muda main game, hingga adegan nonton TV yang menyiarkan segala macam acara yang berbau Jepang (bahkan film baratpun ikut di dubbing pakai bahasa Jepang) membuatku ngakak. Bagaimana aku tidak tertawa, lihat saja pada saat Murray dan Johansson di rumah sakit, urusan administrasi seluruhnya memakai bahasa Jepang, tak perduli kalau mereka orang asing (tampang bule plus rambut pirang). Bahkan dokter yang memeriksa kaki Johansson menerangkan hasil pemeriksaan dengan bahasa Jepang pula (Johansson bengong sambil sekali-kali mengangguk bingung). Aku pernah mengalaminya ketika awal pertama kali tinggal di Jepang, dan tentu saja aku “sangat mengerti” bagaimana perasaan tokoh Murray dan Johansson dalam menghadapi situasi “lost in translation”. Karena itulah aku tertawa terbahak-bahak, tidak hanya senyum masam pada saat nonton pertama dulu. Well, I feel lost in Deja Vu today.

Tahukah anda mengapa Jepang yang dipilih? Modernitas Jepang yang unik memang sangat cocok untuk mendukung keasingan dan kesepian bule Amerika dalam film ini. Jepang yang sangat modern hingga membuat orang-orang Amerika seakan-akan berada didalam negara USA, tetapi disisi lain orang Jepang sangat teguh mempertahankan budaya lokal mereka. Bill Murray merasa dia bagaikan berada di New York namun begitu meleng sedikit tiba-tiba dia sadar sedang berada di Tokyo. Belum lagi sikap orang Jepang yang melihat orang bule yang kadang terlihat hormat dan dipandang tinggi (para karyawan perusahaan Santori), tetapi ada pula yang memposisikan orang bule sebagai bahan lawakan (adegan talkshow TV). kemudian ada lagi beberapa dialog engrish (bahasa Inggris dengan pelafalan lidah Jepang) yang disisipkan diantara percakapan dengan orang Jepang. Makna kejutan budaya tentu tidak akan sekuat ini bila adegan diambil di negara lain.

Sekarang aku benar-benar sadar, untuk menilai film selain diperlukan penilaian secara fisik (akting, sinematografi, sutradara dan tetek bengek lainnya), penilaian secara mental (dalam hal ini pengetahuan dan pengalaman pribadi) juga sangat mempengaruhi penilaian. Film yang kunilai lebih dari empat tahun yang lalu hanya sekedar mendapatkan nilai 4/5, tiba-tiba hari ini melesat menjadi 4.75/5. Ternyata dalam menilai film tidak hanya objektif, malah kadang-kadang bisa subjektif juga.

9 Responses to “Lost in Translation – Lost in Deja Vu”


  1. 1 ahmad January 25, 2009 at 9:01 am

    film yang bagus, sangat natural, seperti bukan sedang nonton, tidak terasa lho kok sudah habis saja. apalagi ada mbak johansson he he he…

    @ahmad. saya dukung pendapat anda, terutama mbak johansson yang seksi:mrgreen:
    Saya hanya ingin berbagi pengalaman tentang nonton film yang sama dengan kondisi diri yang berbeda. Anggap saja kayak Dr. Jekyll nonton film ini disiang hari, lalu pas malam Mr. Hyde nonton film yang sama dan masing2 nulis review😀 Itulah yang ingin saya bilang sebagai lost in deja vu

  2. 2 bangmupi January 25, 2009 at 11:50 am

    nice review bro. I like it. Memang review tiap orang berbeda2. Tapi itulah uniknya. Misalnya si A bilang film B bagus atau jelek. Asal si A menjelaskan jelek atau bagusnya dimana. It’s ok buat gua. Justru karena perbedaan membuat kita bertambah pengetahuannya. Daripada sama pemikiran, ya ga maju2.

    @bangmupi. Wadoohh, pujian bangmupi bikin saya melayang nih. Padahal saya cuma tukang review amatiran doank. Tolong tarik kembali pujiannya sebelum saya terjerembab😳 tengkyu.
    Memang beda orang punya selera dan pemikiran serta cara pandang masing2. Ini tak terlepas dari pengetahuan dan pengalaman yang punya komentar juga. Yang saya bahas diatas justru orang yang sama tapi punya penilaian berbeda seiring dengan perbedaan waktu. Ini juga sangat menarik untuk dibahas.

  3. 3 bangmupi January 25, 2009 at 3:10 pm

    Itu bukan pujian. tapi saya hanya mengatakan apa adanya. I really like it.🙂
    Jadi ga akan saya cabut kata2 saya. hehehe..

    @bangmupi. tengkyu… tengkyu… jadi terharu nih😥

  4. 4 AL January 26, 2009 at 12:06 pm

    Kayaknya film ini bakal bikin mengkerut kening, gak ya?
    hehe, blog yang keren. Khusus tentang film? Saya link ya….

    @AL. Kalau nonton sambil mikirin krisis ekonomi sama mikirin utang sih, kening dijamin berkerut😀
    Ini film drama-komedi. Unsur dramanya bagus dan komedinya bisa bikin orang senyum meringis. Kalau ngerti bahasa Jepang plus ngerti budaya Jepang, dijamin ngakak abis-abisan (malah kebalik jadi film komedi-drama)
    Ma kasih sudah berkunjung, silahkan menyambung

  5. 5 andi February 7, 2009 at 4:59 pm

    pertama kali nonton film ini memang benar-benar merasakan lost in translation sesuai dengan judulnya, apalagi gw ga bisa bahasa jepang… tapi gw bisa merasakan hal serupa ketika gw mampir di korsel selama seminggu.. modal gw cuma 3 frasa:

    1. annyong haseyo? (apa kabar?)
    2. yong o haseyo? (apakah kamu dapat berbahasa inggris?)
    3. kamsa hamnida (terima kasih)

    hahahaha….

    @andi. Ma kasih sudah mampir.
    Nah itu dia. Film ini memang lucu, tapi kalau pernah merasakan pengalamannya sendiri, hawa lucunya bakalan semakin kental

  6. 6 Si Tukang Review August 18, 2010 at 11:44 am

    Yep bro. That happened to me too during my stay in Beijing. Mungkin karena itulah saya merasakan hal seperti Ando-kun, perasaan nostalgia yang sama. =)

    Dan adegan bisikan di akhir film itu sweet banget menurutku. =)

  7. 7 Si Tukang Review August 18, 2010 at 11:45 am

    Sebenarnya menurutku yang Lost In Translation ga cuma di Jepang sana tapi juga Bill Murray dengan keluarganya juga Scarlett Johansson dengan suaminya. =) Makna selipan yang menarik…

    • 8 AnDo August 19, 2010 at 8:39 am

      @Tukang Review 1
      Gara2 nonton film ini 2 kali, aku jadi berpendapat kalau sebuah film bisa saja naik/turun rating nilainya, kalau yang nonton bertambah pengetahuan/pengalamannya. Jadi nggak ada nilai absolut untuk sebuah angka rating:mrgreen:

      @Tukang Review 2
      Betul😀
      Makna tersembunyi yang nggak dibahas lbh jauh sama Coppola dalam film😈

  8. 9 jensen99 October 15, 2014 at 2:48 am

    Saya terkesan hubungan Bob dan Charlotte. Sama2 pengen jatuh cinta terang2an tapi juga sama2 takut selingkuh, walo Scarjo terlihat lebih ekspresif.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: