Twilight – Antara aku, novel dan film Twilight

twilightPostingan kali ini bisa dibilang rada ketinggalan alias telat. Habis, film yang diserbu oleh para cewek dan ABG di Indonesia ini sudah tayang lumayan lama di layar bioskop. Walaupun sudah menonton bulan Desember tahun lalu lewat bajakan streaming internet, aku baru saja selesai baca buku pertama “Twilight” karya Stephenie Meyer. Jadi yang ingin saya bahas sedikit disini adalah membandingkan antara novel dan film adaptasinya. O iya, aku sih sebenarnya tidak terlalu berniat beli novelnya. Buku yang kubaca ini dibeli dan milik adikku Fitry, aku cuma numpang pinjam saja.

Wajar saja novel Twilight mendapatkan penghargaan disana sini, dipuji oleh para kritikus dan masuk dijajaran buku best seller di Amerika (dan beberapa negara lainnya). Walaupun demikian novel ini bukannya tanpa kelemahan, malah boleh dibilang cukup banyak. Bisa dilihat penokohan Edward Cullen yang terlihat mirip Romeo, Hamlet dan tokoh tragic hero yang lain dengan karakterisasi kurang kuat, lalu tokoh Bella yang menjadi narrator cerita terlalu tidak membumi (koq aku merasa karakter Bella lebih mirip vampire daripada manusia), belum lagi plot cerita sederhana yang malah dibikin melebar (kesannya bertele-tele), hingga tema lama yang juga boleh dibilang sudah lapuk (kisah cinta dua dunia berbeda). Tapi semua ini masih bisa aku maklumi mengingat Twilight adalah novel perdana Stephanie Meyer yang minim pengalaman menulis. Lagi pula penguatan karakterisasi tokoh bisa dilakukan dalam novel sequelnya (toh adanya 4 buku lebih dari cukup). Novel Twilight ini sendiri sebagai mana diakui oleh Meyer terinspirasi dari novel karya Jane Austen yang berjudul Pride and Prejudice (dianalogikan dalam novel sebagai bacaan favorit Bella)

Yang menjadi kelebihan dan membuat novel ini digila-gilai para fansnya mungkin gaya bahasa yang halus dan gampang diikuti, tema lapuk tentang cinta dibuat lebih fresh dengan memasukkan tokoh vampire dengan sosok baru (penggambaran vampire oleh Meyer dalam novel ini agak berbeda dengan gambaran kebanyakan dan sangat menarik), juga tentu saja hal yang membuat saya menyukai novel ini yaitu ketegangan yang dibangun secara bertahap, dari suasana asing disekeliling Bella, keanehan bertemu keluarga Cullen yang misterius, hingga bentrok dengan vampire nomad. Pendek kata, walaupun saya sudah menonton film serta mengetahui isi dan ending, novelnya tetap menggugah saya untuk membacanya hingga selesai. Untuk sebuah novel remaja, Twilight memang lebih dari sekedar novel biasa.

Dibandingkan novelnya, film adaptasi Twilight selain tetap memelihara kelemahan novelnya, parahnya kekuatan novelnya justru tidak muncul dalam filmnya. Malah boleh dibilang menambah daftar kelemahan yang sudah ada. Yang paling terlihat adalah ketegangan yang dibangun bertahap oleh novelnya justru hambar di 2/3 awal film. Perjuangan Bella dalam menghadapi suasana kota Fork yang dibencinya justru berjalan datar seperti juga dengan interaksi Bella dengan The Cullens. Ketegangan film baru terasa setelah Bela dan keluarga Cullen bertemu dengan trio vampire nomad dan diakhiri dengan suasana basi khas film remaja Amerika,bah……… Prom Night.

Memang sulit untuk mengadaptasi film sama bagusnya dengan novel, apalagi melebihi bukunya. Paling tidak buku pertama Twilight cukup menggugah pembaca untuk mencari novel sambungannya New Moon, yang kuharap bakalan lebih bagus dengan adanya pengalaman Meyer menulis Twilight. Film sequelnya sendiri? Kalau harus nonton bayar mahal-mahal di bioskop sih ogah, tapi kalau gratis lewat internet lagi sih mau aja.

“It’s twilight.”
“It’s the safest time of day for us. The easiest time. But also the saddest, in a way… the end of another day, the return of the night. Darkness is so predictable, don’t you think?”
(Edward Cullen, Twilight, Chapter 11)

11 Responses to “Twilight – Antara aku, novel dan film Twilight”


  1. 1 syelviapoe3 January 16, 2009 at 3:18 pm

    hem..
    emang pakar resensi, nih, pak yusahrizal..
    btw..
    pak, saya manggilnya apa, ya ? Pak rizal ? boleh-kah ?

    @syelviapoetiga. Orang kurang kerjaan dan tukang omong kosong yg suka lempat bacot sembarangan dibilang pakar. Wah… dunia udah kebalik nih:mrgreen:
    Silahkan ibu putri memanggil sesuka hati. Pak, Bu, Oom, Tante, Aki, Nini, apa saja. Panggil nama Yusahrizal, Yus, Yusa, Sahri, Rizal, silahkan saja. Saya nggak keberatan koq😛

  2. 2 Oni Suryaman January 20, 2009 at 6:18 am

    pas.. lewat…
    lebih asik baca buku barunya Jared Diamond. The Rise and Fall of the Third Chimpanzee (manusia maksudnya)

    @Oni. Buku non-fiksi yah on? bau-baunya kalau baca judul kayak membahas teori evolusi atau malah sosiologi nih….

  3. 3 Oni Suryaman January 20, 2009 at 8:25 am

    ya. buku antropologi. lagi pengen mesen city of ember empat jilid sih. kayaknya seru. lagi males sama buku fiksi yang populer.

    @Oni. Ntar sekalian bikin review buku simpanse nomer tiga. Kayaknya menarik tuh. Sekalian juga buku Ember-nya Siti, aku baca reviewnya bagus. Sayang filmnya kurang laku, jadi nggak ada sequelnya

  4. 4 giyzt January 23, 2009 at 3:24 pm

    wahaha..juragan film rupanya bro yang satu ini..salam kenal aja bro…review dong yang Mirror meski rada lama.. tgp masih anget soalnya abis liat ntuh film pas ngaca kebayang terus

    @giyzt. Film Mirror? Belum nonton tuh:mrgreen:
    Habis udah ketakutan duluan nonton versi aslinya film Korea, Into the Mirror😥
    Gitu tau film Mirror remake dari film Into the Mirror, jadinya males nonton.

  5. 5 bangmaston March 5, 2009 at 3:55 am

    ya ya… kalo aku sendiri sih ga baca bukunya… tapi menurut aku filmnya juga kurang pantas dijadikan film yang sangat digandrungi atau wajib tonton. Secara emang suspensinya kurang pas, kurang menggigit, alur ceritanya juga memusingkan, karna baru kenal sampai mereka saling jatuh cinta itu… kayaknya ga masuk akal bgt…
    personnally aku kagum dengan backing sound n cameranya taking-nya.
    Thax Yusa

    @bangmaston
    Memang filmnya jauh dari kesan greget. Yang jd masalah orang udah kepalang suka sama bukunya otomatis tertarik nonton. aku termasuk orang yg nonton dulu baru baca bukunya. Waktu nonton pendapatku sih ini cm film remaja yg cerita cinta-cintaan doang. nggak ada istimewanya. Pas udah baca bukunya, penilaianku thdp filmnya malah semakin turun.

    “baru kenal langsung jatuh cinta?”
    Kalau kata Slumdog Millioner sih itu sudah suratan takdir:mrgreen:
    It’s Written!!!

  6. 6 Hary April 2, 2009 at 6:05 pm

    Novel ini memang aneh, menyeramkan tapi romantis. bagi kalian yang ga punya uang download aja di sini, gratis kok : Buku-digital.co.cc
    ———————————
    @Hary
    Punya download-an versi Indonesia yg buku ke 2, 3 dan 4 nggak?

  7. 7 vinchell April 6, 2009 at 12:01 pm

    kapan film NEW MOON showing??
    ————————
    @vinchell
    Wah nggak tau. Kayaknya nggak tertarik nontonnya kalau liat hasil Twilight. Tp kalau cm bajakan sih mau aja:mrgreen:

  8. 9 lianz April 20, 2009 at 5:31 am

    Menurut aku sih bukan cuma gara-gara bahasanya yang mudah dimengerti makanya twilight disukai para ABG…
    Tapi justru karena Stephenie Meyer bisa menggambarkan Edward seperti cowok-cowok idaman para cewek-cewek…
    Siapa yang gak mau punya pacar nyaris sempurna kayak Edward???
    Walaupun belum tentu ada cowok kayak Edward di dunia ini…
    Dan lagi mungkin gak banyak orang yang tau kisah Pride and Prejudice…^^
    Romeo juga gak sekeren gambaran Meyer ke Edward…

    Ini pandangan cewek tentang Twilight…
    Em…ditambah New Moon, Eclipse, and Breaking Dawn…^^
    Hehehehehehe…
    ——————————————–
    @lianz
    Masih banyak novel2 yg menggambarkan tokoh utama serba sempurna koq. Baca aja serial Harleyquin:mrgreen: sampai berjilid2. Koq Harleyquin cuma laku dikalangan ibu2 dan tante2 doang? Selain itu jg banyak novel pendek teenlit yg menggambarkan tokoh sempurna.
    Terus terang aja kisahnya kayak cinderella yg miskin tp dikecengin sama sang “pangeran sempurna”, tema udah lapuk dari abad lalu yg dikemas dgn bentuk modern. Kalau dulu jaman cinderella, sang pangeran sulit terjangkau krn beda status sosial; jaman twilight sang pangeran sulit dijangkau krn beda ras. Itu aja nggak lebih. Lain nya ditambah setting cerita disana sini.

    Walaupun belum tentu ada cowok kayak Edward di dunia ini…

    Wahhhh, saya sih nggak percaya vampire. jdnya nggak percaya bakalan ada satu cowok kayak edward didunia ini. Ada satu hal ttg vampire lwt deskripsi Meyer yg aku yaitu vampire sbg predator sempurna. Segala sesuatu ttg vampire sangat menarik bagi manusia (mangsanya) dari penampilan hingga bau, sehingga vampire tak perlu terlalu repot berburu krn mangsanya bakalan datang menyerahkan diriya sendiri krn tertarik pada sang predator.

  9. 10 biDadARI-g0thic May 26, 2009 at 1:28 pm

    menurutku,novel twilight punya beberapa kekurangan n kelebihan, 1:romantic & aaiiih…, 2:karakter cowok yg bisa bikin cewek mimpi indah dan tenggelam dlm khayalan (ingat! khayalan,lho,) 3:meremaja sekaleee…,tp anehnya,iparku yg ibu2 aja suka…,4: entah kenapa, alur ceritanya agak lambat,5:sipengarang tidak punya ide yg lbh baik dari pada gerombolan vampir nomad,padahal andai dikembangkan, maybe the storyboard bisa lbh baik dari itu,trz film x, aaah…, mengecewakan!! 1:kisah yg tdk lengkap sprti di novel, 2:edward nya kurang cakeeep!!! lumayan untuk ukuran manusia, tp di novelnya,kan…, satu2nya yg pas cuman satu, aktris yg memerankan bella swann, btw,ini cuman sekedar comment n menurut aku aja,bwt yg nge-fans berat,maafin,ych..
    ————————————-
    @biDadARI-g0thic
    romantic? karakter cowok menarik? menurutku sih itu relatif. Buat cewek mungkin iya.
    Kamu punya ide yang lebih baik dr pada ide vampir nomadnya Tante Meyer?

    Mungkin tokoh edward seharusnya dibikin CGI, supaya lbh fairy tale (kalau diperanin manusia, mgkn bakalan banyak yg komplain begini kayak kamu). Kristen Stewart mainnya biasa aja tuh, nggak ada istimewanya.
    Dan gw bukan fans, apalagi fans berat. semua pendapat bersifat subjektif:mrgreen:

  10. 11 biDadARI-g0thic May 27, 2009 at 7:17 am

    setujuuu,bro! mestinya dibikin kyk advent children gtu…,tau ff,gak? biar mukanya bisa sempurna, n soal kristen stewart, maksud aku bukan aktingnya, tp penampilannya, n satu lg, yg memerankan ayahnya bella jg nggak cocok ama bayangan di novelnya, segitu aja,deh, next!!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: