Archive for January, 2009

Mobil Suit Gundam 00 – Serial Gundam paling realis

Judul asli: Kidou Sensi Gandamu Daburu O (機動戦士ガンダムダブルオー)
Sutradara: Seiji Mizushima
Produksi: Sunrise ( 2007 )
Episode: season 1 (25 episode), season 2 (ongoing)

“戦い!お前の信じる神のために!”
“Tatakai! Omae no sinjiru Kami no tameni!”
“Bertarunglah! Demi Tuhan yang engkau percaya”
(Setsuna F. Seiei aka Soran Ibrahim, pilot Gundam Exia)

300 tahun yang akan datang, tepatnya pada tahun 2307 masehi, bahan bakar fosil yang menjadi andalan masa sekarang sudah hampir habis sehingga umat manusia mengandalkan sumber energi baru yang lebih potensial yaitu energi matahari. Sumber energi didapat dari panel surya yang ditempatkan berjejer di orbit bumi supaya dapat menangkap tenaga matahari secara sangat efisien. Panel surya di luar atmosfer bumi tersebut disambung langsung ke permukaan bumi lewat pilar panjang yang disebut Orbital Elevator (lihat gambar bawah) sebagai penyalur energi yang ditangkap oleh panel surya. Sayangnya teknologi Orbital Elevator untuk mendapatkan energi matahari dengan cara ini sangat terbatas. Hanya ada 3 pilar Orbital Elevator yang eksis dan dibangun oleh tiga blok perserikatan negara pada masa itu yaitu: AEU (blok negara Eropa), Union (blok negara Amerika dan pendukung USA termasuk Jepang) serta Jinrui kaku renmei atau Liga Reformasi Rakyat yang disingkat Jinkakuren (Rusia, Asia timur kecuali Jepang, Asia barat kecuali Pakistan dan Bangladesh, serta ASEAN). Negara non-blok yang tidak termasuk tiga blok besar, tidak mendapatkan akses energi matahari tanpa persetujuan blok yang bersangkutan. Anda sendiri tentu bisa membayangkan kondisi negara-negara kaya di timur tengah penghasil minyak bumi dimasa depan, jika minyak bumi yang ditambang dibumi mereka habis disedot atau tidak laku lagi dijual.
Continue reading ‘Mobil Suit Gundam 00 – Serial Gundam paling realis’

Advertisements

Brave Story – Anime kisah si pemberani

Judul asli: Bureibu Sutori (ブレイブ・ストーリー)
Genre: Drama, petualangan, fantasi
Produksi: Gonzo ( 2006 )
Sutradara: Koichi Chigira

brave-story2Anime movie ini diangkat dari buku novel karya Miyuki Abe yang telah dibuat adaptasinya dalam bentuk manga sebelumnya. Tadinya sebelum habis menonton anime ini aku mengira bahwa cerita anime ini berdasarkan game RPG model Final Fantasy atau Dragon Quest. Dugaanku salah besar, malah game RPG-nya sendiri baru diluncurkan hanya beda 2 hari sebelum tayang animenya di bioskop-bioskop Jepang. Plot ceritanya sendiri cukup menarik dengan menampilkan perjalanan fantasi seorang remaja untuk meraih harapannya.

Seorang anak SMP bernama Wataru merasa hidupnya hancur berantakan setelah ayahnya pergi meninggalkan dirinya dan ibunya (kemungkinan besar orang tuanya bercerai). Pada saat yang sama di kelas Wataru, murid pindahan baru yang bernama Ashikawa menyebarkan kabar tentang gedung tua berhantu untuk menyembunyikan rahasia sebuah gerbang ajaib yang terdapat di gedung tua tersebut. Dibalik gerbang ajaib tersebut terdapat dunia fantasi bernama Vision dengan dewi impian yang mampu mengabulkan segala macam permohonan. Tak lama kemudian secara tiba-tiba ibu Wataru ditemukan pingsan dan dalam keadaan kritis sehingga harus dirawat dirumah sakit. Wataru dengan nekad memutuskan untuk pergi ke balik gerbang ajaib untuk meminta pada dewi impian supaya mengembalikan seluruh keluarganya bahagia seperti semula.

Ternyata bagi setiap manusia yang masuk lewat gerbang ajaib (disebut sebagai Tabibito – penjelajah) harus melewati ujian penentuan peringkat terlebih dahulu berdasarkan nilai keahlian, stamina dan keberanian. Ashikawa yang pintar dan pemberani rupanya sudah terlebih dahulu masuk dan mendapatkan nilai tinggi sehingga mengawali perjalanannya sebagai “wizard” dengan senjata tongkat penyihir. Sedangkan hasil ujian Wataru sangat rendah sehingga harus mengawali perjalanannya dengan level Tabibito paling bawah yaitu sebagai “Minarai no Yuusha atau The Brave Apprentice” (agak bingung mengartikannya, mungkin “pembantu ksatria” kali yah) dengan senjata pedang jelek. Untuk menemui sang dewi impian seluruh Tabibito harus mengumpulkan 5 bola kristal yang masing-masing memiliki kekuatan. Kristal pertama diberikan diawal perjalanan sebagai modal dan 4 kristal lain harus ditemukan sendiri (tahu sendiri kan awalnya kenapa aku menyangka anime ini berdasarkan game RPG). Mulailah perjalanan Wataru dan Ashikawa untuk menemui sang dewi impian untuk menggapai permohonannya. Wataru dengan kemampuannya yang pas-pasan lambat laun mulai semakin hebat akibat kegigihan dan kekeras kepalaannya. Bagaimana dengan Ashikawa? Permohonan apakah yang diinginkan Ashikawa?

Walaupun mirip karakter game RPG, plot ceritanya sendiri lumayan bagus terutama pada perjalanan Wataru di dunia Vision. Tentang gambarnya sendiri lumayan keren, walaupun jika dibandingkan dengan anime 5 centimeters per second masih kalah kelas. Yang agak menyebalkan adalah pace cerita yang terkesan buru-buru sehingga terdapat hal-hal menarik yang dibiarkan lewat begitu saja karena mengejar waktu tayang. Yah, sutradaranya memang gagal dalam mengatur tempo. Padahal tema ceritanya sendiri walau terlihat sederhana sebenarnya jika dipikirkan lebih mendalam cukup rumit. Mungkin dengan membaca novelnya akan membuat menonton anime ini menjadi lebih menarik. Tanpa novelnya, menonton animenya tersendiri lumayan menghibur koq.

Sekarang lagi nyari-nyari anime karya Mamoru Oshii (Ghost in Shell dan Jin-Roh) yang judulnya The Sky Crawlers yang bercerita tentang para pilot fighter pesawat dogfight. Novel yang menjadi adaptasinya sendiri keren dan kalau melihat sutradara sekelas Oshii, filmnya bakalan mantap punya.

Rating: 3/5

Lost in Translation – Lost in Deja Vu

Catatan: Tadinya aku ragu untuk memasukkan tulisan ini ke blogspot yang memuat unek-unekku. Karena berhubungan dengan film, kuputuskan untuk mempostingnya disini.

Sutradara: Sofia Coppola
Produksi: Focus Features ( 2003 )
Pemain: Bill Murray, Scarlett Johansson

Pertama kali aku menonton film ini pada tahun 2004 lewat VCD di Indonesia dengan kondisi mengerti bahasa Inggris, melihat teks terjemahan bahasa Indonesia dan buta bahasa Jepang. Memang film yang mengisahkan tentang 2 orang asing yang kesepian sekaligus merasa terisolasi di tempat yang sama sekali asing sangat menarik untuk disimak. Masih ingat dibenakku seluruh adegan bahasa Jepang sengaja dibiarkan tanpa terjemahan sehingga lebih terasa lost in translation yang diinginkan oleh sang sutradara. Kondisi bentrok budaya antar timur dan barat juga sangat terasa walaupun dulu aku kurang mengerti mengapa Jepang dipilih, toh masih ada budaya timur lain dengan bahasa dan tulisan sama sekali berbeda seperti misalnya China, Korea atau Thailand.
Continue reading ‘Lost in Translation – Lost in Deja Vu’

Detective Conan The Movie 12: Full Score of Fear

Judul asli: 名探偵コナン戦慄の楽譜 (Meitantei Konan Senritsu no Gakufu)
Produksi: Toho ( 2008 )
Sutradara: Taiichiro Yamamoto

Terus terang saja aku kecewa dengan film layar lebar Detective Conan kedua belas kali ini. Selain misteri yang dibahas tidak terlalu bikin penasaran, thriller yang dikemas kurang seru, tokoh yang diajukan oleh penulis cerita juga kurang mantap. Jadinya film ini jatuhnya biasa saja, tidak ada hal yang istimewa untuk Detective Conan The Movie kali ini. O iya, aku sebenarnya sudah nonton tahun kemarin sekitar bulan Juni (tanpa teks), karena takut terjadinya salah pengertian bahasa terpaksa nonton ulang film yang sama dengan teks terjemahan.

Film dibuka dengan adegan pengeboman akademi musik Doumoto yang banyak melahirkan pemusik-pemusik klasik Jepang kelas dunia, mulai dari penyanyi soprano, violist, hingga pianis. Korban yang tewas tidak berhenti begitu saja melainkan dilanjutkan dengan pembunuhan musisi yang berhubungan dengan akademi musik Doumoto lainnya hingga total pengeboman berjumlah tiga. Disetiap tempat kejadian ditemukan flute (sejenis suling) masing-masing bagian kepala (head joint), tubuh (body) dan bagian kaki (foot joint) dari satu flute utuh.

Kejadian ini dilanjutkan dengan serangan terhadap penyanyi soprano terkenal yang juga penyanyi utama akademi musik Doumoto menjelang Doumoto Concert. Conan yang bersama teman-temannya yang menghadiri acara tentu tak mau tinggal diam. Mulailah Conan menyelidiki seluruh kejadian dibalik keterlibatan akademi musik Doumoto untuk mencegah terjadinya bencana yang lebih besar didepan matanya.

Film kali ini sama membosankannya dengan the movie sebelumnya Jolly Roger in the Deep Azure. Jangankan untuk menyaingi keistimewaan Detective Conan The Movie terbaik yang pernah saya tonton The Panthom of Baker Street, untuk sekedar sama bagusnya dengan Countdown to Heaven saja masih kalah kelas. Satu-satunya adegan menarik yang saya lihat adalah latihan paduan suara anak-anak SD Teitan tempat Conan dan teman-temannya sekolah. Lucu juga melihat betapa anak SD nyanyi di kritik oleh penyanyi soprano professional. Conan sendiri di”bantai” karena dirinya “onchi” (tone-deaf alias pekak nada) hehehe…… 😀

Menurut kabar terbaru, bulan april 2009 bakalan keluar Detective Conan The Movie: The Raven Chaser yang akan menampilkan kembali musuh berat Conan yakni Kuro Sosiki (Organisasi Hitam) yang sudah lama hilang dari peredaran cerita. Semoga the movie yang akan datang tidak mengecewakan.

[Edit] The Raven Chaser sudah ditulis resensinya di link ini

Rating: 2.5/5

BLOOD+, salah satu serial anime misteri-thriller/horor terbaik

Produksi: Production I.G. dan Aniplex
Sutradara: Junichi Fujisaku
Genre: Drama misteri, thriller, horror
Masa tayang di Jepang: Oktober 2005 – September 2006
Jumlah episode: 50 (tamat)

Sebenarnya aku sudah pernah menulis review tentang serial anime ini tahun lalu dengan bahasa Inggris dan sudah diposting entah dimana. Kali ini aku menulis ulang dengan bahasa Indonesia dan interpretasi berbeda. Maklumlah, ini merupakan salah satu serial anime terbaik yang pernah kutonton walaupun belum bisa dibandingkan dengan serial Evangelion yang luar biasa itu.

Alasan awal diproduksinya serial ini adalah booming-nya film animasi produksi tahun 2001 berjudul Blood: The Last Vampire yang mendapatkan berbagai macam award disetiap festival film yang diikutinya di seluruh dunia. Film ini memang mendapatkan kritik positif dari para pengamat film dunia termasuk James Cameron yang memuji film Blood: The Last Vampire sebagai standar baru dunia animasi. Hanya saja banyak juga kritik yang menganggap film ini “short length and lack of a conclusion”.

Tahun 2005 bertepatan dengan kedatanganku ke Jepang, serial anime BLOOD+ ditayangkan di televisi Jepang hingga berakhir di episode final tahun 2006. Serial ini mengambil tema dan beberapa karakter yang sama dengan versi filmnya dengan setting dunia yang berbeda. Serial anime BLOOD+ sendiri mendapatkan penghargaan dari Japanese Media Art Festival ke 9 sebagai salah satu anime yang direkomendasikan dengan garapan terbaik.

Aku sengaja menulis resensi cerita hingga episode ke 6 demi merangsang niat pembaca untuk menonton, karena episode selebihnya akan mulai menguak misteri dibalik cerita sedikit demi sedikit seiring dengan bertambahnya jumlah episode. Menu utama film ini adalah cerita dan misteri yang tersembunyi dibalik sosok tokoh utama yang bernama Saya Otonashi.

Setting cerita pada masa kini (tahun 2005) menceritakan tentang seorang anak SMU bernama Saya Otonashi yang tinggal bersama keluarganya di kota Okinawa yang berdekatan dengan Kadena, pusat pangkalan militer USA di Jepang. Saya dikenal orang sekitarnya mengidap penyakit amnesia (lupa ingatan) dan anemia sehingga wajib melakukan transfusi darah secara berkala. Keluarga Saya seluruhnya keluarga angkat, karena Saya sendiri tidak ingat sedikitpun tentang masa lalunya sampai George Miyagutsuku, seorang veteran perang Vietnam asal Amerika yang berkewarganegaraan Jepang, bersedia menampung Saya dan mengadopsinya sebagai anak.

Istri dan anak biologis George sendiri telah tiada akibat kecelakaan yang menimpa mereka bertahun-tahun yang lalu. Sebelum mengadopsi Saya, George terlebih dahulu telah mengadopsi dua bersaudara Kai Miyagutsuku dan Riku Miyagutsuku sebagai anak angkat. Jadilah Saya memiliki seorang ayah, seorang abang dan seorang adik lelaki.

Hidup Saya diawal episode terlihat menyenangkan terlepas dari perawatan penyakitnya serta mimpi buruk yang selalu membayangi tidurnya (dalam mimpinya ini Saya melihat seorang anak perempuan pada masa perang Vietnam membantai penduduk sipil, tentara dan monster). Punya ayah George yang mengasihinya, punya abang Kai yang sayang padanya walaupun sok protektif sebagai anak tertua, punya adik manja Riku yang suka masak dan teman-teman sebagaimana layaknya remaja dewasa di Jepang membuat hidup Saya serasa sempurna.

Hingga pada suatu hari Saya diserang monster mirip vampire yang dikemudian hari dikenal dengan nama Chiropteran. Ketika hampir celaka tiba-tiba muncul seorang misterius yang selalu membawa kotak Cello bernama Hagi menolong. Tapi Hagi hanya dapat membuat monster itu lumpuh tanpa bisa membunuhnya. Menurut Hagi, satu-satunya orang yang bisa bunuh Chiropteran hanya Saya sendiri. Saya tiba-tiba saja mendadak menjadi kalap dan dengan menggunakan katana (pedang samurai Jepang) yang dibawa oleh Hagi, Saya tanpa sadar membantai sang monster dengan sadis.

bloodplus1
(Gambar kiri) Keluarga Miyagusuku, George, Kai, Saya dan Riku.
(Gambar kanan) Saya Otonashi bersama teman-teman seperjuangannya

Rupanya rahasia Saya dimasa lalu diketahui oleh ayah angkatnya, namun George tak mau memberi tahu Saya karena khawatir kalau anak angkatnya jadi terpukul dengan masa lalunya yang gelap. Tak lama kemudian George didatangi seseorang dari organisasi rahasia yang bernama Red Shield yang menagih janji karena Red Shield telah mempercayakan Saya kepada George untuk dipelihara. Tapi George terus menolak menyerahkan Saya kepada Red Shield dengan alasan Saya belum siap, hingga suatu ketika Saya kembali diserang monster dan George tewas terbunuh karena melindungi Saya. Dari sini cerita serial ini mulai panas.

Saya mulai sedikit demi sedikit mendapatkan ingatannya dan memulai perjalanan keliling dunia dari Jepang, Vietnam, Rusia, Perancis hingga klimaksnya di London dalam rangka memberantas monster Chiropteran dengan anggapan hanya dirinya seoranglah yang mampu membunuh Chiropteran. Masalahnya Kai sebagai abang tertua merasa bertanggung jawab atas keluarga setelah George tewas. Dia tidak mau Saya pergi berkeliaran memberantas monster sendirian, sedangkan si bungsu Riku yang masih SMP tentu saja tidak mau ditinggal 2 kakaknya.

Berbekal pedang katana yang dibawa Hagi, mulailah petualangan Saya bersama Kai dan Riku dibantu Hagi menyingkap masa lalunya yang suram, masa lalu Red Shield dan organisasi saingannya Cinq Fleches beserta rahasia gelap dibalik perseteruan antara Red Shield dan Cinq Fleches.

Serial anime ini memiliki segala macam aspek yang dituntut untuk menjadi anime keren yaitu gambar, musik, dan tentu saja paling penting yakni cerita bagus. Kekuatan utama serial anime ini adalah penyingkapan misteri yang secara bertahap dan rapi dibongkar pada tiap episode sehingga menimbulkan rasa penasaran penonton. Setelah melewati setengah musim (sekitar episode 30/50) hampir seluruh misteri telah terungkap, tinggal bagaimana cara penyelesaian kisah. Hal inipun tak kalah menarik untuk disaksikan. Thriller yang disajikan juga cukup menawan dimana ketegangan selalu muncul silih berganti untuk setiap story arc. Unsur dramanya sendiri sangat menyentuh. Dari hubungan antar keluarga Miyagutsuku, hubungan Saya dengan “saudaranya” yang bernama Diva, hubungan antara “Queen dan Chevalier” (yang ini tonton sendiri, takut spoiler), hingga hubungan Saya dengan anggota organisasi Red Shield. Hal unik lainnya adalah tokoh Diva. Diva yang didapuk sebagai antagonis utama justru memiliki penampilan paling manis, paling cute, paling menggemaskan dan paling innocence. Hehehe… sulit membayangkan penampilan Diva yang demikian justru terbalik dengan posisinya sebagai tokoh antagonis, unik bukan?

Theme song dan soundtrack
blood_ost1Aku harus mengakui bahwa OST BLOOD+ termasuk salah satu OST serial anime terbaik yang pernah kudengar. Musik animenya sendiri digarap oleh langganan piala Oscar Hans Zimmer dan Mark Mancina menghasilkan musik indah dan menghanyutkan disepanjang film. Duet Zimmer-Mancina menghiasi serial ini dengan orkestra dan musik klasik termasuk permainan Cello oleh tokoh Hagi dan nyanyian opera tokoh Diva. Untuk opening dan ending theme song, Sony Music membentuk tim tersendiri untuk memilih artis dan lagu mereka. Hasilnya hampir seluruh theme song menjadi hits tangga lagu Oricon hingga pihak produser Production I.G. sendiri mengakui bahwa duet Zimmer-Mancina dan tim Sony Music melakukan pekerjaan hebat (excellent work) dalam menghadirkan musik untuk serial anime ini.

Sekedar pengetahuan saja kalau opening song diisi oleh lagu-lagu Rock menghentak dari Hitomi Takahashi, Hyde (vokalis L’arc en Ciel) hingga UVERworld, berkebalikan dengan ending song yang diisi oleh lagu-lagu Pop-Slow dari Angela Aki, Hajime Chiitose hingga Mika Nakashima.

Warning: Walaupun serial ini menampilkan gambar-gambar grafis yang indah, tapi banyak adegan kekerasan dan sadis yang penuh dengan darah muncrat disana-sini. Sebaiknya tidak ditonton oleh anak-anak.

Cerita: 4/5
Musik: 4.5/5
Total Rating: 4.25/5

Trailer berbahasa Inggris versi Cartoon Network

Twilight – Antara aku, novel dan film Twilight

twilightPostingan kali ini bisa dibilang rada ketinggalan alias telat. Habis, film yang diserbu oleh para cewek dan ABG di Indonesia ini sudah tayang lumayan lama di layar bioskop. Walaupun sudah menonton bulan Desember tahun lalu lewat bajakan streaming internet, aku baru saja selesai baca buku pertama “Twilight” karya Stephenie Meyer. Jadi yang ingin saya bahas sedikit disini adalah membandingkan antara novel dan film adaptasinya. O iya, aku sih sebenarnya tidak terlalu berniat beli novelnya. Buku yang kubaca ini dibeli dan milik adikku Fitry, aku cuma numpang pinjam saja.

Wajar saja novel Twilight mendapatkan penghargaan disana sini, dipuji oleh para kritikus dan masuk dijajaran buku best seller di Amerika (dan beberapa negara lainnya). Walaupun demikian novel ini bukannya tanpa kelemahan, malah boleh dibilang cukup banyak. Bisa dilihat penokohan Edward Cullen yang terlihat mirip Romeo, Hamlet dan tokoh tragic hero yang lain dengan karakterisasi kurang kuat, lalu tokoh Bella yang menjadi narrator cerita terlalu tidak membumi (koq aku merasa karakter Bella lebih mirip vampire daripada manusia), belum lagi plot cerita sederhana yang malah dibikin melebar (kesannya bertele-tele), hingga tema lama yang juga boleh dibilang sudah lapuk (kisah cinta dua dunia berbeda). Tapi semua ini masih bisa aku maklumi mengingat Twilight adalah novel perdana Stephanie Meyer yang minim pengalaman menulis. Lagi pula penguatan karakterisasi tokoh bisa dilakukan dalam novel sequelnya (toh adanya 4 buku lebih dari cukup). Novel Twilight ini sendiri sebagai mana diakui oleh Meyer terinspirasi dari novel karya Jane Austen yang berjudul Pride and Prejudice (dianalogikan dalam novel sebagai bacaan favorit Bella)

Yang menjadi kelebihan dan membuat novel ini digila-gilai para fansnya mungkin gaya bahasa yang halus dan gampang diikuti, tema lapuk tentang cinta dibuat lebih fresh dengan memasukkan tokoh vampire dengan sosok baru (penggambaran vampire oleh Meyer dalam novel ini agak berbeda dengan gambaran kebanyakan dan sangat menarik), juga tentu saja hal yang membuat saya menyukai novel ini yaitu ketegangan yang dibangun secara bertahap, dari suasana asing disekeliling Bella, keanehan bertemu keluarga Cullen yang misterius, hingga bentrok dengan vampire nomad. Pendek kata, walaupun saya sudah menonton film serta mengetahui isi dan ending, novelnya tetap menggugah saya untuk membacanya hingga selesai. Untuk sebuah novel remaja, Twilight memang lebih dari sekedar novel biasa.

Dibandingkan novelnya, film adaptasi Twilight selain tetap memelihara kelemahan novelnya, parahnya kekuatan novelnya justru tidak muncul dalam filmnya. Malah boleh dibilang menambah daftar kelemahan yang sudah ada. Yang paling terlihat adalah ketegangan yang dibangun bertahap oleh novelnya justru hambar di 2/3 awal film. Perjuangan Bella dalam menghadapi suasana kota Fork yang dibencinya justru berjalan datar seperti juga dengan interaksi Bella dengan The Cullens. Ketegangan film baru terasa setelah Bela dan keluarga Cullen bertemu dengan trio vampire nomad dan diakhiri dengan suasana basi khas film remaja Amerika,bah……… Prom Night.

Memang sulit untuk mengadaptasi film sama bagusnya dengan novel, apalagi melebihi bukunya. Paling tidak buku pertama Twilight cukup menggugah pembaca untuk mencari novel sambungannya New Moon, yang kuharap bakalan lebih bagus dengan adanya pengalaman Meyer menulis Twilight. Film sequelnya sendiri? Kalau harus nonton bayar mahal-mahal di bioskop sih ogah, tapi kalau gratis lewat internet lagi sih mau aja.

“It’s twilight.”
“It’s the safest time of day for us. The easiest time. But also the saddest, in a way… the end of another day, the return of the night. Darkness is so predictable, don’t you think?”
(Edward Cullen, Twilight, Chapter 11)

Detroit Metal City

efbd84efbd8defbd83

“Boku ga sitakatta no ha, Konna bando jyanai dayo….Okaaaasaaaannn!”
Band yang gue pengen jalanin, bukan yang beginian….Emaaaakkkkk!

Habis juga nonton anime OVA nya yang berjumlah 12 seri (tiap seri cuma 13 menitan) setelah habis membaca manganya. Aku juga cukup terkejut ketika menonton iklan di TV kalau versi LIVE bioskopnya akan ditayangkan. Karena kondisi keuangan yang terbatas plus bahasa Jepang yang masih nanggung ancurnya, terpaksa urung nonton di bioskop dan memilih nyari di Internet. Tak ada subtitle pun jadi, karena kalau nonton gratisan kan bisa diulang kalau ada dialog yang kurang ngerti bahasanya. Maklumlah, animenya saja banyak ngomong pakai bahasa slang. Sayangnya DVDnya baru keluar bulan februari nanti, terpaksa nunggu deh, namanya juga pengen gratisan 😛

Manga dan Anime
Cerita dibawah ini mengandung spoiler. Tapi untuk sebuah film komedi dan bukan misteri/thriller, spoiler cerita tidaklah terlalu bermasalah.

Perbedaan cerita versi manga dan animenya tidak terlalu jauh, hanya saja versi anime sedikit lebih sopan dengan pengurangan kata-kata kasar plus menghaluskan adegan yang kurang senonoh.

Bercerita tentang Negishi Soichi seorang pemuda pemalu dari kampung di propinsi Oita. Penggemar lagu-lagu pop manis model ABBA ini pindah ke kota besar Tokyo untuk melanjutkan pendidikan ke universitas sekaligus mengejar cita-citanya. Cita-citanya nggak aneh, cuma kepengen membentuk pop band yang sesuai dengan hobinya setelah lulus kuliah. Apa daya yang terjadi justru Soichi terdampar menjadi vokalis sekaligus gitaris dan penulis lagu grup band death metal yang berorientasi panggung bergaya KISS (pake muka coreng moreng segala) bernama Detroit Metal City alias DMC.

Celakanya band yang cuma dianggap Soichii sebagai batu loncatan karir musiknya ini justru jadinya ngetop banget, untung saja ketiga personel band selalu memakai nama samaran plus make-up yang menyembunyikan identitas dirinya. Jadilah tidak ada yang mengetahui kalau sang vokalis si raja setan yang bernama Johannes Krauser II adalah alter ego dari Negishi Soichi.

Parahnya cewek taksirannya membenci sosok band DMC, keluarganya dikampung (terutama emak yang disayanginya) tidak mengetahui hal ini. Bisa mati jantungan emaknya Soichi kalau sampai tahu anak culunnya ternyata si setan vokalis bejat yang suka teriak dalam lagunya f@*k…f@*k….bunuh…bunuh…bunuh….rape….rape……tralalalala…….

Gawatnya walaupun Soichi tidak menyukai musik death metal, dianya sendiri adalah gitaris rock handal dan punya karisma sebagai vokalis metal yang hebat dan mampu menarik massa untuk menggilai DMC sampai banyak fans percaya kalau Krauser II adalah setan asli dari neraka. Jadinya Soichi setengah mati menutupi identitas Johannes Krauser II nya yang semakin hari semakin ngetop dan mulai dicari-cari orang, sosok asli dibalik riasan panggungnya.

Usahanya untuk pindah ke jalur musik pop semakin sulit plus sosok Johannes Krauser II yang kasar dan brutal dipanggung mulai mempengaruhi sifat asli kesehariannya yang kalem. Ditambah lagi semua anggota band termasuk Soichi sangat takut terhadap cewek manager perusahaan rekaman Death Record pemegang kontrak DMC yang galak tapi selalu punya ide cemerlang (sekaligus gokil) untuk membuat nama DMC semakin meroket.

Humor yang ditampilkan manga dan animenya benar-benar lucu dan mampu mengocok perut. Aku sendiri bisa tertawa sampai terpingkal-pingkal kalau melihat tingkah Negishi Soichi yang sial tapi beruntung. Sayangnya humor-humor yang ditampilkan benar-benar kasar baik audio maupun visual sehingga DMC bisa dikategorikan sebagai manga/anime dewasa. Entah bagaimana dengan versi LIVE bioskopnya, ada kemungkinan humor brutal dari versi manga/anime akan dipotong habis-habisan.

LIVE Action Movie

matsuyama

Karena aku belom menonton, seluruh info dibawah hanya berdasarkan website filmnya. Negishi Soichi diperankan Matsuyama Kenichi (Lihat foto atas, sesuai permintaan sylviapoetiga) yang dikenal sebagai L dalam trilogi Death Note. Matsuyama adalah aktor muda Jepang yang diyakini akan cemerlang karirnya dimasa depan, apalagi Matsuyama mampu memilih peran yang krusial baik untuk film komersil maupun film serius kelas festival. Seluruh lagu dalam LIVE movie yang dinyanyikan oleh tokoh Soichi maupun Johannes Krauser II dibawakan sendiri oleh Matsuyama Kenichi. Film ini juga menampilkan bintang tamu Gene Simmons si pembetot bass grup KISS yang didapuk sebagai legenda death metal asal amerika.

[edit 23 Feb 2009]
Udah nonton. Ulasan khusus tentang versi film live action-nya bisa dibaca ditulisan ini

Yang dibawah ini adalah theme song DMC yang berjudul Satsugai (bunuh/bantai) yang dinyanyikan sendiri oleh Matsuyama Kenichi sebagai Johannes Krauser II.


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: