Archive for December, 2008

MR 73 – Kisah polisi depresi dan wanita trauma

Produksi: Gaumont Film ( 2008 )
Negara: Perancis
Sutradara dan penulis cerita: Olivier Marchal
Pemain: Daniel Auteuil, Olivia Bonamy, Catherine Marchal, Philippe Nahon.

efbd8defbd9273

MR 73 merupakan film yang diilhami oleh kisah nyata yang dialami sang sutradara pada saat bertugas sebagai polisi dimasa mudanya. Cerita diawali dengan pengenalan dua orang tokoh dengan cerita paralel yang kelihatannya sama sekali tak berhubungan satu sama lain. Setelah melewati beberapa plot, barulah dipertengahan film kedua tokoh ini dipertemukan untuk menyambung benang merah cerita.

Tokoh pertama adalah seorang inspektur polisi tua kecanduan alkohol yang bernama Louis Schneider (Daniel Auteuil). Kecelakaan mobil yang menimpa istri dan anaknya menyebabkan anak Schneider tewas dan istrinya lumpuh. Schneider yang tadinya inspektur dengan reputasi gemilang melampiaskan depresinya pada minuman keras. Tingkah lakunya yang dipengaruhi alkohol mulai menghancurkan karirnya sebagai polisi, walaupun pimpinannya Marie (Catherine Marchal) yang juga teman selingkuhannya berusaha untuk melindunginya. Pada saat yang sama Schneider sedang menangani kasus pembunuhan berantai. Seluruh korban adalah wanita, ditemukan dalam posisi nungging, tangan terikat dibelakang punggung, disodomi dan dipukuli, sebelum akhirnya mati dicekik.

Tokoh kedua adalah Justine Maxence (Olivia Bonamy), seorang wanita dengan masa kecil penuh dengan trauma akibat melihat ayah dan ibunya dibantai serta diperkosa didepan matanya oleh kriminal sakit jiwa bernama Subra (Philippe Nahon) 25 tahun yang lalu. Trauma masih terus menghantui Justine selama bertahun-tahun bagaikan mimpi buruk. Subra yang divonis penjara seumur hidup mendapat remisi karena berkelakuan baik (selain umurnya yang mendekati 69 tahun) akan bebas dari penjara dalam waktu dekat. Hal ini membuat depresi Justine semakin dalam sehingga dia menulis surat buat Subra didalam penjara dan memakinya monster.

Gaya bercerita film ini harus diakui memiliki struktur yang sama dengan film karya Olivier Marchal sebelumnya yaitu 36 Quai des Orfevres (2004). Dua tokoh utama dengan cerita paralel berbeda yang semakin lama semakin bertautan satu sama lain. Olivier Marchal memang jagoan dalam mengemas drama kepolisian dengan gaya noir seperti MR 73 ini. Terus terang saja, saya menyukai gaya penyutradaraan Olivier Marchal setelah menonton dua karya filmnya. Aktor papan atas Perancis Daniel Auteuil bermain cemerlang sebagai polisi depresi yang karirnya berada di ujung tanduk sehingga saya yakin kalau dia layak untuk masuk nominasi aktor terbaik Cesar Award (Oscar-nya perfilman Perancis) tahun 2009.

Kalau dalam film 36 Quai des Orfevres (Katanya ditayangkan SCTV 23 Nov 2008, jam 1 malam?), permainan Auteuil dapat diimbangi oleh aktor terkenal Perancis yang lain Gerard Depardieu, dalam MR 73 terlihat jelas kalau Auteuil kehilangan partner yang berkemampuan setara. Auteuil dapat diibaratkan bermain bagaikan one man show dalam film ini. Walaupun Olivia Bonamy bermain cukup bagus, tapi dia belum dapat menandingi kepiawaian seniornya Daniel Auteuil. Sebagai aktor pendukung Philippe Nahon terlihat mengesankan dalam membawakan sosok Subra si keparat tua.

NB. Salah besar jika anda menyangka pembunuh berantai yang dicari Schneider mengincar Justine sebagai korbannya. Maaf, ini bukan film kacangan yang gampang ditebak lewat sinopsisnya.

Sebuah film noir yang suram dan gelap.

Rating: 4/5

Shoot on Sight – Film Inggris bertema terorisme rasa India

Produksi: Arun Govil Productions ( 2008 )
Negara: Inggris
Sutradara: Jag Mundhra
Pemain: Naseeruddin Shah, Greta Scacchi, Om Puri, Brian Cox

Film Inggris yang pernah aku tonton biasa selalu memiliki alur cerita yang alon alon asal kelakon sehingga menyebabkan aku agak malas untuk menontonnya. Aku menonton film ini dengan alasan tema film yang berbeda dari film Inggris biasanya. Walaupun ini film Inggris namun pendukung utamanya dari produser, sutradara hingga aktor utamanya berasal dari India. Film ini terinspirasi dari kisah nyata yaitu tewasnya Jean Charles de Menezes yang ditembak mati ditempat oleh polisi Inggris berdasarkan Operation Kratos, karena dicurigai sebagai teroris pembawa bom. Operation Kratos adalah operasi khusus anti-teroris yang dilancarkan oleh kepolisian Inggris dimana didalamnya membolehkan petugas menembak mati tersangka ditempat. Operasi khusus ini dipicu oleh peristiwa pemboman di London tanggal 7 Juli 2005.

Seorang pemuda muslim ditembak mati polisi Inggris di peron kereta api bawah tanah karena dicurigai sebagai pembawa bom bunuh diri. Media massa mempertanyakan kasus penembakan tersebut karena pemuda muslim itu tidak terbukti membawa bom ataupun terkait terorisme. Pihak kepolisian Inggris menunjuk Commander Tariq Ali (Naseeruddin Shah), seorang muslim sebagai penyelidik kasus sensitif tersebut. Tariq Ali adalah polisi senior berdarah Pakistan yang besar di Inggris dan menikah dengan wanita Inggris Susan (Greta Scacchi) dengan dua anak.

Posisi Ali terjepit diantara kenyataan dirinya seorang muslim dan tugasnya sebagai seorang polisi. Malah didalam departemen kepolisian sendiri, Ali dipandang curiga oleh para kolega dan atasannya. Dipihak lain, Ali memiliki hubungan kurang harmonis dengan teman masa kecilnya Junaid (Om Puri) yang telah menjadi imam mesjid setempat.

Ide cerita yang sensitif seperti ini seharusnya dapat membuat film lebih menarik. Sayangnya sutradara terlalu berpanjang-panjang dengan melodramanya dan terkesan menyederhanakan cerita yang sebetulnya cukup rumit dengan konflik budaya dan agama. Sekilas aku pernah berpikir sewaktu tengah menonton, jangan-jangan karena sutradaranya orang India adegan melodramanya diperbanyak. Selain itu juga kebiasaan khas film India yang suka menyepelekan hal remeh tapi kurang masuk akal juga turut menyeret film ini menjadi agak berbau “Bollywood”.

Yang menjadi sorotan khusus dalam film ini adalah penampilan dua aktor senior India Naseeruddin Shah dan Om Puri yang patut mendapatkan acungan jempol. Naseeruddin Shah mempertunjukkan kepiawaiannya dalam mengolah karakter polisi muslim yang serba salah dengan kondisinya. Sedangkan Om Puri berhasil membawakan peran seorang imam mesjid yang kharismatik dengan meyakinkan. Untuk keterlibatan kedua aktor ini aku mempersembahkan tambahan nilai setengah terhadap rating film.

Quotes antara Junaid dan Ali:
“Have you nothing in your life you would kill for?”
“Are you a policeman who happens to be a muslim or a muslim who happens to be a police officer? You cannot be both!”

Rating: 3/5

XIII: The Conspiracy – Mini seri ala The Bourne Trilogy

Produksi: Prodigy Picture and Cipango Film ( 2008 )
Jumlah episode: 2
Negara: Kanada/Prancis
Sutradara: Duane Clark
Pemain: Stephen Dorff, Val Kilmer

filmxiii1

Presiden wanita pertama USA Sally Sheridan tewas ditembak setelah membawakan pidato pada perayaan hari veteran di Raleigh, North Carolina. Setelah melakukan misinya, sang penembak justru diincar nyawanya oleh sesama temannya sendiri walau dia berhasil lolos dengan membawa luka parah. Tiga bulan kemudian di Virginia barat, seorang pria tua menemukan pemuda luka parah yang parasutnya tersangkut di pepohonan. Pemuda tersebut siuman tanpa memiliki ingatan apapun tentang identitas dirinya. Petunjuk yang ada hanya tato di dada dekat pundak kirinya yang bertuliskan angka XIII (tiga belas dalam huruf romawi) dan memory card yang tersembunyi di jam tangannya.

Pada saat bersamaan pemerintah USA yang sedang menghadapi PEMILU dalam waktu dekat berupaya untuk mengungkap kasus pembunuhan yang menimpa presiden Sally Sheridan. Kandidat presiden yang bertarung adalah mantan wakil presiden Galbrain yang menjabat sebagai presiden sementara dan Wally Sheridan, adik Sally Sheridan yang notabene gubernur North Carolina. Isu mengungkap pembunuhan Sally Sheridan tentu sangat berpengaruh terhadap hasil PEMILU. Apalagi Wally Sheridan jelas-jelas menuduh pemerintahan presiden Galbrain tidak serius menangani kasus pembunuhan kakaknya.

Di Virginia barat, XIII (Stephen Dorff) tiba-tiba saja diserang sehingga menyebabkan suami-istri tua yang menolongnya tewas. Pemimpin penyerangnya yang diketahui dipanggil dengan nama Mongoose (Val Kilmer) ternyata memiliki tato ditempat yang sama dengan kode XII (dua belas). Selain itu juga ditubuh orang-orang yang ingin menghabisi XIII ditemukan pula angka tato huruf romawi dengan angka berbeda. Lalu apakah arti tato angka romawi tersebut? Benarkah XIII yang membunuh presiden Sally Sheridan? Mulailah XIII mengadakan penyelidikan tentang siapakah sebenarnya jati dirinya.

Bagi yang pernah menonton The Bourne Trilogy pasti merasa sangat familiar dengan tema film seperti ini. Memang mini seri ini merupakan adaptasi komik berjudul XIII karya komikus Perancis-Belgia Jean Van Hammed dan William Vance yang terinspirasi novel karya Robert Ludlum tersebut. Sebelum mini seri ini, XIII terlebih dahulu diadaptasi menjadi sebuah game pada tahun 2003 yang dapat dimainkan pada konsol PS2, XBOX, Gamecube dan PC.

Mini seri yang berjumlah 2 episode ini sebenarnya lumayan menarik untuk ditonton. Penuh dengan misteri, thriller, dan cerita yang berbelit merupakan nilai jual utama. Sayangnya penggarapan skenario dan juga teknik penyutradaraannya lemah sehingga banyak hal-hal yang kelihatan remeh justru semakin membuat mini seri ini terlihat seperti just like another mini-series. Misalnya saja munculnya tokoh Kim Rowland bisa saja membuat cerita menjadi semakin menarik. Sayang tokoh ini hanya jadi tokoh sekedar numpang lewat. Belum lagi tokoh Mongoose yang kurang digali karakternya sehingga Mongoose hanya terlihat sebagai tukang jagal professional saja. Walaupun diawali dengan ide cerita yang menarik, jadilah film ini menjadi mini seri yang biasa-biasa saja.

Kalaupun panjang durasi film yang menjadi alasan, toh namanya juga mini seri. Mau dihabiskan ceritanya hingga 4 sampai 5 episode juga sepertinya tidak masalah. Untungnya akting Stephen Dorff dan Val Kilmer termasuk lumayan untuk sedikit mengangkat kualitas mini seri ini. Ini adalah kerjasama Dorff dan Kilmer yang kedua setelah mendapat pujian kritikus dalam film drama kehidupan penjara Felon. Selain itu juga adegan pertarungan XIII dan Mongoose yang menggunakan pecahan kaca sebagai senjata tergolong unik. Bagi yang suka film bergaya Bourne Trilogy, mini seri ini cukup menghibur koq.

Ide cerita: 3.5/5
Rating film: 2.5/5

The Best of 5 Films by John Woo

johnwoo14

Bagi para penggemar film eksyen, siapa yang tidak kenal nama sutradara John Woo? Woo dikenal luas dunia perfilman sejak kolaborasinya dengan aktor Chow Yuen-Fat memiliki gaya penyutradaraan yang khas sehingga sutradara sekelas Quentin Tarantino dan Sam Raimi juga turut mengaguminya. Walaupun hingga sekarang Woo masih aktif sebagai sutradara namun banyak pihak mulai menilai kalau masa emas John Woo mulai pudar.

Berikut ini adalah 5 film terbaik versi pilihan saya pribadi yang telah menonton sebagian besar film-film John Woo sejak A Better Tomorrow, baik yang dibuat di Hongkong maupun setelah Woo hijrah ke Hollywood. Menurut saya, kelima film dibawah ini cukup membuat sosok John Woo layak untuk dinobatkan sebagai salah satu sutradara eksyen terbaik.

1. The Killer (1989)
Film penuh balutan kekerasan ini juga sarat dengan drama perseteruan sekaligus persahabatan unik antara tokoh polisi dan kriminal buruannya. Anehnya film ini kurang sukses secara komersil di Hongkong, tapi sukses besar dan banyak dipuji oleh kritikus diluar China.

Film ini bercerita mengenai pembunuh bayaran yang diperankan Chow Yuen-Fat dalam usahanya mengumpulkan uang demi operasi transplantasi mata seorang penyanyi (Sally Yeh) yang buta akibat perbuatan Chow. Danny Lee berperan sebagai polisi yang memburu si pembunuh bayaran.

Adegan paling berkesan:
– Chow dan Danny Lee saling menodongkan senjata didepan Sally yang buta sambil ngobrol berlagak bagaikan dua sahabat baik.
– Adegan pertempuran klimaks didalam gereja sangat sulit untuk dilupakan.

2. Bullet in the Head (1990)
Film ini dianggap John Woo sebagai karyanya paling personal yang dipengaruhi oleh Deer Hunter dan Apocalypse Now. Film ini juga kurang laku di Hongkong seperti halnya The Killer, karena menghadirkan adegan kekacauan yang dialegorikan dengan peristiwa Tiananmen yang tidak suka dibahas oleh masyarakat China pada saat itu. Secara kualitas, anda sebaiknya menonton sendiri untuk mengetahui mengapa saya memasukkannya ke urutan dua.

Bersetting pada sekitar kerusuhan Hongkong tahun 1967, berkisah mengenai tiga sekawan (Tony Leung, Jackie Cheung, dan Waise Lee) yang hidup dikawasan miskin di Hongkong. Karena dicari polisi akibat membunuh orang, mereka bertiga melarikan diri ke Vietnam yang sedang dilanda perang sambil mencari peruntungan lewat bisnis penyelundupan. Di Vietnam, hubungan tiga sahabat ini mengalami pasang surut akibat perebutan harta berupa kepingan emas.

Adegan paling berkesan:
– Ketiga sahabat berlomba berkejar-kejaran dengan sepeda ontel sambil tertawa-tawa di dermaga.
– Adegan Jackie Cheung dan Tony Leung dipaksa menembak sesama tahanan perang.
– Adegan bersarangnya peluru di kepala seorang tokoh dan menjadi judul film ini.

3. Hard Boiled (1992)
Ini adalah film terakhir John Woo sebelum hijrah ke Hollywood pada era 1990-an. Kalau mengesampingkan cerita dan lainnya serta hanya fokus pada adegan eksyen, inilah film yang cocok untuk bertengger di nomor satu dengan adegan eksyen gila-gilaannya. Dijamin 30 menit adegan akhir penyanderaan di rumah sakit akan membuat anda duduk tegang menyimak tanpa ingin jeda sebentar ke toilet.

Bercerita tentang dua tokoh polisi berlainan latar belakang dan sifat dalam usaha mereka meringkus penyelundup senjata. Chow Yuen-Fat memerankan polisi biasa yang awalnya kepengen jadi musisi jazz lalu terobsesi menuntaskan kasus penyelundupan sedangkan polisi mata-mata yang menyamar sebagai anggota geng penyelundup senjata dibawakan oleh Tony Leung.

Adegan paling berkesan:
Tentu saja adegan penyanderaan di rumah sakit, terutama adegan non-stop 2 menit 42 detik yang menampilkan Chow dan Tony berdebat penuh emosi tentang polisi membunuh polisi sambil bahu membahu melawan musuh.

4. A Better Tomorrow (1986)
Film inilah yang memulai genre jagoan mafia-mafiaan yang mempengaruhi secara luas dunia perfilman Hongkong sekaligus membuat nama Chow Yuen-Fat melesat ngetop bagaikan roket. Jas terusan panjang yang dipakai Chow dalam film juga ikut-ikutan ngetren dalam dunia fashion anak muda. Yang membuat film yang dikenal di Indonesia dengan judul Gangland Boss ini nangkring dalam lima besar adalah gaya filmnya yang stylish. Sayangnya gaya stylish ini tidak dilanjutkan oleh sequelnya A Better Tomorrow II yang bergaya lebih mirip opera sabun.

Film diawali dengan kisah dua anggota triad (mafia China) yang diperankan Chow dan Ti Lung. Chow cacat kakinya akibat usahanya membalas perbuatan triad lain menjebak Ti Lung hingga Ti Lung masuk penjara. Beberapa tahun kemudian, Ti Lung bebas dari penjara dan bertemu dengan adik kandungnya (dibawakan oleh Leslie Cheung) seorang polisi yang seret karirnya akibat latar belakang abangnya yang terkait mafia. Selain itu juga Ti Lung bertemu kembali dengan Chow yang berkaki pincang dan bekerja sebagai tukang cuci mobil bos triad baru.

Adegan paling berkesan:
– Chow bercerita kepada anggota triad yang masih hijau tentang dirinya yang dipaksa minum air kencing.
– Chow membalaskan dendam sehingga menyebabkan kakinya pincang.

5. Face/Off (1997)
Satu-satunya film Hollywood garapan John Woo yang sukses baik secara komersil maupun tanggapan positif para kritikus film barat. Dalam film ini, John Woo benar-benar dibebaskan oleh para produser untuk menggarap film tanpa dihalang halangi sebagai mana film sebelumnya.

Detektif Sean Archer (John Travolta) melacak dan menangkap kriminal sinting Castroy (Nicholas Cage). Sayangnya setelah Cage tertangkap, rencana pengeboman tetap dilanjutkan oleh adik Castroy, yakni Polux. Untuk mengungkapkan kasus secara tuntas, Archer bersedia menjalani operasi wajah dan menyamar sebagai Castroy untuk mendekati Polux. Celakanya Castroy yang asli berhasil lolos dan malah menjalani operasi wajah menjadi Archer sehingga polisi dan kriminal saling berganti identitas.

Adegan paling berkesan:
– Ketika Archer palsu dan Castroy palsu saling menodongkan senjatanya sambil melihat wajah masing masing lewat pantulan cermin.
– Bagiku akting Cage lebih keren daripada Travolta, terutama pada adegan Cage merasakan antara marah dan frustasi akibat polisi yang mengejarnya sebagai penjahat, padahal dirinya adalah polisi yang menyamar.

Appaloosa – Genre koboy klasik Amerika

Sutradara: Ed Harris
Produksi: New Line Cinema ( 2008 )
Genre: Koboy – Western
Pemain: Ed Harris, Viggo Mortensen, Renee Zellwegner, Jeremy Irons

Sebetulnya saya agak malas membahas film Hollywood, akan tetapi untuk film Amerika yang cukup menarik dan jarang ada yang meresensinya dalam bahasa Indonesia tentu saja akan kubahas. Toh menulis film Hollywood bukanlah hal tabu bagiku, apalagi film ini adalah film koboy yang jarang dieksploitasi oleh sineas Amerika akhir-akhir ini.

Film dibuka dengan adegan marshal (jabatan semacam polisi) kota kecil Appaloosa yang datang ke ranch milik pemimpin geng koboy bernama Randall Bragg (Jeremy Irons) untuk menangkap anak buahnya yang didakwa membunuh dan memperkosa warga. Bragg bukan hanya menolak menyerahkan anak buahnya, bahkan dia juga membunuh sang marshal dan 2 orang deputinya.

Adegan selanjutnya beralih pada kedatangan 2 orang sahabat Everett Hitch (Ed Harris) dan Virgil Cole (Viggo Mortensen) ke kota Appaloosa. Hitch sendiri adalah veteran perang lulusan West Point yang berdua bersama Cole berprofesi sebagai petugas hukum bayaran. Oleh dewan pemimpin kota Appaloosa, duo koboy ini dikontrak untuk menyingkirkan Bragg beserta gengnya. Hitch meminta kekuasaan hukum penuh atas kota Appaloosa berada ditangannya, termasuk menjadi marshal baru dengan Cole sebagai deputi. Ketika ketegangan antara mereka berdua dengan geng Bragg semakin intens, kekompakan duet Hitch-Cole mulai terganggu dengan kedatangan wanita penggoda bernama Allie French (Renee Zellweger).

Film ini merupakan karya kedua Ed Harris selaku sutradara berdasarkan buku laris bertema western karya Robert B. Parker yang berjudul sama. Appaloosa mencoba untuk mengembalikan gaya bercerita koboy klasik Amerika yang sempat tergilas koboy spaghetti italia. Koboy klasik Amerika memang lebih menitik beratkan drama dan intrik antar tokoh dari pada aksi dan adu tembak (contoh: High Noon dan Warlock), dan Ed Harris cukup berhasil membawa film koboy ini ke gaya klasik dengan baik.

Kekuatan utama Appaloosa adalah karakter para tokoh utama dan intrik hubungan antar mereka. Dialog serta adu akting para pemainnya benar-benar dimanfaatkan sutradara Ed Harris dalam menghadirkan film koboy berkelas. Beruntung sekali 4 tokoh utama dimainkan oleh aktor dan aktris watak yang mampu membawakan peran dengan pas, terutama Renee Zellweger dan Viggo Mortensen. Gaya genit nan menggoda (sekaligus berhasil membuatku sebal) Zellweger benar-benar menambah hangat suasana. Zellweger mampu membawakan peran seorang wanita yang terlihat lemah ditengah kerasnya dunia wild west tetapi kuat dengan senjata pesona dan daya pikat yang mampu menaklukkan koboy gagah bersenjata pistol. Mortensen sendiri terlihat sangat cool sebagai koboy yang notabene “hanya” menjabat sebagai deputi. Saya jadi teringat dengan pembawaan Val Kilmer yang bermain sebagai Doc Holiday dalam film Tombstone. Lance Henriksen hanya muncul sebentar, tapi kehadirannya mampu mencuri perhatian.

Akting Ed Harris dan Jeremy Irons sendiri sebenarnya tidaklah mengecewakan, hanya saja karakter yang mereka bawakan menimbulkan sedikit kritikan untuk penulis skenario. Tokoh Hitch terlalu sentimentil untuk ukuran seorang veteran perang dan koboy berpengalaman, hal ini terlihat beberapa kali pada adegan Hitch “curhat” dengan Cole. Sedangkan karakter yang dibawakan Jeremy Irons kurang dikembangkan terlalu dalam. Dia muncul diawal film sebagai pemimpin geng yang kejam dan berpengaruh, tapi entah kenapa belakangan malah muncul bagaikan businessman. Perubahan karakterisasi tokoh antagonis ini malah lewat begitu saja.

Secara keseluruhan, film ini bagaikan air pemuas dahaga film koboy old-fashion yang jarang muncul. Paling cuma remake film 3:10 from Yuma-nya Russel Crowe dan The Assassination of Jesse James-nya Brad Pitt yang masuk kategori koboy klasik bagus akhir-akhir ini.

Rating: 3.5/5

Sanctuary – Serial sains-fiksi dari Kanada

Ide Cerita: Damian Kindler
Genre: Science-Fiction
Tayang TV perdana: Sci Fi Channel, 3 Oktober 2008
Pemain: Amanda Tapping, Robin Dunne, Emilie Ullerup, Ryan Robins, Christopher Heyerdahl

Kembali sebuah serial Kanada yang cukup menarik untuk dijadikan tontonan setelah sebelumnya saya telah membahas serial komedi Little Mosque on The Prairie. Kalau anda pernah menonton serial TV horor/misteri seperti Friday the 13th: The Series dan Poltergeist: Legacy yang masing-masing pernah diputar di TVRI dan AnTV, serial ini merupakan perpaduan tema antara keduanya. Kalau serial Friday the 13th: The Series mengetengahkan kisah pengumpulan barang-barang antik terkutuk, Sanctuary mengusung tema pengumpulan makhluk-makhluk tidak biasa (abnormal) kedalam tempat penampungan khusus yang diberi nama “Sanctuary for All” agar mereka tidak mengganggu komunitas manusia atau juga sebaliknya supaya masyarakat tidak mengganggu mereka (bagi yang berkelakuan baik). Hanya saja Sanctuary terdiri dari anggota-anggota dengan keahlian khusus dan melakukan pendekatan yang lebih kearah sains-fiksi seperti halnya dengan serial Kanada yang lain Poltergeist: Legacy.

Awalnya serial ini hanyalah merupakan webisode (serial yang ditayangkan lewat jaringan internet) hingga Sci Fi Channel yang melihat kesuksesan Sanctuary di jalur internet tertarik untuk melanjutkannya menjadi serial TV. Walaupun masih banyak kekurangan yang ditunjukkan, tetapi cerita yang dicoba untuk diangkat oleh penulis cerita lumayan menarik seperti legenda penyihir Inggris kuno Merlin dan Morgana le Fay, time traveler (mirip Hiro dari serial Heroes dari sisi negative), hingga sisi lain dari ilmuwan Nikola Tesla. Hanya saja serial ini memiliki kecenderungan untuk membosankan, jika tensi alur cerita tidak dijaga untuk tergarap dengan baik. Untuk ke 13 episode awal, sepertinya serial Sanctuary nggak jelek-jelek amat buat tontonan. Setelah episode pengenalan awal, mulai episode 7 (The Five) cerita mulai menegangkan.

Tokoh utama cerita:
Dr. Helen Magnus (Amanda Tapping). Salah seorang dokter wanita pertama Inggris yang lahir pada sekitar pertengahan abad 19. Diskriminasi gender pada abad 19 menyebabkan Helen sulit mendapatkan sertifikasi dokter walaupun hasil ujian menunjukkan kejeniusannya sehingga Helen meminta ayahnya Dr. Gregory Magnus yang juga seorang dokter dengan pendekatan keilmuan modern untuk mengajarinya secara langsung. Gregory Magnus akhirnya menyetujui untuk mendidik anaknya, hanya saja penelitian utama Gregory bukanlah penelitian biasa melainkan mempelajari makhluk-makhluk abnormal. Setelah kematian ayahnya, Helen melanjutkan usaha ayahnya hingga sekarang. Helen berumur 157 tahun dan tetap hidup hingga saat serial ini ditayangkan sebagai akibat dari pembuktian percobaan yang dilakukannya sendiri, yaitu menginjeksi diri sendiri dengan darah vampire yang dimurnikan. Helen yang lebih suka menyebut makhluk-makhluk tak biasa tersebut sebagai abnormal dari pada monster itu menganggap berhentinya penuaan umurnya adalah sebuah kutukan dari pada berkah.

Dr. Will Zimmerman (Robin Dunne). Anggota terbaru Sanctuary yang tadinya berprofesi sebagai psikiater forensik kepolisian sebelum direkrut oleh Helen untuk bekerja bagi Sanctuary untuk menolong pasien-pasien abnormalnya secara mental psikologis. Meski telah bekerja sebagai anggota Sanctuary, Will masih menyimpan perasaan skeptis tentang hal-hal yang menyimpang dari sains dan akal sehat walaupun secara perlahan mulai terbiasa menerimanya.

Ashley Magnus (Emilie Ullerup). Anak perempuan Helen dan John Druitt yang kelahirannya ditunda oleh Helen dengan membekukan janinnya. Ashley adalah agen lapangan dengan kemampuan mumpuni dalam hal memburu monster baik dengan senjata maupun tangan kosong dan tak segan-segan membunuh makhluk abnormal/monster (tidak seperti ibunya yang cenderung melindungi).

Henry Foss (Ryan Robins). Ahli desain senjata dan ilmuwan komputer yang bertugas menyuplai Ashley senjata dan alat-alat terbaru serta bertanggung jawab terhadap tetek bengek elektronik termasuk pertahanan dan perlindungan Sanctuary dari penyusup luar. Kakek dari kakeknya Henry adalah ahli senjata yang bekerja pada ayah Helen, Gregory Magnus. Henry Foss adalah werewolf yang pernah dirawat di Sanctuary for All.

Big Guy (Christopher Heyerdahl). Nama aslinya belum diketahui, tetapi Helen dan Will hingga saat ini selalu memanggilnya Big Guy. Pelayan, tukang masak, pengawal, hingga supir bagi Sanctuary. Tadinya merupakan pasien Helen yang menolak pergi setelah “disembuhkan”, sehingga Helen mengijinkannya tinggal dengan tugas seksi sibuk di bagian umum. Tampangnya yang berbulu mirip dengan Bigfoot atau Chewbacca tokoh Star Wars. Di situs resmi, nama panggilan sementaranya adalah Bigfoot.

John Druitt (juga diperankan Christopher Heyerdahl). Ayah biologis Ashley dan mantan tunangan Helen yang menguasai kemampuan teleportasi baik tempat maupun waktu yang menyebabkan dirinya mampu melakukan penjelajahan waktu. Sayangnya kemampuan teleportasi ini mengakibatkan otak John mengalami kerusakan sedikit demi sedikit setiap kali John melakukan teleportasi. Efek samping kerusakan otak ini menyebabkan John kehilangan rasa kemanusiaan dan peningkatan agresivitas untuk membunuh.

The Five. Kelompok lima ilmuwan jenius yang menyelidiki dan mempelajari makhluk abnormal dengan cara non-konvensional pada pertengahan abad 19. Helen Magnus, John Druitt dan tokoh ilmuwan sejarah asli Nikola Tesla juga termasuk anggota The Five. Salah satu percobaan yang dilakukan oleh The Five berdasarkan ide Helen Magnus adalah dengan menyuntikkan darah vampire yang dimurnikan akan memberikan kemampuan unik bagi yang disuntik. Seluruh anggota The Five disuntik dengan hasil kemampuan unik yang berbeda. Misalnya Helen dengan kemudaan dan keabadiannya, serta John Druitt dengan kemampuan teleportasinya. Anggota lainnya adalah James Watt, kepala Sanctuary Inggris.

Tokyo Jihen (東京事変) alias Tokyo Incidents

Mulai sekarang saya akan mencoba memasukkan beberapa review musik sebagai variasi dari review film, walaupun review film tetap mendapat porsi utama. Sebagai pembuka adalah grup Jazz-Rock favoriteku asal Jepang, Tokyo Jihen.

Sejak datang ke Jepang, sudah bermacam-macam lagu dan berjenis-jenis genre pemusik Jepang yang pernah kudengar, termasuk diantaranya adalah seorang musikus multi-genre bernama Shiina Ringo. Kesimpulan yang kudapat dari corak musik Shiina Ringo adalah dasar musik Pop yang dipengaruhi oleh berbagai aliran lainnya, terutama Jazz dan Rock. Memang cakupan genre musik yang ditampilkan Shiina Ringo sangat luas untuk di definisikan menjadi satu jenis saja. 

jihen

Tokyo Jihen adalah grup band bentukan Shiina Ringo yang memutuskan untuk menghentikan solo karirnya dan membentuk sebuah grup band. Dari sini saja sudah terlihat betapa uniknya Shiina Ringo, saya lebih sering mendengar pemusik yang keluar dari grup band dan bersolo karir daripada sebaliknya. Shiina malah sengaja membuang (lewat operasi) trade mark tahi lalat kecil dipipi kirinya sebagai bentuk keinginan meninggalkan image dirinya sebagai artis solo karir. Shiina Ringo harus diakui sebagai penyanyi dengan karakter berbeda, baik dari penampilan maupun suaranya yang melengking khas.

Awal mulai kenal dengan lagu-lagu Tokyo Jihen ketika seorang teman memberikan mp3 album Tokyo Jihen yang berjudul Kyoiku (2004), lalu disambung lagi dengan dikasih teman yang lain album Adult (2006). Kedua album ini benar-benar menarik perhatian kuping penggemar musik dengan keunikan dan blending genre yang begitu pas. Musik Tokyo Jihen boleh dibilang lebih unik daripada musik Shiina Ringo secara solo dengan pendekatan berbeda karena masing-masing member mampu memberikan bumbu dengan rasa berbeda. Setelah mendengarkan seluruh lagu mereka dalam album terbaru berjudul variety (2007), saya benar-benar terpesona dengan variasi racikan campuran genre yang mereka bawakan. Memang dasar utama genre mereka adalah blending antara Jazz, Rock dan Pop, tetapi disetiap lagu yang mereka bawakan mereka juga memasukkan unsur-unsur lain seperti irama latin (samba, tango, bossanova, dll), etnik jepang, klasik, blues, alternative, funk, bigband, swing hingga musik mars yang membuat musik mereka terdengar semakin kaya tanpa membuat masing-masing genre bentrok satu sama lain.

Coba dengar lagu Bokoku Joucho (sentimen tanah air) yang memasukkan unsur irama tango dan tiba-tiba berubah menjadi musik mars tanpa tumpang tindih. Atau dengarkan blending Jazz-Rock-Pop yang ngepas adonannya dan keren untuk dibawakan secara LIVE dalam lagu Toumei Ningen (Manusia Trasparan). Jangan ketinggalan pula mendengar racikan Tokyo Jihen dalam membawakan Kurumaya-san (Si tukang becak), sebuah lagu berjenis Enka (genre etnik Jepang) yang dibawakan dengan gaya Bigband plus Bossanova dikombinasikan dengan Rock.


Kiri-kanan: Hata, Izawa, Shiina, Ukigumo, Kameda

Satu hal yang patut dicatat, penampilan panggung secara LIVE oleh Tokyo Jihen sangatlah menarik. Mereka memang musisi panggung, bukan sekedar musisi dapur rekaman. Eksplorasi masing-masing anggota terhadap lagu-lagu yang mereka bawakan sangat asyik buat dinikmati. Permainan bass yang ekspresif dan selalu dinamis dari Kameda Seiji, pianis Jazz Ichiyou Izawa dengan gaya permainan yang unik nan atraktif di panggung (walaupun pianis sebelumnya HZM lebih gila-gilaan kalau beraksi diatas panggung), drumming dengan ketukan ritmik dari Hata Toshiki, sentuhan melodi Rock yang di tebarkan Ukigumo (distorsi suara gitar dari lead gitaris sebelumnya Hirama Mikio lebih kasar mendekati Metal), membuat Shiina Ringo cenderung leluasa untuk mengekplorasikan musik mereka di panggung dengan maksimal. Sepertinya mendengarkan lagu-lagu Tokyo Jihen secara LIVE jauh lebih mengasyikkan dan menggetarkan daripada mendengarkan rekaman lagu mereka. Oleh karena itu, contoh lagu dibawah saya berikan bukan dalam bentuk album rekaman melainkan dalam bentuk LIVE.

Jika anda termasuk penggemar musik yang tidak biasa, cobalah dengarkan lagu-lagu yang dibawakan oleh Tokyo Jihen. Warning: Ada kemungkinan anda akan ketagihan.

NB. Sebenarnya saya lebih menyukai formasi lama dari Tokyo Jihen dimana permainan piano HZM diatas panggung yang enerjik membuat penampilan LIVE Tokyo Jihen serasa wah. Sayang pianis Jazz dengan aksi panggung nyentrik ini memutuskan kembali bergabung dengan grup Jazz instrumental bentukannya sebelum bergabung dengan Tokyo Jihen yang bernama PE’Z. Izawa yang menggantikannya sebenarnya juga seorang pianis Jazz yang hebat, hanya saja Izawa lebih sopan diatas panggung dibanding HZM yang heboh. Sedangkan hilangnya sound gitar Hirama yang cenderung keras membuat unsur Rock Metal dalam Tokyo Jihen jauh berkurang, karena gaya Ukigumo lebih cenderung mendekati Blues Rock.

Tokyo Jihen sekilas info.
Genre: Rock, Jazz, Latin, Alternative, Pop, Funk, Enka, Blues, Bigband, Swing, etc.

Recent members:
Shiina Ringo (Vocal and rhythm guitar)
Kameda Seiji (Bass Guitar)
Hata Toshiki (Drum and percussion)
Ichiyou Izawa (Piano and keyboard)
Ukigumo (Lead guitar)

Ex-members:
HZM alias Hiizumi Masayuki (Piano and Keyboard) 2003-2005
Hirama Mikio (Lead Guitar) 2003-2005

contoh beberapa lagu yang menjadi favoritku.
(Silahkan lihat penampilan LIVE mereka lewat youtube)

遭難 (Sounan – Emergency) – Tokyo Jihen dengan HZM (Piano) dan Mikio (Guitar)

透明人間 (Toumei Ningen – Manusia Transparan) – Tokyo Jihen dengan HZM (Piano) dan Mikio (Guitar)

母国情緒 (Bokoku Joucho – Sentimen Tanah Air) – Tokyo Jihen dengan HZM (Piano) dan Mikio (Guitar)

キラーチューン (Killer Tune – Nada Pembunuh) – Tokyo Jihen komposisi anggota sekarang.


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: