Archive for September, 2008

Tell No One – Film thriller ala Perancis

Judul asli: Ne le dis à personne.
Sutradara: Guillaume Canet.
Pemain: Francois Cluzet, Marie Josee-Croze, Marina Hands, Kristin Scott Thomas.
Genre: Drama Thriller.
Produksi: 2006.


Film Perancis ini menarik perhatian saya setelah masuk nominasi Cesar Award (Oscar perfilman Perancis) sebagai film terbaik 2007, walaupun akhirnya dikalahkan oleh film Lady Chatterley. Film drama thriller yang diangkat dari novel karya Harlan Coben disebut-sebut banyak orang lebih baik dari novelnya, bahkan Harlan Coben sendiri mengakui bahwa ending film lebih bagus daripada ending novelnya (saya sendiri belum pernah membacanya).

Cerita dimulai dari seorang dokter anak bernama Alexandre Beck yang kehilangan istrinya Margot akibat tewas dianiaya oleh pembunuh berantai delapan tahun yang lalu. Pembunuh berantai yang dimaksud hanya mengakui melakukan 7 pembunuhan saja, tidak termasuk kasus Margot. Setelah ditemukannya mayat 2 orang yang memiliki hubungan dengan kasus Margot, polisi mulai mencurigai Beck sebagai pelaku. Apalagi bukti-bukti baru yang ditemukan oleh polisi semuanya mengacu pada Beck. Pada saat yang sama Beck menerima e-mail anonim berisi link kamera pengawas yang memperlihatkan Margot yang terlihat masih hidup ditambah kata-kata “Jangan bilang siapa-siapa, mereka sedang mengawasi”.

Seperti kebanyakan film Perancis yang lain, Tell No One memulai cerita dengan lamban namun terarah dan misteri yang menjadi menu utama film benar-benar terjaga rapi hingga saat akhir. Jangan berharap thriller gaya Hollywood yang penuh aksi akan muncul di film ini, yang ada hanyalah jalur cerita rumit penuh misteri yang penyingkapannya dibuka secara perlahan dan teratur. Dengan gaya penceritaan demikian, wajar saja Guillaume Canet menyabet gelar sutradara tebaik Cesar Award 2007. Alexandre Beck yang depresi dengan kematian istri serta dituduh sebagai pelaku, dengan meyakinkan dimainkan oleh Francois Cluzet sehingga dia diganjar sebagai aktor terbaik Cesar Award 2007. Film ini juga didukung oleh Kristin Scott Thomas yang berperan sebagai Hélène, “suami lesbian” dari Anne adik perempuan Beck.

Bagi penggemar film thriller penuh misteri, film thriller ala Perancis ini jangan sampai terlewatkan. Film peraih 4 piala Cesar Award ini sendiri sukses dimata para kritikus dan para penonton, terbukti dari masuknya Tell No One sebagai film box office 2006 di Perancis dan mendapat review bagus dari para kritikus.

NB. Tampang Francois Cluzet mirip Dustin Hoffman. Mata saya yang salah atau emang benar mirip ya?

Rating: 4/5

Advertisements

Le Grand Voyage – Belajar hidup melalui perjalanan akbar

Sutradara: Ismaël Ferroukhi
Pemain: Nicolas Cazalé, Mohamed Majd
Produksi: 2004

Jika anda ingin menempuh perjalanan dari Jakarta ke Surabaya, kendaraan apakah yang akan anda pilih? Ada beberapa pilihan yaitu naik pesawat, kapal laut, kereta api, bis, atau kendaraan pribadi (mobil/sepeda motor). Memangnya dimanakah letak perbedaannya? Yang pasti naik pesawat lebih menghemat waktu.

Bagaimana kalau anda seorang muslim yang ingin naik haji ke Mekkah, apakah anda akan menempuh perjalanan jauh itu dengan naik kendaraan pribadi? Saya rasa mayoritas akan menjawab tidak, disambung dengan kalimat “lebih praktis naik pesawat”. Dalam film Le Grand Voyage ini seorang ayah diantar anaknya menggunakan mobil untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah di Arab Saudi dari tempat tinggal mereka di Perancis. Walaupun anaknya berkeras supaya ayahnya pergi ke Mekkah naik pesawat seperti orang lain, ayahnya tetap memaksa untuk pergi mengambil jalan darat dengan mobil pribadi. Anda akan menemukan sendiri alasan sang ayah untuk menunaikan ibadah haji dengan mengendarai mobil dalam film ini.

Ada dua film Perancis bertema benturan budaya dan agama yang saya tonton berturut-turut, yaitu Le Grand Voyage dan Monsieur Ibrahim. Walaupun kedua film ini sangat bagus dan mendapat penghargaan internasional dimana-mana, bagi saya pribadi Le Grand Voyage memberikan nilai lebih yang menyentuh.

Kalau Monsieur Ibrahim menceritakan tentang hubungan seorang muslim tua dengan remaja yahudi yang bertetangga, Le Grand Voyage menceritakan hubungan seorang seorang ayah dan anaknya. Bukan hanya hubungan ayah-anak saja dibahas dalam film ini, hubungan antara tua-muda, islam konvensional-islam KTP, budaya timur-barat, imigran generasi pertama-imigran generasi kedua, dan hubungan kemanusiaan itu sendiri. Selain itu juga film ini menggambarkan betapa ayah-anak banyak mendapatkan pelajaran hidup dari perjalanan yang mereka lakukan. Perjalanan ribuan mil lintas benua mereka mulai dari Perancis melewati Italia, Slovenia, Kroasia, Serbia, Bulgaria, Turki, Syria, Yordania hingga Arab Saudi. Le Grand Voyage menuturkan kisah perjalanan ayah-anak ini dengan indah, termasuk didalamnya konflik yang dibangun antara ayah-anak beserta para tokoh yang ditemui dalam perjalanan mereka.

Tokoh imigran ayah yang berasal dari Maroko sepanjang film lebih banyak berbicara dalam bahasa Arab-Maroko kepada anaknya, walaupun sang ayah lancar berbahasa Perancis. Sedangkan sang anak yang lahir dan besar di Perancis terus menerus berbicara dalam bahasa Perancis kepada ayahnya. Anda tentu bisa menebak tujuan sang ayah terus-menerus berbicara dalam bahasa ibu kepada anaknya tersebut. Sang ayah ingin memberikan suatu hadiah yang bermakna dalam kepada anaknya selama perjalanan akbar ini yaitu pelajaran bagaimana menjadi manusia yang utuh.

Film ini sendiri merupakan film non-dokumenter pertama yang diijinkan mengambil gambar di dalam kota Mekkah bertepatan pada musim haji. Mengacu pada kata-kata sutradara Ismaël Ferroukhi sewaktu pengambilan gambar di Mekkah, “Tak seorangpun yang menoleh ke kamera. Malah orang-orang sepertinya tak acuh pada kami para kru film….. Mereka berada dalam dunia lain.”

Rating: 4.5/5

My Neighbors the Yamadas – Anime Ghibli Bergaya Unik

Judul asli: Houhokekyo Tonari no Yamada kun
Produksi: Studio Ghibli (1999)
Sutradara: Isao Takahata

Mungkin akhir-akhir ini semua penggemar film anime buatan Ghibli sibuk membicarakan film anime terbaru karya Hayao Miyazaki yang berjudul Ponyo on the Cliff by the Sea, justru saya ingin membahas produk Ghibli lama yang berjudul My Neighbours the Yamadas (MNtY) terlebih dahulu. Ghibli sebagai rumah produksi anime terkenal memiliki dua sutradara hebat yang menjadi jaminan kualitas yaitu Hayao Miyazaki dan Isao Takahata. Kedua tokoh ini kadang bekerja sama membantu satu sama lain menjadi duo sutradara-produser. Tetapi kali ini dalam MNtY, Takahata didukung oleh Toshio Suzuki sebagai produser.

Karya-karya Miyazaki dan Takahata terlihat memiliki perbedaan mendasar dalam mengusung cerita kedalam bentuk anime. Jika Miyazaki dikenal masyarakat luas dengan gaya animasi karikatural yang membawa imajinasi penonton melayang tanpa batas, karya Takahata justru berunsur Neo-realisme dengan penekanan ekspresionis dan kadang terlihat sangat kental, sehingga Miyazaki sendiri terpengaruh koleganya ini dalam berkarya. Tanpa pengaruh Takahata, mungkin Miyazaki hanya akan memproduksi karya-karya kartun biasa tanpa ada cita rasa sosial.

Lihat saja contoh karya Takahata seperti Only Yesterday dan Grave of the Fireflies yang begitu realistis dan membumi. Malah saya tidak bisa membayangkan kalau kedua anime ini dibuat versi live akan lebih bagus dari karya Takahata (terbukti versi live dari GotF yang saya tonton masih kurang greget dibanding versi anime). Atau coba tonton Pom Poko yang bercerita tentang legenda tanuki (binatang sejenis rakun) dan kritik lingkungan hidup.

Bagaimana dengan MNtY yang dibuat berdasarkan karikatur Nono-chan karya Hisaichi Ishii? Terus terang saja, saat pertama kali nonton saya cukup kaget dengan gaya Takahata yang tidak seperti biasanya. Bayangkan saja, karya Takahata yang ini tidaklah berbentuk anime melainkan bergaya film komik strip dengan teknik pewarnaan cat air. Walaupun demikian, tidak ada yang berubah dari gaya bercerita Takahata yang humanis dan penuh dengan kritik sosial.

MNtY bercerita tentang kehidupan sehari-hari keluarga Yamada yang terdiri dari kepala keluarga/Bapak Takashi Yamada, Ibu Matsuko Yamada, Anak laki-laki sulung Noboru, anak perempuan bungsu yang masih SD bernama Nonoko, Ibunya Matsuko nenek Shige yang keras kepala dan mau menang sendiri, dan anjing peliharaan keluarga Pochi.

Seperti biasa dalam karya Takahata, kelucuan dalam MNtY muncul dari tingkah polos dan kesederhanaan tokoh-tokohnya dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin bagi para penonton yang kurang mengetahui pernak-pernik kebudayaan masyarakat Jepang akan merasa kurang lucu dalam adegan-adegan tertentu seperti Takashi yang hobi pachinko atau cerita rakyat jepang Momotaro dan Kaguya. Mirip kasus karikatur Kariage-kun dalam mengkritik dunia karyawan perusahaan di Jepang. Cerita berkisar dari usaha Takashi yang bekerja sebagai salaryman dalam menghidupi keluarga, Matsuko yang berusaha menjadi ibu rumah tangga yang baik, pergulatan Noboru sebagai siswa SMU yang menjadi tumpuan harapan orang tuanya, tentang betapa polosnya Nonoko memandang masalah keluarga, hingga nenek Shige yang hobi mengejek kemapanan ekonomi mantunya Takashi yang pas-pasan. Setiap cerita per babak cerita dibuka dengan puisi Haiku (puisi jepang dengan rima suku kata 5-7-5)

Pendek kata film ini sangatlah lucu dan merupakan satu-satunya film Takahata yang berbeda teknik pembuatannya sehingga sayang untuk dilewatkan. Sayangnya walaupun film ini mendapatkan penghargaan bergengsi di Jepang, pemasarannya kurang sukses. Mungkin ini disebabkan oleh gaya animasi yang berbeda bila dibandingkan dengan produk Ghibli lain yang sudah menjadi trade-mark industry anime membuat para penggemar tidak tertarik menonton setelah menyaksikan trailernya.

Rating: 4/5

Sword of the Stranger – Petualangan Samurai Tanpa Nama

Judul Asli: Stranger – Mukou Hadan
Produksi: Bone Studios (2007)
Genre: Anime wuxia

Anime bergenre wuxia jarang sekali ditemukan, kalaupun ada biasanya publisitasnya kurang sehingga banyak orang tidak mengetahui keberadaannya. Barang kali hanya penggemar anime kelas berat saja yang memiliki informasi dan sering menonton anime genre wuxia ini. Sword of the stranger termasuk diantara anime layar lebar genre wuxia berkualitas yang lewat tanpa terdengar jejaknya di Indonesia. Padahal dari segi cerita dan teknik sinematografi tidak kalah bila dibandingkan dengan anime genre lain dengan teknik CGI ataupun film wuxia biasa.

Sinopsis Cerita
Setting cerita: Jepang pada masa daratan China dikuasai dinasti Ming (1368-1644).

Seorang anak tanggung bernama Kotaro dalam pelarian karena diburu oleh sekelompok orang yang diutus oleh kaisar dinasti Ming untuk menangkap Kotaro. Ksatria Ming terkuat dalam kelompok pengejar bernama Rarou, seorang ahli pedang berambut pirang dan bermata biru. Dalam pelariannya Kotaro yang didampingi oleh anjingnya Tobimaru bertemu dengan seorang samurai petualang yang menyelamatkannya dari buruan utusan kaisar Ming. Samurai petualang tanpa nama tersebut disewa oleh Kotaro dengan tugas mengantar Kotaro sampai ke kuil tujuannya hingga selamat.

Para utusan kaisar Ming bekerja sama dengan seorang daimyo (tuan tanah) Akaike dalam misinya menangkap Kotaro. Konflik mulai semakin tajam ketika masing-masing pihak mulai menunjukkan perbedaan demi kepentingan pribadi masing-masing, termasuk Rarou. Selain itu juga ditengah perjalanan, Kotaro menemukan bahwa Nanashi (artinya tanpa nama) samurai petualang yang dibayar untuk mengantarnya, bukanlah samurai jepang melainkan orang asing yang juga memiliki masa lalu gelap.

Komentar penulis
Memang film ini terlihat seperti kisah samurai model Rurouni Kenshin dengan tokoh samurai petualangnya. Tapi konflik yang dihadirkan agak berbeda dengan memasukkan tokoh utusan dari daratan Tiongkok yang justru berperawakan seperti bule eropa. Selain itu juga gaya bertarung yang ditampilkan dalam film ini lebih mengedepankan konsep pertarungan bergaya perang yang realistis, bukan gaya tarung dengan jurus-jurus tertentu. Yang pasti adegan berdarah-darah cukup banyak mewarnai film ini sehingga lebih baik film ini dimasukkan kedalam kategori 13 tahun keatas.

Hal yang agak menggelitik perasaan adalah beberapa anggota utusan kaisar Ming, ada yang bergaya mirip dengan ninja yang notabene berasal dari Jepang. Selebihnya film ini memberikan tawaran yang menarik untuk ditonton baik dari segi cerita maupun dari segi animasinya. Dialog antar tokohnya juga kadang memiliki arti yang cukup mendalam, sehingga menarik untuk disimak lebih lanjut. Hanya saja dialog utusan kaisar Ming yang tetap menggunakan bahasa mandarin terasa kaku. Mungkin para dubber jepang hanya mengucapkannya secara fonetik tanpa menguasai bahasa aslinya.

NB. Arti harfiah dari judul aslinya Mukou Hadan adalah kisah pedang tanpa tahta.

Rating: 3.25/5

Going by the Book (2007) – Review film Korea

Judul asli: Bareuge Salja
Sutradara: Ra Hee-chan
Pemain: Jeong Jae-yeong, Lee Yeong-eun, Son Byung-ho

Bosan dengan komedi jorok versi dunia perfilman Indonesia? Silahkan nonton film komedi satir (black comedy) asal Korea yang satu ini. Walaupun film layar lebar ini termasuk genre film komedi, tapi tak satupun dari para pemain filmnya adalah pelawak ataupun komedian. Kelucuan yang muncul justru ditimbulkan oleh suasana dan situasi yang membuat para penonton tergelitik untuk tertawa masam.

going_by_the_book_preview
Sinopsis Cerita
Kepala polisi kota kecil Sampo yang baru saja pindah, Seung-woo (Son Byung-ho), memiliki ide untuk mengadakan latihan khusus demi menghadapi perampokan bank yang mulai marak. Seluruh elemen masyarakat diharapkan partisipasinya termasuk anggota kepolisian. Metode latihan yang diterapkan adalah simulasi perampokan bank dengan mengacu pada kasus perampokan yang sesungguhnya.

Setiap anggota polisi dibagikan undian untuk menentukan peran apa yang akan dimainkan dalam latihan khusus tersebut termasuk Jeong Do-man (Jeong Jae-yeong), seorang anggota polisi lalu lintas yang berdedikasi tinggi dan serius dalam bertugas. Walaupun Do-man telah mendapat undian peran sebagai petugas patrol, kepala polisi Seung-woo memanggilnya dan meminta Do-man untuk mengganti kertas undian serta memainkan peran sebagai perampok bank. Do-man yang sebenarnya ogah-ogahan, tidak bisa menolak perintah atasannya. Hanya satu pesan kepala polisi ,”Lakukan peranmu dengan serius dan bersungguh-sungguh!”

Mulailah Do-man mengadakan training khusus terhadap dirinya, membaca buku, menonton film, dan meneliti segala sesuatu yang berhubungan dengan perampok bank sebelum hari H.

Ketika hari latihan dimulai, Do-man melancarkan aksinya sebagai perampok bank. Masalah mulai muncul ketika Do-man benar2 bersungguh-sungguh menjalankan perannya sebagai perampok bank dengan serius termasuk menyandera karyawan dan nasabah bank. Segala trik perampokan dan penyanderaan yang pernah ditelitinya diterapkannya dalam latihan sehingga membuat polisi dan SWAT merasa kewalahan dan tak berkutik menghadapinya.

Latihan yang tadinya dimaksudkan untuk mengangkat citra polisi malah menjadi bumerang memperlihatkan betapa polisi sesungguhnya tidak mampu menangani kasus perampokan bank. Situasi semakin buruk ketika televisi nasional menyiarkan secara langsung latihan tersebut dan membuat heboh banyak orang.

Komentar Penulis
Film-film asia akhir-akhir ini mulai membanjiri pasar perfilman amerika melalui gaya pembuatan ulang (remake). Tentu saja hal ini kebanyakan disebabkan oleh ide pembuatan film-film asia jauh lebih segar dibandingkan film-film Hollywood yang kejangkitan virus sequel yang kadang ceritanya sudah basi.

Contohnya saja film Going by the Book ini memberikan ide baru dan menarik dalam genre thriller perampokan dan drama penyanderaan yang dibungkus dalam bentuk komedi satir dan kritik sosial ala sutradara Ra Hee-chan. Jeong Jae-yeong cukup berhasil membawakan peran Do-man dengan sisi manusiawi yang cukup kental sehingga dapat membawa penonton turut tenggelam kedalam emosi Do-man yang merasa tugasnya sebagai polisi terkotori oleh peran perampok yang notabene musuh polisi seperti dirinya.

Film ini bukannya tanpa kelemahan, walaupun hal ini tidak merusak alur cerita ataupun mengganggu ketegangan secara keseluruhan. Sutradara Ra Hee-chan kadang beberapa kali mengulang adegan lucu yang sama dalam waktu yang tak terlalu lama, atau ada beberapa adegan terasa berpanjang-panjang. Tetapi jangan khawatir, nonton dan tertawalah menikmati tontonan film menarik sekaligus menghibur ini. Saya sendiri tidak tahu apakah film ini masuk dan ditayangkan dibioskop-bioskop Indonesia, tapi semoga setidaknya dapat diperoleh lewat VCD atau DVD.

Rating: 3.5/5


Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: