Bushi no Ichibun – Kehormatan samurai buta

Judul lain: Love and Honor
Berdasarkan novel: Moumoku ken kodama kaeshi (Kembalinya gema si pedang buta)
Produksi: Shochiku (2006)
Genre: Jidaigeki (film jaman samurai)

Penulis terkenal cerita silat, Liang Yusheng pernah mengatakan bahwa lebih baik beliau tidak menulis sebuah cerita silat (wuxia) jika tanpa semangat kode etik wuxia terkandung didalamnya. Film Bushi no Ichibun ini memuat sebuah nilai yang dimaksudkan oleh Liang Yusheng yaitu membela kehormatan. Kode etik wuxia dalam dunia “kependekaran” di Jepang disebut Bushido.

Judul Bushi no Ichibun berarti satu bagian dari Bushi. Kata Bushi dapat diartikan secara harfiah sebagai ksatria, sehingga Bushido sendiri diartikan sebagai jalan ksatria. Ada perbedaan mendasar antara panggilan samurai dengan bushi. Biasanya seorang pendekar sejati lebih suka dipanggil bushi dari pada samurai karena samurai lebih dekat dengan dunia politik dari pada bushi dan samurai juga memiliki suatu posisi dan tingkatan tertentu dalam jajaran petugas pemerintahan.

Film buatan 2006 ini adalah karya terakhir dari trilogi film jidaigeki (film bertema samurai) karya sutradara Yoji Yamada yang sebelumnya membesut Twilight Samurai dan Hidden Blade. Kali ini Yoji Yamada kembali mengadaptasi novel karya Shuhei Fujimura (pengarang Twilight Samurai dan Hidden Blade) kedalam film yang dibintangi oleh bintang film terkenal Jepang saat ini Takuya Kimura. Seperti dua karya sebelumnya, film karya Yoji Yamada ini bercerita mengenai samurai kelas bawah yang kadang cukup miskin untuk hanya sekedar mencari makan sehari-hari.

Sinopsis Cerita (Spoiler)
Shinnojo Mimura (Takuya Kimura) adalah seorang lulusan perguruan pedang lokal yang bekerja dibenteng kampung halamannya. Dia tinggal bersama istrinya yang cantik Kayo (Rei Dan) beserta pembantu tua setianya Tokuhei (Takashi Sasano)yang telah ikut keluarganya sejak ayah Shinnojo masih hidup. Tugas Shinnojo sebagai samurai dalam benteng adalah sebagai dokumi yaku. Dokumi yaku adalah samurai benteng yang bertugas mencicipi makanan sebelum diantarkan kepada Daimyo (penguasa benteng), untuk menjaga kemungkinan musuh meracuni Daimyo. Shinnojo sendiri sudah merasa bosan dengan tugasnya itu dan ingin mewujudkan cita-citanya membangun sekolah untuk anak kecil yang ingin berlatih pedang tanpa memandang kasta (biasanya hanya anak samurai yang boleh berlatih pedang di dojo).

Suatu hari Shinnojo Mimura memakan masakan kerang sashimi (masih mentah) yang racunnya belum dibuang bersih sehingga racun kerang membutakan matanya. Bagi seorang samurai, mata buta sama saja dengan hancurnya karir dan tanpa pekerjaan sulit sekali baginya untuk mendapatkan penghasilan demi menghidupi keluarganya.

Keluarga besar Mimura berkumpul termasuk para paman dan bibinya untuk membahas masalah yang menimpa Shinnojo. Pertemuan itu menghasilkan keputusan dimana Kayo diminta untuk mengunjungi dan meminta bantuan pada Toya Shimada (Bandou Mitsugoro), seorang petinggi benteng pernah naksir Kayo sewaktu belum menikah. Diharapkan agar Toya Yamada dapat menggunakan posisinya untuk mempengaruhi dan membujuk Daimyo agar memberikan jaminan bagi kehidupan Shinnojo dikemudian hari, walaupun tak lagi bertugas.

Kayo memang pergi menuruti permintaan para tetua keluarga Mimura walaupun dalam hatinya Kayo tidak menyukai Shimada yang dikenal mata keranjang. Sewaktu mengunjungi Shimada dan meminta bantuannya, Kayo dilecehkan dan diperkosa oleh Shimada dengan alasan suatu permintaan harus ada timbal baliknya.

Akhirnya datang keputusan dari Daimyo yang menyatakan bahwa Shinnojo Mimura tetap mendapatkan penghasilannya selama sebulan sebesar 30 koku (1 koku kira-kira 180 Liter) beras selama seumur hidup, sama dengan penghasilannya sebelum Shinnojo buta. Hanya saja lama kelamaan Shinnojo merasa curiga dengan tingkah laku istrinya, ditambah dengan gosip tentang Kayo diluaran membuat Shinnojo mengetahui perbuatan Yamada terhadap istrinya.

Dalam kemarahan dan keputusasaan atas kondisi dirinya yang seakan mendapatkan belas kasihan orang dengan menjual istrinya, Shinnojo mengusir Kayo. Hanya saja dari Yamazaki, teman kerja sesama Dokumi yaku yang mengunjunginya dikemudian hari, Shinnojo mengetahui bahwa keputusan Daimyo yang memberikan 30 koku per bulan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Yamada.

Dengan kemarahan meluap, Shinnojo menantang Yamada bertarung demi membela harga diri dan kehormatannya. Masalahnya, Toya Yamada adalah seorang samurai lulusan perguruan terkenal Shin Kage Ryuu (aliran pedang bayangan baru) dari Kyoto yang dikenal dengan julukan issatsu no tachi (pedang dengan satu kematian). Sedangkan Shinnojo sendiri hanyalah lulusan sekolah pedang lokal yang sudah buta matanya. Bahkan sensei (guru) yang mengajarkan ilmu pedang pada Shinnojo sendiri menasehatinya untuk membatalkan rencananya bertarung. Mengingat dengan mata normal saja Shinnojo sulit menang, apalagi dengan mata buta. Belum lagi masalah yang ditimbulkan jika pertarungan sesama samurai didalam benteng diadakan. Siapapun pemenangnya, maka hanya ada hukuman mati bagi yang mengganggu keharmonisan persatuan didalam benteng.

Apakah yang dilakukan oleh Shinnojo demi mendapatkan kembali Bushi no ichibun-nya?

Komentar Penulis
Judul “Bushi no Ichibun” diambil dari jawaban Shinnojo terhadap pertanyaan gurunya yang bertanya apa yang terjadi sehingga Shinnojo ingin berduel mati-matian. Shinnojo menjawab, ”Bushi no Ichibun to shika moshiwake agemasen” yang berarti “Ma’af tak dapat menjawab dikarenakan menyinggung satu bagian dari kehormatanku”. Sedangkan judul bahasa inggrisnya adalah Love and Honour yang kurang lebih dapat sedikit mewakili isi cerita.

Tokoh utama dalam dua karya Yoji Yamada sebelumnya adalah pendekar yang ahli dalam memainkan pedangnya. Tapi kali ini tokoh utama yang dihadirkan adalah seorang lulusan perguruan silat lokal yang menantang lulusan perguruan besar dan terkenal. Terbayang dibenak para pecinta cersil, bagaimana seorang ahli silat kampung menantang pendekar pedang terkenal dari Butong pai ataupun Kunlun pai. Belum lagi si ahli silat kampung matanya justru baru saja buta. Shinnojo Mimura bukanlah Zatoichi yang sudah lama buta dan menguasai ilmu pedang yang telah disesuaikan dengan kondisi matanya yang buta. Kekuatan utama Shinnojo adalah semangatnya untuk membela kehormatan dan harga dirinya serta akal muslihatnya.

Dibandingkan dengan dua karya Yoji Yamada yang sebelumnya, film ini cukup lancar bertutur dan mudah dicerna oleh orang non-jepang. Mungkin bagi penggemar film action, film ini agak mengecewakan karena sedikitnya adegan pertarungan. Tetapi bagi para fans cerita drama silat, film ini bisa mengobati rasa rindu dengan sedikitnya drama silat Jepang yang semakin hari semakin langka ditemui.

Dengan adanya tokoh Shin Kage Ryuu didalam cerita, bisa dipastikan setting cerita berkisar pada jaman Muromachi, masa pemerintahan Shogun Ashikaga. Yaitu pada sekitar tahun 1560-an.

Fakta sejarah
Shin Kage Ryuu (Aliran pedang bayangan baru) adalah aliran yang diciptakan oleh master kenjutsu yang bernama Kamiizumi Ise no Kami Nobutsuna pada awal 1560-an, yang mengadaptasi teknik Kage Ryuu (aliran bayangan) sehingga lebih efektif untuk bertarung dengan cepat menghabisi lawan. Teknik ini dinamakan sama dengan teknik dasarnya, hanya saja ditambahkan kata Shin (baru) untuk menunjukkan adanya perubahan gaya dan jurus dibandingkan dengan teknik lama.

Pada tahun 1566, kedudukan Kamiizumi sebagai ketua Shin Kage Ryuu dilanjutkan oleh muridnya Yagyu Sekishusai Muneyoshi. Setelah menjalankan tugasnya sebagai ketua Shin Kage Ryuu selama beberapa tahun, Yagyu malah mendirikan perguruannya sendiri yang bernama Yagyu Shin Kage Ryuu yang juga sangat terkenal. Keluarga Yagyu sendiri merupakan pelatih kepala bagi pasukan Shogun Tokugawa sejak masa pemerintahan Shogun Tokugawa kedua Hidetada Tokugawa.

Cerita mengenai keturunan keluarga Yagyu sendiri banyak diadaptasi menjadi buku, film, manga dan anime. Mungkin yang paling terkenal adalah kepala klan Yagyu generasi ketiga, cucu dari Muneyoshi yaitu Yagyu Jubei Mitsuyoshi.

Rating 3.75/5

0 Responses to “Bushi no Ichibun – Kehormatan samurai buta”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Ando-kun

I write all of my reviews and postings in this site with Bahasa Indonesia. You may use internet translator if you want to read my review in another language. Just bear in your mind if you want to write comments, I only understand Bahasa Indonesia, English, and Japanese.

Live Traffic


%d bloggers like this: